Love And Contract

Love And Contract
Karena Aku Mencintaimu



Brayen menarik tangan Devita dan membawanya duduk di pangkuannya. Tatapannya menatap lembut istrinya itu. "Aku tidak pernah sedikitpun menyesal. Bukankah aku sudah sering mengatakan padamu? Jika aku tahu dari awal aku memiliki istri sepertimu, maka aku tidak akan pernah membuang waktuku untuk memiliki wanita lain di hidupku."


Perkataan Brayen benar - benar membuat pipi Devita merona. Devita berusaha untuk menutupi wajah malunya di hadapan suaminya itu. "Kau cerdas sekali merayuku!"


"Aku berbicara yang sebenarnya," Brayen mengeratkan pelukannya. Kemudian tangan kanannya mulai mengusap dengan lembut perut istrinya.


Devita tersenyum, tanpa dirinya mengatakan Devita tentu perasaan suaminya begitu besar padanya. Kini Devita bisa tersenyum bahagia, memiliki suami yang begitu mencintai dirinya. Dan Laretta juga sudah menemukan kebahagiaannya dengan Angkasa. Namun, lagi - lagi wajah Olivia muncul di pikiran Devita saat ini. Devita memang sangat bahagia tetapi tidak sepenuhnya. Karena dia masih tidak akan pernah bisa tenang sebelum Olivia sembuh dan kembali sehat seperti dulu.


"Ada apa, sayang?" Brayen menarik dagu Devita, menatap lekat wajah istrinya yang terlihat begitu muram.


"Aku sangat senang Laretta dan juga Angkasa sudah menemukan kebahagiaannya. Tapi aku tidak bisa menutupi kesedihanku, Brayen. Aku masih terus memikirkan Olivia." jawab Devita, wajahnya semakin muram jika mengingat sahabatnya itu.


Brayen masih diam, dia tahu Devita memang selalu merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Olivia. Meski Brayen berkaki - kali mengatakan pada Devita ini bukan salahnya, tapi tetap saja Devita akan terus merasa bersalah.


"Aku berjanji padamu, Olivia akan kembali sehat seperti dulu." Brayen mengelus pipi istrinya, "Jangan berpikir yang membebanimu, Devita. Dokter sudah mengatakan kau harus lebih banyak beristirahat."


Devita mengangguk pelan, lalu membenamkan wajahnya di leher Brayen. Memeluk dengan hangat suaminya. Setiap masalah yang Devita hadapi, akan terasa begitu ringan jika suaminya selalu berada di sisinya.


Suara dering ponsel memecahkan keheningan. Devita mengurai pelukannya, lalu Brayen mengambil ponselnya dan menatap ke layar tertera nama Felix yang mengirimkan pesan.


Aku ingin memberitahumu, besok dokter sudah memperbolehkan Olivia untuk pulang. Dia sudah jauh lebih baik dan bisa melakukan rawat jalan untuk pemulihan nya. - Felix


Brayen tersenyum tipis, membaca pesan dari Felix. Tanpa menunggu Brayen langsung memberikan ponselnya pada Devita untuk membaca pesan dari Felix. Devita mengambil ponsel Brayen, dan membaca pesan di ponsel suaminya itu. Seketika Devita terdiam, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia baca.


"Brayen, sungguh Olivia besok bisa pulang?" Devita bertanya memastikan. Senyum di bibirnya terukir, ketika membaca pesan dari Felix yang mengatakan Olivia sudah bisa pulang.


"Dia akan menjalani perawatan rawat jalan. Kau tidak perlu cemas, aku akan mengaturnya. Setiap Minggu dokter yang aku kirim dari Rusia dan Spain akan mendatangi Olivia untuk memeriksa keadaannya." jelas Brayen.


Mata Devita berkaca - kaca. Kali ini, dia tidak mampu menahan air matanya. Suaminya selalu melakukan yang terbaik untuknya. Devita langsung memeluk erat Brayen, membenamkan wajahnya dileher suaminya.


Brayen mengusap punggung istrinya. "Aku tidak suka melihatmu menangis. Semua yang aku lakukan karena aku tidak ingin melihatmu menangis."


"Kenapa kau selalu melakukan hal yang membuatku semakin jatuh cinta padamu!" Devita mengurai pelukannya dia menatap lekat Brayen. Air mata haru berlinang membasahi pipinya.


"Tujuanku adalah membahagiakanmu, Devita. Kau adalah hidupku." Brayen menghapus air mata Devita dengan jemarinya.


"Dan aku menyukai setiap caramu membahagiakanku Brayen." Devita menatap lembut suaminya, "Bahkan, saat kau membela Angkasa aku sangat mengagumimu. Meski aku tahu, kau masih tidak menyukai Angkasa. Tapi kau tidak egois, kau melakukan ini untuk orang yang aku sayangi."


Brayen memeluk pinggang Devita, tangan kanannya merapihkan rambut Istrinya yang menutupi wajah istrinya itu. "Semua yang aku lakukan karenamu, Devita. Aku mengalahkan egoku semua itu karena mu. Aku sudah mengatakan itu bukan? Tujuanku adalah melihatmu bahagia."


Devita menangkup kedua pipi Brayen, memberikan ciuman bertubi-tubi di bibir suaminya. Menempelkan keningnya pada kening Brayen. "Kau memang bukan cinta pertamaku, Brayen. Tapi aku tidak pernah merasakan mencintai seseorang sebesar aku mencintaimu. Semua caramu untuk membahagiakanku, itu yang membuatku semakin mencintaimu."


Brayen tersenyum, dia menyentuh hidung Devita dengan hidungnya lalu menggeseknya pelan. "Kau juga bukan cinta pertamaku Devita. Percayalah, aku juga belum pernah merasakan cinta sebesar ini pada wanita lain. Perasaanku jauh lebih besar padamu. Dan segala yang aku lakukan karena aku begitu mencintaimu."


Tanpa menunggu, Devita langsung mencium bibir suaminya. Brayen memang selalu membuat dirinya bahagia. Dan setiap yang Brayen lakukan membuat Devita terharu.


...***...


"Apa Kakakku tadi mengatakan sesuatu yang buruk padamu? meski Laretta tahu, jika Brayen sudah membela Angkasa. Tapi tetap saja, Laretta yakin Kakaknya itu tetap saja akan mengatakan sesuatu yang bisa melukai hati Angkasa.


Angkasa tersenyum tipis, "Aku sudah menganggap perkataan Brayen padaku adalah perkataan yang manis. Jadi, jangan khawatir aku sudah terbiasa dengan perkataan Kakakmu."


"Kau benar, Kakakku memang berbeda dari yang lainnya. "Laretta mengulum senyumannya, "Dan aku yakin, dia hanya bersikap lembut pada istrinya."


"Setidaknya Brayen masih bisa bersikap lembut. Meski hanya dengan Devita." Angkasa tersenyum kembali, pandangannya kembali menatap langit yang begitu cerah.


"Hemm, Angkasa. Bolehkah aku bertanya sesuatu denganmu?" Laretta menatap lekat Angkasa.


Angkasa mengalihkan pandangannya, lalu melihat ke arah Laretta. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kau masih mencintai Devita?" tanya Laretta hati - hati. Dan Angkasa pun terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Laretta padanya.


"Jika kau tidak bisa menjawab, tidak masalah Angkasa. Aku hanya bertanya saja." Laretta menatap Angkasa yang masih tetap diam, saat dia menanyakan tentang ini. Laretta tidak memiliki maksud apapun. Dia hanya ingin bertanya pada Angkasa.


"Jawaban apa yang membuat hatimu senang, Laretta?" Angkasa membalas perkataan Laretta. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun. Karena sebentar lagi mereka akan menikah.


Laretta tersenyum, "Aku hanya menginginkan kejujuranmu di antara kita Angkasa. Aku berjanji, setelah ini aku akan menjawab segala pertanyaanmu."


Angkasa yang tadinya hanya diam, lalu dia memilih untuk menjawab. "Devita adalah cinta pertamaku. Bagiku, Devita adalah wanita yang sangat baik. Ketika aku tahu takdir tidak menyatukanku bersamanya. Aku juga sudah mengubah rasa cintaku padanya. Aku sudah tidak lagi mencinta Devita, tapi aku menyayangi Devita sebagai teman masa kecilku."


"Kisah di antara aku dengan Devita sudah berakhir. Devita telah di miliki oleh Kakakmu. Dan aku juga akan segera menikah denganmu. Aku memang tidak pernah tahu dengan takdir masa depanku. Awalnya aku merasa begitu berat, harus menjadi adik ipar dari wanita yang pernah menjadi cinta pertamaku. Tapi, seiring berjalannya waktu. Aku tidak lagi merasakan ketidaknyamanan. Harusnya aku itu bersyukur memiliki Kakak Ipar dari sahabat masa kecilku."


"Aku menyayangi Devita sebagai temanku. Sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara aku dengannya. Saat ini, aku hanya memikirkanmu dan juga anak kita. Percayalah, aku hanya menganggap Devita sebagai teman masa kecilku. Dan perasaan cintaku pada Devita telah tergantikan olehmu Laretta."


Laretta terdiam mendengar perkataan Angkasa yang begitu tegas. Kini mereka saling beradu pandang, Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremas pelan. Angkasa berusaha menyakinkan wanita yang duduk di sampingnya ini. Jika memang sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara dirinya dan juga Devita.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.