
"Apa kau sudah menemukan wanita itu?" Brayen langsung bertanya dengan cepat saat panggilannya terhubung.
"T-Tuan maaf, ada kabar yang ingin saya sampaikan Tuan." jawab Albert gugup dari sebrang telepon.
"Ada apa! Cepat katakan, jangan berputar - putar!"
"Lucia Wilson, sedang berusaha mengurus visa dan tinggal menetap di Amsterdam. Beberapa bisnisnya semuanya akan di pindahkan ke Amsterdam, Tuan."
"Dan kau hanya diam saja! Aku sudah memintamu untuk menyeret wanita itu di hadapanku!"
"Maaf Tuan, tapi Edgar Rylan Wilson melindungi adiknya, Tuan. Penjagaan ketat di berikan pada Lucia. Jika kita memaksa, kita harus memiliki bukti yang kuat, jika kita ingin membawa Lucia. Dan kalau bukti itu belum kuat, itu sama saja kemungkinan kita akan melawan Edgar." Albert menjelaskannya dengan hati - hati.
Brayen membuang napas kasar, " Lalu, kalau kita melawan Edgar kenapa! Sudah aku katakan buat saham mereka menurun! Aku akan melawan semua orang yang menghalangi langkahku! Jadi, kau jangan bertanya lagi Albert!"
"T-Tapi Tuan, kita sulit menjatuhkan saham mereka secara signifikan. Saat ini kita telah menguasai lima belas persen saham di Wilson Company."
"Aku tidak perduli! Aku tidak ingin mendengar kau kesulitan! Segera ungkap ke media! Dalam hitungan detik saham mereka akan hancur jika media sudah tahu, bahwa Gelisa Wilson berurusan denganku!".
"Tapi Tuan, jika kita memberitakan ke media sekarang. Kemungkinan besar para media akan mencari Tuan."
"Aku akan mengatasinya. Kau kerjakan saja yang aku minta." Brayen langsung memutuskan panggilan teleponnya. Napasnya memburu, dia meremas dengan kuat ponsel di tangannya.
...***...
Edgar menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata lelah. Banyak sekali yang harus dia tangani. Mulai dari masalah Ibunya, perusahaan hingga masalah adiknya yang sedang di cari oleh Brayen. Dia sendiri masih tidak tahu harus seperti apa, jika saja Ibunya tidak memohon untuk melindungi Lucia. Dia tidak akan mungkin melakukan ini. Bahkan saham perusahannya telah di kuasai oleh Brayen lima belas persen.
Suara ketukan pintu membuat Edgar membuka matanya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dengan cepat Edgar meminta untuk masuk. Dia sudah tahu pasti itu asistennya.
"Tuan Edgar," sapa Arthur asistennya saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Edgar.
"Ada apa lagi?" tanya Edgar dingin.
"Tuan, saya ingin memberitahu. Anak buah Brayen Adams Mahendra terus mengejar Nona Lucia. Tidak mungkin kita selamanya melindungi Nona Lucia, Tuan. Karena mereka hampir sepenuhnya mendapatkan bukti keterlibatan Nona Lucia." ujar Arthur cemas.
Edgar membuang napas kasar, "Aku sudah tahu, ini pasti akan terjadi. Jika bukan karena Ibuku yang memaksaku untuk membantu Lucia. Aku tidak akan pernah melakukan ini!"
"Maaf Tuan. Tindakan apa kedepannya yang akan kita lakukan?" Arthur bertanya hati - hati.
"Apa ada kemungkinan Ibuku bisa di bebaskan?" pertanyaan ini yang keluar dari Edgar. Suaranya begitu putus asa, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Tuan, sebenarnya jika lawan kita bukan Brayen Adams Mahendra kita bisa membebaskan Nyonya dengan mudah. Tapi sepertinya ini sulit, Tuan. Hanya saja saya rasa kita bisa memperingan hukuman Nyonya." jawab Arthur.
"Sekarang dimana Lucia?"
"Nona Lucia masih berada di Apartemen pribadi milik Tuan."
Edgar menggelengkan kepalanya, "Sekarang kau keluarlah Arthur, aku sedang tidak ingin di ganggu. Untuk sementara biarkan seperti ini. Aku akan memikirkan jalan keluarnya."
Arthur mengangguk patuh, lalu undur diri dari hadapan Edgar.
"Tunggu!" Edgar memanggil Arthur. Hingga membuat Arthur menghentikkan langkahnya, dan segera membalikkan tubuhnya menghadap Edgar. "Maaf Tuan, apa ada lagi yang tuan butuhkan?"
"Saya sudah mencari informasi Tuan dari rumah sakit, Nona Devita masih belum sadar. Tapi dia masih jauh lebih baik dari temannya yang bernama Olivia. Saat mereka tertabrak, teman dari Nona Devita itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Nona Devita. Itu informasi terakhir yang saya dapatkan, Tuan."
Edgar memejamkan mata, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Andai waktu itu dia tahu rencana Lucia, ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimanapun dia tahu, Devita adalah wanita yang baik. Tidak hanya itu, tapi masih ada korban lagi yang terluka.
"Aku mau kau lihat terus keadaan Devita dan temannya itu. Laporkan semuanya itu padaku." tukas Arthur.
Arthur mengangguk patuh, "Baik Tuan, saya akan terus melihat keadaan Nona Devita dan juga temannya."
"Apa Brayen melakukan penjagaan yang ketat di kamar Devita?" tanya Edgar.
"Tuan Brayen memesan kamar khusus untuk Nona Devita. Dan di lantai 11 hanya ada Nona Devita. Tuan Brayen Adams Mahendra, tidak ingin ada satu orang pun yang menganggu Istrinya. Jadi saya tidak bisa melihat dari jarak dekat, Tuan. Saya selalu memeriksa keadaan Nona Devita dan juga temannya dari data rumah sakit."
"Kau boleh pergi sekarang," tukas Edgar dingin. Arthur menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Edgar.
Edgar kembali menyandarkan punggungnya di kursi, dia sudah tahu Brayen akan melakukan penjagaan yang begitu ketat pada Devita. Tidak mungkin Brayen mempermudah orang lain untuk menjenguk istrinya.
...***...
Lucia terlihat begitu gusar, dia terus terlihat tidak tenang. Beberapa kali dia sudah melihat anak buah dari Brayen. Lucia bersandar di sofa, menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, Lucia?" suara pria itu berseru dengan geraman menahan amarah.
"Bisakah kau diam! Aku meminta mu untuk membantuku! Dan bukannya menghakimiku!" Seru Lucia meninggikan suaranya.
Pria itu membuang napas kasar, "Kau sudah gila, Lucia! Kau sudah hampir membunuh Devita! Dan apa kau tahu? Teman Devita terluka parah! Dimana pikiranmu Lucia! Brayen akan membunuhmu!"
Lucia mengumpat kasar, dia menatap tajam pria yang ada di hadapannya. "Aku menahanmu, karena aku berharap kau mau membantuku! Sudah aku katakan, jangan menyalahkanku! Karena aku butuh bantuanmu! Kau bisa menyelamatkan ku. Bukankah perusahaanmu adalah salah satu perusahaan yang terbesar di kota ini. Aku sangat yakin, dengan kuasa yang kau miliki kau pasti bisa membantuku!"
"Lucia, kau tahu siapa Brayen Adams Mahendra, bukan?Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu? Perusahaanku masih belum sebesar milik Brayen! Jika aku membantumu, itu sama saja aku bunuh diri!" Pria itu membalas tatapan tajam dari Lucia. Napasnya memburu, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
Lucia tersenyum sinis, "Jadi kau sekarang mengakui kekalahanmu? Bukankah sejak dulu kau tidak mau kalah dari Brayen? sekarang kenapa kau harus takut? Berarti kau mengakui dirimu jauh dibawah Brayen."
"Bukan seperti itu sialan! Tapi aku tidak ingin terlibat dalam masalahmu! Aku sudah memperingatkanmu jangan melakukan apapun pada Devita! Dia itu wanita yang sangat baik dan Brayen akan selalu melindungi istrinya! Dan sekarang, kau mengantarkan sendiri kematianmu! Kau lihat? Anak buah Brayen selalu mengikuti pergerakanmu! Beruntung Edgar masih melindungimu! Percayalah, jika Edgar sudah angkat tangan dan tidak lagi membantumu. Sudah pasti kau akan mati di tangan Brayen!"
Lucia bangkit dan menyalang dengan penuh kemarahan. "Aku tidak akan mati! Tapi aku pastikan istri Brayen akan mati! Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Devita! Dan tidak lama lagi kau akan mendengar berita kematiannya! Lagi pula Brayen belum mendapatkan semua bukti, jadi aku masih bebas dari segala tuduhan!"
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.