Love And Contract

Love And Contract
Permintaan Angkasa



"Aku sudah membuat Daddyku masuk ke rumah sakit. Kakakku juga pasti sangat membenciku," jawab Laretta lirih.


Devita menyentuh tangan Laretta dia mengelus lembut punggung tangan wanita itu. " Ini sepenuhnya bukan kesalahanmu Mungkin ini memang takdirmu bertemu dengan jodohmu. Bukankah kita tidak pernah tahu, apa takdir kita? Aku percaya, kau memiliki takdir yang baik Laretta."


"Kenapa ini harus terjadi padaku Devita. Bahkan aku tidak mengenal pria itu siapa. " Laretta merutuki kebodohannya tidur dengan pria asing hingga membuatnya hamil.


"Jika kau tidak keberatan kau bisa menceritakannya kepadaku, Laretta. Mungkin dengan kau bercerita, kau bisa jauh lebih tenang," kata Devita dengan lembut.


"Aku mengenal pria bernama Angkasa, ketika dia berlibur di Korea. Aku tidak bisa membohongi diriku pertama kali yang ada di pikiranku dia itu sangat tampan. Tapi aku tidak berniat dekat dengan siapapun. Aku memang belum menginginkan memiliki seorang kekasih. Hingga akhirnya kami beberapa kali bertemu saat di klub malam. Aku dengan teman - temanku. Dan Angkasa bersama dengan teman - temannya," ujar Laretta yang memilih menceritakan pertemuannya dengan Angkasa pada Devita.


"Hingga suatu hari, aku dan dia bertemu lagi di klub malam. Aku mabuk, lalu dia juga mabuk. Saat aku sadar, aku dan Angkasa sudah berada di hotel. Aku ingin marah, tapi ini terjadi karena kita sama - sama mabuk. Aku juga tidak menyangka aku akan hamil." Laretta melanjutkan cerita. Dia menghela nafas dalam, ketika menceritakan itu semua. Ya, kejadian dimana dia mabuk hingga lepas kendali. Dia tidak pernah menyangka dirinya akan hamil.


"Laretta, aku tahu ini pasti berat untukmu. Tapi aku ingin bercerita sesuatu padamu. Saat aku di jodohkan dengan Brayen, kami tidak saling mencintai. Kakakmu terlalu arrogant, banyak sifat dari Kakakmu yang aku tidak suka. Setelah aku melewati hari - hariku bersama dengannya. Kami saling jatuh cinta. Lalu aku tahu, perjodohanku dengan Brayen adalah takdir kami." Devita tersenyum ketika menceritakan ini. " Mungkin pria itu adalah takdirmu, Laretta. Kau bisa mengenalnya lebih dekat nanti. Aku yakin Brayen pasti akan selalu melindungimu. Meski Brayen marah padamu, tapi kau tetap adiknya. Dia pasti akan melakukan terbaik untukmu."


"Maaf, karena aku menyusahkan mu dan Kakakku," ucap Laretta dengan penuh penyesalan.


"Ssst, jangan pernah berkata seperti itu. Setiap orang pasti pernah memiliki kesalahan. Jangan terus menyalahkan dirimu, Laretta. Setiap masalah selalu memiliki solusinya. Aku akan berbicara dengan Brayen nanti," Devita memeluk bahu Laretta dia memberikan ketenangan pada adik iparnya itu.


Laretta membalas pelukkan Devita, "Kakakku beruntung memilikimu. Kamu sangat baik, Devita. Di saat semua orang menyudutkanku. Kau tetap membelaku.


Devita tersenyum, "Aku melakukan ini, semua karena aku sudah menganggap mu, sebagai saudaraku, Laretta."


...***...


Brayen kini sedang berada di ruang kerja pribadinya di rumah. Dia sengaja menjauh dari istri dari adiknya. Pikirannya kini tidak bisa berpikir jernih. Sejak dulu, Brayen selalu memberikan peringatan pada Laretta untuk tidak sembarangan dengan seorang pria. Jika bukan karena Devita, sudah sejak tadi dia menghabisi pria yang bernama Angkasa Nakamura. Beraninya pria itu mendekati adiknya, Brayen tidak akan pernah mengampuni pria itu.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Brayen langsung mengalihkan pandangannya. Kemudian, dia menginterupsi untuk masuk.


"Tuan," Albert menundukkan kepalanya saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


Tatapan Brayen kini menatap dingin Albert yang berdiri di hadapannya. " Ceritakan kepadaku kenapa anak buahmu tidak bisa menjaga adikku dengan baik!"


"Maaf Tuan, Nona Laretta selalu kabur dari para penjaga. Terakhir Nona Laretta meminta pada Nona Rena untuk membebaskan dari penjagaan. Nona Laretta tidak ingin banyak orang yang mengetahui dia adalah putri dari keluarga Mahendra," jelas Albert seraya menundukkan kepalanya.


Brayen membuang napas kasar. " Kau sejak dulu tahu Albert, aku tidak suka adikku berkenalan dengan sembarangan pria! Sekarang katakan padaku bagaimana keadaan Daddyku?"


"Tuan David sudah lebih baik. Beliau hanya tidak bisa menerima kabar yang mengejutkannya," jawab Albert.


Brayen mengangguk singkat. "Kau cari tahu tentang Angkasa Nakamura. Kehidupan pribadinya, siapa kekasihnya. Apa skandal yang pernah dia lakukan. Bagaimana keadaan perusahaannya. Aku tidak ingin adikku mendapatkan pria yang sembarangan di hidupnya. Aku harus memastikan, adikku harus mendapatkan yang terbaik," tukas Brayen dingin.


"Baik Tuan, saya akan segera mencari tahu tentang Angkasa Nakamura," jawab Albert.


"Kau Kembalilah bekerja, aku ingin segera kembali ke kamar menemui Istriku," balas Brayen.


"Baik Tuan," Albert menunduk mengundurkan diri meninggalkan ruang kerja Brayen.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya memejamkan matanya sebentar. Dia baru saja kembali ke Kota B harus mendapatkan masalah yang seperti ini. Brayen harus memastikan pria seperti apa Angkasa Nakamura.


"Nama itu sepertinya tidak asing di telingaku," gumam Brayen. Pikirannya berusaha mengingat nama yang pernah dia dengar itu sebelumnya. Angkasa, nama yang seperti dia pernah dengar. Namun, hingga detik ini Brayen masih belum mengingatnya.


...***...


Devita duduk di sofa kamar, dengan tatapan mata kosong. Devita tidak menyangka akan bertemu dengan Angkasa dengan keadaan seperti ini. Devita tahu sudah tidak ada cinta lagi di hatinya untuk Angkasa. Dia juga sudah tidak mengharapkan Angkasa. Tapi kenyataan macam apa ini, pria yang pernah ada di hatinya. Pria yang menjadi cinta pertamanya harus menjadi adik iparnya sendiri.


Angkasa tidak pernah memberi kabar sedikitpun pada Devita. Bahkan sejak terakhir kali Angkasa bertemu dengan Devita, dia hanya meminta Devita untuk menunggunya. Rasa kecewa Devita pada Angkasa tidak bisa di tutupi. Devita sangat kecewa pada Angkasa.


Dering ponsel milik Devita, membuat Devita menghentikkan lamunannya. Devita mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Devita mengerutkan keningnya, saat nomor tidak di kenalnya menghubunginya.


"Hallo?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita," suara bariton terdengar di telinga Devita. Seketika jantung Devita berdegup dengan kencang mendengar suara yang sangat dia kenali ini.


"Maaf anda siapa?" Devita bertanya dengan nada seolah tidak mengenalnya.


"Devita, ini aku Angkasa,"


Devita terdiam sesaat. Ternyata benar ini adalah Angkasa. Devita berusaha untuk tenang, kenapa Angkasa bisa menghubunginya. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu Angkasa menghubungi Devita.


"Devita?" panggil Angkasa lagi karena sejak tadi Devita hanya terdiam.


"Ya, ada apa kau menghubungiku?" Devita kembali bertanya dengan nada datar dan dingin.


"Devita bisakah kita bertemu? Ada hal yang harus aku bicarakan penting padamu."


"Tidak bisa, maaf. Suamiku tidak mungkin mengizinkanku," jawab Devita dingin.


"Please Devita, untuk kali ini aku mohon kita bertemu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu," suara Angkasa terdengar penuh permohonan dari balik telepon.


"Apa yang ingin kau katakan? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan," balas Devita tegas.


"Aku akan menjelaskan semuanya Devita, aku tidak mungkin mengatakan ini lewat telepon. Aku mohon, kita harus bertemu. Jika kau tidak ingin bertemu denganku, maka aku menghampirimu ke mansionmu," kata Angkasa dengan penuh penekanan.


"Kau mengancamku?" Seru Devita.


"Tidak Devita, aku hanya ingin berbicara denganmu, Devita. Aku mohon untuk kali ini."


"Aku akan mengirimkan alamat restaurant untuk kita bertemu. Besok, jam sepuluh pagi aku sudah ada di restaurant,"


"Terima kasih, Devita."


Tanpa menjawab, Devita langsung mematikan sambungan teleponnya. Besok dia harus bertemu dengan Angkasa. Setelah sekian lama tidak bertemu. Devita tidak mungkin mengatakan ini pada Brayen. Lebih baik dia menunggu waktu yang tepat.


Ceklek.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.