Love And Contract

Love And Contract
Mencari Bukti



Felix terkekeh, "Jika bukan karena nama belakang ku Mahendra. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku melakukan itu karena Ibuku adalah adik dari Ayahmu. Jika tidak, mana mungkin aku Perduli, kau ini yang mudah di tipu oleh wanita? Come on Brayen, apa otak cerdasmu itu bertambah kecerdasannya?"


"Diam kau! Kau tidak sedang menipuku kan? Jika kau berani kau akan tahu akibatnya!" Desis Brayen dengan penuh peringatan. Tatapannya menghunus tajam ke arah Felix.


Felix mengedikkan bahunya acuh. " Kau boleh memeriksa foto itu, apa aku mengedit foto itu atau tidak. Kau ini pria yang hebat Brayen, sungguh aneh rasanya jika kau mudah tipu oleh seorang wanita. Kau boleh mempercayai kekasihmu tetapi bukalah matamu. Wanita mana yang pantas kau percayai, dan wanita mana yang tidak pantas kau percayai. Besok saat di kantor kau meminta Albert menyelidiki Elena. Ingat, jangan membuat keputusan yang akan kau sesali di kehidupanmu!"


Brayen menggeram. " Aku akan menyelidikinya, jika sampai Elena terbukti menipuku. Lihat, apa yang akan aku lakukan padanya,"


"Great! That's my cousin." ucap Felix menyeringai puas.


Brayen bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan menemui Devita. Melihat Devita jauh lebih baik.


...***...


Mobil Brayen baru tiba di mansion, Brayen memarkirkan mobilnya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kedalam kamar. Dia melirik arlojinya, kini sudah pukul dua belas malam. Dia yakin, Devita pasti sudah tertidur pulas.


Saat Brayen masuk kedalam kamar. Dia menatap Devita yang tertidur sangat pulas. Brayen memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum menyentuh Devita.


Setelah Brayen selesai mandi, dan sudah mengganti pakaiannya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di samping Devita.Tatapannya terus melihat Devita yang tertidur begitu pulas. Dia mendengar napas halus dan teratur Devita. Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita. Brayen mengecup, kening, mata, hidung dan bibir tipis. Perlahan Devita merasakan ada yang menyentuhnya, dia mulai membuka matanya. Senyum, di bibir terukir melihat Brayen menciumnya.


"Kau sudah pulang?" tanya Devita dengan suara serak khas bangun tidur.


Brayen mengangguk pelan, menarik Devita agar masuk ke dalam pelukannya. " Ya, maaf. Karena aku pulang terlambat,"


"Apa kau lelah? Hari ini, kau begitu sibuk. Kau berangkat lebih pagi, pulang larut malam. Kenapa tidak meminta Albert yang mengantikanmu?" tanya Devita yang membenamkan wajahnya, di dada bidang Brayen.


"Tidak bisa, Albert sudah minta aku mengurus yang lainnya," jawab Brayen yang terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan pada Devita, dia menemui Elena malam ini.


Devita mendongakkan wajahnya, dari dalam pelukkan Brayen. " Ada yang ingin aku katakan padamu?"


"Ada apa?" tanya Brayen mengecup hidung Devita.


"Tadi pagi Elena datang ke mansion ini,"


Brayen tersentak, terlihat raut wajahnya mulai panik. " Apa yang dia katakan?"


"Dia hanya mengatakan jika aku adalah wanita jahat karena telah merebutmu darinya. Dia juga memintaku, untuk menjauhimu." ujar Devita yang memilih untuk menceritakan semuanya.


Brayen membuang napas kasar, " Devita, apa kau mempercayaiku?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Devita mengerutkan keningnya menatap bingung Brayen.


"Aku hanya bertanya, apa kau mempercayaiku?" Brayen kembali bertanya dengan tatapan begitu serius pada Devita.


Devita mengangguk, " Kau suamiku, bagaimana mungkin aku tidak mempercayaimu."


Brayen mengulas senyuman tipis di wajahnya. "Berjanjilah jangan mempercayai siapapun. Berjanjilah kau hanya akan mendengar penjelasanku. Jangan pernah pergi meninggalkanku."


Devita mengulas rahang Brayen. "Aku berjanji akan mempercayaimu. Aku berjanji tidak akan mudah percaya dengan orang lain. Tapi satu hal Brayen, setiap perempuan di manapun, tidak akan pernah menerima sebuah kebohongan. Aku lebih baik menerima suatu kenyataan pahit dari pada harus menerima sebuah kebohongan."


Brayen terdiam. Perkataan Devita benar - benar menusuk hati Brayen, rasanya Brayen ingin sekali menceritakan. Tapi dia ingin mencari bukti terlebih dahulu, setelah dia mendapatkan buktinya, dia baru bisa menceritakannya pada Devita.


"Ya aku tahu itu. Tapi kebahagiaan tidak hanya selalu di ukur dengan uang Brayen," balas Devita.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir Devita. " Aku akan memberikanmu segalanya Devita, hidupku dan apapun yang kau inginkan,"


Devita tersenyum, " Aku tidak menyangka kau bisa berkata-kata manis. Apa kau tahu, pertemuan pertama kita mulutmu itu sangat pedas,"


"Aku juga tidak menyangka bisa jatuh hati pada gadis kecil yang menumpahkan kue di bajuku, dan dengan sombongnya si gadis kecil itu ingin mengganti bajuku, saat aku mengatakan harga bajuku, gadis kecil itu beralasan, jika dia masih seorang mahasiswa," tukas Brayen dengan nada meledek Devita.


Devita mengerutkan bibirnya. " Bajumu itu tidak masuk akal sehatku! Kenapa mahal sekali? Uang tabunganku bisa habis karena mengganti bajumu. Aku tidak mungkin meminta uang sebanyak itu kepada Ayahku. Mengganti bajumu, bisa - bisa aku menjual koleksi tasku!" Gerutu Devita.


Brayen tertawa. " Aku tidak setega itu, sesungguhnya kau begitu menggemaskan di pertemuan pertama kita,"


Mata Devita berbinar, dia tersenyum ke arah Brayen. "Apa karena aku memanggilmu Paman?"


Brayen menyentil dahi Devita. "Kau ini, bagaimana bisa kau memanggilku paman? Usia kita hanya berbeda tujuh tahun kau sudah memanggilku Paman,"


"Memang apa salahnya dengan sebutan Paman? Di Kanada, ketika aku bertemu yang lebih tua cukup jauh denganku. Aku memanggilnya Paman." balas Devita dengan santai. Namun, dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Brayen.


"Ini kota B, sayang?" Brayen menggelitik perut Devita hingga membuat Devita tertawa geli dan berteriak karena merasakan geli. "Brayen hentikan!" Pekik Devita. Namun Brayen tidak menghentikannya.


Kini mereka saling pandang, Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir Devita. Sedangkan Devita yang tadinya hanya diam,dia mulai membuka mulutnya membiarkan Brayen menyapukan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mereka saling mencecapi, lidah mereka saling berpagutan. Devita mengikuti setiap ******* yang di berikan oleh Brayen.


...***...


Pagi hari, Brayen dan Devita tengah sarapan di dalam kamar. Seperti biasa, Brayen lebih menyukai sarapan di dalam kamar mereka.


"Devita, pagi ini aku ada meeting. Aku akan membangun Apartemen di Hongkong," kata Brayen sembari menyesap kopi di tangannya.


"Kau akan membangun Apartemen di Hongkong?" tanya Devita.


Brayen mengangguk, "Ya, aku sudah bekerjasama di salah satu perusahaan dari Hongkong,"


"Baiklah, lalu bagaimana kerja sama dengan Ayahku?" Devita kembali bertanya sambil menatap lekat Brayen.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.