
"Laretta, kenapa kau selalu menjagaku? Apa kau tidak lelah? Kau ini sedang hamil?" ujar Devita yang merasa tidak enak jika Laretta terus menjaganya.
"Aku tidak apa - apa, Devita. Lagian aku bosan ada di rumah. Aku juga datang bersama dengan pelayan. Di sini, aku mendatangi Dokter kandungan untuk memeriksa kandunganku. Kau tenang saja, bayi dalam kandunganku sangat kuat. Kau tidak perlu khawatir." balas Laretta. Dia paham saat ini Devita pasti merasa tidak enak padanya. Tapi Laretta memang senang menjaga Devita. Laretta lebih memilih untuk menjaga Devita dari pada harus berdiam diri di rumah.
Devita tersenyum, "Terima kasih, aku juga senang kau di sini. Aku tidak bosan jika kau ada di sini."
"Laretta kapan kau dan Angkasa akan kerumah Dad David dan Mom Rena? Aku dengar Dad David sudah jauh lebih baik." kata Devita yang kembali mengingat, terakhir Rena meminta Angkasa dan Laretta untuk datang.
"Setelah kau keluar dari rumah sakit, aku dan Angkasa akan datang ke rumah orang tuaku." jawab Laretta.
Devita menyentuh tangan Laretta, dan mengulas senyuman hangat. "Kau tidak perlu takut Laretta, aku yakin Mom Rena dan Dad David akan menerima Angkasa. Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Semuanya hanya membutuhkan waktu. Mereka pasti akan menerima Angkasa."
Laretta mendesah pelan. "Aku harap itu benar, karena jujur aku sangat takut bertemu dengan mereka. Aku takut kalau mereka tidak bisa menerima Angkasa. Dulu, orang tuaku pernah ingin menjodohkanku dengan seorang pengusaha asal Paris. Tapi aku menolaknya, karena aku tidak ingin di jodohkan."
"Dan itu artinya berarti Angkasa memang adalah takdirmu Laretta. Kau menolak di jodohkan dan kau mendapatkan Angkasa. Kau tenang saja, aku yakin semuanya akan baik-baik saja." balas Devita yang meyakinkan adik iparnya itu. Laretta mengangguk pelan dan tersenyum.
...***...
Devita memuntahkan semua isi perutnya. Tubuhnya lemas, kepalanya sudah mulai memberat. Brayen terus menemani Devita, dia memijit pelan leher istrinya. Tidak biasanya Devita muntah seperti ini. Semenjak hamil Devita sangat jarang muntah. Tapi di pagi hari ini, Devita tidak sanggup makan apapun. Ketika melihat makanan, kini Devita selalu mual. Namun, Brayen selalu memaksa istrinya untuk makan atau minum jus meski hanya sedikit.
Brayen membantu Devita, untuk duduk di ranjang. Brayen mengambilkan avocado juice yang di buatkan oleh pelayan. Setidaknya Devita masih bisa untuk minum juice, paling tidak ada nutrisi yang masuk di tubuh istrinya itu.
"Nanti, kau harus tetap makan." ucap Brayen sambil duduk di tepi ranjang, dia mengelus kepala istrinya.
Devita mendesah pelan. "Aku tidak ingin Brayen. Melihat makanan itu membuatku mual."
"Kau harus tetap makan Devita, anak kita butuh makan." tukas Brayen.
"Ya, tapi nanti. Aku masih belum ingin makan sekarang." Devita terpaksa mengalah. Karena memang ini, demi bayi yang ada di kandungannya. Meski mual, Devita harus memaksakan dirinya untuk tetap makan.
"Brayen, bagaimana keadaan Olivia? Apa Dokter sudah mengatakan sesuatu? Akhirnya Devita mulai bertanya lagi tentang Olivia. Bukannya Devita tidak perduli. Hanya saja, Devita tahu kandungannya lemah. Itu yang membuat Devita untuk selalu belajar berpikir positif.
"Olivia masih dalam penanganan Dokter. Aku yakin, dia akan sehat seperti dulu." jawab. Brayen meyakinkan istrinya itu.
"Kau tidak berbohong lagi kan, Brayen?" raut wajah Devita berubah menjadi muram. Devita takut, jika Brayen hanya berusaha untuk menutupi kebenaran.
"Apa kau percaya padaku?" Brayen mendekat, dia menangkup kedua pipi Istrinya
Devita mengangguk pelan, lalu Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. "Bukannya aku tidak percaya padamu, Brayen. Tapi aku hanya takut terjadi sesuatu pada Olivia. Andai waktu itu, Olivia tidak menolongku. Harusnya aku yang-"
"Aku tidak suka kau berbicara seperti itu, Devita! Kau pikir aku bisa hidup, jika sampai kau berada di posisi Olivia? Kau boleh mengatakan jika aku itu egois! Tapi aku tidak bisa hidup, jika terjadi sesuatu padamu!" Potong Brayen dengan tegas. "Tapi meski aku egois, aku tetap berusaha menepati janjiku untuk membantu temanmu. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk pada temanmu."
Brayen menarik dagu Devita, mengecup dengan lembut bibir Istrinya. "Ini bukan salahmu. Aku sangat tidak suka, jika kau menyalahkan dirimu."
Devita mengeratkan pelukannya. Dia memang sungguh bersyukur memiliki suami yang begitu mencintai dirinya. Brayen selalu menemani dirinya, bahkan dalam keadaan apapun Brayen tidak pernah meninggalkannya.
Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen. "Aku ingin kau di sini menemaniku. Aku tidak ingin kau memikirkan pekerjaanmu. Berikan semua pekerjaanmu pada Albert." Devita merajuk dan mengerutkan bibirnya.
Brayen mengulumkan senyumannya dia menempelkan keningnya pada kening Devita. "I will," bisiknya.
"Sekarang, aku ingin menonton televisi. Sudah lama aku tidak sedikit bersantai Brayen." pinta Devita. Brayen mengusap kepala istrinya. Brayen beranjak dan mengambil remote televisinya, lalu dia menekan tombol on untuk menghidupkan televisinya.
Brayen membalikkan tubuhnya, dia berjalan ke arah Devita dan duduk di samping istrinya sembari menatap ke layar televisi. Benar apa yang di katakan oleh Devita, selama ini mereka jarang menghabiskan waktu berdua. Pandangan Devita kini menatap ke layar televisi, dia tersentak mendengar apa yang telah di katakan oleh pembawa berita. Brayen menyambar remote yang ada di tangan Brayen, dia langsung membesarkan volume suara.
*Pagi ini, kabar terbaru datang dari seorang sosialita asal Australia, Gelisa Wilson istri dari Valdis Wilson, telah bunuh diri. Hal ini di duga, karena Gelisa Wilson terpuruk saat mengetahui putranya Edgar Rylan Wilson telah meninggal dunia. Tidak hanya itu, Lucia Wilson kini tengah berada di penjara. Bahkan Wilson Company telah berhasil di akuisisi oleh Mahendra Enterprise.*
Brayen langsung menyambar remote televisi, dia langsung mematikan televisi. Belum selesai pembawa berita itu menyelesaikan ucapannya. Brayen sudah lebih dulu mematikan televisi itu. Brayen sama sekali tidak menyangka jika Gelisa akan bunuh diri, tapi lepas dari itu, Devita masih belum mengetahui apapun. Termasuk dengan berita kematian Edgar. Selama ini Brayen belum menceritakannya karena kondisi Devita yang belum membaik.
Brayen menatap Devita yang masih terkejut dan tidak mampu untuk berkata apa - apa. Brayen semakin mendekat, dia menangkup pipi istrinya. Terlihat begitu jelas wajah panik dan terkejut di wajah istrinya itu.
"B-Brayen, apa yang sebenarnya terjadi?" wajah Devita terlihat begitu pucat. Meski dia memang membenci Gelisa, tapi kabar kematian Edgar itu begitu mengejutkan. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang baru di lihatnya itu.
Brayen menarik tubuh Devita masuk ke dalam pelukannya, dia mengecup puncak kepala istrinya. "Berita itu tidak sepenuhnya benar. Edgar masih hidup."
Devita tersentak, dia menatap lekat ke arah Brayen. "Kau tidak berbohong padaku kan? Katakan sebenarnya ada apa?"
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.