
"Tuan Brayen," sapa Albert menundukkan kepalanya saat Brayen keluar dari pintu lift.
"Apa jadwalku hari ini, Albert?" tanya Brayen dingin.
"Tuan memiliki meeting dengan Mr. Lee untuk membahas pembangunan di mall di dekat Apartemen yang sedang kita kerjakan, Tuan." jawab Albert.
"Kosongkan jadwalku, aku tidak ingin di ganggu dua jam kedepan." Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Dia langsung duduk di kursi kerjanya. Menyandarkan punggungnya di kursi. Sejak tadi malam, dirinya memang tidak ingin berbicara dengan Devita. Bukan maksud mendiamkan, tapi Brayen tidak ingin melampiaskan rasa marahnya pada Devita yang tengah mengandung.
Terdengar suara ketukan pintu, Brayen membuang napas kasar. Baru saja dia mengatakan pada Albert untuk tidak mengganggunya tapi masih saja menganggunya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka lebih dulu, sebelum Brayen meminta masuk. Brayen melemparkan tatapan dingin dan tajam pada sosok pria yang melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Dengan begitu santai, Felix melangkah mendekat ke arah Brayen dan langsung duduk di hadapan Brayen.
"Untuk apa kau datang ke sini? Albert tidak memberitahumu? Kalau aku sedang tidak bisa di ganggu!" Suara Brayen berseru dingin dan tersirat penuh kesal pada Felix
Felix tidak menjawab, dia lebih memilih mengambil botol wine yang berada di atas meja dan menuangkan ke gelas sloki kosong. Kemudian Felix menyesap wine. Felix tidak memperdulikan tatapan tajam dan dingin dari sepupunya itu.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Brayen. Dua hari lagi aku ingin mengajakmu dan Devita tentunya. Berlibur ke Las Vegas, sudah lama bukan kita tidak menikmati Las Vegas? Terakhir kita Las Vegas dua tahun lalu, itu juga karena bisnis." ucap Felix sambil meneguk wine di tangannya, tatapan matanya menatap lekat ke arah Brayen.
Brayen membuang napas kasar, "Aku sedang banyak proyek kerjasama yang harus aku selesaikan! Dan kau meminta kita untuk pergi berlibur ke Las Vegas? Dimana pikiranmu itu bekerja?"
"CK, kau ini bagaimana? Memangnya hanya kau saja yang sibuk. Aku juga sibuk, tapi setidaknya Las Vegas itu tidak terlalu jauh?" balas Felix santai.
"Las Vegas masih cukup jauh! Istriku sedang hamil!" Seru Brayen.
"Come on Brayen, kau itu memiliki pesawat pribadi. Kau bisa mememberikan kenyamanan untuk Devita. Kau juga bisa membawa dokter kandungan untuk Devita." ucap Felix yang berusaha kembali untuk membujuk Brayen. Dia berharap untuk kali ini saja sepupunya itu mau mendengarkan dirinya. Meski Brayen terus menolak, Felix akan tetap terus kembali untuk membujuknya.
"Dan tidak hanya Devita, aku juga ingin mengajak Laretta dan juga Angkasa. Pernikahan mereka tidak mungkin di adakan dalam beberapa hari ini, bukan? Jadi aku rasa, kita masih memiliki waktu untuk bersenang-senang." lanjut Felix sambil menyesap wine yang ada di tangannya.
"Aku masih memiliki banyak pekerjaan dan tidak mungkin untuk meninggalkan pekerjaan ku!" Tukas Brayen dingin.
"Brayen! Kau itu memiliki Albert. Lepas dari itu kau juga memiliki para Direktur di perusahanmu yang sangat cerdas dan juga hebat. Tidak ada alasan bagimu untuk menolakku.Kau bisa dengan mudahnya melimpahkan pekerjaanmu pada Albert dan juga Direkturmu itu," kata Felix memberikan saran. "Lagi pula, kau itu tidak mungkin bangkrut, jika berlibur hanya dalam waktu beberapa hari saja. Dan meski kau berlibur dalam waktu yang bertahun-tahun, kau juga tidak mungkin bangkrut."
"Ini bukan hanya karena perusahaanku!" Jawab Brayen. "Aku harus berkonsultasi pada dokter. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan juga anakku."
Felix mengangguk paham. "Kau tenang saja, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Kakak ipar dan calon keponakanku."
"Allright, aku harus kembali ke perusahaan. Dan jangan lupa, malam ini kau harus mengatakannya pada Devita." ucap Felix dan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen menyandarkan punggungnya, memejamkan mata lelah ketika Felix sudah pergi. Sudah lama, Brayen dan juga Devita tidak berlibur. Terlebih banyaknya masalah yang menghampiri mereka. Tapi Brayen belum berani mengambil keputusan, karena Devita tengah hamil. Brayen tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya.
...***...
Kini Olivia dan juga Devita sudah berada di CF. ION ORCHARD. Hari ini mereka tidak terlalu lama bertemu dengan dosen. Karena memang Devita dan juga Olivia tinggal menunggu hari kelulusan mereka. Sesuai dengan janji Devita pada Laretta, hari ini Devita dan juga Olivia akan menemani Laretta untuk berbelanja.
"Devita, dimana Laretta?" tanya Olivia yang sejak tadi menatap setiap sudut area lobby tetapi tidak menemukan Laretta.
"Laretta bilang, dia sudah ada di kafe di sekitar lobby." jawab Devita.
"Itu Laretta," Devita menunjuk salah satu kafe yang barada di area lobby. Terlihat Laretta yang memakai dress berwarna kuning.
"Ya sudah, kita ke sana." Olivia dan juga Devita langsung berjalan menghampiri Laretta yang sudah memberikan tanda, jika dia duduk di ujung dan jauh dari keramaian.
"Hi Devita, Olivia..." sapa Laretta, saat melihat Olivia dan juga Devita mendekat ke arahnya.
"Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu lama menunggu." sambung Olivia.
"Tidak, kalian itu tidak terlambat. Aku juga baru datang," balas Laretta. "Apa kalian sudah makan? Mungkin kita bisa makan dulu."
"Belum, dan aku rasa kita memang harus makan dulu. Aku sangat lapar!" Seru Olivia yang menyetujui perkataan dari Laretta.
"Kau ini sudah makan pasta aglio olio tadi di kantin! Masih lapar juga, padahal yang hamil aku dan juga Laretta! Bukan dirimu!" Cibir Devita. Laretta mengulum senyumannya mendengar ucapan dari Devita.
Olivia mendengus tidak suka. "Perjalanan kita itu cukup panjang Devita. Tiga puluh menit itu sangat lama. Jadi aku lapar!"
"Sudah, aku akan memesankan makanan untuk kalian." ucap Laretta, sambil menggerakkan tangannya memanggil pelayan. Kemudian Laretta memesan prawn, squid dan mashed potato. Laretta juga memesan salmon karena dirinya dan juga Devita tengah hamil. Ikan salmon sangat bagus untuk ibu hamil.
"Laretta, kenapa kau memesan makanan sangat banyak?" Devita mengerutkan dahinya, saat mendengar Laretta memesan menu makanan yang begitu banyak.
"Kita itu sedang hamil, Devita. Jadi kita harus makanan yang banyak." jawab Laretta. "Dan juga aku lihat Olivia juga sangat lapar. Jadi aku sengaja memesan banyak menu makanan."
Devita menggeleng tak percaya. "Aku rasa belum sampai menginjak usia sembilan bulan, tubuhku pasti sudah gemuk."
"Tenang saja, Kakakku itu pasti akan tetap mencintaimu." kekeh Laretta.
"Oh astaga Laretta..." seru Devita saat Laretta mengingatkannya dengan Brayen.
"Ada apa Devita?" tanya Olivia dan juga Laretta bersamaan menatap bingung ke arah Devita.
"Aku lupa memberikan kabar pada Brayen, kalau aku pulang kuliah langsung ke mall." dengan cepat Devita mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam tas, dia langsung mengirimkan pesan pada suaminya.
Devita : Brayen, hari ini aku pulang kuliah langsung pergi ke mall bersama dengan Olivia dan juga Laretta. Aku akan pulang sedikit terlambat.
Brayen : Ya.
Kening Devita berkerut dalam, saat Brayen hanya membalas singkat pesannya. Tidak biasanya Brayen membalas singkat pesannya itu.
"Ada apa Devita?" tanya Laretta, menatap wajah Devita yang terlihat kesal.
"Tidak," ucap Devita sambil menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, Kakakmu itu sedikit menyebalkan sejak tadi pagi."
"Ya sudah lupakan saja, Devita. Lebih baik kita bersenang-senang, untuk hari ini." kata Laretta dan Devita mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh Laretta. Kini mereka mulai menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.