
"Ya, aku harap apa yang dikatakan olehmu beneran terjadi." balas Selena. "Aku sekarang bisa lebih tenang ketika bertemu denganmu. Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu. Dulu, saat aku mendengar Brayen menikah aku sungguh sangat membenci istri Brayen. Tapi, ternyata aku salah. Brayen telah mendapatkan wanita yang baik sepertimu. Bahkan kau tidak marah padaku, ketika aku mengatakan aku mencintai suamimu. Kau sungguh wanita yang baik. Brayen sangat beruntung memiliki dirimu, Devita."
"Sekarang, aku harus pergi. Aku harus segera mengemasi beberapa barang yang akan ku bawa." Selena beranjak dari tempat duduknya, dia menatap lekat Devita yang masih tidak bergeming dari tempatnya. "Aku senang pernah mengenalmu Devita. Jika suatu saat kita kembali bertemu, semoga apa yang kau katakan itu menjadi kenyataan. Aku menemukan pria yang aku cinta. Ya, semoga saja itu benar terjadi. Sampai bertemu lagi Devita, aku selalu mendoakanmu dan juga Brayen."
Selena terseyum hangat. Setelah mengatakan itu kemudian dia berjalan meninggalkan Devita.
"Selena, tunggu." panggil Devita yang membuat langkah kaki Devita terhenti.
"Ada apa Devita?" Selena membalikkan tubuhnya, lalu kembali menatap lekat Devita.
"Aku senang mendengar Brayen di cintai wanita yang baik sepertimu." kata Devita dengan tatapan yang lembut. "Aku juga mendoakan, kau mendapatkan pria yang terbaik di hidupmu. Terima kasih, Selena. Terima kasih karena telah menunjukkannya padaku, jika aku tidak salah memilih seorang pria yang telah menjadi suamiku."
Selena menyentuh tangan Devita. "Kau tidak salah dalam memilih pria. Brayen adalah pria yang terbaik. Kau dan Brayen adalah pasangan yang serasi. Kalian berdua memang di takdirkan untuk bersama.
...***...
Brayen menyandarkan punggungnya di kursi sembari menyesap wine yang ada di tangannya. Brayen memejamkan matanya singkat, pikirannya kini terus memikirkan istrinya. Meski Brayen sudah meminta Albert untuk mengawasi Devita, tapi tetap saja Brayen tidak pernah bisa tenang. Brayen menghidupkan rokok, kemudian dia menghisap kuat rokoknya dan menghembuskannya ke udara.
"Jadi ini yang di lakukan oleh seorang Brayen Adams Mahendra, ketika sedang memiliki masalah?" suara bariton menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen, hingga membuat Brayen mengalihkan pandangannya, menatap sosok pria yang melangkah menghampirinya.
Brayen membuang napas kasar, ketika melihat Felix kini sedang duduk di hadapannya. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku sedang tidak ingin di ganggu?"
"CK! Kau ini memang sialan! Kau tidak pernah menyambut sepupumu datang." Felix mengambil botol wine yang ada di hadapannya, lalu menuangkannya ke gelas sloki kosong. "Apa yang membuatmu merokok? Aku sangat mengenalmu, kau itu tidak pernah merokok selama ini. Terakhir aku melihatmu merokok saat kau putus dengan Veronica."
Felix mengatakannya dengan santai, meski Brayen melayangkan tatapan dingin padanya. Karena memang terakhir kali Felix melihat Brayen merokok saat sepupunya itu putus dengan Veronica.
"Jangan ikut campur masalahku!" Tukas Brayen penuh dengan penekanan.
Felix mengedikkan bahunya acuh, dia menyesap wine yang berada di tangannya. "Aku tadi menghubungi Olivia, dan dia mengatakan Devita sedang bersama dengannya. Apa kau memiliki masalah dengan istrimu itu, hingga membuatmu seperti ini?" suara Felix bertanya dengan nada yang meledek pada sepupunya itu.
"Aku tahu! Anak buahku selalu mengawasi istriku!" Balas Brayen.
Felix tersenyum tipis. "Kau bertengkar karena masalah Devita menutupi tentang Laretta dan Angkasa?"
"Jika kau itu sudah tahu, untuk apa kau bertanya lagi!" Brayen tidak menjawab pertanyaan Felix. Dia kembali menyesap wine yang ada di tangannya.
Felix terkekeh pelan. "Pantas saja istrimu memilih untuk menyendiri sejenak. Karena memang sifatmu itu sejak dulu tidak pernah berubah."
"Diam kau!" Seru Brayen dengan penuh peringatan.
Felix berdecak kesal. "Kau yang diam! Jika bukan karena kau salah satu investor di perusahaanku, aku ingin sekali mengahajarmu! Kenapa kau itu selalu bersikap sesuka hatimu? Istrimu itu sedang hamil dan kau, sudah membuatnya memiliki banyak beban di pikirannya! Sekarang aku tanya apa rencanamu? Kau tidak mungkin hanya diam saja hingga menunggu istrimu pulang bukan?"
"Aku akan menjemputnya!" Tukas Brayen. "Besok aku akan menjemputnya! Aku tidak mungkin hanya diam, ketika istriku tidak bersama denganku!"
Felix menyandarkan punggungnya di kursi. "Kau hanya menjemput? Kau tidak ingin membuat kejutan apapun?"
"Kejutan? Maksudmu membelikan sesuatu untuk istriku?" Brayen menautkan alisnya. "Nanti aku akan meminta Albert membelikan mobil keluaran terbaru untuk istriku."
Felix mendengus tak suka. "Kau ini payah sekali Brayen! Apa semua wanita itu di nilai dengan uangmu? Jangan pernah samakan Devita dengan mantan kekasihmu!"
"Katakan apa yang ingin kau katakan! Jangan berputar-putar!" Seru Brayen.
Felix membuang napas kasar. "Kau bisa melakukan hal yang romantis untuk Devita. Tidak selalu kau ukur semuanya dengan uangmu."
"Lalu? Apa yang harus aku berikan?" Brayen menautkan alisnya, menatap bingung Felix.
"CK! Kau ini yang benar saja! Kenapa malah bertanya padaku! Memangnya kau itu tidak pernah memberikan kejutan manis untuk istrimu?" tukas Felix dengan penuh sindiran.
"Aku tahu apa yang akan aku berikan pada Devita. Sekarang lebih baik kau pergi." ucap Brayen dingin.
Felix mengumpat di dalam hati. Sepupunya ini sungguh sialan. Ketika dia sudah memberikan saran tapi Brayen langsung mengusirnya.
Hingga kemudian Felix meletakkan gelas sloki di meja, dia beranjak dari tempat duduknya menatap Brayen yang berada di hadapannya. "Jangan lagi kau itu melakukan kesalahan! Aku itu sudah lelah mendengar kau selalu melukai hati istrimu! Kendalikan dirimu jika sedang marah pada istrimu!"
Setelah mengatakan itu, Felix langsung membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Brayen yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Namun langkah Felix terhenti ketika melihat Albert masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Tuan Felix?" sapa Albert menundukkan kepalanya di hadapannya.
"Albert? Apa kabar? Kenapa kau masih betah sekali menjadi Asisten Sepupuku yang sialan itu?" kata Felix dengan nada santai namun penuh dengan sindiran. Bahkan Felix tidak memperdulikan ketika dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Brayen.
"B- baik, Tuan. Bagaimana dengan kabar anda?" balas Albert.
Felix mengedikkan bahunya, "Seperti biasa aku itu selalu baik. Tapi karena hari ini aku bertemu dengan Sepupuku yang sialan itu, dia sudah merusak hariku."
Albert berusaha untuk menahan senyumannya. Kemudian Felix melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan Albert, sedangkan Brayen, sejak tadi melayangkan tatapan tajam pada Albert dan Felix. Melihat Felix sudah pergi, Albert melangkah pergi ke arah Brayen.
"Ada apa kau kesini?" tanya Brayen dingin saat Albert berada di hadapannya.
"Saya ingin melaporkan tentang Nyonya, Tuan." jawab Albert.
"Kenapa dengan istriku?" Brayen mengerutkan keningnya.
"Tadi sore, Nyonya dan Nona Olivia pergi ke salah satu restoran terdekat di rumah Nona Olivia." ujar Albert. "Saat Nyonya ingin pulang, Nyonya bertemu tanpa sengaja dengan Nona Selena Martinez."
"Selena Martinez? Apa yang mereka bicarakan?" Brayen menatap lekat Albert yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa mendengarnya. Karena posisi tempat duduk Nyonya tidak memungkinkan. Saya takut Nyonya tahu, saya mengikutinya Tuan." jawab Albert hati - hati.
"Kau awasi terus istriku," balas Brayen.
Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan, saya akan terus mengawasi Nyonya dengan baik."
"Besok pagi kau datang lagi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." tukas Brayen.
"Maaf Tuan, apa besok meeting dengan Mr. Lee harus di tunda?" tanya Albert memastikan.
"Ya, tunda semua meeting. Besok aku ingin menjemput istriku," balas Brayen. "Sekarang, kau pergilah dan selesaikan pekerjaanmu."
Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.