Love And Contract

Love And Contract
Hukuman Yang Sesuai



Brayen melangkah menuju ruangan tempat di mana Ruby berada. Albert menundukkan


kepalanya saat melihat Brayen melangkah masuk kedalam ruangan.


Brayen menatap datar Ruby yang wajahnya sudah di penuhi oleh lebam, bahkan terlihat dengan jelas keadaan Ruby begitu mengenaskan mendapatkan siksaan dari anak buah Brayen. Brayen melangkah mendekat ke arah Ruby, ia menyeringai puas melihat siksaan yang di berikan oleh anak buahnya pada Ruby.


"Kau tahu, ini hanya bagian kecil karena kau berani menipuku!" Desis Brayen.


"T..Tuan. Mohon ampuni saya Tuan. Saya hanya membantu sepupu saya. Orang tua saya sedang sakit, Tuan. Saya membutuhkan uang yang banyak dan Elena menawarkan bantuannya saat itu." kata Ruby dengan penuh penyesalan. Ia merutuki kebodohannya karena sudah menuruti perintah Elena. Harusnya dia tahu sejak awal dia berhadapan dengan siapa.


Brayen tersenyum sinis. " Kau meminta aku untuk mengampunimu? Rupanya kau tidak tahu siapa aku, Ruby! Aku tidak akan pernah berniat mengampuni orang yang berniat untuk melukai istriku. Jika hanya uang menjadi alasanmu, aku rasa aku tidak akan mudah tertipu olehmu Ruby. Aku sudah tahu semua penipuan yang telah kau lakukan di masa lalu mu. Jangan pernah kau mengatakan alasan orang tuamu sakit, karena kalau kau berani menipuku lagi maka aku akan benar - benar mengirimmu ke neraka!"


Ruby menunduk, ia berkali - kali memohon ampun. Tetapi Brayen tidak akan pernah mendengarkannya. "Ampuni saya Tuan, saya mohon." ucap Ruby dengan penuh penyesalan.


"Sekarang kau mau memohon ampun padaku? Kemana pikiranmu sebelumnya! Kenapa kau begitu berani untuk mencelakai istriku! Kau sendiri yang telah mengantarkan kematianmu!" Seru Brayen.


"Saya sungguh sangat menyesal, Tuan. Saya berjanji tidak akan berniat untuk mencelakai Istri anda lagi, Tuan." kata Ruby dengan nada penuh permohonan.


"Well, mungkin aku akan membebaskanmu dengan cara kau membusuk di penjara. Tapi sebelum ini, anak buahku akan menyiksa dirimu. Kau telah mengantarkan dirimu dalam kematian, maka kau harus terima akibatnya." tukas Brayen tajam. Ia berjalan meninggalkan ruangan.


Para pengawal menundukkan kepalanya saat Brayen berjalan keluar ruangan. Brayen pun memberikan kode pada para pengawalnya untuk kembali mengikat Ruby.


...****...


Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Devita merasakan lelah di badannya. Kejadian Elena benar - benar membuatnya lelah. Belum lagi Brayen yang tidak ingin langsung melepaskan Ruby.


Sebenarnya Devita merasa kasihan ketika Brayen menampar Ruby. Tapi apa yang di lakukan Brayen, tentu Devita sangat memahaminya. Itu semua karena Brayen begitu mencintai dirinya dan selalu ingin melindungi dirinya.


Ceklek.


Suara pintu terbuka. Devita melihat ke arah pintu ternyata Brayen masuk kedalam kamar.


Brayen melangkah menuju ke arah ranjang, lalu duduk di samping istrinya. "Kenapa kamu belum tidur, sayang?"


"Aku belum mengantuk, Brayen." jawab Devita.


"Brayen dimana Ruby?" tanya Devita.


Brayen mengelus rambut Devita. "Kau tidak perlu bertanya dimana dia. Karena aku akan memberikan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berniat melukaimu."


"Brayen, jangan terlalu kejam padanya. Aku kasihan Brayen." ucap Devita.


"Aku ingin mandi, lebih baik kau istirahat." Brayen mengecup kening Devita, ia tidak menjawab perkataan Devita. Ia beranjak dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Devita menghela nafas dalam, ia tahu pasti Brayen tidak akan mungkin dengan mudahnya melepaskan Ruby. Meskipun Devita meminta, tetap saja Brayen tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Lima belas menit kemudian, Brayen berjalan keluar dari kamar mandi. Ia juga sudah memakai celana training berwarna gray tanpa memakai kaos, seperti biasa ia memang menyukai bertelanjang dada ketika di kamar. Brayen menatap Devita yang sudah tertidur pulas, ia melangkah mendekat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


Brayen menarik tangan Devita dengan hati - hati dan membawanya kedalam pelukannya. Brayen tersenyum menatap Devita yang sudah tertidur pulas. Bahkan ketika Brayen menyentuh dan memeluk Devita, istri kecilnya itu tetap tertidur pulas.


Brayen merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah Devita. Ia mengelus dengan lembut pipi Devita dan mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kau tidak tahu, aku sangat takut kehilanganmu Devita. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berniat melukaimu. Aku akan selalu melindungimu. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka." ucap Brayen, ia terus mengecupi pucuk kepala Devita dan memeluk istrinya dengan erat.


...***...


Angkasa menatap setumpuk dokumen di atas mejanya. Keadaan ruang kerja Angkasa kini berantakan, ia tidak bisa lagi berpikir. Proyek yang ia kerjakan dengan dana yang sangat besar tidak berjalan dengan baik. Sedangkan waktu yang di berikan oleh Brayen tinggal beberapa hari lagi, itu sangat tidak mungkin Angkasa akan berhasil. Jika seperti ini bukan hanya dia gagal, tapi perusahaannya berada di ambang kehancuran.


Dering ponsel milik Angkasa tidak berhenti berdering sejak kemarin. Angkasa tahu, itu pasti dari keluarganya yang berada di Jepang. Anak buah Ayahnya selalu mengawasi pekerjaan Angkasa. Mengingat dulu Nakamura company pernah hampir bangkrut. Ribuan karyawan menggantungkan nasibnya di perusahaan ini. Angkasa pun tidak mungkin membiarkan perusahaan keluarganya hancur karena ulah yang dia perbuat.


"Tuan Angkasa?" sapa Hendrick asisten Angkasa. Ia menundukkan kepalanya saat memasuki ruang kerja Angkasa.


"Ada apa? Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu untuk jangan menggangguku?" suara Angkasa terdengar begitu dingin.


"Tuan maaf, tapi para pemegang saham ingin bertemu dengan anda, Tuan. Saham kita telah menurun, mereka tidak mau menginvestasikan uang mereka lagi. Jika seperti ini perusahaan akan merugi dan tidak akan mampu membayar gaji para karyawan, Tuan " ujar Hendrick.


Angkasa membuang napas kasar. "Aku akan menemukan investor dalam waktu dekat. Kerugian akibat keputusan yang aku ambil akan menjadi tanggung jawabku. Kau tenang saja. Katakan kepada seluruh pemegang saham, mereka tidak perlu takut dan cemas. Nakamura company tidak akan jatuh bangkrut!"


"Tapi Tuan, waktu kita tinggal beberapa hari saja Tuan. Jika kita tidak segera menemukan investor maka perusahaan kita tidak akan mungkin selamat." jelas Hendrick.


"Aku sudah mengatakan padamu. Aku akan berhasil menemukan investor itu!" Tukas Angkasa dingin.


"Lebih baik kau kembali ke ruanganmu, Hendrick! Jangan ada yang berani mengangguku." perintah Angkasa.


"Baik Tuan!" jawab Hendrick menunduk kemudian undur diri dari ruang kerja Angkasa.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.