Love And Contract

Love And Contract
Keinginan Brayen



Kini Brayen dan Devita sudah tiba di negara M. Devita langsung menggenggam tangan Vania turun dari pesawat, sedangkan Sean di genggam turun dari pesawat oleh Brayen. Mereka langsung menuju ke lobby. Ketika Sean melihat ada Paparazi yang memotret dirinya, Sean langsung mengulurkan tangannya minta di gendong oleh Brayen. Brayen tersenyum melihat tingkah putranya itu. Dia mengulurkan tangannya meminta di gendong oleh Brayen. Dia mengulurkan tangannya menggendong Sean. Sejak dulu Sean memang tidak menyukai jika ada orang lain yang memotret dirinya. Seperti saat ini, Sean langsung membenamkan wajahnya di leher Brayen, dan memeluk erat leher Brayen, agar tidak ada lagi orang yang memotret dirinya.


Devita tengah menggenggam tangan Vania, dia melirik ke arah putranya yang tengah menyembunyikan wajahnya di leher Brayen. Devita langsung mengecup puncak kepala Sean gemas. Kemudian, Brayen merengkuh bahu Devita dengan tangan kirinya, lalu berjalan menuju ke arah mobil yang telah menjemput mereka.


"Daddy... Mommy...." Vania langsung berteriak ketika melihat Angkasa dan juga Laretta sudah berada di lobby. Tidak hanya Angkasa dan juga Laretta tapi Felix dan juga Olivia berada di sana. Vania langsung berlari memeluk kedua orang tuanya. Lalu memeluk Felix dan juga Olivia.


Devita tersenyum melihat, Laretta, Angkasa, Felix dan juga Olivia. Dia dan juga Brayen langsung mendekat ke arah mereka.


"Devita?" Olivia langsung memeluk erat Devita, begitu pun dengan Felix yang memeluk Devita.


"Aku sungguh merindukanmu." Devita mengurai pelukannya, lalu memeluk Angkasa dan Laretta.


"Maaf, menyusahkanmu mengurus Vania." ucap Laretta yang merasa tidak enak.


Devita tersenyum. "Tidak sama sekali menyusahkanku. Aku menyayangi Vania seperti anakku sendiri."


"Paman Felix?"Sean langsung turun dari gendongan Brayen. Pertama kali dia memeluk Felix dan Olivia juga Laretta dan terakhir Angkasa.


"Boy, kau sangat tampan sekali seperti Paman." Felix mengusap rambut Sean. Namun, dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Brayen.


Felix berdecak. "Lihat saja fotoku saat kecil, kalau Sean itu sangat tampan seperti diriku."


"Sudahlah, lebih baik kita makan bersama. Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk kita semua," ujar Olivia.


Devita dan Laretta menggangguk setuju "Ya, kau benar Olivia."


Kemudian Devita dan juga Brayen masuk kedalam mobil yang sama dengan Felix dan juga Olivia. Sedangkan Angkasa dan Laretta berada di mobil yang berbeda bersama dengan Vania, putri mereka. Kini mobil mereka mulai beriringan meninggalkan lobby bandara.


...***...


Saat tiba di mansion milik Olivia, mereka langsung masuk kedalam ruang makan. Di ruangan makan Olivia telah menyiapkan berbagai jenis hidangan. Kemudian mereka semua duduk dan mulai menikmati makanan yang terhidangkan di atas meja.


"Sean sayang, sini sama Mommy. Kita makan bersama." Devita hendak mengambil Sean dari pangkuan Felix. Dia merasa tidak enak juga Sean menganggu Felix yang tengah makan.


"Mommy, aku ingin makan dengan Paman Felix." ucap Sean sembari mengerutkan bibirnya.


"Tapi Paman Felix sedang makan, sayang. Nanti Paman Felix terganggu," balas Devita mengingatkan dengan suara yang lembut.


"Tidak apa - apa, Devita. Biarkan Sean makan denganku." jawab Felix.


Devita mendesah pelan, "Maaf, karena sudah merepotkanmu, Felix."


"Sean itu keponakanku, aku menyayanginya. Tidak ada kata merepotkan untuk keponakanku sendiri." jawab Felix sembari mengecup pipi gemuk Sean.


Devita tersenyum, melihat Felix yang begitu menyayangi Sean. Tanpa Feiix sadari, sejak tadi Olivia yang duduk di sampingnya, terus menatap Felix yang begitu menunjukkan kasih sayangnya pada Sean."


Setelah mereka semua selesai makan, Felix langsung memberikan hadiah kalung yang sudah dia pesan kemarin untuk Vania. Vania begitu senang mendapatkan hadiah itu, dia langsung memeluk dan memberikan banyak kecupan di rahang Felix.


"Dan ini untukmu, boy." Felix menunjukkan golden monopoly yang sudah dia pesan juga untuk Sean.


"Paman, ini untukku?" seru Sean dengan wajah yang begitu bahagia.


Felix mengangguk. "Ya, ini untukmu."


"Terima kasih, Paman. I love you so much!" Sean langsung memeluk Felix dan mencium rahang Felix bertubi - tubi. Sedangkan semua orang yang ada di sana tersenyum melihat tingkah Sean.


Devita menghela nafas dalam, dia menatap mainan untuk Sean. Dia tahu, Golden Monopoly adalah satu mainan termahal dengan harga jutaan dolar.


"Felix, terima kasih. Aku sungguh tidak enak kau sampai membelikan mainan Golden Monopoly untuk Sean," ucap Devita yang sejak tadi merasa tidak enak. Sean putranya selalu hidup dalam kemewahan, yang sebenarnya Devita tidak menginginkan itu. Devita ingin putranya itu agar bisa bijaksana dalam keuangan. Tapi itu rasanya tidak akan mungkin. Terlebih lagi Sean sangat mirip dengan Brayen.


Felix tersenyum. "Sean sudah seperti anakku. Aku menyayangi Vania dan juga Sean. Tidak perlu berterima kasih."


Devita dan Laretta mengangguk. "Ya, kami memang sudah sangat lelah."


"Mommy, aku ingin tetap di sini bersama dengan Paman Felix dan Bibi Olivia," ucap Sean antusias.


"Jangan menyusahkan Paman dan Bibimu, oke?" Devita mengusap rambut Sean.


"Iya Mommy, tenang saja. Karena aku good boy." jawab Sean dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putihnya.


Devita tersenyum. Kemudian Devita, Brayen, Laretta dan juga Angkasa masuk kedalam kamar yang telah di tunjukkan oleh pelayan. Sean bersama dengan Feiix dan juga Olivia. Sedangkan Vania memilih untuk ikut dengan Laretta dan Angkasa. Karena sudah sejak tadi Vania sangat mengantuk dan ingin beristirahat.


...***...


"Devita, apa besok kau ingin pergi jalan - jalan?" tanya Brayen saat sudah tiba di kamar.


"Apa kau mempunyai ide untuk membawaku kesuatu tempat?" Devita membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Brayen dan mengelus rahang suaminya.


"Baiklah, aku akan memikirkannya." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Devita.


"Brayen, tapi lebih baik besok kita pergi tidak membawa, Sean."ucap Devita, yang langsung membuat Brayen menatap bingung istrinya.


"Kau ingin hanya berkencan denganku?" jawab Brayen dengan nada menggoda istrinya.


Devita mendengus. "Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin Sean lebih dekat dengan Felix dan juga Olivia. Apa kau tidak lihat tadi, Felix begitu sangat menyayangi Sean. Aku berharap setelah ini, Olivia mau menikah dengan Felix. Sudah tiga tahun, Felix menunggu Olivia memaafkannya. Itu sudah waktu yang lama Brayen. Mungkin dengan kehadiran Sean di tengah - tengah Felix dan juga Olivia, akan membuat Olivia memikirkan ini."


Brayen mengangguk, dia mengecup kening Devita. "Aku juga senang, jika Sean bersama dengan Felix dan Olivia. Jadi, tidak akan ada yang menganggu kita. Selama ini, kita sangat sulit untuk memiliki waktu hanya untuk kita berdua. Kau tahu? Sean selalu mengikuti kemanapun kita pergi?"


Devita mencebikkan bibirnya, dia memukul lengan Brayen. "Kau tahu, putra kita itu memang sangat manja. Ini semua karena salahmu, yang selalu memanjakan Sean! Jika tidak, Sean tidak akan mungkin seperti ini!"


Brayen mengulum senyumannya. "Kau membuatku tidak sabar, untuk segera memiliki anak perempuan sayang."


Devita mendelik, dia menatap tajam Brayen. "Tidak! Nanti saja! Dan tidak sekarang! Sean masih kecil, dia masih membutuhkan banyak perhatian dari kita."


"Meski kita memiliki dua belas anak sekalipun aku akan tetap memperhatikan Sean," jawab Brayen sembari mengecup bibir Devita.


"Dua belas? Kau saja yang melahirkan, Brayen!Aku hanya ingin memiliki dua anak!" Devita mendengus.


"Dua itu terlalu sedikit Devita!" Balas Brayen dengan nada kesal.


"Sudah, aku ingin mandi. Setelah itu beristirahat." ucap Devita ketus, dia hendak melangkah menuju ke arah kamar mandi. Namun, tangan Brayen langsung menarik tangannya.


"Kita akan mandi bersama, Devita. Aku sangat ingin memberikan adik untuk Sean. Jadi, jangan pernah melewatkan setiap kesempatan yang ada." ucap Brayen. Sedangkan Devita lebih memilih untuk mengalah membiarkan suaminya untuk melakukan keinginannya.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.