
Devita masih memilih diam. Dia tidak menjawab sepatah kata pun pada suaminya itu. Jujur saja, hatinya begitu tersentuh mendengar semua kata - kata yang terlontar dari suaminya itu.
"Apa sekarang kau menyesal dengan apa yang telah kau lakukan Brayen?" Devita bertanya dengan tatapan yang penuh dalam pada Brayen.
"Aku menyesal sudah membuatmu terluka, maafkan aku Devita. Sungguh aku minta maaf, aku sudah benar - benar di butakan oleh rasa cemburu. Aku hanya takut kehilanganmu karena pria di masa lalumu itu muncul. Aku takut kau memilih dia dan kembali kepadanya," jawab Brayen dengan tatapan yang masih sama. Dia memohon kepada Istrinya agar mau memaafkannya.
"Harusnya kau tidak perlu lagi meragukan cintaku, Brayen. Aku tidak mungkin berpaling darimu. Aku tidak mungkin memilih pria di masa laluku. Aku terluka karena kau mempermainkanku selayaknya wanita rendah. Aku begitu terluka, kau berciuman dengan wanita lain depan mataku. Aku terluka kau tidak mempercayaiku." mata Devita berkaca - kaca, dia kembali mengingat apa yang telah di lakukan oleh suaminya itu. Sungguh dia tidak bisa memungkiri hatinya yang begitu terluka.
Brayen menarik tangan Devita. Dia mengecupi punggung tangan istrinya itu berkali - kali. "Aku minta maaf, Sayang. Aku minta maaf. Aku benar - benar melakukan itu di luar kendaliku. Aku minta maaf. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang akan melukaimu lagi, Devita. Kau boleh melakukan apa saja untuk menghukumku. Aku memang bukan pria yang baik. Tapi tidak dengan menjauh dariku. Aku tidak bisa dan tidak akan bisa pernah menjauh darimu, Devita."
"Apa kau sungguh menyesal Brayen? Apa kau berjanji tidak akan melukaiku? Apa kau akan mempercayaiku?" Devita menghapus air matanya, dengan jemari tangannya. Tatapannya begitu lirih menatap Brayen. Terlihat dirinya masih begitu terluka.
"Aku berjanji tidak akan melukai hatimu. Aku berjanji akan selalu mempercayaimu sayang. Demi Tuhan, aku sungguh menyesal. Berikan aku kesempatan Devita," ujar Brayen dengan nada penuh permohonan.
Devita terus menatap dalam mata Brayen, terlihat wajah Brayen yang memohon maaf. Hati Devita benar - benar tersentuh. Berkali - kali Brayen memohon maaf padanya. Brayen bahkan tidak pernah lelah untuk mendapatkan maaf kembali dari Devita.
Tiba - tiba Devita membawa tangannya menyentuh rahang suaminya. " Brayen, apa kau tahu. Aku hanya ingin kau belajar, bagaimana menghargai seseorang. Sebenarnya jauh kau meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu. Aku melakukan ini dan memberikan kita jarak agar kau bisa menyadari kesalahanmu. Bukan hanya kau yang tidak bisa jauh dariku, tapi aku juga tidak bisa jauh darimu, Brayen. Aku melakukan ini karena aku ingin kau menyadari kesalahanmu, Brayen. Aku tahu, aku bertindak kejam padamu. Maaf, bahkan saat kau sakit aku meminta Felix untuk datang menjemputmu. Tapi percayalah, meski aku meminta Felix, untuk datang. Aku juga selalu bertanya pada Laretta bagaimana kabarmu,"
Brayen tersentak "Kau...."
"Ssst, biarkan aku menyelesaikan ucapanku." Devita menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya itu. Dia tidak membiarkan suaminya itu memotong ucapannya.
Brayen mengangguk, dia membiarkan Devita melanjutkan perkataannya.
Kini Devita mengelus rahang Brayen. "Aku tahu, kau sengaja terkena hujan hanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Sejujurnya aku sangat senang saat kau demam dan saat kau mengigau, kau hanya memanggil namaku. Hatiku tersentuh aku sangat ingin menciummu dan memelukmu tapi tidak, aku harus tetap bersikap dingin dan kejam kepadamu Brayen."
"Aku marah, karena kau tidak mempercayai perasaanku padamu Brayen. Bahkan, kau tidak mau mendengarkan penjelasanku. Itu yang membuatku ingin memberimu pelajaran bagaimana jika kau kehilanganku untuk sementara waktu. Selain itu, aku juga ingin melihat bagaimana perjuanganmu mendapatkanku kembali. Karena, jika kau sungguh - sungguh mencintaiku, sebesar apapun masalah yang datang, kau tidak akan peduli dan kau akan tetap mengejarku."
"Aku memang sangat kecewa dengan apa yang sudah kau lakukan padaku. Kau telah memberikanku luka di hatiku, tapi itu tetap bukan alasan bagiku, untuk meninggalkanmu. Kenyataannya, perasaan cintaku jauh melebihi itu semua. Aku sangat mencintaimu, Brayen. Jangan pernah lagi untuk meragukan perasaanku. Karena aku akan tetap memilihmu. Sampai kapanpun aku akan tetap memilihmu,"
Seketika senyum di bibir Brayen terukir, kala mendengarkan pengakuan dari Devita. Dengan cepat Brayen langsung menarik Devita. Menarik kedalam pelukannya. "Aku jauh lebih mencintaimu, Devita. Aku sungguh minta maaf. Aku berjanji tidak akan pernah melukaimu. Aku tidak pernah sanggup hidup tanpamu.
Devita tersenyum dan membalas pelukan Brayen. " Aku juga minta maaf, karena telah bertindak kejam padamu. Sungguh aku minta maaf padamu.
Brayen mengurai pelukannya, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Devita.
"Jangan lagi menjauh dariku, Devita. Aku hampir gila karenamu. Aku tidak bisa pergi jauh darimu,"
"Sepertinya aku yang harus menghukum istriku saat ini." jawab Brayen dengan seringai di wajahnya.
Devita tergelak. "Menghukum? Menghukum bagaimana?"
Tanpa menjawab Brayen langsung menyambar bibir Devita, mencium dan **********. Mendapatkan ciuman dari Brayen, Devita langsung membalas ciuman dari Brayen, mengikuti setiap ******* yang di berikan boleh suaminya itu. Dengan cepat Brayen membopong tubuh Devita ke arah ranjang.
Brayen meletakkan Devita di atas ranjang. Dia langsung melemparkan jas dan kemejanya sembarang. "Kau tahu, aku sangat merindukanmu," bisiknya tepat di depan bibir Devita.
Devita tersenyum dia mengelus rahang suaminya itu. "I know, aku juga sangat merindukanmu."
"I wanna give you the punishment, Devita." bisik Brayen di telinga Devita seraya mengecupi leher jenjang Devita.
Devita kembali tersenyum, "Tell me what kind of the punishment?"
"You will know," Brayen kembali menyambar bibir Devita, ********** dan mencecapinya.
Suara ******* dan erangan pun lolos di bibir Devita saat Brayen semakin dalam menghentakkan miliknya. Hingga akhirnya keduanya mendapatkan pelepasan. Tubuh Brayen ambruk di atas tubuh Devita, lalu dia membaringkan tubuhnya di samping Devita. Brayen menarik tangan Devita dan membawa Devita masuk kedalam pelukannya. Tubuh Devita terasa begitu lemah, napasnya terengah-engah.
Brayen mengecupi pucuk kepala Devita "Tidurlah,"
Devita mengangguk kemudian dia membenamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya. Perlahan Devita mulia memejamkan matanya. Melihat Devita yang sudah tertidur, Brayen langsung mengeratkan pelukannya dan langsung menyusul istrinya itu dalam mimpi indah.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.