Love And Contract

Love And Contract
Menjenguk Olivia



Devita tersentak, dia menatap lekat ke arah Brayen. "Kau tidak berbohong padaku kan? Katakan sebenarnya ada apa?"


"Lucia yang berada di balik semua ini. Dia yang mencelakai mu. Aku menangkap Lucia, saat dia hampir melarikan diri. Saat anak buahku berkelahi dengan anak buah Lucia, wanita itu mengarahkan pistol dan ingin menembakku. Tapi Edgar menghalanginya. Edgar tertembak karena menyelamatkanku."


"Kau tenang saja, Edgar selamat. Tembakannya tidak mengenai organ vitalnya. Hanya saja Edgar mengumumkan pada publik jika dia sudah meninggal. Edgar mengatakan kepadaku, dia akan meninggalkan Indonesia dan hidup di negara lain, tanpa ada nama Wilson di belakang namanya."


Devita terdiam, dia tidak percaya semua ini karena ulah Lucia. Olivia terbaring koma karena Lucia. Bahkan dirinya hampir kehilangan anaknya karena Lucia. Tapi Edgar? Pria itu sangat baik. Sejak awal Devita tahu, Edgar adalah pria yang baik.


"Lalu, kenapa kau mengakuisisi Wilson Company? Bagaimana Edgar bisa menjalani hidupnya jika Wilson Company sudah menjadi milikmu? Dan Lucia, bagaimana hidupnya?" Devita tahu, Lucia memang salah. Tapi dia tetap tidak tega jika mereka harus kehilangan harta mereka.


"Lucia memang pantas mendapatkan apa yang telah dia perbuat. Kau tidak perlu merasa kasihan pada wanita yang seperti itu. Karena dia, aku hampir kehilanganmu dan juga anak kita." tukas Brayen dingin.


Devita memeluk erat Brayen. Devita tahu, jika suaminya itu tidak mudah untuk memaafkan orang lain. Terlebih jika orang itu telah mencelakai dirinya. Devita sangat mengenal sifat suaminya dengan baik. Selain itu, Lucia memang harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan.


"Bagaimana dengan Edgar? Dia tidak bersalah, Brayen? Kau mengambil perusahaan keluarganya. Bagaimana hidup Edgar?" Devita memberanikan diri bertanya tentang Edgar.


"Aku sudah mengirimkan uang lima milyar dollar ke rekening pribadi Edgar. Aku memberikan lebih banyak uang dari nilai saham yang dia miliki di perusahaannya." Dengan uang yang aku berikan, dia bisa membangun perusahaannya yang baru. Kau tenang saja, aku tidak suka memiliki hutang budi pada seseorang." balas Brayen.


Devita tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Devita tahu, meski suaminya itu bersikap kejam dan arrogant, tapi suaminya tetaplah orang yang baik. Hanya saja Brayen memiliki cara sendiri menunjukkan kebaikannya.


Devita menatap lekat wajah Brayen, mengelus dengan lembut rahang suaminya. "Kau tahu? Meski banyak sekali orang yang menilai dirimu sangat arrogant. Tapi aku tahu, kau itu sangat baik."


Brayen tersenyum tipis dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku melakukan semua ini, bukan karena ingin di nilai baik. Tapi semua yang aku lakukan hanya karenamu, Devita."


"I know, that's why i love you." bisik Devita.


...*******...


Devita tersenyum bahagia, saat Brayen menuruti keinginannya untuk menjenguk Olivia. Sudah sejak kemarin Devita ingin menjenguk Olivia. Brayen mendorong kursi roda memasuki ruang rawat Olivia. Devita menatap Felix dan kedua orang tua Olivia berada di dalam. Devita melirik ke arah suaminya, Brayen menunjukkan wajah dingin dan tidak bersahabat ketika melihat orang tua Olivia. Devita tahu, ini pasti kejadian dirinya pingsan setelah mengetahui kabar tentang Olivia. Tapi bagaimana pun juga kedua orang tua Olivia sangat baik. Devita pun sangat menghormati kedua orang tua Olivia.


"Paman.... Bibi." sapa Devita saat melihat Caroline dan Randy.


Randy tersenyum. "Kau di sini Devita? Bagaimana kabarmu Devita?"


"Aku baik Paman. Lama tidak bertemu, Paman tetap masih terlihat sangat tampan." balas Devita dengan senyuman di wajahnya.


"Kau juga tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, Devita." puji Randy dengan tatapan yang hangat ke arah Devita.


"Devita, kau di sini? Apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Felix menatap lekat Devita.


Devita tersenyum, "Aku baik Felix. Jangan khawatir."


"Felix, lebih baik kita pergi dari sini. Biarkan Devita bersama dengan Olivia." Randy mengajak untuk meninggalkan ruang rawat Olivia. Randy tahu, saat ini Devita ingin berdua dengan Olivia.


"Paman, bolehkah Bibi Caroline tetap ada di sini? Aku ingin bersama dengan Bibi Caroline?" pinta Devita.


"Aku saja yang menemanimu." tukas Brayen menatap dingin Caroline yang berdiri di hadapannya.


Devita menyentuh tangan Brayen dan memberikan tatapan yang lembut. "Aku ingin bersama dengan Bibi Caroline."


Brayen membuang napas kasar, dia sebenarnya tidak suka jika Devita bersama dengan Caroline. Terakhir perkataan dari Caroline membuat kesehatan Devita memburuk.


Felix menepuk pelan bahu Brayen. "Lebih baik, kita tinggalkan Devita berdua dengan Bibi Caroline. Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa - apa dengan istrimu."


"Apa yang di katakan Felix benar, kau jangan khawatir Brayen." sambung Randy yang mengerti kekhawatiran Brayen.


"Aku berada diluar, kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu." Brayen mengecup kening Devita, lalu beranjak keluar bersama dengan Randy dan juga Felix.


"Apa kabar Devita?" Caroline bertanya saat semua orang sudah meninggalkan ruang rawat Olivia.


"Aku baik, Bibi. Kau sendiri bagaimana Bibi? Aku merindukan kue buatanmu, Bibi. Sudah lama aku tidak kembali ke Kanada." Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. Dia memang merindukan Caroline. Sudah lama, Devita tidak bertemu dengan Caroline.


Caroline melangkah mendekat ke arah Devita, lalu mengusap dengan lembut rambut Devita. "Bibi, baik sayang. Maafkan Bibi yang hampir mencelakaimu. Harusnya Bibi tidak memberitahumu kabar tentang Olivia. Bibi sungguh minta maaf, Devita."


"Ini bukan salah Bibi, semua yang Bibi lakukan benar. Aku sama sekali tidak marah. Bibi tidak perlu untuk meminta maaf." Devita menyentuh tangan Caroline, dan menggenggam dengan lembut tangan Caroline.


"Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah. Bahkan setelah kau menikah dengan Brayen. Kau tetap menjadi wanita yang sangat baik. Ini alasan Olivia selalu ingin dekat denganmu. Karena memang kau sangat baik, Devita." kata Caroline, saat ini dia memang sungguh tidak enak dengan apa yang telah dia lakukan sebelumnya pada Devita. Harusnya Caroline bisa menahan dirinya.


"Bibi, sampai kapanpun aku tetap Devita yang Bibi kenal sejak dulu. Aku tidak akan pernah berubah, Bi. Meski aku sudah menikah dengan Brayen. Aku tetap Devita yang dulu." balas Devita.


Caroline tersenyum, "Devita, Bibi ingin bertanya sesuatu padamu?"


"Ada apa Bibi? Apa yang ingin Bibi tanyakan?" tanya Devita menatap Caroline yang berdiri di hadapannya.


"Apa benar Felix adalah kekasih Olivia? Selama ini, Bibi tidak pernah mendengar jika Olivia memilliki kekasih." sudah sejak pertama bertemu dengan Felix, Caroline ragu. Karena memang selama ini, Olivia tidak pernah menceritakan apapun padanya.


Devita tersenyum "Menurut Bibi, Felix pria yang seperti apa?"


"Felix pria yang sangat baik. Dia bahkan mau menerima segala kondisi Olivia. Sangat jarang, pria tampan dan hebat seperti Felix mau menerima kondisi Olivia saat ini. Selain itu, Bibi bisa melihat ketulusan dari Felix. Itu yang membuat Bibi yakin, jika Felix adalah pria yang baik untuk Olivia. Hanya saja Bibi tidak pernah mendengar Olivia mengatakan pada Bibi jika Olivia memiliki seorang kekasih." ujar Caroline.


"Bibi, Felix memang sangat menyukai Olivia sejak dulu. Aku berharap Bibi merestui hubungan mereka. Aku sangat yakin, Felix akan membahagiakan Olivia." balas Devita.


Seketika wajah Caroline menunduk, dia terlihat begitu muram. Matanya, kini sudah berkaca-kaca. "Jika saja Tuhan masih memberikan Olivia hidup seperti dulu, betapa bahagianya Bibi. Kau tahu Devita, Bibi hanya memiliki Olivia. Bibi tidak sanggup jika harus kehilangan putri Bibi."


...*************...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.