Love And Contract

Love And Contract
Kesabaran Laretta



"Aku tidak ingin melihatmu berada di rumahku! Pergi, dan jangan datang lagi kerumahku! Kau sudah memiliki istana sendiri, bukan! Jadi jangan datang lagi kerumahku! Aku tidak menerima ****** ini datang kerumahku!" Seru Alena meninggikan suaranya. Tatapannya terus menatap tajam ke arah Laretta. Wajah Alena menunjukkan ketidaksukaan pada Laretta.


"Alena!" Sentak Citra menajamkan matanya pada putrinya.


"Jangan membelanya, Ma! Aku memang tidak menyukai dia berada di rumahku! Kenapa juga dia harus datang kerumah ini?" balas Alena yang tidak terima jika dirinya di salahkan.


"Mama yang mengundangnya. Ini bukan hanya rumahmu Alena! Tapi akan menjadi rumah Laretta juga! Bulan depan Laretta akan menikah dengan Kakakmu! Jadi jaga bicaramu! Laretta itu akan menjadi Kakak Iparmu!"


Napas Citra memburu, dia mengatakannya dengan tegas. Tatapannya terus menatap tajam Alena. Kali ini Alena benar - benar telah melewati batasannya, dan Citra tidak akan tinggal diam untuk itu.


"Dan aku tidak akan pernah membiarkan ****** ini menikah dengan Kakakku! Dia itu hanya wanita rendah! Tidak pantas menikah dengan Kakakku! Aku sangat yakin, bayimu itu bukanlah anak dari Kakakku!" Teriak Alena keras.


Plakk.


Citra melayangkan tamparan keras di wajah Alena, hingga membuat Alena tersungkur di lantai. Alena menyentuh pipi kirinya, dia meringis kesakitan akibat tamparan yang di berikan oleh Ibunya.


"Alena." Laretta terkejut melihat Citra menampar Alena dengan begitu kerasnya.


"Mama berani menamparku hanya karena ****** seperti dia!" Tunjuk Alena ke arah Laretta. Wajah Alena semakin menunjukkan kemarahan dan kebencian terhadap Laretta.


"Jaga bicaramu Alena!" Teriak Citra.


"Ma. Sudah, Ma. Aku tidak apa-apa." Laretta mengelus lengan Citra, berusaha menenangkan Citra dari kemarahannya.


Alena bangkit berdiri, dia menatap tajam ibunya dan juga Laretta, "Aku membenci kalian!"


Alena langsung berjalan meninggalkan Laretta dan juga Citra. Dia tidak memperdulikan teriakan Citra kepadanya.


"Ma,lebih baik kita duduk dulu. Tenangkan dirimu, Ma." Laretta membawa Citra untuk duduk di sofa.


"Kenapa kau bersikap sangat baik Laretta? Mama sungguh tidak enak padamu. Maafkan Alena," kata Citra lirih. Dia sungguh merasa tidak enak pada Laretta. Terlebih tadi Alena melontarkan perkataan kasarnya pada Laretta. Namun, Laretta sama sekali tidak membalas. Laretta hanya tetap diam dan membiarkan Alena menghina dirinya.


"Ma, Alena memang belum menerima ku. Karena Alena masih menginginkan Devita menjadi Kakak Iparnya. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukaiku bukan? Untuk perkataan Alena, sebagai seorang wanita aku pasti terluka. Tapi aku lebih memilih untuk diam. Aku tidak ingin membalasnya. Biarkan Alena menilai diriku. Karena, kalau aku membalas Alena, aku takut akan melukai hati Alena." ujar Laretta dengan suara tenang. Tidak mungkin ada wanita yang tidak terluka mendengar ucapan dari Alena yang begitu menyakitkan. Tetapi Laretta lebih memilih untuk tidak menghiraukannya. Laretta lebih memilih untuk mengendalikan dirinya sendiri.


"Atas nama Alena, Mama sungguh meminta maaf. Alena seperti ini, karena dulu dia begitu dekat dengan Devita. Sejak dulu, Alena menginginkan seorang Kakak perempuan. Dan Alena mengaggap Devita sebagai teman dan Kakak baginya. Dulu Devita pernah berjanji akan menikah dengan Angkasa, tapi takdir berkata lain. Mama tidak pernah berpikir jika Alena akan seperti ini. Mama pikir, seiring berjalannya waktu, Alena akan menerima kenyataan bahwa Devita sudah menikah dengan pria lain."


"Kali ini Mama akan bertindak tegas pada Alena, Mama janji akan memberikan hukuman atas apa yang dia lakukan padamu Laretta. Mama sungguh meminta maaf atas ucapan Alena yang sudah menyakiti perasaanmu."


Citra menyentuh tangan Laretta, dan meremasnya pelan. Citra sungguh tidak enak pada Laretta karena perkataan dari Alena tadi yang sangat menyakitkan.


"Ma, aku tidak apa - apa. Sungguh aku mengerti semua ini, Ma. Aku percaya Alena akan berubah." Laretta mengelus lengan Citra. "Dulu, Kakakku Brayen juga tidak menyukai Angkasa. Karena Angkasa adalah cinta pertama dari Devita. Tapi Angkasa tidak menyerah, dia terus berusaha untuk mendapatkanku. Segala persyaratan yang di berikan oleh Kakakku, Angkasa sanggupi. Bahkan Angkasa tidak mengeluh sedikitpun."


"Kak Brayen, terkenal dengan sifatnya yang arrogant. Aku rasa Mama pasti sudah pernah mendengar ini. Kakakku tidak pernah bersikap ramah pada Angkasa. Bahkan di awal - awal, Angkasa harus berjuang lebih keras untuk membuktikan dirinya."


"Sekarang, jika aku di hadapkan dengan Alena yang masih tidak menyukai diriku. Percayalah, Ma. Aku sama sekali tidak masalah. Karena aku sangat memahami, bahwa Alena masih sangat mengharapkan Devita. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, Alena pasti akan menerima diriku, Ma."


Laretta tersenyum, dia mencoba untuk menjelaskan semuanya. Setidaknya Laretta percaya, jika suatu saat nanti Alena pasti akan menyukai dirinya. Meski harus menunggu beberapa waktu lagi, tidak masalah bagi Laretta.


Mata Citra berkaca - kaca mendengar perkataan dari Laretta. Hatinya begitu tersentuh dengan kebaikan yang di miliki oleh Laretta. Dia sungguh tidak menyangka, jika Laretta seorang wanita yang sangat baik.


"Putraku memang sungguh beruntung memilikimu," Citra memeluk erat tubuh Laretta dia mengusap punggung Laretta. "Terima kasih, atas kesabaran yang kau miliki."


Meski hati Laretta tersakiti dengan ucapan dari Alena, tapi Laretta berusaha untuk mengerti. Karena sejak awal yang di inginkan oleh Alena memang hanya Devita dan bukan dirinya. Namun, Laretta tidak akan pernah menyerah. Laretta akan belajar dari sifat Angkasa. Saat itu Angkasa begitu bersabar untuk mendapatkan hatinya.


...***...


Olivia duduk di tepi kolam renang, hembusan angin yang begitu menyejukkan menyentuh kulitnya. Sore ini, cuacanya begitu cerah, jika dulu mansionnya tidak memiliki taman namun tidak lagi sekarang. Sejak Felix menjadi kekasih Olivia, mansionnya kini di penuhi dengan bunga yang indah. Felix khusus membuatkan taman yang sama persis dengan taman milik Devita.


"Apa melamun sekarang sudah menjadi kebiasaanmu?" suara Felix berseru dari arah belakang. Olivia mengalihkan pandangannya, menatap Felix yang kini melangkah mendekat ke arahnya. Kemudian Felix duduk tepat di samping Olivia.


"Kau di sini? Biasanya kau itu selalu pulang malam?" tanya Olivia yang heran, karena Felix sudah berada di rumahnya. Padahal, biasanya Felix selalu pulang malam.


"Ya, karena aku ingin bertemu dengan Kekasihku." jawab Felix. "Apa kamu sudah makan?"


Olivia mendengus, "Jika aku belum makan, itu tidak mungkin Felix! Kau sangat tahu, aku itu mudah sekali lapar."


Felix terkekeh pelan, dia mengusap rambut Olivia. "Kau benar, aku sampai lupa. Kalau kekasihku itu mudah sekali laparnya."


"Felix?"


"Ya, kenapa?"


"Harusnya kemarin, kau itu tidak usah memisahkan Brayen yang sedang menghajar pria itu. Aku ingin melihat pria itu habis di pukul oleh Brayen."


Felix menggeleng pelan. "Kau ini bagaimana! Pria itu sudah babak belur di pukuli oleh Brayen. Apa kau tidak lihat, wajah pria itu sudah di penuhi oleh luka lebam?"


"CK! Itu belum seberapa Felix. Aku ingin pria itu di hajar habis oleh Brayen. Aku ingin pria itu hingga tidak mampu lagi berdiri," balas Olivia.


"Olivia, kau sungguh mengerikan? Sebenarnya apa salah dari pria itu? Kau belum menceritakan semuanya padaku. Dan yang aku tahu dia adalah Raymond Bautista." ujar Felix yang masih bingung kenapa Olivia sangat tidak menyukai Raymond.


"Jadi kau tahu pria itu bernama Raymond?" tanya Olivia dengan nada yang tidak suka.


Felix menghela nafas dalam. "Aku hanya mengenal namanya saja, yang aku lebih kenal itu Davin. Sebenarnya aku ingin tanya langsung pada Brayen tentang kejadian kemarin malam itu. Tapi aku tidak bisa mengusik Brayen, jika sepupuku itu sedang di penuhi oleh emosi."


"Apa kau masih ingat, ada pria yang menggangu Devita di Las Vegas?" tanya Olivia.


"Ya aku mengingatnya. Karena kau sudah bercerita padaku sebelumnya," jawab Felix


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.