
"Aku tahu itu, karena memang Kakaku tidak pelit. Dia sangat baik padaku meskipun bersikap keras padaku. Tapi sebenarnya dia itu sangat baik." ujar Laretta dan Devita membalas dengan senyuman.
"Dan apa kau tahu Devita, ternyata Kakakku membantu Angkasa. Dia memberikan dua milyar dollar ke perusahaan milik Angkasa." lanjut Laretta menceritakan pada Devita. Laretta tersenyum mengingat Kakaknya yang sudah membantu Angkasa.
Devita tersentak. " Membantu Angkasa? Apa kau tidak salah? Kau serius Brayen membantu Angkasa?"
"Ya, Kakakku membantu Angkasa. Kemarin, Angkasa datang menemuiku dan dia bertanya kenapa aku menjadi investor di perusahaannya. Tentu saja aku terkejut mendengar pertanyaan Angkasa. Dia menyebutkan aku menginvestasikan uang dia milyar dollar ke perusahaannya. Dan uang sebanyak itu aku tidak mungkin mendapatkan tanpa seizin dari Kakakku." ujar Laretta.
"Jadi, maksudmu, Brayen sudah berinvestasi kepadamu dua milyar dollar ke perusahaan milik Angkasa?" tanya Devita yang masih tidak percaya. Rasanya bagaimana mungkin, terakhir saja Devita selalu berdebat dengan Brayen jika sedang membahas Angkasa.
"Kau pasti tidak mempercayai ini, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Kakakku menggunakan namaku, dia beralasan jika dia ingin aku belajar tentang perusahaan. Dia memang Kakakku, dia memang menyayangiku sejak kecil, kata Laretta dengan senyuman di wajahnya.
Devita mendesah pelan, " Aku senang mendengarnya."
"Bagaimana ini, aku kemarin selalu berdebat dengan Brayen tetapi kenyataannya Brayen malah membantu Angkasa." ucap Devita di dalam batin. Ia merasa tidak enak, karena terakhir dirinya marah pada Brayen.
"Devita, kau kenapa?" tanya Laretta menatap wajah Devita yang terlihat gusar.
"Ah, tidak Laretta sepertinya aku harus berangkat sekarang. Aku takut terlambat." pamit Devita, ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tasnya.
"Hati - hati Devita," balas Laretta.
Devita mengangguk, kemudian dia melangkah cepat keluar dari ruang makan. Kini Devita merasa bersalah karena sudah marah - marah dengan Brayen, saat kemarin membahas perusahaan tentang Angkasa.
...***...
Olivia memarkirkan mobilnya, ia turun dari mobil. Saat ia melangkah masuk, ia menatap Devita yang tengah melamun. Dengan cepat Olivia berlari menghampiri Devita.
"Devita," panggil Olivia, tetapi Devita masih terdiam dan tidak menjawab.
Olivia berdecak, " Rupanya kau ini mengalami gangguan pendengaran."
"Devita!!" Teriak Olivia kencang, hingga membuat Devita terkesiap. "Olivia! Kau ini, kenapa selalu berteriak! Telingaku sakit sekali!" Ucap Devita ketus.
"Kau saja yang sejak tadi melamun, padahal aku sudah memanggilmu tapi kau tidak mendengarkannya. Jadi, jalan satu-satunya hanya berteriak agar kau mendengar." balas Olivia, ia tidak terima jika dirinya harus disalahkan. Memang benar dirinya sudah memanggil Devita pelan tapi sahabatnya itu tidak pernah mendengarkannya.
Devita mendengus. " Aku sedang ada yang kupikirkan."
"Memangnya kau sedang memikirkan tentang apa?" tanya Olivia lagi.
"Tentang Brayen," jawab Devita singkat.
Olivia mengerutkan keningnya. "Ada apalagi dengan suamimu?"
"Ternyata Brayen sudah membantu perusahaan Angkasa. Padahal, kemarin aku marah - marah karena dia tidak mau membantu perusahaan milik Angkasa. Aku jadi tidak enak. Dan nanti sepulang kuliah aku akan meminta maaf padanya." ujar Devita.
"Jadi, Brayen benar - benar yang membantu Angkasa?" tanya Olivia memastikan. Ia sendiri masih tidak percaya jika Brayen yang membantu Angkasa.
Devita mengangguk, " Ya, dia memang benar - benar membantu Angkasa. Kau pasti sulit untuk mempercayai ini, tapi Brayen menginvestasikan uangnya dua milyar dollar pada perusahaan Angkasa."
"What? Dua milyar dollar? Kau sedang tidak bercanda kan Devita?" seru Olivia.
"Aku tidak akan bercanda dalam keadaan seperti ini, Olivia?" balas Devita.
"Tapi uang dua milyar dollar bukanlah uang yang sedikit, seberapa kayanya suamimu itu, Devita?" tanya Olivia penasaran.
Devita mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, Olivia. Aku tidak pernah memeriksanya. Yang terpenting untuk saat ini, aku harus segera meminta maaf padanya."
"Hem. Devita, apa kau tahu tujuan Brayen menginvestasikan uangnya ke perusahaan milik Angkasa?" tanya Olivia.
Devita menggeleng pelan, " Aku tidak tahu, mungkin ini semua demi Laretta."
Kemudian mereka berdua berjalan masuk ke dalam kampus. Seperti biasa, merek berdua selalu menjadi pusat perhatian ketika masuk kedalam kampus. Olivia memang selalu membahas masa sekolah mereka dulu, itu yang membuat Devita sering tertawa. Jika, Devita sedang bersama dengan Olivia.
Saat Olivia dan Devita akan melangkah masuk, terdengar suara yang memanggil nama mereka berdua. Devita dan Olivia langsung menghentikan langkahnya. Dan langsung menoleh ke sumber suara itu. Mereka menatap sosok pria yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Felix? Kau di sini?" sapa Devita.
"Hai Devita," sapa Felix
"Apa aku menganggu kalian?" tanya Felix.
"Ya, kau menggangu kami," jawab Olivia cepat
Devita menajamkan matanya pada Olivia. "Tidak Felix, kau tidak mengaggu kami." jawab Devita.
Felix tersenyum. "Kau itu memang Kakak Iparku."
"Olivia, hari ini kau tidak perlu kuliah, karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ujar Felix.
"Tidak mau! Kau ini, kenapa malah menyuruhku untuk tidak masuk kuliah? Bagaimana jika aku tidak lulus kuliah tahun ini? Memangnya kau mau bertanggung jawab?" seru Olivia kesal.
"Tenanglah Olivia, jika nanti kau tidak lulus kuliah, aku pasti akan segera menikahimu?" balas Felix.
Olivia terkesiap mendengar balasan dari Felix "Me.. Menikah? Kau ini sudah gila ya, aku masih muda? Dan aku belum mau menikah?"
"Well, sahabatmu saja sudah menikah," kata Felix dengan senyuman di wajahnya.
"CK! Itu berbeda, Devita itu di jodohkan!" Ucap Olivia ketus.
"Olivia, kau sedang membicarakanku? Padahal aku masih di sini!" Tukas Devita.
Olivia tersenyum lebar, " Maaf, aku tidak bermaksud. Tenanglah, meskipun kamu sudah menikah, tetapi nasibmu begitu beruntung karena sudah berhasil memiliki Brayen."
"Jadi maksudmu? Kalau kau tidak menikah denganku, kau tidak beruntung?" seru Felix.
"Terserah kau Felix. Lebih baik kau pulanglah, karena aku tidak ingin di ganggu." balas Olivia, ia langsung melangkah meninggalkan Felix. Namun dengan cepat, Felix menarik tangan Olivia. Olivia di buat terkejut saat Felix lagi - lagi membawa tubuhnya ke bahunya. Menggendong dirinya seperti karung beras.
"Devita!! Tolong aku!!" Teriak Olivia keras.
Devita terkekeh geli, " Aku mendapatkan hiburan yang sangat lucu, mana mungkin aku mau menolongmu, Olivia. Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu, nanti aku akan mengatakan kepada dosen kalau kau sedang sakit," ujar Devita. Ia melangkah masuk menuju kelas.
Dan tanpa memperdulikan teriakan Olivia. Felix langsung membawa Olivia meninggalkan kampus. Olivia memukul punggung Felix dengan keras namun sia - sia, karena Felix tetap tidak mau menurunkannya.
"Devita sialan! Kau tidak mau membantuku, lihat saja kau!" Teriak Olivia kencang.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.