
Devita mendengus kesal dan berkata, "Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam."
Olivia mengangguk, dia memeluk lengan Devita dan berjalan masuk ke dalam lobby perusahaan .
Sesuai arahan dari surat yang tertulis oleh Devita. Devita harus menemui Ms. Lauren sebagai Head Of Bussines Develepoment Dixon' s Group. Devita dan juga Olivia langsung menghampiri receptionist.
"Selamat pagi, apakah Nona yang akan magang di Dixon's Group?" tanya receptionist itu.
"Benar, aku yang akan magang," jawab Devita.
"Nona, silahkan Ms, Lauren sudah menunggu anda. Nona bisa naik ke lantai 35," ujar receptionist itu sambil menyerahkan kartu akses gedung.
"Terima kasih," ucap Devita sambil menerima kartu akses gedung, lalu dia dan Olivia berjalan masuk ke dalam Lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, Devita menatap sosok wanita yang cantik dan anggun yang sejak tadi tidak
berhenti menatapnya. Lalu Devita dan Olivia menghampiri wanita itu. " Selamat pagi, aku Devita dan ini Olivia, kami akan magang di sini" sapa Devita dengan lembut.
"Hai kebetulan sekali, saya sudah menduganya, saya Lauren Head Of Business Development di sini," balas Lauren dengan senyuman ramah. "Oh ya, aku ingin memperkenalkan kalian dengan CEO Kami, karena sebelumnya beliau ingin bertemu dengan anda."
Devita mengangguk, kemudian Lauren mengajak Devita dan juga Olivia berkeliling kantor sebentar. Devita harus mengakui, jika kantor ini sangat besar. Pantas saja jika Dixon's Group terkenal. Ruang CEO berada di lantai 45, Lauren kini mengajak Devita dan juga Olivia menuju ke ruang kerja CEO.
Sebenarnya Devita agak bingung, kenapa dia hanya magang saja, harus di kenalkan dengan CEO. Setibanya di depan ruang kerja CEO, Lauren sempat mengetuk pintu sebentar, lalu Lauren membuka pintu setelah mendengar interupsi masuk dari dalam.
"Selamat pagi, Tuan." sapa Lauren dengan sopan saat masuk ke dalam ruangan.
Devita dan Olivia pun mengikuti Lauren yang masuk ke dalam ruang kerja. Seketika mata Devita membulat sempurna saat melihat sosok pria tampan yang ada di hadapannya.
"W.. William," gumam Devita. Olivia langsung menyenggol lengan Devita.
"Devita...Olivia... perkenalkan ini Tuan William Dixon CEO dari Dixon' s Group," ucap Lauren memperkenalkan CEO dari Dixon' s Group.
"Selamat pagi, Tuan William Perkenalkan namaku Olivia," sapa Olivia.
" Ya Olivia, semoga kau suka magang di perusahaanku," balas William.
"P...Pagi Will maksudku, Tuan William." sapa Devita, dia menggigit bibirnya hampir saja dia hanya menyebutkan nama.
"Selamat pagi Devita," balas William sambil tersenyum.
"Baiklah Lauren, kau ajak Olivia untuk memperkenalkan diri dengan divisi lain. Ada hal yang ingin aku tanyakan pada Devita," ujar William sengaja meminta Lauren untuk meninggalkannya.
"Baik Tuan," jawab Lauren. Dia membawa Olivia meninggalkan ruang kerja William.
Sedangkan Devita, kini dia hanya berdua di ruang kerja William. Dia sedikit gugup karena sejak tadi William selalu menatap dirinya.
"P..pagi Tuan William," sapa Devita lagi.
"Panggil aku William. Ketika hanya kita berdua saja di kantor," kata William. Dia lebih nyaman jika Devita memanggilnya dengan sebutan nama.
"Tapi itu tidak sopan, kau pemilik perusahaan ini," balas Devita.
"Suamimu bahkan seorang pengusaha yang hebat, Devita. Perusahaan milik Suamimu jauh lebih besar daripada perusahaanku. Aku sendiri sangat tersanjung ketika Nyonya Mahendra magang di perusahaanku. Jadi, lebih baik panggil saja aku William ketika kita hanya berdua." ujar William, lalu dia meminta Devita untuk duduk di sofa.
"Kau tahu aku sudah menikah dengan Brayen?" tanya Devita.
"Tidak ada yang tidak tahu, Devita. Wartawan meliput pernikahan kalian di tambah suamimu sangat berpengaruh di Indonesia. Sudah pasti aku mengetahuinya." jawab William.
"Oh begitu..." Devita mengangguk paham.
"Selamat atas pernikahan kalian,"
"Terima kasih,"
"Devita, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya William.
"Apa kau mencintai Brayen?" tanya William sambil menatap lekat manik mata Devita.
Seketika Devita terkejut mendengar perkataan dari William. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan itu. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Devita.
"Tidak apa, aku hanya bertanya saja. Jika kau keberatan untuk menjawabnya tidak masalah," jawab William.
Devita menghela napas dalam. "Aku memang di jodohkan dengan Brayen, dan cinta itu akan tumbuh belakangan setelah kami menjalani hari - hari kami bersama." Devita terpaksa mengucapkan ini, tidak mungkin dia menceritakan pada William yang hanya orang lain baginya tentang perjanjiannya dengan Brayen.
"Kau benar, cinta akan tumbuh belakangan. Setelah kalian menjalani kehidupan rumah tangga kalian," balas William membenarkan perkataan Devita. Namun, kenyataan hatinya terasa tidak nyaman setelah Devita mengatakan itu.
Obrolan itu terhenti, ketika ada asistent William mengantarkan mango juice dan pasta aglio olio. William memang sengaja memesan ini untuk dirinya dan juga Devita. Serta William juga memesan cheesecake untuk Devita. Dia masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Devita. Saat itu, Devita sangat lahap untuk memakan cheesecakenya.
"Makanlah, aku sudah menyiapkan ini untukmu," kata William sambil menyerahkan pasta dan mango juice.
"Tapi..."
"Aku sudah memesan ini untukmu.Aku harap kau tidak akan menolaknya," potong William cepat. Dia tahu, Devita pasti akan menolaknya.
"Baiklah, terima kasih William." ucap Devita.
"Ya, aku juga sudah memesan cheesecake untukmu. Aku masih mengingat, kau sangat menyukai cake " ucap William.
"Kau benar, aku memang sungguh memalukkan. Maafkan aku," ucap Devita tidak enak. Dia sungguh malu karena makan cake sangat banyak waktu itu.
"No, kau tidak perlu meminta maaf. Menurutku itu sangat menggemaskan." William mengulum senyumannya.
"William, sepertinya aku harus pergi. Aku tidak enak terlalu lama disini." pamit Devita saat dia baru menikmati makanan yang di berikan oleh William.
"Baiklah, tapi apa pulang nanti, aku bisa mengatarmu?" tawar William.
"Tidak usah William. Aku bawa mobil," tolak Devita dengan lembut. William pun mengangguk.
"Ya sudah. Aku pergi dulu, terima kasih karena sudah membelikanku makanan," kata Devita lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan William.
Sedangkan William dia terus menatap punggung Devita hingga menghilang dari pandangannya.
...***...
"Devita, kenapa kamu lama sekali di ruangan Tuan William!" Keluh Olivia saat melihat Devita mendekat ke arahnya.
"Sekarang sudah jam makan siang bukan?" tanya Devita.
"Ya kau benar dan kau sangat lama di ruangan Tuan William, hingga membuatku kelaparan untuk menunggumu!" Gerutu Olivia.
Devita terkekeh kecil, dia jadi tidak tega padahal di ruangan William tadi dirinya sudah makan.
"Ayo kita makan, aku akan mentraktir mau makan apa sepuasnya," ucap Devita mengajak sahabatnya itu, dia merasa bersalah pada Olivi karena sudah menunggu dirinya.
Olivia tersenyum senang, " Kau memang wajib harus mentraktirku."
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.