
"Jangan bermain denganku! Aku bisa saja menghabisimu detik ini juga!" Desis Brayen menyalang menatap tajam Angkasa yang duduk di hadapannya.
Angkasa menggeleng pelan dan tersenyum, "Aku kesini bukan untuk mengajakmu berkelahi, Brayen Adams Mahendra. Kenapa kau begitu membenciku, aku rasa Devita sudah menjelaskannya. Bahwa aku dan Devita sudah berakhir. Aku datang kesini, karena aku ingin membahas Laretta.
"Atas dasar apa kau datang kesini untuk membahas adikku! Dengar, aku tidak akan membiarkanmu untuk menikahi adikku!" Seru Brayen.
"Kau ingin mendengar penjelasan apa dariku? Devita sudah menjelaskannya padamu, bukan? Aku dan dia sudah berakhir. Jika kau bertanya padaku apa aku masih memiliki perasaan padanya maka aku akan menjawab dengan sejujurnya, jika ya aku masih memiliki perasaan pada istrimu. Tapi aku tidak bisa memilikinya. Aku tidak perlu menjelaskan karena Devita pasti sudah menjelaskan semuanya. Aku sudah kalah sejak awal, Brayen?" jelas Angkasa penuh dengan penekanan.
Brayen menggeram, mendengar Angkasa masih mencintai istrinya. "Sialan! Beraninya kau mengatakan masih mencintai istriku dan berniat menikahi adikku!"
"Aku hanya berkata sejujurnya padamu! Tapi aku tidak berniat untuk mengambil Devita darimu dan aku juga tidak menyukai mengambil istri seseorang. Untuk apa aku harus mengambil istri seseorang jika aku sudah memiliki seorang wanita yang cantik dan anak?" ujar Angkasa.
"Jangan beralasan denganku! Aku tidak akan pernah membiarkan adikku menikah dengan pria sepertimu! Kau pikir kau pantas menikah dengan adikku?" tukas Brayen sarkas.
"Lalu, jika aku tidak pantas untuk adikmu aku lebih pantas untuk siapa? Ah, atau aku lebih pantas untuk Devita?" seru Angkasa yang sengaja memancing emosi Brayen.
"Kau!" Geram Brayen. Dia terus menatap Angkasa. Tangannya terkepal begitu kuat. Kini dirinya berusaha untuk mengendalikan emosinya. Bisa saja Brayen langsung menghajar Angkasa detik ini juga. Tapi dia tidak ingin membuat keributan di kantornya.
Angkasa membuang napas kasar. "Aku masih tidak mengerti kenapa kau masih cemburu denganku? Bukankah aku sudah mengatakan, aku mengakui kekalahanku kepadamu? Jika aku memiliki kekuasaan seperti dirimu, sudah sejak awal Devita sudah menjadi milikku. Aku rasa Devita sudah mengatakan semuanya, bukan? Alasan kenapa aku tidak kembali ke kota B?"
"Aku dan Devita sejak awal tidak bisa bersama. Dia memang sudah di jodohkan denganmu sejak awal. Aku sudah tahu itu. Harusnya kau sebagai suaminya dan telah berhasil mendapatkan Devita, tidak perlu meragukan Istrimu ketika aku datang lagi. Meski aku datang, aku tidak akan merebut Devita darimu," lanjut Angkasa dengan penuh penekanan.
"Kau memang tidak bisa mengambilnya dariku!" Tukas Brayen dingin.
"Ya, aku memang tidak akan sanggup mengambil Devita dari tanganmu. Maka dari itu, karena kau sudah berhasil mendapatkannya, jagalah dia dengan baik. Jangan sakiti dia. Aku sudah mengenalnya sejak dia kecil, bahkan jatuh cinta padanya sejak dia masih kecil. Tapi keberuntungan tidak memihak kepadaku. Terkadang, aku harus menerima semua kenyataan ini. Aku tidak ingin menutupi jika aku masih mencintai Istrimu, tapi bukan berarti aku akan mengambilnya. Karena aku yakin, dia hanya mencintaimu."
Angkasa beranjak dari tempat duduknya dan menatap lekat Brayen. "Brayen Adams Mahendra, aku mohon kepadamu. Biarkan aku belajar untuk mencintai adikmu. Aku tahu, aku memang tidak pantas untuk adikmu. Tapi pikirkan bayi yang ada di kandungan adikmu. Aku akan selalu menjaga dan melindungi adikmu dan juga anakku. Biarkan aku mengambil peranku,"
"Aku harus pergi, aku memberikan waktu untukmu memikirkan ini. Aku berharap kau tidak menggunakan egomu," tutup Angkasa kemudian dia meninggalkan ruang kerja Brayen.
Sedangkan Brayen, dia masih terdiam dan menatap kepergian Angkasa hingga pria itu menghilang dari pandangannya. Pikirannya kembali mengingat perkataan pria itu. Brayen mengakui keberanian Angkasa, yang menceritakan padanya tentang perasaannya yang masih mencintai Devita.
...***...
Devita berjalan keluar dari kelas, dia baru saja menyelesaikan kelas pagi. Dia melirik arloji kini sudah pukul dua belas siang. Sudah waktunya Devita untuk makan siang. Devita menoleh mencari keberadaan Olivia. Meski kini pikiran dan hatinya terus memikirkan Brayen, tapi dia tidak bisa untuk meninggalkan kuliahnya. Devita tetap pada tujuan awal, dia ingin lulus sebelum satu tahun.
"Devita!" Suara teriakan Olivia begitu kencang berlari ke arah Devita.
Devita membuang napas kasar, mendengar suara teriakan Olivia. Sahabatnya itu benar - benar seperti di hutan. "Ya" jawab Devita singkat.
Olivia mengerutkan keningnya. Ketika melihat wajah Devita yang tampak muram. "Kau kenapa, Devita? Kau marah karena menungguku? Maaf, aku tadi lupa mengerjakan tugasku," kata Olivia dengan senyum lebarnya memperlihatkan gigi putihnya.
"Bukan, ini bukan karenamu. Aku memang sedang dalam keadaan yang tidak baik. Lebih baik kita makan, aku tidak terlalu lapar, tapi sepertinya makan cake dan ice cream di siang hari sangat enak." kata Devita dan Olivia mengangguk setuju.
Devita dan Olivia berjalan meninggalkan kampus, namun saat Olivia dan Devita melangkah keluar dari kampus. Langkah mereka terhenti ketika ada seorang kurir yang datang menghampiri mereka.
"Ya, maaf anda siapa?" tanya Devita balik, dia menatap pria yang ada di hadapannya berpakaian layaknya kurir, tapi dia tidak memesan barang apapun.
"Saya kesini untuk mengantarkan pesanan untuk anda, Nyonya," jawab pria itu.
Devita menautkan alisnya. Menatap bingung kurir itu. "Pesanan untukku? Tapi aku tidak memesan apapun?"
"Ada yang mengirimkan paket ini untuk Nyonya. Saya cuma diminta untuk mengirimkannya." jawab kurir itu sambil menyerahkan rangkaian bunga mawar merah dan sebuah kotak berpita merah.
"Ini dari siapa?" tanya Devita sambil menerima paket untuknya.
"Maaf Nyonya, lebih baik anda membacanya sendiri. Karena pengirim mengatakan. Beliau meletakkan namanya di dalam kartu ucapan," jawab kurir itu.
Devita mengangguk, " Baiklah. Terima kasih."
"Devita kau memiliki penganggum rahasia? Kenapa nasibmu beruntung sekali," ucap Olivia yang terus menatap rangakaian bunga Devita.
"Diamlah Olivia! Kita akan langsung membukanya saat kita berada di cafe nanti," jawab Devita. Tatapannya menatap rangakaian bunga dan sebuah kotak yang ada di tangannya.
Kini Olivia dan Devita kembali melanjutkan langkahnya, mereka berdua berjalan meninggalkan kampus. Mereka menuju ke salah satu cafe yang menjadi langganan mereka. Cafe yang letaknya tidak jauh dari kampus mereka.
Hari ini Devita sedang tidak menginginkan hot chocolate. Devita memesan ice cream dan chocolate cake. Devita memilih untuk duduk di dekat jendela, tempat favoritnya bersama dengan Olivia.
"Ini pesananmu," ucap Olivia sambil menyerahkan pesanan Devita, lalu ia duduk tetap di hadapan Devita.
"Sekarang bukalah paket itu, aku sudah penasaran sejak tadi." kata Olivia yang terus menatap paket untuk sahabatnya itu.
Devita membuang napas kasar, " Aku rasa aku tahu siapa pengirim paket ini," gumam Devita, lalu dia mulai membuka kotak itu.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.