
"Aku harus bertemu dengan William Dixon." ucap Brayen sambil menyesap kembali kopinya. Tatapannya kembali tidak melihat
ke arah Devita. Meski sejak tadi Devita selalu menatap ke arahnya.
Devita mengerutkan keningnya dan berkata "Jika kau ingin bertemu dengan William, kau bertemu saja. Kau membawa mobilmu dan aku membawa mobilku. Maksudku, aku membawa mobil yang kau berikan padaku."
Brayen melayangkan tatapan dinginya ke arah Devita. "Kau ini berisik sekali! Sudah aku katakan aku akan mengantarmu!"
"Lalu pulangnya aku bagaimana? Jika kau mengantarku, aku harus pulang nanti menggunakan taksi? Tidak mungkin aku pulang bersama dengan Olivia. Aku tidak mau merepotkannya!"
Brayen, membuang napas kasar, dia melipat koran yang ada di hadapannya lalu kembali menatap dingin ke arah Devita dan berkata, "Aku akan menjemputmu! Kau jangan berisik! Lebih baik kita berangkat sekarang!"
Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Devita terkejut ketika melihat Brayen sudah berjalan meninggalkannya.Devita mengumpat di dalam hati,dia langsung meneguk susu hingga tandas. Lalu menyambar tasnya dan berlari menghampiri Brayen. Devita masuk kedalam mobil Brayen kemudian membanting pintu mobil. Brayen yang duduk di kursi pengemudi, dia mulai menyalakan mobilnya. Sebelum menginjak gas, dia melirik Devita yang sedang duduk menyilangkan kakinya hingga paha Istrinya yang begitu putih dan mulus terlihat jelas olehnya.
"Besok ketika kau pergi magang, jangan memakai dress yang terlalu pendek lagi!" Tukas Brayen dingin.
"Memangnya kenapa?" tanya Devita sambil mengerutkan keningnya, menatap bingung Brayen.
"Jangan banyak bertanya! Kau ini sering membawa mobil sendiri! Lebih baik kau perhatikan pakaianmu! Demi keamananmu sendiri!" Balas Brayen penuh dengan peringatan.
Devita mendengus kesal dan berkata "Ya ya baiklah,"
' Dia itu aneh sekali, padahal dia juga ikut membelikan dress untukku. Sekarang dia yang melarang aku untuk memakai dress pendek!' Batin Devita.
"Brayen, nanti aku takut banyak orang yang melihat kita. Mobilmu terlalu mewah, kenapa kamu tidak memakai mobil yang biasa saja? Kenapa harus memakai mobil Bugatti La Voiture Noire? Banyak yang akan menatapku nanti. Aku ini hanya karyawan magang Brayen," keluh Devita.
"Kemarin kau membawa Lamborgini Veneno yang aku berikan untukmu. Itu juga bukan mobil yang murah. Dan semua orang pasti tahu kau adalah Istri dari Brayen Adams Mahendra. Jadi tidak perlu khawatir dan berlebihan seperti itu." ujar Brayen tanpa mengalihkan pandangannya. Dia tetap fokus mengemudikan mobil.
"Tetapi mobil Bugattimu tiga kalipat lebih mewah dari mobil yang aku bawa kemarin Brayen Adams Mahendra!" Cebik Devita kesal
Brayen menaikkan sebelah alisnya dia melirik sedikit ke arah Devita, "Rupanya kau tahu tentang mobil sport?"
"Jangan bercanda denganku Brayen! Aku adalah Devita Smith. Meskipun perusahaan keluargaku masih sangat jauh di bawahmu. Tetapi, Ayahku juga memiliki banyak koleksi mobil sport. Mobilku juga mobil sport keluaran dua tahun yang lalu, yang kau bilang sudah ketinggalan jaman itu!" Seru Devita.
Brayen mengedikkan bahunya acuh. " Good, jika kau tahu jenis mobil sport. Itu artinya memang kau layak menjadi menantu dari keluargaku. Pengetahuanmu ternyata cukup berkelas,"
Devita memutar bola matanya malas, "Whatever!"
Setibanya Devita di Dixon's Group, dia berjalan tepat di samping Brayen masuk ke dalam Dixon's Group. Kini Devita sungguh sangat malu karena menjadi pusat perhatian. Rasanya Devita ingin segera berlari dari tatapan semua orang yang tiada hentinya menatap dirinya dan juga Brayen.
"Aku harus pergi ke ruang kerja William, kau lanjutkan pekerjaanmu. Nanti aku akan menjemputmu," kata Brayen. Devita pun mengangguk kemudian Brayen naik kelantai dimana ruangan William berada.
"Hi," suara seorang perempuan menyapa, membuat semua Devita mengalihkan pandangannya.
Devita mengerutkan keningnya, ketika melihat sosok wanita berambut coklat berdiri di hadapannya dan berkata, " Maaf, apa kita pernah berkenalan sebelumnya?"
Wanita itu tersenyum, " Perkenalkan aku Jasmine, aku karyawan di sini. Kemarin aku tidak masuk, jadi tidak bertemu denganmu. Kau magang di sini?" tanya wanita yang beranama Jasmine itu.
"Hi Jasmine, aku Devita dan ya, aku magang di sini. Senang berkenalan denganmu," jawab Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Aku juga senang berkenalan denganmu," balas Jasmine.
"Hm, Devita. Tadi itu Brayen Adams Mahendra kan? Kenapa dia bisa bersama denganmu?" tanya Jasmine. Tersirat dari wajah wanita itu yang penasaran.
"Kau mengenal Brayen?" tanya Devita balik tanpa menjawab tanpa menjawab pertanyaan Jasmine terlebih dahulu.
"Brayen, suamiku." jawab Devita datar. Meski sebenarnya dia malas mengakui Brayen, tapi jika dia tidak mengakuinya itu sama saja mencari masalah.
Jasmine tersentak. " What?! Jadi, kau Istri Brayen? Pantas saja, aku seperti pernah melihat wajahmu. Berarti kau adalah putri tunggal dari Edwin Smith?"
Devita mengangguk dan tersenyum samar, " Ya, kau benar"
"Ternyata kau jauh lebih cantik dari yang aku lihat di foto," balas Jasmine kau juga begitu beruntung mendapatkan seorang suami yang di kagumi oleh para wanita."
"Di kagumi wanita?" tanya Devita menautkan alisnya.
"Apa kau tidak lihat? Sejak kau dan Brayen memasuki lobby, para wanita tidak henti menatap kalian berdua. Para wanita itu pasti sangat iri padamu, Devita." ujar Jasmine.
Devita menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka pria yang telah menjadi suaminya itu banyak di kagumi oleh para wanita.
"Baiklah Jasmine, aku harus permisi.Aku ingin bertemu dengan Ms. Lauren," balas Devita.
Jasmine tersenyum dan berkata, " Ya Devita, sampai bertemu lagi."
Kemudian, Devita melanjutkan langkahnya, berjalan masuk ke dalam lift.
...***...
William duduk di kursi kebesarannya dengan menatap Brayen yang kini berdiri di hadapannya. Beberapa detik mereka saling melayangkan tatapan tajam dan mengintimidasi satu sama lain. Brayen menarik sudut bibirnya membentuk seringai kecil. Sedangkan Brayen dia menampilkan aura dingin dan datar. Seperti sedang berhadapan dengan musuh.
"Brayen Adams Mahendra, ada hal apa pewaris Mahendra Enterprise mendatangi perusahaanku?" tanya William dengan nada sinis dan terus menatap Brayen.
Brayen mendekat ke arah William, "Aku hanya ingin berkunjung ke perusahaan yang pemiliknya tertarik pada Istriku," sindir Brayen dengan seringai di wajahnya.
Dulunya Brayen dan William adalah teman dekat di Harvard University. Lalu, pertemanan mereka hancur karena William berusaha mendekati Anna, kekasih Brayen dulu.Sejak saat itu, Brayen sudah tidak menganggap William sebagai temannya.
Sejak saat Brayen memegang kendali Mahendra Enterprise, tentu saja membuat William sangat iri. Bagaimana tidak, perushaan Brayen jauh lebih hebat dan lebih besar dari Dixon's Group. Tapi meskipun demikian, Dixon's Group pun juga salah satu perusahaan yang cukup besar.
Selama Brayen menjabat sebagai CEO dari Mahendra Enterprise, dia tidak akan pernah mau bekerja sama dengan Dixon's Group. Begitu pun dengan William, dia tidak akan pernah mau bekerja sama dengan perusahaan milik Brayen. Pertemenan yang dulunya terjalin baik, kini hanya ada saling dendam dan kebencian satu sama lain.
William tersenyum sinis. " Sepertinya seorang Brayen Adam Mahendra, sedang berjaga - jaga agar Istrinya tidak aku rebut? Begitu maksudmu?" balas William, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Brayen.
"Kau terlalu percaya diri jika berpikir Devita akan jatuh ketanganmu. Bagaimana bisa kau tidak punya malu berniat mendekati seorang wanita yang sudah berstatus sebagai Istriku? Aku rasa hanya pria yang tidak tahu malu, yang bisa melakukan itu! Aku sungguh kasihan padamu, selalu menginginkan wanita yang telah menjadi milikku," tukas Brayen sarkas.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.