Love And Contract

Love And Contract
Lucia Dan Devita



Brayen duduk di kursi kerjanya dengan punggung bersandar di kursi. Sejak tadi malam, Brayen memang tidak bertanya pada Devita. Ia tidak ingin membuat istrinya bersedih. Brayen lebih memilih untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Brayen menekan tombol interkom, ia langsung memerintahkan Albert segera masuk kedalam ruang kerjanya.


"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Albert, aku minta kau cari tahu tentang Ayah mertuaku. Sekarang Ayah mertuaku sedang dalam masalah. Cari tahu semuanya, aku ingin besok pagi kau sudah melaporkan yang terjadi," perintah Brayen.


"Maaf Tuan. Apa Tuan Edwin sedang mengalami masalah dalam bisnis?" tanya Albert hati - hati.


"Bukan bisnis, tapi masalah pribadi. Aku mendengar, Ayah mertuaku memiliki anak dari wanita lain. Aku ingin cari tahu semuanya dengan jelas. Besok, aku sudah ingin mendengar laporanmu." ujar Brayen dengan tegas.


Albert mengangguk patuh, "Baik Tuan besok saya akan segera melaporkannya."


"Kembalilah ke ruanganmu. Kosongkan jadwalku satu jam kedepan. Aku sedang tidak ingin di ganggu." tukas Brayen.


"Baik Tuan," Albert, menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari ruang kerja Brayen.


Brayen membuang napas kasar. Ia kembali menyandarkan punggungnya, lalu memejamkan matanya lelah. Belakangan ini terlalu banyak masalah, sejak dirinya kembali berbulan madu dari Turkey. Kali ini, Brayen harus menyelesaikannya lebih cepat. Karena ini, benar - benar mengusik Istrinya, dia tidak bisa melihat istrinya selalu menangis.


...***...


Devita berjalan keluar dari kelas dengan tatapan kosong dan wajahnya yang masih terlihat begitu muram. Pikirannya tidak henti memikirkan masalah kedua orangtuanya. Hatinya begitu sakit dan sesak dengan kenyataan ini. Rasanya Devita tidak bisa menerima semua ini.


Olivia mengerutkan keningnya. Ia melangkah keluar dari kelas mendapati sahabatnya terlihat begitu muram dengan tatapan mata yang kosong. Dengan cepat Olivia langsung berjalan menghampiri Devita.


"Devita." Olivia memanggil nama sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Ia tahu sahabatnya itu tengah melamun.


Devita terkesiap, ia menatap Olivia yang tersenyum ke arahnya. " Kau mengejutkan aku, Olivia."


Olivia berdecak kesal, "Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Kenapa kau ini melamun?"


"Ada masalah? Tetapi aku tidak bisa bercerita sekarang," jawab Devita. Bukannya ia tidak mau bercerita, tapi rasanya Devita masih belum sanggup untuk mengatakan ini.


"Kau bertengkar dengan Brayen lagi?" tanya Olivia.


Devita menggeleng pelan, "Tidak, ini bukan karena Brayen."


"Ya sudahlah, lebih baik kita ke kafe. Kita minum hot chocolate dan red velvet cake." ajak Olivia. Ia tahu saat ini, sahabatnya itu membutuhkan ketenangan.


Devita mengangguk setuju. "Ya, itu lebih baik."


Kemudian Devita dan Olivia berjalan meninggalkan kampus. Saat ini, suasana hati Devita sedang tidak baik. Lebih baik, Devita memilih untuk menenangkan dirinya.


"Devita Smith." suara seorang perempuan berteriak cukup keras memanggil Devita. Mendengar namanya di panggil membuat Devita dan juga Olivia menghentikkan langkahnya. Mereka berdua menoleh ke sumber suara itu.


Devita mengerutkan keningnya, ketika sesosok gadis cantik yang berpenampilan sangat seksi melangkah mendekat ke arahnya. "Maaf, apa kita saling mengenal?" tanya Devita saat wanita itu berada di hadapannya.


"Aku Lucia. Aku ingin berbicara denganmu. Bisa kau meluangkan waktumu?" tukas Lucia.


"Bagaimana kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Devita lagi. Ia begitu asing melihat wanita yang ada di hadapannya ini.


"Bagaimana, jika namaku adalah Lucia Smith? Apa kau mengenalku?" balas Lucia dengan suara yang tenang dan anggun.


Devita tersenyum sinis, ia sudah mengerti dan mengenal siapa wanita yang ada di hadapannya ini. "Baiklah, kau tunggu sebentar."


"Olivia, aku harus pergi dengannya." kata Devita dan Olivia pun mengangguk.


"Alright." Lucia berjalan mengikuti Devita menuju ke kafe terdekat.


...***...


"Ada apa kau mencariku?" tanya Devita dingin, kini ia sudah berada di kafe dan duduk berhadapan dengan Lucia.


"Aku hanya ingin menyapamu," jawab Lucia dengan santai.


Devita tersenyum miring, " Kenapa kau harus menyapaku? Ada urusan apa kau denganku?"


Lucia menaikkan alisnya, dan menatap lekat wajah Devita, "Well, aku hanya ingin menyapa saudaraku jadi tidak salah bukan?"


"Sayangnya aku adalah anak tunggal. Aku tidak memiliki saudara." tukas Devita dingin.


Lucia menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. " Ya kau benar. Aku juga tidak memiliki saudara perempuan."


"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku? Kenapa kau mencariku?" tanya Devita lagi. Ia menatap lekat mata Lucia.


"Aku hanya ingin melihat kehidupanmu yang sempurna. Kau dilimpahi kasih sayang, perhatian dan harta. Sangat beruntung hidupmu, Devita." tukas Lucia.


"Jika kau hanya ingin mengatakan itu, lebih baik tidak perlu bertemu denganku. Aku tidak memiliki waktu untuk bertemu denganmu." balas Devita tajam.


"Listen to me. Aku tidak perduli dengan harta yang kau miliki. Tapi aku hanya ingin melihat kehidupanmu yang sempurna. Kau mendapatkan semuanya. Benar - benar memiliki kehidupan yang sangat sempurna." ujar Lucia dengan penuh sindiran.


Devita tersenyum sinis. " Apa kau berniat untuk mengemis harta Ayahku?"


Lucia menggeram. Ia menyalang dan menatap tajam Devita yang mengatakan itu padanya. " Kau harus tahu, Ibuku pemilik Wilson Company! Aku tidak kekurangan uang sedikit pun!"


"Jika kau merasa tidak kekurangan. Kenapa kau membahas harta Ayahku?" tukas Devita sarkas.


"Aku tidak membahasnya! Aku hanya mengatakan bahwa hidup sempurna! Kasih sayang, perhatian, harta segalanya kau miliki! Bahkan Edwin Smith, mengumumkan bahwa kau adalah pewaris dari Smith Company. Sungguh mengesankan." balas Lucia sinis.


Devita mendongakkan wajahnya, dan menatap lekat wanita yang ada di hadapannya. " Listen to me, jika aku mendapatkan semuanya itu karena memang aku pantas mendapatkannya. Kau ingin mengharapkan posisiku?" Devita tertawa meledek wanita itu. "Aku anak yang lahir setelah pernikahan kedua orang tuaku. Dan aku tekankan padamu woman, aku memang akan berada di posisi ini. Bukan kau, ataupun saudara kembar mu!"


Rahang Lucia mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat saat Devita menertawakannya. Tatapan mereka saling menatap tajam satu sama lain. Terlihat begitu jelas, mereka saling membenci.


Devita beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengambil tas di atas meja tanpa melepaskan tatapan tajam pada wanita yang ada di hadapannya. " Aku ingatkan padamu, kau harus sadar dimana posisimu. Satu lagi, nama belakangku sudah berganti menjadi Devita Mahendra setelah aku menikah dengan Brayen Adams Mahendra. Jika kau beranggapan aku lemah dan diam ketika ada orang yang berusaha menjatuhkanku maka kau salah besar woman! Aku tidak pernah lemah. Jadi, jangan pernah bermain - main denganku!"


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.