
Brayen dan Devita masuk kedalam kamar. Devita melepaskan tas dan sepatu, dia langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya perjalanan dari Indonesia ke Las Vegas sungguh melelahkan. Beruntung Devita selalu mengkonsumsi vitamin dan penguat kandungan.
"Lelah, hm?" tanya Brayen sambil duduk di samping Devita.
Devita mengangguk pelan, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Tapi meski aku lelah, aku sangat senang kita bisa pergi berlibur bersama."
"Bagaimana dengannya," Brayen membawa tangannya mengusap lembut perut Devita.
Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen lalu mengelus rahang suaminya itu, "Sangat sehat, dia bertumbuh dengan sangat sehat."
"Apa kau sudah meminum vitamin yang di berikan oleh dokter?" tanya Brayen.
"Sudah Brayen," jawab Devita. "Aku pasti tidak akan melupakan minum vitamin dan penguat kandungan."
Kemudian Devita mengurai pelukannya. "Aku ingin mandi dan berendam Brayen."
"Ya kita mandi bersama," Brayen beranjak dan langsung menarik tangan istrinya.
"Eh? Aku tidak mengajakmu Brayen!" Dengus Devita kesal. Selalu saja suaminya seperti ini. Jika Brayen itu ikut tidak akan pernah sebentar di dalam kamar mandi.
Brayen tidak memperdulikan ucapan Devita. Dia kembali menarik tangan Devita dan masuk kedalam kamar mandi. Devita mendesah pasrah dia juga tidak bisa berbuat apapun jika sudah seperti ini.
Brayen mulai membantu Devita melepaskan kaitan dress-nya. Sejenak Brayen tidak henti menatap tubuh polos istrinya yang putih dan mulus. Brayen pun mengelus dengan lembut lengan Devita dan memberikan kecupan di bahu istrinya itu. Hingga kemudian Brayen masuk kedalam jacuzzi. Aroma madu yang Devita pilih. Brayen melepas pakaian yang masih menempel di tubuhnya, lalu ikut berbaur dengan istrinya kedalam jacuzzi.
"Brayen, aku menyukai hotel ini." ucap Devita sembari bermain busa yang menempel di kulitnya.
"Aku tahu, kau pasti sangat menyukainya." balas Brayen.
"Hem, Brayen. Apa kau sering datang ke Las Vegas?" tanya Devita.
"Tidak," jawab Brayen. "Aku hanya datang ketika memiliki pekerjaan. Terakhir aku datang kesini bersama dengan Felix dan itu hanya membahas tentang pekerjaan."
Devita mengangguk pelan. "Apa kau tidak pernah menikmati kehidupan malam di Las Vegas? Dulu teman - temanku sering membahas liburan mereka di Las Vegas. Dan hanya aku dan Olivia saja yang tidak pernah kesini."
Brayen menarik pelan tangan Devita dan membawanya untuk duduk di pangkuannya. Devita sedikit terkejut, namun dia sudah terbiasa dengan perilaku suaminya ini.
"Aku kesini bersama dengan Felix. Kami memang mendatangi klub malam. Tapi aku hanya minum. Kau tahu, aku terlalu memikirkan perusahaan." jawab Brayen dan mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Apa kau tidak pernah berkencan dengan seorang wanita di klub malam?" Devita memincingkan matanya menatap suaminya penuh dengan selidik.
Brayen tersenyum tipis, "Aku tidak suka mengenal wanita di klub malam. Aku datang ke klub malam hanya ingin minum dan setelah itu kembali ke hotel."
"Kenapa hidupmu lurus sekali." cibir Devita.
Brayen menautkan alisnya, "Maksudmu?"
"Aku sering membaca novel dan juga menonton film. Banyak pria yang memiliki kesuksesan selalu berganti wanita. Apa benar kau tidak pernah melakukan itu?" tanya Devita menatap suaminya penuh dengan selidik.
Brayen menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Sayang, lebih baik itu kurangi membaca novel dan menonton film."
"Kau belum menjawabku, Brayen!" Devita mencebik kesal.
Brayen mengeratkan pelukannya, dan membawa tubuh istrinya merapat ke tubuhnya. "Apa yang ingin kau dengar, hmm?" bisik Brayen.
"Semuanya!" Devita mengerutkan bibirnya.
Brayen mengulum senyumannya. Istrinya terlihat begitu menggemaskan. Brayen memberikan kecupan singkat di bibir Devita, lalu menatap lekat wajah istrinya itu. "Aku tidak suka seperti itu, Devita. Aku tidak bilang padamu jika aku adalah yang pria yang baik. Tapi aku memang tidak suka mengenal wanita dari klub malam. Kalau kau bertanya apa alasannya, aku tidak tahu karena memang aku tidak menyukainya."
Devita tersenyum puas, "Lalu, bagaimana dulu kamu bertemu dengan Elena?"
"Aku tidak ingin membahas wanita itu!" Wajah Brayen langsung berubah saat Devita membahas tentang Elena.
"Aku hanya bertanya Brayen! Jika kau tidak mau menjawab berarti kau masih memiliki perasaan dengan Elena!" Balas Devita.
Brayen membuang napas kasar, "Apa kau ini sudah gila Devita Mahendra! Kau mengatakan aku masih memiliki perasaan pada wanita itu? Bahkan untuk mengingatnya saja aku tidak ingin!"
"CK! Kenapa kau yang jadi sensitif sekali. Padahal aku yang menjadi ibu hamil " Devita mendengus. "Jawab saja kau mengenal Elena dimana? Tidak ada salahnya bukan?"
"Aku mengenalnya, saat aku meeting dengan perusahaan entertainment di Italia. Itu adalah perusahaan dimana Elena bekerja." jawab Brayen sambil memasang wajah yang tak suka karena istrinya membahas tentang masa lalu. Dan dengan terpaksa Brayen harus menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
"Sekarang kau yang harus menjawab pertanyaanku." tukas Brayen.
"Bagaimana kehidupamu dulu sebelum kau pindah ke Indonesia?" tanya Brayen dengan tatapan lekat menatap wajah Devita.
"Maksudmu kehidupanku dulu saat aku tinggal di Kanada?" Devita balik bertanya memastikan dan Brayen mengangguk singkat.
"Tidak ada yang istimewa saat aku tinggal di Kanada." jawab Devita jujur. "Aku menghabiskan waktuku hanya untuk belajar. Aku juga sering bersama dengan Olivia. Karena satu - satunya teman dekatku hanyalah Olivia. Rumah Olivia dan Rumahku juga tidak terlalu jauh."
"Kau tidak pernah mendatangi klub malam saat di Kanada?" Brayen mengerutkan dahinya.
Devita tertawa pelan. "Brayen, Kanada itu berbeda budaya dengan kita. Saat itu, usiaku juga masih belum cukup untuk memasuki klub malam. Kau tidak tahu, terkadang Ayahku meminta anak buahnya untuk mengikutiku secara diam-diam. Ayahku itu sangat membatasi pergaulanku saat berada di Kanada. Tidak hanya di Kanada, tapi saat aku pindah ke Indonesia, Ayahku juga selalu membatasi pergaulanku."
Brayen tersenyum, dia sudah tahu ini pasti yang akan dia dengar. Karena Brayen sudah pernah menyelidiki kehidupan Devita, hanya saja dia ingin mendengar jawaban langsung dari istrinya itu.
Brayen menangkup pipi Devita dan memberikan kecupan lama di bibir istrinya itu. "Lebih baik kita berbilas sekarang."
Devita mengangguk setuju. Brayen membantu Devita untuk bangkit berdiri. Kini Brayen dan juga Devita melangkah menuju ke arah shower untuk berbilas. Kali ini Brayen harus menahan diri karena usia kandungan istrinya masih sangat muda. Meski dia tahu, Dokter memperbolehkannya, tapi Brayen masih belum berani.
...***...
Olivia dan Laretta duduk di area lobby. Mereka duduk sembari menikmati tomato juice, yang Angkasa pesan untuk mereka. Felix tengah fokus berkutat dengan Ipadnya, dia duduk di sebrang Olivia. Sedangkan Angkasa baru selesai menelepon asistennya.
"Laretta, kenapa Devita lama sekali?" gerutu Olivia yang sudah tidak sabar. Olivia melirik arlojinya kini sudah pukul tujuh malam. Perutnya sudah lapar sejak tadi menunggu kedatangan Devita, tapi sahabatnya itu masih belum juga datang.
"Tadi Devita bilang, sebentar lagi dia akan turun." jawab Laretta.
Olivia mendengus kesal. "Lama sekali dia! Memangnya dia itu tidak lapar!"
"Sabar Olivia, mungkin saja Kakakku dan Devita sedang bermesraan." Laretta terkekeh pelan.
Olivia mendengus kesal mendengar ucapan dari Laretta. Pandangan Olivia kini melihat ke arah Felix yang terus sibuk pada iPad yang ada di tangannya. "Felix, kau ini sedang apa? Kenapa kau dari tadi hanya fokus pada Ipadmu?"
"Aku sedang membalas email yang masuk, Sayang." jawab Felix.
"Kita ini sedang berlibur Felix. Kenapa kau itu masih sibuk dengan pekerjaanmu!" Seru Olivia kesal. "Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak membawa pekerjaanmu saat kita sedang berlibur!"
"Hanya sebentar sayang, aku hanya sedang membalas beberapa email yang masuk saja." ucap Felix yang masih terus menatap layar Ipadnya.
Olivia membuang napas kasar, dia malas berdebat lagi. Olivia mengambil tomato juice dan menyesapnya.
Laretta mengulum senyumannya. "Olivia, tidak hanya Felix yang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi semua pria yang di sini, akan tetap sibuk dengan pekerjaan mereka. Apa kau tidak melihat tadi Angkasa? Dia juga baru saja menerima panggilan telepon dari asistennya. Padahal kita tengah berlibur."
"Laretta..." tegur Angkasa memberikan peringatan. Karena Angkasa mendengar dengan jelas ucapan Laretta pada Olivia.
Laretta mencebik, "Aku hanya berbicara keadaan yang sebenarnya."
Tidak lama kemudian, Devita dan juga Brayen berjalan keluar dari lift. Devita menatap Olivia dan juga Laretta tengah duduk dia langsung berjalan menghampiri mereka.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." ucap Devita saat tiba di depan Olivia dan juga Laretta.
"Lebih baik kita makan sekarang. Karena aku sudah sangat lapar sekali Devita." keluh Olivia. Dan Devita terkekeh kecil. "Ya, baiklah."
"Brayen, malam ini kita akan makan dimana?" tanya Devita.
"Kau akan tahu," jawab Brayen singkat.
Devita berdecak pelan, dia langsung memeluk lengan suaminya dan berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu di depan. Olivia pun beranjak dari tempat duduknya, meski terlihat kesal Olivia masih tetap memeluk lengan Felix mengikuti Devita menuju ke arah mobil. Berbeda dengan Laretta, Angkasa sudah lebih dulu memeluk pinggang Laretta berjalan menuju ke arah mobil yang sudah menjemput mereka.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.