Love And Contract

Love And Contract
Aku Cemburu



Brayen menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan matanya lelah. Beberapa hari ini terlalu banyak yang dia pikirkan dan masalah terjadi datang bersamaan. Hingga dirinya hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk istrinya.


"Tuan," sapa Albert, saat melangkah masuk kedalam ruangan.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Maaf Tuan, saya ingin membahas masalah saham Wilson Company," jawab Albert.


"Ada apa lagi?" tanya Brayen.


"Kita tidak bisa membeli banyak, Tuan. Saat ini kita hanya bisa membeli sepuluh persen saham dari Wilson Company. Ini sulit, karena Edgar Rylan Wilson sangat hebat dalam mengelola bisnis. Bahkan kini perusahaan mereka jauh lebih berkembang."


Brayen membuang napas kasar. " Biarkan seperti itu, aku akan memintamu bertindak kalau mereka masih bermain-main denganku. Sekarang biarkan dan tetap awasi setiap pergerakan mereka."


"Baik Tuan," jawab Albert. "Tuan, Bagaimana dengan Angkasa Nakamura? Saat ini Nakamura Company sudah berkembang dengan baik, Tuan. Saya rasa Angkasa Nakamura telah membuktikan, dana yang Tuan berikan tidak di gunakan sia - sia."


"Mungkin aku akan meminta waktu untuk mengatur pertemuanku dengannya. Saat ini, aku masih belum mau untuk bertemu dengannya. Biarkan dia yang membuktikan dirinya. Kau terus awasi dan lihat apa saja keputusan yang di ambil oleh Anggkasa di dalam perusahaan. Aku tidak ingin dia melakukan kesalahan yang seperti sebelumnya." balas Brayen mengingatkan. Albert pun mengangguk patuh.


"Albert, bagaimana dengan chef baru yang aku minta? Apa dia sudah datang? Kenapa dia lama sekali. Aku sudah membayarnya mahal." tukas Brayen dingin.


"Tuan, chef baru yang Tuan maksud sudah datang tadi pagi. Sekarang dia berada di Apartemen. Mungkin mulai besok pagi dia akan mulai bekerja di mansion." jawab Albert.


"Jika bukan karena permintaan istriku, maka aku tidak ingin chef baru itu menjadi salah satu chef di mansionku. Kau tahu bukan? Aku tidak suka masakan Indonesia karena terkenal pedas. Aku benci makanan pedas." balas Brayen.


"Tuan, mungkin chef Della bisa membuat masakan Indonesia tidak pedas," kata Albert memberi saran. "Nanti saya akan memberitahu chef Della, jika Tuan tidak menyukai masakan pedas."


Brayen mengangguk singkat, "Kau juga harus katakan, aku benci melihat orang yang lambat. Aku tidak suka melihat orang yang datang terlambat dan bodoh. Aku membayarnya mahal bukan untuk bekerja denganku menjadi orang yang bodoh." peringat Brayen tajam. " Dan ingat Albert, kau tidak boleh lagi melakukan kesalahan. Kesalahan terjadi hanya satu kali saat kau salah memilih asisten untuk istriku. Aku tidak akan MK a pernah memberikan kesempatan lagi, jika sampai kau salah memilih orang untuk bekerja denganku. Kau tahu bukan? Di rumah ada Istriku dan juga adikku."


"B-Baik Tuan, saya berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan," jawab Albert gugup, dia terus menunduk tidak berani menatap Brayen.


...***...


Devita melompat turun dari mobil, dia langsung berlari masuk kedalam rumah. Langkahnya terhenti ketika ada pelayan yang menundukkan kepalanya menyapa dirinya.


"Nyonya," sapa sang pelayan.


"Apa suamiku sudah pulang?" tanya Devita terburu - buru.


"Sudah Nyonya. Saat ini, Tuan sedang berada di ruang kerjanya." jawab pelayan itu.


"Brayen," Devita memanggil dengan cukup keras saat masuk ke ruang kerja Brayen. Devita tersentak saat melihat Albert berada di ruang kerja Brayen. Melihat Devita datang, Brayen menggerakkan kepalanya memberikan kode pada Albert untuk meninggalkannya. Albert menunduk lalu undur diri dari ruang kerja Brayen.


Saat Albert pergi, Devita langsung berlari ke arah Brayen. Dia langsung duduk di pangkuan suaminya itu. Brayen membenarkan posisi istrinya agar lebih nyaman. " Kau sudah pulang? Tadi aku baru mau menghubungimu untuk menjemputmu." kata Brayen mengelus pipi Devita.


"Ya, aku sudah pulang. Aku ingin segera bertemu dengan suamiku ini yang telah menyembunyikan sesuatu dari istrinya," cebik Devita kesal.


Brayen menautkan alisnya. "Maksudmu?"


Devita berdecak. "Jangan berpura-pura. Aku tahu tujuanmu waktu itu, bertanya padaku tentang jika kau menyembunyikan sesuatu padaku. Kau melakukan Tes DNA pada Gelisa secara diam-diam, bukan? Hebat sekali Brayen Adams Mahendra. Kau tidak menceritakan itu pada Istrimu sendiri. Aku rasa istrimu itu Albert dan bukan aku. Karena Albert lebih mengetahui segalanya di bandingkan denganku."


Brayen menyentil dahi Devita. "Apa kau tidak ingin berterima kasih pada suamimu ini? Aku sudah membantu dan melakukan yang terbaik untukmu. Tapi kau malah mengatakan itu! Benar - benar, harusnya aku sudah menghukum bibirmu ini yang tidak bisa di jaga saat bicara."


Devita mengerucut bibirnya. " Kau ini sungguh menyebalkan Brayen! Aku kesal kenapa kau tidak memberitahuku. Kau selalu bercerita semuanya pada Albert tapi tidak dengan istrimu sendiri. Aku ini sangat iri pada Albert! Karena dia selalu tahu apa yang kau lakukan! Sedangkan istrimu tidak tahu apapun!"


Brayen menggelengkan kepalanya dan mengulum senyumannya. Lalu dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Devita. " Percayalah, meskipun Albert mengetahui semuanya tapi itu semua demi kebaikan dirimu. Aku melakukan semuanya karena aku hanya ingin melihatmu bahagia."


Devita mendengus tidak suka. " Tapi setidaknya kau harus memberitahu istrimu, Brayen! Aku juga ingin tahu apa yang sedang kau rencanakan. Aku kesal saat tahu dari orang lain tentang apa yang telah kau lakukan."


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir istrinya itu. "Berisik sekali bibir ini, hm?" bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


Devita mendorong dan memukul pelan dada Brayen. "Kau sangat menyebalkan Brayen! Aku sangat kesal karena kau tidak bercerita padaku! Aku ingin tahu semua tentang dirimu! Aku ingin tahu apa yang telah kau lakukan!"


Brayen menangkup tangan Devita dan memeluk erat istrinya itu. " Maaf sayang, semua aku lakukan demi kebaikanmu. Sudah aku katakan bukan? Aku melakukan semua ini demi kebahagiaanmu. Aku tidak ingin memberitahumu langsung, karena aku ingin melihat permainan apa yang di lakukan oleh Gelisa. Percayalah, semua yang aku lakukan demi kebaikan dirimu, Devita.


Devita membenamkan wajahnya di leher suaminya, dia mengecupi leher suaminya. "I know, karena kau sudah selalu memiliki cara untuk membahagiakanku. Kau tahu, saat ini Papa dan Mama ku sudah bersatu lagi.Bahkan Papa mengatakan padaku, jika dia senang aku menikah denganmu. Karena kau selalu melakukan apapun demi membuatku bahagia."


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.