Love And Contract

Love And Contract
Ingin Berlibur



Yeayy...๐Ÿฅณ


Akhirnya Love And Contract sampai juga di Episode yang ke 200 hehehe. Nggak nyangka bisa bertahan sejauh ini~~~


Terima kasih buat kalian semua yang sudah setia menanti updetan terbaru dari L.A.C. Hehe. Nantikan terus kisah mereka ya. Yang pastinya bakalan makin seru loh...


Happy reading semuanya....๐Ÿค—


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Konten dewasa, harap bijak dalam membaca! untuk anak dibawah umur, harap menjauhi bab ini!


Brayen menangkup pipi Devita, menempelkan hidungnya pada hindung Devita lalu menggerakkan dengan pelan. "Ya, aku memang ingin selalu membahagiakanmu. Jadi sekarang, jangan cemburu lagi pada Albert. Karena dia Asisten yang aku percaya untuk membantu setiap langkahku. Tapi jauh dari itu, apa pun yang aku miliki kau jauh lebih berharga dari segalanya, Devita."


"Ayahmu juga mengatakan padaku, alasan kenapa dia menolak cinta pertamamu itu dan lebih memilih ku. Dulu banyak yang menghina Ayahmu, dia mengatakan ingin memilih pria yang tepat untuk hidupmu, Devita. Dia ingin melihat dirimu bahagia." Brayen mengelus dengan lembut pipi istrinya itu.


"Dan aku sangat berterima kasih pada Ayahmu yang telah memberikan mu di hidupku. Bahkan dia memilih ku untuk menjadi menantunya. Kau merubah segala hidupku, dan aku sangat beruntung memilikimu di hidupku."


Devita tersenyum, dan menatap lekat Brayen saat suaminya mengatakan sebuah perkataan yang sangat menyentuh hatinya. Dia benar-benar beruntung memiliki Brayen di hidupnya. Lepas dari sifat suaminya yang dingin dan arrogant itu tapi Devita tetap bersyukur karena Brayen selalu memiliki cara untuk mencintai dirinya. Bahkan Brayen selalu membuat Devita merasakan kebahagiaan.


Devita mengelus rahang suaminya itu. "Kau tahu, Papa selalu mengatakan padaku, kalau aku sangat beruntung memilikimu. Kau memberikanku segalanya. Kau memanjakan diriku dengan segala fasilitas yang kau miliki. Aku bahkan di perlakukan benar - benar seperti seorang ratu. Kau membelikan dengan segala yang aku inginkan dan juga menuruti apapun yang aku mau. Sekarang aku benar-benar menyadari aku beruntung memilikimu di hidupku."


"Meski aku harus mengakui terkadang sifatmu yang arrogant itu benar-benar menyebalkan. Tapi aku tetap menyukai apapun yang kau lakukan untukku selalu membuatku semakin jatuh hati padamu, Brayen Adams Mahendra," Devita mengecup bibir Brayen.


Brayen tersenyum tipis, lalu dia memeluk dengan erat istrinya dan mengecup leher Devita. "Kedepannya, aku hanya ingin memikirkan bagaimana membuatmu bahagia."


Devita kembali tersenyum. "Brayen, apa kau tahu? Sebentar lagi aku akan lulus kuliah.'


"Katakan padaku, bagaimana dengan kuliahmu? Aku sudah lama tidak mendengar tentang kuliahmu?"


Devita menjauhkan wajahnya dari Brayen, dia mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah selesai UAS. Hanya tinggal menyelesaikan skripsiku. Aku yakin sebentar lagi aku akan selesai kuliah. Tapi ingat Brayen, aku tidak mau langsung memimpin perusahaan. Aku sangat ingin berlibur dengan Olivia. Kau sudah berjanji padaku untuk memperbolehkan aku liburan bersama dengan Olivia saat aku lulus kuliah nanti."


Brayen menghela nafas berat, " Memangnya kau ingin pergi kemana bersama dengan Olivia?"


"Maldives!" Jawab Devita dengan penuh antusias. Wajahnya langsung berubah sangat ceria dan sangat bersemangat saat mengucapkan negara yang akan dia tuju bersama dengan Olivia.


"Berikan aku alasan kau ingin pergi ke Maldives?" tanya Brayen.


"Disana sangat indah, Brayen. Aku ingin menikmati segala keindahan yang ada di sana. Kau akan mengizinkan aku bukan?"


Brayen menatap lekat ke arah Devita. "Bagaimana jika aku tidak mengizinkannya?"


"CK! Kau sudah berjanji akan mengizinkanku pergi kesana, Brayen. Jangan membohongiku!"


Brayen membuang napas kasar, rasanya begitu berat membiarkan istrinya pergi. "Baiklah, tapi aku tidak akan lama di Maldives. Tapi tidak boleh lebih dari tiga hari. Dan kau harus menggunakan pesawat pribadiku. Aku juga akan meminta Albert untuk menyiapkan pengawal untukmu."


Dia tersenyum, dia membalas pelukan dari Devita, dan mencium rambut Devita. Rambut pirang yang tergerai indah dan begitu terawat membuat istrinya itu terlihat semakin sangat cantik. "Dan aku lebih mencintaimu." bisik Brayen di telinga Devita.


...****...


Devita berjalan keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang masih memakai bathrobe. Devita melangkah masuk kedalam walk in closet miliknya. Dia memilih gaun tidur berwarna brokat tipis. Namun, saat Devita ingin membalikkan tubuhnya, dia tersentak saat merasakan tangan yang memeluknya begitu erat.


Devita menoleh dan menggeleng pelan, melihat Brayen memeluk erat dirinya. "Kau mengagetkan aku, Brayen!"


"Aku menyukai aromamu." Brayen tidak mendengarkan keluhan Devita, dia mengecupi leher putih Devita. Brayen mulai menaikkan tangannya dan meremas dada Devita hingga membuat Devita mendesah pelan.


"Brayen, kau benar-benar!" Dengus Devita.


"Apa kau tidak ingin memberikanku hadiah, hm? Aku sudah membantumu, harusnya aku mendapatkan hadiah darimu." Brayen terus mengecupi leher istrinya itu.


Devita mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Brayen. "Hadiah ap-"


Belum selesai Devita menyelesaikan ucapannya, dia langsung terkesiap ketika Brayen membalikkan tubuh Devita dan mendorongnya ke dinding. Brayen mencium dan ******* bibir Devita dengan lembut. "Apa kau tidak ingin kita segera memiliki anak, hm?" bisik Brayen di sela - sela ciumannya.


Devita menelan salivanya susah payah, seketika dia sudah mengerti apa yang di inginkan oleh suaminya ini. "B-Bryen. Tapi-"


Brayen menangkup pipi Devita, memiringkan kepalanya dan kembali ******* bibir Devita. Perlahan Devita mulai membuka mulutnya dan membalas ciuman dari Brayen.


Brayen melepaskan ciumannya, dia menatap wajah istrinya yang kini wajahnya sudah memerah. "Aku menginginkan, sayang. Jangan melupakan kewajibanmu." Brayen berbisik di leher Devita hingga membuat Devita meremang. Tubuh Devita memang tidak bisa menolak sentuhan dari Brayen.


Tanpa menunggu jawaban, Brayen langsung membopong tubuh Devita gaya bridal menuju ke ranjang.


"Tatap aku sayang." Brayen menarik dagu Devita. Dia tidak membiarkan Devita untuk memalingkan wajahnya. Brayen menyukai wajah istrinya itu ketika merona seperti ini. Brayen mencium dengan lembut bibir Devita, perlahan dia mulai menurunkan ciumannya pada leher jenjang istrinya dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.


"Brayen..., akhhh!" Devita mendesah, di membusungkan dadanya saat Brayen mulai menurunkan ciumannya dan mengisap puncak dadanya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih ๐ŸŒทatau โ˜• juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh๐Ÿ˜


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.