
Kemudian, Brayen melangkah masuk kedalam Badminton Court yang ada di dalam mansion itu. Angkasa berjalan mengikuti Brayen. Sedang Laretta dan juga Devita saling beradu pandang. Mereka masih tidak mengerti dengan semua ini. Olivia dan juga Felix ikut masuk kedalam.
Devita menatap kagum Badminton Court di dalam mansion suaminya ini. Di mansion yang dia tepati bersama dengan Brayen memang tidak memiliki Badminton Court.
Devita dan juga Laretta juga duduk di sebuah kursi yang jaraknya cukup jauh dengan Brayen dan juga Angkasa. Olivia dan Felix duduk tepat di samping Devita.
"Devita, ini mansion milik suamimu?" tanya Olivia yang sejak tadi tidak hentinya mengagumi mansion itu.
"Aku tidak tahu, tapi tadi Brayen mengatakan ini adalah mansion kami." jawab Devita. Dia sendiri masih belum mendapatkan jawaban dari Brayen. Setelah Brayen selesai bermain Badminton, Devita akan menanyakan ini langsung.
"Ini rumah lama Brayen." sambung Felix.
"Rumah lama?" ulang Devita, tatapannya kini teralih menatap Felix yang sedang duduk di samping Devita.
"Rumah ini dia beli sebelum menikah denganmu Devita. Tapi Brayen tidak pernah menempati rumah ini. Karena sebelumnya dia menetap tinggal di Milan. Jadi, beberapa tahun rumah ini kosong. Hanya Albert yang di percayakan untuk mengurus rumah ini." jelas Felix.
"Ah begitu," Devita mengangguk paham. "Jika Brayen sudah memiliki mansion sebesar ini, kenapa dia harus membelikan mansion baru saat kami menikah?"
Felix mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Tapi memang sejak dulu Brayen itu memang suka membeli mansion baru."
"Ya sudah, lebih baik kita melihat pertandingan Brayen dan juga Angkasa." ujar Olivia. "Sebentar lagi mereka akan memulai permainan mereka. Menurut kalian siapakah yang akan menang?"
Felix membuang napas kasar. "Aku tidak tahu, tapi sepupuku yang sialan itu selalu hebat dalam segala hal."
Olivia terkekeh. "Memangnya kau sering di kalahkan oleh Brayen?"
"Tidak!" Bantah Felix cepat. "Saat itu dia menang dariku karena keberuntungan saja. Aku yakin, kalau sekarang aku yang melawannya pasti aku yang menang."
"Aku berharap Angkasa yang menang."gumam Laretta, namun Devita yang duduk di sampingnya, bisa mendengar ucapan Laretta yang pelan itu.
"Seingatku dulu, Angkasa sangat menyukai Badminton." balas Devita sambil menyentuh tangan Laretta. Tatapannya, menatap lembut Laretta. "Jangan salah paham padaku. Aku adalah teman masa kecil Angkasa. Aku dan Angkasa adalah sebatas teman masa kecil."
Laretta tersenyum. "Ya Devita, aku tahu itu. Aku juga percaya padamu. Terima kasih karena sudah membuat hatiku jauh lebih tenang."
"Apa yang di katakan oleh Devita benar, seingatku juga Angkasa menyukai Badminton. Jadi aku yakin, pasti dia mampu untuk menghadapi Brayen." sambung Olivia meyakinkan Laretta.
"Aku berharap Angkasa mampu untuk menghadapi Kakakku." balas Laretta.
"Kita mulai? Kau siap?" Brayen tersenyum miring, menatap Angkasa yang berada di hadapannya. "Aku harus mengatakan sejak awal. Aku tidak suka orang lemah yang akan menjadi lawanku."
"Aku akan buktikan padamu." tukas Angkasa.
Tidak lama kemudian pandangan semua orang menatap Angkasa dan juga Brayen yang tengah memulai permainan. Seketika wajah Laretta menegang, ketika Brayen menangkis dengan mudahnya perlawanan dari Angkasa. Laretta menatap khawatir ke arah Angkasa. Terlihat jelas, Angkasa berusaha untuk melawan Brayen.
"Aku tidak menyangka Angkasa juga ternyata hebat dalam bermain Badminton. Biasanya orang yang melawan Brayen selalu kalah." komentar Felix yang terus menatap Brayen dan juga Angkasa. "Tapi hingga detik ini, Angkasa masih terus bertahan. Aku rasa Brayen, telah menemukan lawan yang seimbang."
"Brayen sungguh sangat tampan." Olivia berdecak kagum. Devita terkejut mendengar Olivia ternyata sepemikiran dengannya.
"Kau memuji Brayen?" seru Felix yang tidak terima. "Memangnya, aku ini kurang tampan untukmu?"
Olivia mengerutkan bibirnya. "Brayen itu sepupumu! Kenapa kau begitu saja cemburu."
"Tapi tetap saja, aku tidak suka jika kau memujinya!" Balas Felix kesal.
Olivia mendengus. "Kau juga sangat tampan, Felix! Jika kau ini tidak tampan mana mungkin aku mau denganmu!"
"Yess!" Pekik Laretta hingga dia bangkit berdiri. Dia bertepuk tangan saat Angkasa berhasil unggul satu skor dari Brayen.
Suara Laretta membuat Devita, Olivia dan juga Felix mengalihkan pandangan mereka. Terutama Olivia dan juga Felix yang tadi berdebat. Felix menatap tak percaya jika Angkasa berhasil unggul satu skor dari Brayen. Karena selama ini, Felix tahu sangat sulit melawan sepupunya itu.
"Sepertinya Brayen sudah menemukan lawan yang tidak bisa di remehkan." kekeh Felix.
"Ya kau benar. Aku juga tidak menyangka jika Angkasa bisa unggul dari Brayen," balas Olivia yang menyetujui perkataan Felix.
Devita menghela nafas dalam, di sisi lain dia senang melihat Angkasa bisa unggul. Tapi di sisi yang lainnya, tidak bisa di bohongi sebagai seorang istri Devita tentu akan selalu mendukung suaminya. Namun, sebisa mungkin Devita memilih untuk bersikap adil. Karena bagaimanapun ini hanya sebuah permainan. Tujuan permainan ini adalah membuktikan, jika Angkasa memilki banyak kemampuan. Terakhir, Devita juga membaca majalah bisnis. Angkasa mampu membawa perusahannya hingga sukses seperti sekarang ini.
Tidak hanya itu, tapi Angkasa selalu berjuang untuk mendapatkan Laretta. Dan yang paling membuat Devita kagum adalah Angkasa bersikap adil, ketika Brayen sudah menjebloskan Alena ke dalam penjara. Dengan semua itu, seharusnya Brayen bisa melihat kesungguhan dari Angkasa pada Laretta.
Pandang Devita kini menatap Brayen. Terlihat jelas raut kemarahan di wajah Brayen.Tatapan tajam Brayen, dengan tatapan permusuhan ke arah Angkasa.
Hingga kemudian, semua orang yang berada di sana melihat Brayen yang berhasil membuat skor menjadi seri. Baik Laretta, Devita, Olivia dan juga Felix mereka begitu tegang. Di menit-menit terakhir Brayen berhasil membuat skor menjadi seri. Mereka menatap Angkasa terus menangkis setiap serangan dari Brayen.
"Kakakku memang sungguh sangat hebat." gumam Laretta dengan helaan nafas berat. Jantungnya kini berdegup dengan kencang. Dia terus berdoa agar Angkasa bisa menang dari Brayen. Jika dulu, saat Laretta belum mengenal Angkasa, dia selalu menginginkan Kakaknya untuk menang. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup Laretta, dia menginginkan kekalahan Kakaknya.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.