Love And Contract

Love And Contract
Tidak Akan Pernah Menyerah



Devita mengulum senyumannya. "Kau ini berlebihan sekali. Tenang saja tidak akan terjadi apapun pada anakku."


"Oh iya Devita, Paman Edwin dan Bibi Nadia sekarang masih di kota K?"


"Ya, orang tuaku masih ada di sana. Tapi mereka akan segera kembali menjelang hari kelulusanku."


"Ah begitu. Aku pikir mereka menetap lama di kota K?"


"Tidak mungkin lama - lama, Ayahku tidak bisa lama - lama meninggalkan perusahaanya."


"Ya sudah, kalau begitu aku matikan dulu. Aku mau pergi dengan Felix. Hari ini Felix mengajakku ke salah satu restoran Thailand."


"Baiklah, have fun."


Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Devita mencari note yang biasa Brayen tinggalkan. Namun, saat Devita mencari dia tidak menemukan apapun di atas nakas.


"Kau mencari apa sayang?" Brayen melangkah mendekat ke arah Devita. Dia baru saja keluar dari kamar mandi.


Devita mengalihkan pandangannya, dia melihat ke arah Brayen yang melangkah mendekat ke arahnya. "Kau darimana? Aku pikir kau sudah berangkat?"


"Aku baru saja selesai mandi." jawab Brayen sambil memberikan kecupan di kening istrinya.


"Kenapa kau tidak langsung memakai pakaian kantor?" tanya Devita bingung. Pasalnya, suaminya itu masih memakai celana training panjang dan bertelanjang dada.


"Aku berangkat siang hari ini." jawab Brayen. "Lebih baik kita sarapan. Aku sudah meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamar."


"Aku harus mandi dulu." balas Devita.


Brayen mengangguk lalu memberikan kecupan di bibir istrinya itu. Devita langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke arah kamar mandi.


Setelah selesai mandi. Devita langsung mengganti pakaiannya dengan dress yang sederhana. Kemudian Devita melangkah mendekat ke arah Brayen yang tengah fokus dengan iPad di tangannya. Devita duduk di samping Brayen sambil mengambil pancake dan hot chocolate yang telah di siapkan oleh pelayan.


"Brayen, bukannya kau ada meeting pagi ini?" tanya Devita sembari menyesap hot chocolate di tangannya.


"Direktur pemasaran akan menggantikanku meeting." jawab Brayen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Ipadnya."Bagaimana kau tahu, aku ada meeting pagi ini?"


"Wanita yang bernama Ivana tadi malam, mengatakan kau memiliki meeting dengannya." jawab Devita datar.


Brayen tersenyum, dia meletakkan tangannya ke atas meja. "Kau masih cemburu dengannya?"


"Aku tidak pernah bilang aku cemburu!" Cebik Devita.


"Jadi tidak cemburu?" Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Kalau begitu, tidak masalah bukan? Jika dia menghubungiku di malam hari?"


"Kau itu! Malam hari itu bukan waktunya bekerja!" Seru Devita.


Brayen mengulum senyumannya, dia menarik tangan Devita masuk kedalam pelukannya. "Aku berjanji, jika aku memiliki meeting lagi dengannya. Aku aku membawamu dan memperkenalkanmu padanya."


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Aku tidak mau! Nanti orang - orang hanya melihatku saja! Memangnya kau itu tidak malu meeting membawa istrimu?"


Brayen mengedikkan bahunya acuh. "Tidak, aku tentu tidak akan pernah malu membawamu. Kenapa aku harus malu membawa istriku yang sangat cantik ini di hadapan semua orang?"


Wajah Devita merona mendengar perkataan dari suaminya itu. Brayen menarik dagu Devita ******* dan mencium lembut bibir ranum istrinya.


"Nanti aku akan membawamu. Aku tidak ingin kau cemburu dengan siapapun." bisik Brayen tepat di depan bibir Devita saat pangutannya terlepas.


Devita tersenyum, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Menghirup aroma parfum maskulin di dada bidang suaminya itu benar-benar membuatnya sangat nyaman.


"Brayen?" panggil Devita sembari memainkan jarinya di dada bidang milik Brayen.


"Hm? Ada apa?" tanya Brayen sambil mengelus lembut rambut Devita.


"Aku ingin bertanya sesuatu. Sebenarnya aku ingin bertanya sejak kemarin." kata Devita.


Brayen menarik dagu Devita, menatap lekat manik mata Istrinya. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Saat kau bermain badminton, kenapa aku tidak pernah tahu kau memiliki mansion semewah itu?" tanya Devita yang sejak kemarin penasaran.


"Kau ingin kita pindah kesana?" tanya Brayen balik tanpa menjawab pertanyaan Devita.


"Tidak." jawab Devita cepat. "Aku tidak suka jika tinggal di mansion terlalu besar."


"Aku membeli rumah itu sebelum aku tinggal di Milan. Biasanya aku datang ke mansion itu jika aku ingin bermain badminton. Tapi, sejak kepulanganku dari Milan, aku tidak pernah memiliki waktu untuk bermain badminton. Saat aku menikah denganmu, aku berpikir kau pasti tidak akan terlalu suka dengan mansion itu. Jadi aku memilih untuk membeli mansion baru." jelas Brayen.


"Kau ingin aku jujur atau berbohong?" Brayen mengulum senyumannya. Pertanyaannya itu sukses mendapatkan geraman dan tatapan tajam dari istrinya.


Brayen mengeratkan pelukannya. "Aku pernah membawa mantan kekasihku ke salah satu mansionku. Tapi sejak aku memutuskan memilih dirimu, aku menjual mansionku yang pernah mantan kekasihku datangi. Kemarin yang kita datangi adalah mansion yang tidak pernah ada wanita aku bawa masuk. Kau adalah wanita pertama dan terakhir yang aku bawa ke mansionku. Dan hanya kau yang akan selalu menjadi Nyonya di setiap rumahku."


Seketika senyum di bibir Devita terukir mendengar ucapan suaminya. Brayen memang selalu berhasil membuat hatinya tersentuh.


"Kenapa diam, hm?" Brayen mengecupi leher Devita.


"Kau kenapa menjual mansion yang pernah


di datangi mantanmu?" tanya Devita yang seolah berpura - pura tak mengerti.


"Aku tidak suka membawamu ke mansion yang pernah di datangi wanita lain," jawab Brayen. "Aku menjualnya dan membelikan mansion yang baru karena aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku tidak ingin melihat masa laluku. Semua orang memang memiliki masa lalu, tapi aku tidak ingin mengenang apapun dari masa laluku. Karena tidak ada yang penting di masa laluku. Aku hanya merasa bahagia ketika berada di sisimu."


Devita tersenyum haru mendengar perkataan suaminya itu. Sejak dulu, Devita memang selalu menyukai cara Brayen mencintai dirinya.


Hingga kemudian, Devita menangkup kedua pipi Brayen. Memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir suaminya. "Apa kau selalu memperlakukan mantan kekasihmu seperti ini?"


"Tidak," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Devita. "Aku tidak pernah memperlakukan wanita lain seperti dirimu. Wanita di masa laluku tidak ada yang berarti."


Devita kembali tersenyum, dia mengelus lembut rahang suaminya. "Aku mencintaimu. Terima kasih, kau selalu membuatku merasa paling istimewa. Sama sepertimu, kau juga sangat penting di hidupku."


"I know." Brayen menangkup kedua pipi Devita, memagut dengan lembut bibir Istrinya itu. Tidak hanya diam, Devita membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya. Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Brayen membawa tangannya, meremas pelan pinggang istrinya.


"Aku jauh lebih mencintaimu," bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


...***...


Angkasa melangkah masuk kedalam ruang makan. Pikirannya masih tidak bisa berpikir jernih. Dia masih mengingat permintaan Brayen. Namun, apapun yang Brayen inginkan, dia tidak akan pernah mundur sedikit pun. Dia juga tidak akan pernah menyerah dengan segala tantangan yang di berikan oleh Brayen.


"Angkasa?" sapa Citra ketika melihat Angkasa duduk di kursi meja makan. Citra menatap wajah putranya yang terlihat begitu banyak masalah.


"Ya?" jawab Angkasa datar. Dia mengambil kopi yang ada di hadapannya lalu menyesapnya.


"Ada apa sayang?" tanya Citra yang tatapannya tidak lepas menatap wajah putranya itu.


"Tidak apa-apa," Angkasa meletakkan gelas cangkir ke tempat semula.


"Kau tidak membohongi kami kan Angkasa? Apa ini karena Laretta?" sambung Varell yang sejak tadi terus menatap Angkasa.


"Aku sedang tidak ingin membahasnya. Biarkan semuanya aku selesaikan. Nanti kalian akan tahu." Angkasa kembali menjawab dengan nada datar. Dia tidak ingin melibatkan kedua orang tuanya dalam masalah ini. Lebih baik baginya, untuk menyelesaikan sendiri semuanya.


Citra mendesah pelan. "Pasti Brayen masih mempersulit mu untuk menikahi Laretta. Mama sudah tahu ini sejak awal. Berurusan dengan Brayen Adams Mahendra tidaklah mudah."


"Angkasa, Papa tahu, kau masih berat untuk melawan Brayen. Tapi, Papa hanya memintamu untuk tidak menyerah dengan apapun yang terjadi." ujar Varell memberi nasehat untuk putranya itu. "Tunjukkan keseriusanmu pada Laretta. Papa yakin, dia akan melihatnya. Sebagai seorang Kakak, Papa tahu dia ingin melindungi adiknya. Maka kau harus menunjukkan, jika kau pria yang pantas menemani Laretta."


Angkasa menggangguk samar. "Aku tidak akan pernah mungkin menyerah memperjuangkan wanitaku dan anakku. Aku pernah gagal mendapatkan wanitaku di masa lalu. Dan aku pastikan tidak akan pernah terulang lagi. Aku pastikan tidak akan pernah membiarkan diriku gagal. Laretta akan menjadi istriku dan hanya dia yang akan menjadi ibu dari anak - anakku. Tidak perduli berapa banyak Brayen menghalangiku, aku akan tetap menghadapinya."


Angkasa mengatakan dengan tegas. Dia memang tidak akan menyerah dengan apapun. Meski Brayen terus menghalanginya, dia akan tetap melawannya.


"Kau memang putraku," Varell menepuk bahu Angkasa. Tatapannya menatap bangga putranya itu.


"Brayen tidak akan menghalangimu!" Suara Alena berseru. Sejak tadi Alena sudah berdiri di ambang pintu. Dia tetap diam ketika mendengar percakapan keluarganya.


...************...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.