Love And Contract

Love And Contract
Kesalahpahaman



Brayen mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan saat memasuki lembah kenikmatan milik istrinya. Devita mencengkram kuat pundak Brayen. ******* dan erangan lolos dari bibir Devita ketika Brayen mempercepat temponya. Brayen menggeram merasakan miliknya begitu nikmat berada di dalam milik Devita.


Hingga akhirnya mereka berdua mendapatkan pelepasan, tubuh Brayen pun ambruk. Brayen membenamkan wajahnya di leher Devita. Kemudian Brayen membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Napas Devita memburu, bahkan Devita sudah tidak sanggup lagi untuk membuka matanya. Brayen menarik pelan tubuh Devita dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.


"Tidurlah," Brayen mengecup puncak kepala Devita.


Devita sudah tidak mampu lagi menjawab, tubuhnya terkulai lemah. Devita membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Brayen mengusap lembut kepala istrinya dan terseyum menatap istrinya yang kini sudah tertidur pulas.


...***...


Malam semakin larut, Brayen berdiri di balkon menatap kota Las Vegas. Besok mereka sudah kembali ke Indonesia. Meski liburan ini tidak lama, tapi setidaknya Brayen menikmati kebersamaan dengan Devita.


Devita membuka matanya, meraba kesamping dan Brayen sudah tidak ada. Devita beranjak, dia memakai lagi pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Devita menatap keluar, ke arah pintu yang terbuka. Devita menatap Brayen yang sedang berdiri di balkon. Devita melangkah mendekat ke arah Brayen.


"Brayen, kau di sini?" Devita memeluk suaminya dari belakang.


Brayen sedikit menoleh ketika merasakan ada yang memeluknya. Brayen menarik tangan Devita, membawa Devita kedepannya. Dia ingin memeluk istrinya itu dari belakang seraya menikmati keindahan kota Las Vegas.


"Kenapa kau itu sudah bangun?" Brayen mengecup puncak kepala istrinya. Aroma shampoo di rambut Devita adalah kesukaan Brayen. Itu yang membuat Brayen tidak berhenti untuk mencium istrinya.


"Aku terbangun, tapi kau sudah tidak ada di sampingku," balas Devita. Kemudian Devita memutar tubuhnya menghadap Brayen. "Apa kau masih marah padaku?"


Brayen menarik dagu Devita mencium dan **********. "Aku hanya tidak suka ada orang yang mengetahui kebiasaanmu. Aku hanya ingin, jika diriku saja yang mengetahui kebiasaanmu itu. Apa hal yang kau suka dan tidak kau sukai, aku hanya ingin cukup diriku saja yang tahu itu semua."


Devita tersenyum, dia mengelus dengan lembut pipi suaminya. "Olivia juga tahu tentang apa yang aku suka dan tidak aku suka. Olivia adalah sahabatku, teman masa kecilku. Begitu pun dengan Angkasa dia juga adalah teman masa kecilku. Aku hanya menganggap Angkasa sebagai teman masa kecilku. Tidak lebih dari itu, Brayen"


"Perasaanku padamu berkali-kali lipat lebih besar dari pada siapapun. Aku tidak pernah mencintai seorang pria seperti aku mencintaimu." Devita memberikan tatapan lembut pada suaminya itu. "Apa kau masih tidak percaya padaku?"


Brayen tersenyum tipis, dia mengeratkan pelukannya. "Aku percaya padamu."


Kemudian Brayen mengurai pelukannya dan menatap lekat manik mata istrinya. "Jadi malam ini, kau sengaja memakai lingerie karena sengaja menggodaku?"


Devita mencebik. Dia langsung memukul lengan Brayen. "Aku tidak berniat untuk menggoda! Itu karena aku kehabisan gaun tidur ku! Hanya ada lingerie yang tersisa. Aku tidak mungkin tidur memakai dress yang biasa aku pakai pergi. Tidak ada pilihan lain lagi selain memakai lingerie ini. Lain kali aku tidak mau memakainya!"


Brayen menelusuri tangannya ke rahang Devita, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Istrinya. "Tapi aku menyukainya sayang. Aku menyukai kau memakai ini. Warna merah benar - benar terlihat begitu seksi ketika kau yang memakainya."


Devita mendengus. "Kau ini benar - benar Brayen! Ketika perutku membesar, lingerie ini sudah tidak muat lagi! Tubuhku akan melebar dan menjadi gemuk."


"Siapa yang mengatakannya? Kau itu akan semakin cantik dan seksi dengan perutmu yang membesar nanti," balas Brayen.


"Cantik darimana?" Devita mencibir kesal


Brayen menangkup kedua pipi Devita, menempelkan keningnya ke kening istrinya, "Aku mencintaimu. Aku tidak pernah tahu, bagaimana hidupku jika tanpa dirimu."


Mendengar ucapan Brayen, membuat hati Devita tersentuh. Devita tersenyum. "Aku juga mencintaimu."


Hingga kemudian Brayen membenamkan bibirnya di bibir Devita. Mereka saling memagut satu sama lain. Devita memejamkan matanya, dan memeluk erat tubuh suaminya.


...***...


Ke esok kan hari Devita tengah bersiap-siap menuju ke arah bandara. Pagi ini dia akan kembali ke Indonesia. Liburan kali ini meski pun sangat singkat tetapi membuat Devita sangat senang pergi ke Las Vegas saat musim semi adalah hal yang terbaik. Devita memang sangat menyukai musim semi. Ketika liburan, musim semi adalah waktu yang tepat untuk berlibur.


Devita melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul tujuh pagi. Para pelayan sudah membawa barang-barang belanjaannya kedalam mobil. Devita menatap meja rias, memastikan semua kosmetik miliknya yang sudah masuk kedalam tas.


Devita menatap Brayen yang tengah fokus pada iPad yang ada di tangannya. Devita melangkah mendekat ke arah suaminya itu.


"Apa kau masih sibuk?" tanya Devita saat dirinya sudah berhadapan dengan Brayen.


Brayen mengalihkan pandangannya dan menatap istrinya. "Kau sudah selesai?"


"Ya, aku sudah" jawab Devita.


Brayen beranjak, dia melangkah menuju ke arah meja dan mengambil gelas susu coklat yang di buatkan oleh pelayan untuk Istrinya.


"Kau minum susu dulu sebelum kita berangkat." Brayen memberikan segelas susu yang ada di tangannya pada Devita.


Devita mengangguk patuh, dia pun langsung meminum susu yang di berikan oleh Brayen. Setelah meneguk susu hingga tandas, Devita meletakkan gelas susu itu di atas meja.


"Brayen, apa nanti saat kita tiba kau akan langsung pergi ke perusahaan?" tanya Devita langsung.


"Tidak sayang," jawab Brayen seraya mengelus pipi istrinya yang terlihat mulai berisi. " Aku akan pulang bersama denganmu. Nanti, aku akan mengawasi pekerjaan dari rumah.


Devita tersenyum senang mendengar ucapan dari suaminya. Devita hanya ingin jika Brayen tidak terlalu lelah.


"Lebih baik kita turun sekarang." kata Brayen.


"Ya," Devita mengambil tasnya dan langsung memeluk lengan Brayen. Kini mereka berjalan meninggalkan kamar.


...***...


"Laretta, apa kau ingin makan sesuatu?" tawar Angkasa yang sejak tadi Laretta tidak ingin makan apapun.


"Tidak," tolak Laretta. "Aku belum lapar, dan aku akan makan nanti ketika di pesawat."


"Tapi sejak tadi kau itu belum makan, Laretta?" balas Angkasa dengan helaan nafas berat. "Kau itu sedang hamil, Laretta. Pikirkan kandunganmu."


"Kau itu apa hanya memikirkan bayi yang ada di dalam kandunganku saja?" tukas Laretta dingin.


"Aku memikirkan anakku dan juga Ibu dari anakku." kata Angkasa tegas.


Laretta tidak menjawab, dia lebih memilih untuk diam. Sedangkan Olivia sejak tadi menatap Laretta bingung.


"Felix, dimana Devita dan juga Brayen?" tanya Olivia yang mengalihkan perdebatan Laretta dan juga Angkasa.


"Mungkin mereka sebentar lagi juga akan datang," jawab Felix tanpa mengalihkan pandangannya. Felix masih fokus pada ponsel yang ada di tangannya.


Olivia mencibir. "Kau ini apa tidak bisa tidak melihat ponsel mu? Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok!"


"Ada email penting Olivia," jawab Felix. Olivia pun mendengus tak suka.


Tidak lama kemudian Devita dan juga Brayen keluar dari lift. Devita sudah menatap Laretta dan juga Olivia yang tengah duduk. Tatapan Devita kini menatap wajah Laretta yang terlihat berbeda dari biasanya. Devita sudah tahu, ada kesalahpahaman kemarin.


"Devita kau ini lama sekali," keluh Olivia kesal.


Devita tersenyum. "Maaf, tadi aku bangun sedikit terlambat."


"Lebih baik kita berangkat sekarang, sopir sudah menjemput." sambung Felix.


Devita mengangguk setuju, kemudian mereka beranjak dan berjalan menuju ke mobil. Devita dan Brayen masuk kedalam mobil, begitu pun dengan yang lainnya. Kini sopir sudah melajukan mobilnya dan meninggalkan lobby hotel.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Olivia terus berkutat dengan ponselnya. Felix dan juga Brayen terus fokus pada ponsel mereka. Hanya Laretta yang terus menatap keluar jendela. Sedangkan Angkasa, sesekali menatap Laretta yang terus diam. Sudah sejak tadi Devita memperhatikan Angkasa dan juga Laretta. Ini benar-benar membuat Devita merasa tidak nyaman. Devita berjanji, setelah pulang nanti dia akan meluruskan kesalahpahaman ini. Karena Devita tidak ingin melukai adik iparnya itu.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.