
Seketika wajah Caroline menunduk, dia terlihat begitu muram. Matanya, kini sudah berkaca-kaca. "Jika saja Tuhan masih memberikan Olivia hidup seperti dulu, betapa bahagianya Bibi. Kau tahu Devita, Bibi hanya memiliki Olivia. Bibi tidak sanggup jika harus kehilangan putri Bibi."
Devita menatap lirih Caroline, ada perasaan bersalah di hatinya tapi dia, harus berusaha untuk menenangkan Caroline. Devita ingat kata Brayen, dia tidak boleh menyalahkan dirinya. Devita juga yakin, Olivia akan baik-baik saja.
Devita menyentuh tangan Caroline, memberikan kekuatan untuk Caroline yang terlihat begitu rapuh. Devita tahu, tidak ada seorang Ibu yang tidak hancur melihat keadaan anaknya.
"Bibi, aku yakin Olivia akan sembuh. Bibi tahu bukan? Sejak dulu Olivia adalah wanita yang tangguh dan kuat. Olivia tidak selemah itu Bibi. Aku juga yakin, selama ini Olivia mendengar kita. Hanya menunggu sedikit waktu, sampai Olivia bangun. Dan aku percaya, itu tidak akan lama lagi." Devita mengatakan ini dengan air mata yang sudah tidak mampu di tahan lagi. Caroline menatap Devita, bahkan Caroline sudah sejak tadi air matanya membasahi pipinya.
Devita menoleh dan menatap Olivia. Kemudian tangan Devita menyentuh tangan sahabatnya itu. "Olivia, kau lihat? Banyak sekali orang yang menunggumu. Tidak hanya aku, tapi orang tuamu dan juga Felix. Apa kau tidak merindukan kami semua, Olivia? Aku tahu, kau pasti bisa sembuh dan membuka matamu. Saat aku belum sadarkan diri, aku bisa mendengar orang-orang di sekitarku. Tapi memang aku belum sanggup, membuka mataku. Dan sekarang, kau lihat Olivia. Aku sudah lebih baik. Aku juga sudah bisa melihat orang-orang yang aku sayangi."
"Aku tahu, Olivia. Kau jauh lebih kuat dan tangguh daripada aku. Kau mampu melawan setiap rasa sakitmu, Olivia. Aku yakin itu, Olivia. Bangunlah Olivia, selain aku dan orang tuamu. Ada pria yang begitu mencintaimu dan selalu menunggumu untuk bangun. Kali ini kau tidak boleh menolak Felix. Karena Felix sudah menunjukkan perasaannya yang begitu tulus padamu, Olivia."
Devita menunduk air matanya mulai jatuh di punggung tangan Olivia. Devita sungguh sangat merindukan sahabatnya itu. Sudah lama, Devita tidak melihat senyum dan tawa dari Olivia yang selalu dia lakukan setiap harinya.
Caroline menatap Devita yang menahan tangis, dia sangat tersentuh. Caroline tahu Devita dan Olivia memang sudah bersahabat sejak kecil. Caroline bahkan tidak mampu untuk berkata - kata. Hatinya begitu sesak dan sakit. Caroline hanya bisa berdoa pada Tuhan, agar putrinya itu bisa di berikan kesempatan yang kedua.
"Aku sangat merindukanmu, Olivia." kata Devita lirih. Namun, seketika Devita tersentak. Saat merasakan jemari Olivia yang berada di genggaman tangannya mulai bergerak. Dengan cepat Devita menatap wajah Olivia.
"Olivia? Olivia kau mendengarku? Kau pasti mendengarku, Olivia? Buka matamu, Olivia?" suara Devita berseru. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya. Devita menatap Olivia penuh harap.
Caroline terkejut mendengar Devita berteriak memanggil nama Olivia. Dengan cepat, Caroline melangkah mendekat ke arah Devita.
"Devita ada apa?" tanya Caroline, menatap Devita yang terus berteriak memanggil nama Olivia.
"Olivia... Olivia tadi menggerakkan tangannya, Bibi." jawab Devita yang terus menatap Olivia, dia berharap Olivia bisa membuka matanya.
"Devita, itu mungkin hanya perasaanmu saja, Sayang." balas Caroline dengan suara yang parau. Tidak hanya Devita yang berharap, tapi dirinya juga berharap jika putrinya itu bisa sadar dan kembali sehat seperti sebelumnya. Hingga kemudian, perlahan Olivia mulai membuka matanya. Olivia menatap ruangan yang putih dan dia mendengar suara yang berteriak memanggil namanya. Olivia menoleh dia menatap Ibu dan juga sahabatnya berada di sisinya.
"Olivia! Kau sudah sadar!" Suara Devita berseru cukup keras dan bercampur dengan isak tangisnya. Devita tidak henti mengucapkan rasa syukur. Sahabatnya kini mulai membuka matanya.
Caroline menatap tak percaya. Rasanya ini seperti mimpi baginya. Caroline mendekat ke arah putrinya. Olivia? Olivia sayang, kau mendengar Mama?"
Randy, Felix dan juga Brayen berlari masuk saat mendengar suara dari dalam Terutama Brayen, dia mendengar suara tangis Devita dengan cepat, Brayen langsung berlari masuk kedalam ruang rawat Olivia.
"Olivia, kau sudah sadar?" Randy berlari menghampiri putrinya saat melihat putrinya sudah membuka matanya.
Felix meneteskan air matanya, saat melihat wanita yang di cintainya kini telah membuka matanya. Felix tahu, Olivia pasti akan sembuh. Felix mendekat ke arah Olivia.
Brayen tersenyum tipis, melihat Olivia yang sudah membuka matanya. Brayen mendekat ke arah Devita, lalu dia menekan tombol darurat memanggil Dokter.
Tidak lama kemudian, Dokter dan perawat datang memeriksa keadaan Olivia. Randy memeluk Caroline, yang sejak tadi menangis bahagia. Devita juga tidak hentinya meneteskan air matanya. Sedangkan Brayen, berada di sisi istrinya yang terus menangis melihat Olivia sudah sadar.
"Bagaimana keadaan Olivia?" Felix sudah tidak sabar menunggu, setelah Dokter selesai memeriksa dia langsung bertanya dengan cepat.
"Terima kasih," balas Felix.
"Kalau begitu saya permisi," Dokter dan perawat kini mulai berjalan meninggalkan ruang rawat Olivia.
"Devita?" panggil Olivia, menoleh ke arah Devita.
"Olivia, aku senang melihatmu. Aku merindukanmu, Olivia. Air mata Devita terus berlinang, dia tidak henti mengucapkan rasa syukur. Devita tahu, Olivia pasti akan membuka matanya.
"Aku juga merindukanmu. Kau baik - baik saja kan?" Olivia menatap Devita yang terus meneteskan air matanya.
"Aku baik Olivia." jawab Devita.
"Mama... Papa? Kalian di sini?" kini pandangan Olivia melihat ke arah Randy dan juga Caroline yang berdiri di sampingnya.
"Olivia? Sayang, Mama sangat merindukanmu." Isak tangis Caroline, dia langsung memeluk erat Olivia.
"Papa? Sangat senang melihatmu sudah bangun, sayang." Randy tersenyum bahagia menatap putrinya yang sudah sadar.
"Aku sudah tidak apa - apa, jangan khawatir, Pa." balas Olivia, dia tahu saat ini orang tuanya begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Bolehkah, tinggalkan aku berdua dengan Felix? Aku ingin berbicara berdua dengan Felix." pinta Olivia. Randy mengangguk kemudian, membawa Caroline meninggalkan ruang rawat Olivia.
"Nanti aku akan kesini lagi." ucap Devita. Brayen langsung mendorong kursi roda Devita meninggalkan ruang rawat Olivia.
...*************...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.