
Devita melihat jam dinding, kini sudah pukul dua siang. Devita yang masih berada di kamar pribadi suaminya tengah duduk di sofa empuk sembari menonton film. Sedangkan Brayen berada tidak jauh dengan Devita. Hanya saja suaminya itu tengah berkutat dengan MacBook di tangannya.
"Brayen apa nanti kau akan meeting lagi?" tanya Devita memastikan. Rasanya dia tidak rela jika Brayen meninggalkan. Ya, meski Devita tahu itu terdengar sangat egois. Tapi Devita memang ingin selalu berada di sisi suaminya.
"Aku rasa Direktur pemasaranku bisa menggantikanku," jawab Brayen tanpa mengalihkan pandangannya yang tetap fokus pada MacBooknya.
Terdengar suaranya ketukan pintu, Brayen dan Devita mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Brayen langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan... Nyonya...." sapa Albert saat masuk kedalam.
"Ada apa, Albert?" tanya Brayen dingin.
"Tuan, Nagita sudah menunggu di ruangan anda, Tuan." jawab Albert.
"Siapa Nagita?" Devita memincingkan matanya ke arah Brayen.
Brayen tidak langsung menjawab, dia langsung meletakkan MacBooknya ke tempat semula, kemudian beranjak dan menghampiri Devita. "Asisten baru untukmu, jika menurutku dia itu pantas untuk menjadi asistenmu maka besok dia akan datang kerumah kita." Brayen mengecup kening istrinya, lalu berjalan meninggalkan Devita dan diikuti oleh Albert yang menyusul Brayen keluar.
...***...
Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Brayen memasukkan tangannya ke saku celananya, pandangannya menatap sosok wanita yang berambut merah tengah duduk di ruang kerjanya.
"Kau yang bernama Nagita?" suara Brayen menyapa terdengar begitu dingin. Dia melangkah mendekat dan langsung duduk di kursi kerjanya.
Wanita itu mengangguk. "Benar Tuan, saya Nagita."
"Apa kau sudah tahu dari Albert, bahwa kau akan menjadi asisten dari Istriku?" tanya Brayen dengan tatapan dingin pada Nagita yang duduk di hadapannya.
"Sudah Tuan, saya akan menjadi asisten dari istri anda. Mrs. Devita Mahendra," jawab Nagita dengan tegas.
"Allright, dan apa kau sudah tahu apa yang aku tidak suka?" Brayen kembali terus bertanya, tatapannya terus menatap wanita itu.
"Sudah Tuan, Tuan Albert sudah mengatakan semuanya. Termasuk Tuan tidak suka jika saya melakukan kesalahan. Saya pastikan saya akan bekerja dengan baik, Tuan." jawab Nagita dengan yakin.
"Tidak hanya itu, saya juga tidak suka jika ada orang yang lambat dalam bekerja. Dan karena kau akan menjaga istriku, kau harus memberitahuku kemanapun istriku pergi dan apa yang di lakukan. Istriku sekarang sedang hamil, aku tidak akan mentoleransi kesalahan jika menyangkut istriku," tukas Brayen memberikan peringatan.
Nagita mengangguk paham. "Saya akan menjaga istri anda sebaik mungkin, Tuan."
"Besok, kau bisa datang kerumah ku. Albert akan mengatur tempat tinggalmu tidak jauh dari rumahku. Kau harus datang tepat waktu, dan kau bisa pulang ketika istriku memperbolehkanmu untuk pulang." jelas Brayen.
"Baik Tuan, besok saya akan datang tepat waktu." balas Nagita.
"Kau boleh pergi sekarang," jawab Brayen. Nagita menunduk, lalu dia undur diri dari hadapan Brayen.
Tanpa Brayen sadari, Devita sudah berdiri di ambang pintu. Bahkan Devita berpapasan dengan wanita yang akan menjadi asistennya itu.
Devita melangkah mendekat ke arah Brayen. "Apa sudah selesai memilihkan asisten untukku, Tuan Brayen Adams Mahendra?"
"Sayang kau di sini?" Brayen sedikit terkejut karena Devita berada di ruang kerjanya. Pasalnya tadi, istrinya masih berada di ruang pribadinya.
Devita tidak menjawab, dia langsung duduk di atas pangkuan suaminya. "Apa kau akan pulang terlambat hari ini?"
"Kenapa? Kau bosan, hm?" tanya Brayen sambil menyelipkan rambut Devita ke belakang telinga istrinya itu.
"Tidak, lagian aku hanya bertanya saja. Apa kau akan pulang terlambat?" Devita menyandarkan kepalanya di pundak Brayen. "Jika kau pulang malam, aku akan menunggumu. Aku tidak ingin pulang sendiri. Aku ingin hari ini bersama denganmu."
Brayen tersenyum, dia mengusap punggung Devita. Belakangan ini istrinya itu memang sangat manja dan tidak ingin di tinggal jauh.
"Aku sudah selesai, sayang. Kita bisa pulang sekarang," balas Brayen.
Devita mengurai pelukannya, dan menatap Brayen. "Kita bisa pulang sekarang? Kenapa cepat sekali? Biasanya, kau selalu pulang terlambat, apa karena ada aku di sini jadi aku pulang lebih awal?"
"Aku bisa meminta Albert untuk mengurus semuanya, aku tidak tenang jika kau berada di luar rumah terlalu lama." Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita. "Kita pulang sekarang, kau bisa beristirahat di rumah."
"Apa aku menyusahkanmu?" tanya Devita yang merasa tidak enak pada suaminya itu.
"Tidak sayang, aku hanya tidak tenang jika kau terlalu lama berada di luar rumah." Brayen membantu Devita untuk berdiri. Dia mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja, kemudian membawa istrinya berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
...***...
Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sore itu cuaca begitu cerah dan sangat jarang melihat Brayen yang pulang lebih awal. Jika bukan karena istrinya ikut ke perusahaan, mungkin Brayen akan pulang ke rumah terlambat. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, tapi dia tidak mungkin membiarkan Devita menemani dirinya hingga larut malam.
Saat Brayen dan Devita masuk kedalam rumah, mereka bertemu dengan Laretta yang baru saja keluar dari studio lukisnya.
"Kak Brayen, Devita? Kalian sudah pulang?" sapa Laretta ketika melihat Brayen dan Devita masuk kedalam rumah.
"Ya Laretta?" balas Devita.
"Brayen, kau masuk dulu ke kamar nanti aku menyusul," kata Devita sambil menatap Brayen.
"Jangan terlalu lama di luar, kau itu harus banyak beristirahat." Brayen mengecup kening Devita, lalu dia berjalan meninggalkan Devita dan juga Laretta.
"Laretta apa kau akan datang ke pesta pertunangan Davin?" tanya Devita saat Brayen sudah pergi.
"Ah ya, aku baru ingat. Aku baru saja di kirimkan undangan pertunangan dari Davin." jawab Laretta. "Aku ikut Devita, nanti aku akan membawa Angkasa. Bagaimana denganmu? Kau juga ikut kan?"
"Ya, aku ikut. Besok ada desainer yang di kirimkan oleh Brayen. Nanti, kita pilih gaun bersama, ya?" kata Devita.
Laretta tersenyum."Baiklah, tapi apa Olivia juga ikut?"
"Aku tidak tahu, tapi Brayen mengatakan jika Felix akan membawa Olivia. Tapi aku rasa lebih baik aku menghubungi Olivia." ujar Devita lalu Laretta mengangguk setuju.
Kemudian, Devita mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu mulai menghubungi Olivia.
"Olivia?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita? Ada apa?" tanya Olivia dari sebrang telepon.
"Olivia? Apa kau akan datang ke pesta pertunangan Davin?" tanya Devita ingin tahu.
"Pesta pertunangan? Aku tidak tahu? Siapa itu Davin? Tapi sepertinya aku pernah mendengar nama itu?"
"Aku juga tidak ingat. Sama sepertimu Olivia, aku juga sepertinya pernah mendengar nama itu. Tapi Davin mengundang Brayen dan juga Felix ke pesta pertunangannya. Apa Felix belum memberitahumu?"
Terdengar helaan nafas berat Olivia dari balik telepon. "Belum, aku rasa Felix sudah menemukan wanita baru yang berada di Madrid."
Devita terkekeh pelan, "Tidak mungkin, Felix tidak mungkin berpaling darimu."
"Sudahlah, aku malas membahasnya."
"Ya sudah, besok kau datang kerumahku. Besok kita akan memilih gaun untuk menghadiri pesta nanti."
"Eh? Tapi bagaimana jika Felix tidak mengajakku, Devita?"
"Singkirkan pikiran burukmu itu, Olivia? Aku tidak ingin mendengarnya. Besok kau harus datang ke rumahku. Aku tidak mau tahu, kau harus datang."
"Ya, ya baiklah. Besok aku akan datang." jawab Olivia.
"Ok, see you....." tutup Devita, dia memutuskan sambungan teleponnya.
Devita melangkah mendekat ke arah Laretta. "Aku sudah menghubungi Olivia, besok dia akan datang kesini?"
"Ya sudah, besok kita akan memilih gaun bersama?" balas Laretta.
Devita mengangguk. "Kalau begitu aku masuk dulu ke kamar, Brayen sudah menungguku."
"Ya Devita, selamat beristirahat." ucap Laretta.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.