
**Stopp....β Para reader ku jangan lupa kasih like dan sajen votenya dongπ’ Komentarnya juga jangan lupa di perbanyak dongππ
Hadiah π· dan β Author tunggu ya. Ada nggak ya yang mau ngasih...π
ππ Happy Reading**....
"Jadi kau yang bernama Angkasa Nakamura?" tanya Felix dingin saat dia telah tiba di halaman belakang .
Angkasa mengangguk singkat.
"Sebenarnya, dulu aku ingin sekali menghabisimu. Tapi, setelah aku lihat tadi kau begitu menunjukkan keseriusanmu pada Laretta. Aku mengurungkan niatku. Aku bisa menilai kau adalah pria yang baik dan tepat untuk sepupuku. Ya, walaupun kau harus berhadapan dengan Kakak kandungnya sendiri kau harus siap menerimanya. Brayen bukan orang yang mudah untuk di taklukkan." tukas Felix mengingatkan.
Angkasa terseyum tipis. " Aku akan tetap berjuang mendapatkan Laretta. Meskipun Brayen selalu menghalangi dengan caranya. Maka, aku akan menemukan seribu cara untuk menghadapinya."
Felix mengangguk. " Aku baru pertama kali bertemu dengan pria yang begitu percaya diri
ketika melawan Brayen. Biasanya, mereka sudah ketakutan, ketika melawan Brayen. Tapi aku tidak melihatnya dari dirimu. Kau menunjukkan keberanianmu. Itu sangat hebat."
"Ketika kau tahu, ada seorang wanita yang mengandung anakmu, maka kau akan memiliki kekuatan itu. Meski aku dan Laretta sama - sama terjebak di kondisi yang membuatku dengannya berada di sini. Aku tidak menyesali kehadiran anakku," ujar Angkasa dengan yakin.
Felix terseyum, dia menepuk pelan pundak Angkasa. " Sepertinya kau sangat bahagia menjadi seorang Ayah."
"Tidak ada yang tidak bahagia ketika kita sudah menjadi seorang Ayah. Aku sangat menunggu itu," jawab Angkasa.
Felix menyandarkan punggungnya di dinding seraya melipat tangannya di depan dada. "Lalu, apa rencanamu? Aku sangat mengenal Brayen. Dia tidak akan begitu saja menyerahkan Laretta padamu."
Angkasa membuang napas kasar. " Aku akan tetap menunggu. Setidaknya aku sudah menunjukkan padanya, aku mampu melindungi Laretta. Aku yakin, dia akan menyetujui hubunganku dengan Laretta."
"Maaf, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Felix menatap Angkasa dengan serius.
Angkasa mengerutkan keningnya. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jadi benar, kau adalah pria yang ada di masa lalu Devita?" tanya Felix, yang sudah sejak lama ingin bertanya tentang ini, dan kali ini dia ingin bertanya langsung pada Angkasa Nakamura.
"Lebih tepatnya, dulu kita adalah teman masa kecil. Aku dan Devita tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Tapi, dulu aku dan dia pernah saling mencintai. Keluarga Devita tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Devita. Karena, Devita sudah di jodohkan oleh Brayen sejak kecil. Aku tinggal menetap di Jepang, dan mengurus bisnis keluargaku. Saat kejadian aku mabuk dengan Laretta, aku sedang berlibur ke Korea. Bahkan saat itu, aku tidak tahu Laretta adalah putri dari keluarga Mahendra. Laretta tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya."
"Aku rasa, jika Brayen masih cemburu padaku itu tidak masuk akal. Karena aku dan Devita sudah berakhir. Kami menganggap hubungan kami adalah teman masa kecil. Devita sudah menikah dan aku juga sudah bersama dengan Laretta. Jadi tidak mungkin, aku merebut Devita. Karena sejak awal, memang aku tidak pernah berniat untuk mengambil Devita. Meski aku hingga detik ini masih mencintai Devita, tapi aku lebih memilih melihatnya untuk bahagia."
"Saat ini, aku sedang belajar untuk mencintai Laretta. Begitupun Laretta. Aku yakin dia juga belajar untuk mencintaiku. Kami memang tidak pernah saling mencintai. Tapi aku yakin semua akan membutuhkan waktu. Aku ingin membesarkan anak - anakku dengan Laretta. Menurutku dia adalah wanita yang sangat cantik dan juga baik. Tidak mungkin aku menolak, jika sudah memiliki wanita seperti itu, bukan? Seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya."
Felix terdiam sesaat mendengar semua penjelasan dari Angkasa. Entah kenapa dia sangat yakin, jika Angkasa adalah pria yang tepat untuk Laretta. Felix bisa melihat ketulusan dan keseriusan dari Angkasa pada Laretta.
"Kalau begitu, bahagiakan sepupuku itu, dia itu memang sedikit manja. Karena kau tahu, dia tidak pernah mengalami kesusahan. Aku harap kau bisa mengerti Laretta," ujar Felix seraya menatap serius Angkasa.
Angkasa terseyum. " Aku pasti akan mengerti dan tanpa kau minta, aku akan membahagiakannya."
"Maaf, aku lupa bertanya. Aku mendengar saat Brayen menyebutkan namamu. Namamu Felix? Kau tadi terlihat tidak akur dengan Brayen?" ujar Angkasa.
"Ya, aku Felix Jordy Mahendra! Ibuku, adik kandung dari Ayahnya Brayen. Aku bukannya tidak akur, tapi memang sepupuku itu selalu mencari masalah. Dan mau tidak mau aku harus menerima takdirku untuk menjadi sepupu dari Brayen," tukas Felix dengan nada kesal. " Lebih baik kita masuk sekarang, Laretta pasti sudah menunggumu," lanjutnya mengajak Angkasa untuk masuk kedalam dan Angkasa pun mengangguk setuju.
...***...
William turun dari mobil, setelah memarkirkan mobilnya. Dia langsung berjalan memasuki lobby Apartemen yang di tempati oleh Elena. William sudah lama mengurung Elena, dia sudah tidak lagi mengizinkan Elena untuk memakai Apartemen pemberian dari Brayen.
Tujuan William mengurung Elena, agar Elena tidak melarikan diri dari kota B. William tidak perduli dengan nasib Elena, bagi William, anaknya yang berada di dalam kandungan Elena itu sangat penting. Meski harus lahir dari wanita yang seperti Elena, tapi setidaknya saat anak itu lahir nanti, dia akan memberikan uang yang besar pada Elena agar Elena meninggalkan kota B dan tidak pernah kembali menginjakkan kakinya di negara ini.
"Tolong! Ada orang di luar!" Suara bariton berteriak sembari menggedor pintu.
William tersentak mendengar suara teriakan itu. Dia langsung melangkah dan membuka pintu kamar yang terkunci.
"Kenrick? Kenapa kau ada di sini?" seru William, saat dia membuka pintu, ternyata Kenrick, asistennya berada di kamar yang terkunci.
"Tu..Tuan maaf. Sekitar dua jam yang lalu Nona Elena menghubungi saya, jika dia ingin makan pasta dan juga steak. Saya pun membawakannya, lalu ketika saya datang, dia meminta saya untuk meletakkan makanan yang saya bawa di kamar ini. Saat saya ingin keluar, Nona Elena sudah berhasil mengunci saya dari luar, Tuan." ujar Kenrick yang mulai gugup dan takut.
"Kenapa kau bisa begitu bodoh dan di tipu olehnya, Ken!" Seru William.
"Maaf Tuan," Kenrick menunduk, tidak berani menatap William.
Rahang William mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Cepat kau temukan wanita sialan itu!" Teriak William.
"Baik Tuan, tapi sepertinya Nona Elena meninggalkan surat untuk anda," ucap Kenrick yang langsung berjalan mengambil surat yang terletak di atas meja, lalu memberikannya pada Brayen.
Brayen membuang napas kasar, dia menatap dingin surat yang di berikan oleh Kenrick kemudian dia mengambil surat itu dan membacanya.
* William, ini aku Elena.
Jangan mencariku, aku sudah membawa barang - barang berharga keluar dari Apartemenmu. Aku tidak ingin berurusan denganmu. Ingat, kau tidak perlu mencariku, karena aku akan segera menggugurkan bayi ini. Terserah jika kau mau membenciku. Aku tidak pernah menginginkan anak ini. Aku ingin bebas. Jika kau menginginkan memiliki anak, kau bisa mendapatkannya dari wanita lain. Ada hal yang harus aku selesaikan dan itu jauh lebih penting dari pada aku harus mengandung anakmu.
Selamat tinggal.
Elena Davidson *
"Sialan!" William meremas dengan kuat kertas yang ada di tangannya itu. Rahangnya mengeras, kilat matanya penuh dengan amarah. Beraninya Elena kabur dan ingin menggugurkan anaknya.
"Dasar ******! Akan ku bunuh kau, jika sampai kau berani menggugurkan anakku!" Teriak William kencang.
Tubuh Kenrick bergetar, dia sungguh takut saat melihat William berteriak dan marah seperti ini. Terlebih ini merupakan kesalahannya yang tidak bisa menjaga Elena dengan baik.
"Kenrick! Temukan wanita ****** itu! Seret dia!" Seru William dengan penuh emosi. Sorot matanya begitu tajam.
"Baik Tuan," Kenrick menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan William.
"Aku bersumpah akan langsung membunuhmu, jika kau berani membunuh anakku, Elena." desis William.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih π·atau β juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian lohπ
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.