
Devita berjalan keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih terbalut bathrobe dan rambut yang masih di lilit oleh handuk. Saat Devita berjalan menuju ke walk in closet, terdengar dering ponsel miliknya. Devita berjalan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia menatap ke layar ponselnya tertera nama Olivia mengirimkan pesan padanya.
Olivia: Devita, saat aku di mobil bersama dengan Felix. Aku tidak sengaja melihat ada seorang pria yang menghampirimu. Dan kalian juga pergi ke kafe dekat dengan kampus. Siapa pria itu Devita? Wajahnya tidak asing bagiku.
Devita : Kau melihatku?
Olivia : Ya, tadinya aku mau turun tapi kelihatannya kau ingin berbicara serius dengannya. Jadi aku tidak ingin menganggumu. Siapa pria itu?
Devita : Apa Felix juga melihatnya?
Olivia : Sepertinya tidak, saat aku melihatmu dengan pria itu, Felix tengah menyetir dan menerima telepon.
Devita : Baguslah. Pria itu Edgar Rylan Wilson saudara kembar dari Lucia.
Olivia : Saudara kembar Lucia? Pantas saja sepertinya aku pernah melihat.
Devita : Kau pernah bertemu dengannya?
Olivia : Aku sudah mengatakan padamu bukan, perusahaan keluargaku bekerja sama dengan Wilson Company. Beberapa kali ada gala dinner dan melihat ada Edgar dan juga Lucia. Tapi aku tidak dekat dengan mereka. Edgar adalah pria yang sangat ramah dan juga baik. Di tambah dia juga sangat tampan.
Devita : Kenapa kau begitu memuji pria tampan, apa kau ini menyukainya?
Olivia : Aku menyukai semua pria tampan.
Devita : Terserah, sekarang aku mau beristirahat.
Devita meletakkan ponselnya di atas nakas, belakangan ini banyak sekali yang harus dia pikirkan. Rasanya ingin sekali berlibur dan menenangkan diri.
Brayen yang baru saja masuk kedalam kamar, dia menatap istrinya tengah mengirim pesan pada seseorang. Bahkan dirinya pulang saja, Devita tidak menyadarinya. Brayen berjalan mendekat ke arah istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Devita tersentak saat ada tangan kokoh yang memeluk dirinya dari belakang. "Astaga Brayen! Kau mengejutkanku! Kau mau aku jantungan!" Seru Devita, saat menoleh ternyata suaminya yang memeluk dirinya.
Brayen mengecupi leher Istrinya. " Kau mengirim pesan dengan siapa?"
"Olivia," jawab Devita pelan.
Brayen membalikkan tubuh Devita dan kini menghadap dirinya, " Kenapa kau masih menggunakan bathrobe? Kau sengaja menggoda suamimu yang baru pulang dari kantor ya?"
"Brayen! Aku ini baru selesai mandi! Jelas aku memakai bathrobe! Memangnya kau ingin aku pakai apa? Gaun pengantin?" seru Devita kesal.
"Sepertinya itu akan sangat bagus, jika kau memakai gaun pengantin." balas Brayen mengulum senyumannya.
"Jangan bicara yang tidak - tidak!" Devita langsung membantu Brayen melepaskan jas dan juga dasinya.
"Lebih baik kau mandi." ucap Devita, namun tangan Brayen memeluk pinggang Istrinya, dan dia terus mengecupi leher istrinya itu. "Sebentar, aku masih ingin menciummu," bisik Brayen.
Devita mendengus. " Aku sudah mandi, Brayen. Dan kau masih belum mandi. Cepat kau mandi!"
Brayen menarik dagu Devita, ******* dan mencium bibir istrinya dengan lembut. " Ya, mulutmu ini sangat berisik. Membuatku tidak henti untuk menciummu."
Devita mengulum senyumannya, kemudian Brayen beranjak menuju ke arah kamar mandi. Melihat Brayen yang sudah berjalan menuju ke arah kamar mandi, Devita langsung berjalan menuju ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
...***...
Brayen membaringkan tubuhnya di ranjang, dia menatap istrinya kini sudah tertidur pulas. Brayen tersenyum lalu dia menarik tangan Devita dengan hati - hati dan membawanya kedalam pelukannya.
Perlahan Devita mulai membuka matanya, saat merasakan ada tangan yang memeluk dirinya. " Brayen kau sudah selesai mandi?"
Brayen mengecup puncak kepala Devita dan mengeratkan pelukannya. "Sudah, maaf menganggumu."
"Tidak masalah," Devita membalas pelukan suaminya itu dengan erat, meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Biarkan Ibumu untuk menenangkan diri. Anak buahku, selalu mengawasi mansion keluargamu." kata Brayen yang berusaha untuk menenangkan Istrinya. Karena memang sebelumnya Devita sudah meminta pada Albert untuk mengawasi mansion keluarga Devita. Terlebih ancaman Nadia yang akan meninggalkan kota B dan kembali menetap di kota kelahirannya. Itu yang membuat Brayen lebih berjaga - jaga.
"Terkadang, aku tidak tahu harus seperti apa, Brayen. Aku memang membenci kenyataan ini. Tapi dia tetap Ayah kandungku. Aku mencintai dan menyayanginya. Aku tidak ingin orang tuaku bercerai. Mereka pasangan yang begitu sempurna." ujar Devita, wajahnya begitu muram, ingin sekali rasanya Devita membenci Edwin, namun tetap tidak bisa. Karena bagaimanapun Edwin adalah Ayah kandungnya.
Brayen mengelus rambut Istrinya, ia menatap lembut mata istrinya. " Jangan di pikiran, aku yang akan mengurus semua masalahmu. Aku tidak ingin kau memikirkan masalah itu lagi. Lebih baik kita beristirahat sekarang."
Devita mengangguk pelan, kemudian dia mulai memejamkan matanya. Brayen mengecup pucuk kepala istrinya dan mengeratkan pelukannya.
...***...
Dering ponsel terdengar membuat Brayen dan Devita yang tengah tertidur pulas harus terganggu dengan dering ponsel itu. Brayen mengabaikan panggilan teleponnya. Dia memilih untuk tidak menjawab panggilan telepon itu. Namun ponselnya tidak berhenti berdering.
"Brayen, jawablah. Siapa tahu itu penting." ucap Devita dengan suara serak. Dia masih tetap memejamkan matanya, ponsel Brayen benar - benar mengaggu tidurnya
Brayen mengumpat di dalam hati, di mulai membuka matanya dan mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Brayen beranjak dari tempat tidurnya dan menjauh dari Devita. Tidak mungkin Brayen menjawab teleponnya di dekat istrinya yang masih tertidur pulas.
Brayen melihat ke layar ponselnya tertera nama Albert, asistennya tengah menghubunginya, Brayen membuang napas kasar, dia menekan tombol penerima dan meletakkan ponselnya di telinganya.
"Albert, kau tahu jam berapa ini?" suara Brayen berseru dengan nada tinggi saat panggilannya terhubung.
"M..Maaf Tuan. Saya mengaggu Tuan di malam hari." jawab Albert gugup di sebrang telepon.
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!" Tukas Brayen dingin.
"Sungguh, saya minta maaf Tuan. Karena saya sudah menganggu waktu Tuan di malam hari. Saya menghubungi Tuan karena saya ingin memberitahu hasil Tes DNA yang Tuan inginkan dan sudah berhasil saya dapatkan." jelas Albert.
"Katakan apa hasil test itu," balas Brayen dia sudah tidak sabar untuk mengetahui semuanya.
"Tuan, dari hasil Tes DNA Lucia dan juga Edgar menunjukkan mereka bukan anak dari Tuan Edwin Smith. Saya yakin, Gelisa Wilson memiliki tujuan kenapa dia bisa mengatakan Lucia dan Edgar anak kandung dari Tuan Edwin." ujar Albert.
Brayen menyeringai puas. "Aku sudah tahu, pasti mereka bukan anak dari Ayah mertuaku."
"Lalu Tuan, apa Tuan akan langsung ingin mengatakannya pada Tuan Edwin?" tanya Albert hati - hati.
"Ya, aku sendiri yang akan menemui Ayah mertuaku dan memberikan hasil itu. Sudah cukup wanita itu memerankan drama
Sekarang dia harus mendapatkan akibat dari apa yang telah dia lakukan." tukas Brayen.
"Albert, kau terus awasi Gelisa Wilson dan kedua anaknya. Ingat, aku tidak ingin kau lengah. Kau harus tahu apa yang dilakukan oleh Gelisa." perintah Brayen.
"Baik Tuan" jawab Albert.
"Dan satu lagi, laporkan kepadaku jika Gelisa menemui Ayah mertuaku."
"Baik Tuan."
Brayen memutuskan panggilan teleponnya, kini dia tersenyum puas. Brayen sudah menduga, mereka bukan anak dari Edwin. Tidak tahu apa maksud dari Gelisa. Tapi Brayen akan memberikan pelajaran pada wanita itu.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.