Love And Contract

Love And Contract
Kepulangan Brayen



Malam itu hujan turun begitu deras membasahi kota. Setelah perjalanan yang cukup panjang, Brayen kini tiba di mansion. Saat di bandara, dia langsung memilih untuk pulang kerumah. Para pelayan dan penjaga menundukkan kepala mereka ketika Brayen melangkah masuk kedalam rumah.


"Di mana istriku?" tanya Brayen pada pelayan yang berada di sampingnya.


"Nyonya Devita sedang tidur, Tuan." jawab pelayan itu.


Brayen mengangguk singkat, dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar. Brayen menarik arlojinya kini sudah pukul sepuluh malam. Pantas saja jika istrinya itu sudah tidur.


Saat Brayen sudah tiba di kamar, dia menatap Devita yang masih tertidur lelap, bahkan ketika Brayen masuk, istrinya itu tetap masih tertidur. Brayen melonggarkan dasinya lalu dia melepaskan jas dan dasi. Kemudian meletakkannya di sofa.


Brayen berjalan mendekat ke arah ranjang, dia duduk di tepi ranjang. Pandangannya terus menatap wajah polos Devita yang terlihat begitu polos ketika tertidur pulas. Brayen mengelus dengan lembut pipi istrinya. Memberikan kecupan di kening, mata, dan bibir Devita. Senyum di bibir Brayen terukir ketika istrinya itu masih tertidur.


Hingga kemudian Brayen beranjak,dia harus mandi sebelum membaringkan tubuhnya di samping Devita. Brayen melangkah menuju ke arah kamar mandi, dia melirik ke arah Devita yang tetap masih tertidur pulas.


Lima belas menit kemudian, Brayen baru saja selesai mandi. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan celana training yang berwarna grey dan bertelanjang dada. Seperti biasa, Brayen memang lebih suka bertelanjang dada ketika berada di kamar.


Brayen mendekat, dia membaringkan tubuhnya di samping Devita. Brayen memiringkan tubuhnya, dia menatap lekat istrinya yang masih tertidur pulas. Brayen menarik pelan tubuh Devita dan membawanya kedalam pelukannya.


Brayen pun sedikit mengeratkan pelukannya. Dia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu. Devita pun mulai menggeliat dengan mata yang masih tertutup, Devita pun semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Brayen.


Namun, seketika Devita mulai membuka matanya ketika merasakan sebuah pelukan di tubuhnya. Devita tersentak, ketika dia membuka mata sudah ada yang memeluknya. Devita mendongak, dia menatap lekat wajah seseorang yang begitu dia rindukan. Devita memejamkan matanya, memastikan apa yang dia lihat ini tidak salah. Kemudian, Devita kembali membuka matanya. Dia menatap tak percaya kini Brayen sedang memeluk dirinya.


"Brayen? Kau sudah pulang?" Devita terus menatap lekat wajah suaminya itu.


Brayen membawa tangan Devita, dia menempelkan tangan Devita ke arah rahangnya. "Aku di sini, kau tidak salah lihat karena aku sudah pulang."


Devita tersenyum, dia langsung memeluk erat tubuh suaminya. "Aku merindukanmu, kenapa kau itu lama sekali. Aku tidak suka jika harus tidur sendirian."


"Maaf sayang, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Brayen mengusap lembut rambut istrinya. "Apa kau sudah makan?"


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Sudah, tapi sepertinya aku ingin makan lagi. Sudah lapar lagi."


"Aku akan menghubungi pelayan untuk membawakan makanan untukmu." Brayen hendak mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, namun Devita langsung menahan tangan Brayen.


"Jangan Brayen, aku tidak ingin pelayan membawakanku makanan." kata Devita.


"Bukankah kau lapar?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Aku lapar, tapi aku ingin kau yang memasak untukku!" Devita mencebik dia mengerutkan bibirnya.


Brayen membuang napas kasar. "Chef Della akan membuatkan makanan yang lebih enak dari pada aku yang membuatnya."


"Aku tidak perduli!" Seru Devita. "Aku tetap ingin kau yang memasak untukku. Aku tidak ingin Chef Della yang memasak. Setiap hari aku sudah makan masakan Chef Della. Sekarang aku ingin kau yang memasak untukku."


"Devita, tapi-"


"Ini keinginan anakmu, Brayen!" Tukas Devita menekankan. "Kau tidak ingin menurutinya?"


Brayen mengumpat di dalam hati, istrinya ini selalu saja membawa anak. Tidak ada pilihan lain, jika Devita sudah meminta tidak mungkin jika tidak di turuti.


"Ayo Brayen, jangan hanya diam saja!" Devita bangun, dia langsung menarik lengan suaminya itu. Brayen mengangguk singkat, wajahnya menahan kesal dengan tingkah istrinya itu.


"Tunggu," Devita langsung menghentikan langkah Brayen.


"Kau harus memakai baju! Apa kau sengaja ingin membuat Chef Della menyukaimu? Kau ini suka sekali memamerkan tubuhmu!" Devita mendengus kesal, dia berjalan menuju ke arah wardrobe dan mengambil kaos polos yang berwana hitam untuk Brayen.Sedangkan Brayen, hanya bisa mengulum senyumannya ketika melihat istrinya yang menggerutu.


"Kau pakai ini," Devita langsung memberikan kaos hitam yang dia sudah ambil itu untuk Brayen.


Tanpa menjawab, Brayen memilih untuk langsung memakai kaos yang di berikan oleh istrinya. Setelah sudah, Devita kembali memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan kamar.


...***...


Di dapur, Devita duduk dengan menopang dagu. Senyum di bibirnya terukir menatap Brayen yang terlihat sedang kebingungan. Hingga kemudian, Chef Della datang dan masuk kedalam dapur.


"Nyonya," sapa Chef Della menundukkan kepalanya.


"Hi Chef Della, maaf menganggu waktu tidurmu. Aku ingin kau mengajarkan suamiku memasak lagi karena malam ini, aku ingin dia buatkan pasta aglio olio dengan salmon grill," ujar Devita. "Tapi ingat, kau hanya mengajarinya. Suamiku yang harus memasak."


"Baik Nyonya." jawab Chef Della. Kemudian dia berjalan ke arah Brayen yang terlihat bingung menatap isi kulkas.


Devita mengulum senyumannya ketika melihat suaminya. Wajah Brayen yang menahan kesal, bahkan Brayen mengeluarkan semua bahan makanan yang ada di kulkas.


Ketika Chef Della datang, Brayen sedikit lebih tenang. Dan Devita terus menatap Brayen yang kini tengah memperhatikan Chef Della menunjukkan bahan - bahannya.


Devita tahu, suaminya itu tidak mungkin untuk menolak apa yang dia inginkan. Meski Brayen tidak bisa memasak, tetapi Brayen tetap menuruti keinginan dirinya.


Tidak lama kemudian, Brayen telah selesai membuat Aglio olio yang Devita inginkan. Brayen melangkah mendekat, dia langsung duduk di hadapan Devita. Sedangkan Chef Della, pamit undur diri setelah mengajarkan Brayen membuat Aglio olio.


"Makan yang banyak, aku sudah susah payah membuat ini untukmu." Brayen memberikan Aglio olio bersama dengan salmon griil.


Devita tersenyum puas. "Terima kasih, sayang. Tapi kenapa kau tidak makan?"


"Aku sudah kenyang karena memasak!" Tukas Brayen dingin.


Devita terkekeh pelan. "Bagaimana caranya bisa kenyang jika hanya memasak."


"Sudah, kau cepat makan Devita. Jangan banyak bicara!" Balas Brayen.


"Baiklah," Devita mulai menikmati makanannya. Ketika suapan pertama, senyum di bibirnya terukir. Masakan ini sangat enak. jika seperti ini, rasanya Devita akan meminta Brayen untuk memasak setiap hari.


Brayen langsung melayangkan tatapan dingin pada istrinya itu. "Itu karena bantuan Chef Della! Kau ini bicara yang tidak - tidak. Sudah cukup, memintaku untuk memasak. Lain kali aku akan menambah sepuluh Chef lagi untuk bekerja dengan kita. Jadi, jika kau sudah bosan dengan masakan Chef Della kau bisa makan masakan Chef yang lainnya."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.