Love And Contract

Love And Contract
Bertemu Richard



Setibanya di perusahaan di tempat Brayen meeting, Brayen dan Devita turun dari mobil. Mereka melangkah masuk kedalam lobby perusahaan dan segera menuju ke arah lift.


Ting.


Pintu lift pun terbuka, Brayen menggenggam tangan Devita menuju ke ruang tunggu, yang terletak di depan ruang meetingnya.


"Devita, kau tunggu di sini. Dan ingat, kamu jangan pergi kemana - mana!" Tukas Brayen dengan penuh penekanan.


"Berapa lama kau akan meeting?" tanya Devita yang memastikan. Pasalnya, menunggu adalah hal yang paling membosankan. Jika saja, Brayen tidak meminta dirinya untuk ikut, lebih baik Devita berjalan - jalan untuk menikmati keindahan di Berlin sebelum kembali ke kota B.


"Satu jam, kau jangan coba-coba pergi seperti sebelumnya. Sebelum aku menyelesaikan meeting. Kau akan tahu akibatnya jika tidak menuruti perintahku!" Desis Brayen tajam.


Devita mencebik kesal, "Cepatlah kau selesaikan meetingnya. Jika kau meeting lebih dari satu jam maka aku akan menarikmu dari ruang meeting."


"Alright, sekarang kau bisa mengancamku. Cerdas." balas Brayen dengan seringai di wajahnya. Kemudian, dia membalikkan tubuhnya dari ruang tunggu dan segera menuju ke ruang meeting.


"Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan!" Gerutu Devita.


Devita duduk di sofa demi menghilangkan rasa bosan. Devita memilih mendengarkan lagu Because Of You - Kelly Clarkson.


I will not make.


The same mistake that you did.


I will not let myselft


Cause my heart so much misery.


I will not break.


The way you did, you fell so hard.


I've learned the hard way.


Because Of You.


I never stray too far from the sidewalk


Because Of You.


I learned to play on the safe side so i don't get hurt.


Because Of You.


I find it hard to trust not only me, but everyone around me.


Because Of You.


I am afraid


I lose my way


And it's not too long before you point it out.


I cannot cry.


Because i know that's weakness in your eyes.


I'm forced to fake


A smile, a laugh everyday of my life.


My heart can't possibly break.


When it wasn't even whole to start with.


"Well, it's a good song. Apa kau sedang patah hati?" Suara seorang pria menyapa, membuat Devita mengecilkan volume ponselnya.


Pandangan Devita kini teralih, melihat pria yang duduk di sampingnya. Devita mengerutkan keningnya ketika melihat pria itu, "R..Richard?"


Ricard tersenyum. " Ya, it's me. Kau masih mengingatku Devita?" tanya Richard.


"Of course. Aku masih muda, kenapa aku harus melupakanmu, lagi pula wajahmu cukup tampan untuk aku ingat." jawab Devita dengan santai.


Richard terkekeh pelan, "Dan kau memiliki wajah yang sangat cantik dan menggemaskan. Hingga aku tidak bisa melupakan saat kau menangis," balas Richard.


"Kau mengingatku karena kau menangis?" Devita mendengus tak suka "Jangan lagi mengingatnya itu sungguh memalukan,"


"Well, kau memang terlihat menggemaskan ketika kau menangis. Itu membuatku tidak bisa melupakannya. Tapi faktor lain yang mendukung aku mengingatmu adalah kau sangatlah cantik," balas Richard dengan tatapan yang tidak berhenti menatap manik mata Devita.


"Kau pandai sekali merayu, berapa banyak kekasih yang kau punya?" sindir Devita.


Richard mengedikan bahunya acuh dan berkata, " Tidak banyak, mungkin hanya tiga puluh,"


"Oh astaga, kau memiliki kekasih banyak sekali!" Seru Devita yang takjub mendengar jumlah mantan kekasih Richard.


Devita terkekeh pelan, " Ya, ya baiklah."


"Hm, Devita. Apa ku kesini untuk menemani suamimu?" tanya Richard.


"Ya, aku hari ini sedang menemani Brayen. Lalu, bagaimana denganmu. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Devita.


"Aku kesini karena diminta Pamanku untuk datang. Pamanku memiliki meeting dengan Brayen Adams Mahendra. Ketika aku sadar ternyata suamimu itu adalah pengusaha yang terkenal itu,"


"Ah begitu. Pantas saja kau ada di sini. Rupanya Pamanmu, itu memiliki meeting dengan Brayen,"


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau memilih lagu yang tadi sedang kau nyanyikan?"


"Tidak apa - apa, aku hanya menyukainya saja," jawab Devita.


"Benarkah?"


Devita mengangguk yakin.


"Aku pikir kau sedang patah hati," ucap Richard.


"No, aku tidak patah hati. Aku hanya menyukai lagunya saja." balas Devita.


"Kau sudah lama menunggu suamimu?" tanya Richard.


"Ya, sudah. Dia sungguh menyebalkan, dia tidak membiarkan aku untuk pergi sendiri. Dia juga mengancamku akan memblokir kartuku jika aku pergi sendiri seperti kemarin," Devita mendengus kesal mengingat perkataan Brayen tadi malam.


Richard tersenyum. " Kau sungguh menggemaskan, berapa usiamu Devita?" tanya Richard lagi.


"Aku?" Devita menunjuk dirinya sendiri. "Aku masih muda. Usiaku 20 tahun." jawab Devita.


"Kau pasti masih kuliah bukan?"


"Ya, kau benar. Saat ini aku sedang magang, tetapi suamiku yang menyebalkan itu membawa aku Berlin. Dia bilang aku harus ikut perjalanan bisnisnya."


"Devita," suara bariton memanggil Devita, hingga Devita mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Brayen?" Devita kini mentap Brayen yang melangkah mendekat ke arahnya. "Kau sudah selesai meeting?"


"Ya," jawab Brayen datar. " Kita pergi sekarang,"


"Tunggu, Brayen apa kau masih mengingat Richard? Dia yang menemaniku waktu itu, dia bilang dia kesini karena Pamannya sedang meeting denganmu," jelas Devita.


"Ya, aku tahu. Tadi aku sempat bertemu dengannya sebentar," tukas Brayen dengan dingin. Dia melayangkan tatapan tak bersahabat ke arah Richard.


"Kita pergi sekarang, kau belum makan, kan?" Brayen menggenggam tangan Devita, hendak meninggalkan ruang tunggu.


Namun, Devita melihat ke arah Richard sebentar dan berkata, " Richard aku pergi, semoga harimu menyenangkan."


"Semoga harimu juga menyenangkan, Devita." balas Richard.


Brayen kembali menarik tangan Devita meninggalkan Devita yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


...***...


Setelah meeting, Brayen membawa Devita ke salah satu restoran, mereka memutuskan untuk makan malam sebelum kembali ke hotel karena besok mereka sudah kembali ke Indonesia, malam ini mereka harus Merapihkan barang - barang mereka. Brayen harus segera kembali ke Kota B karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Terutama dia sekarang memiliki proyek kerja sama dengan Edwin Smith, Ayah mertuanya.


Brayen memesan salmon steak dan mashed potato untuk Devita sedangkan dirinya lebih memilih tenderloin steak. Tidak lama kemudian pelayanan pun mengantarkan makanan di meja mereka.


"Brayen, apa kau akan bekerja sama dengan Pamannya Richard?" tanya Devita sambil menikmati makanannya.


"Ya, aku akan bekerja sama dengannya. Rencananya aku akan membuka perusahaan cabang di sini," jawab Brayen dengan suara dingin tanpa melihat ke arah Devita.


Devita pun mengangguk paham.


"Kenapa tadi Richard tadi bisa ada bersamamu?" tanya Brayen dengan nada ketidaksukaannya.


"Aku juga tidak tahu, aku sedang berada di ruang tunggu, karena aku bosan, aku mendengarkan lagu. Mungkin karena musik yang aku putar terlalu keras, akhirnya dia menyapaku," jelas Devita.


"Apa yang dia bicarakan padamu?" tanya Brayen.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.