Love And Contract

Love And Contract
Ulang Tahun Olivia



Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam mansionnya, hari ini adalah hari ulang tahun Olivia, dia harus segera bersiap - siap. Jika dirinya sampai terlambat, sahabatnya itu pasti akan langsung marah padanya. Devita mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar.


Saat Devita masuk ke dalam kamar dia menatap jam dinding di kamar, kini sudah pukul enam sore, dia langsung bersiap - bersiap, karena pesta ulang tahun Olivia pukul sembilan malam. Untunglah Brayen sejak kemarin tidak pulang. Devita pun tidak menanyakan keberadaan Brayen, untuk apa bertanya dia tidak ingin ikut campur dalam kehidupan pribadi Brayen. Dia terlalu lelah untuk menangisi sesuatu hal yang seharusnya tidak dia tangisi.


Devita melangkah menuju ke arah kamar mandi, dia memilih untuk berendam dan dia memilih melepas pakaiannya dan mulai berendam di jacuzzi. Aroma jasmine di campur dengan milk membuat tubuhnya rileks dan tenang. Berendam membuatnya sedikit melupakan masalahnya. Devita mulai memejamkan mata sebentar, saat dia memejamkan mata, tiba - tiba pikirannya memikirkan Brayen. Devita langsung membuka matanya kembali. Devita mengumpat pelan, dia merutuki dirinya yang masih terus memikirkan Brayen. Devita mengatur napasnya, dia berusaha untuk tidak memikirkan Brayen.


Setelah Devita sudah selesai berendam. Dia melangkah menuju ke arah walk in closet miliknya. Dengan tubuhnya yang masih memakai bathrobe dan rambut yang di lilit oleh handuk, dia membuka wardrobe khusus untuk pakaian pesta. Devita memang memiliki banyak gaun mewah dan cantik. Rena Mommy mertuanya dan juga Brayen sudah menyiapkan semua yang di butuhkan oleh Devita. Sehingga Devita tidak membawa banyak barangnya dari mansion keluarganya.


Pilihan Devita jatuh pada mini dress berwarna silver bermodel kemben ini sangat cantik. Dia tersenyum saat melihat pilihannya. Dia langsung mengganti bajunya. Kemudian memoles make up tipis di wajahnya. Memakai kalung liontin berlian yang tidak terlalu besar. Ini hanya bertujuan untuk menyempurnakan penampilannya. High heels Cristian Louboutin 12 cm membuat kaki jenjangnya benar - benar sangat indah. Rambut pirang tergerai dengan sangat menawan.


Devita menatap ke cermin, dia telah selesai berdandan. Lalu Devita mengambil clucth di atas meja rias, ia juga mengambil hadiah untuk Olivia dan kunci mobil miliknya. Dia langsung berjalan keluar meninggalkan kamar. Setidaknya benar apa kata Olivia malam ini dia harus bersenang-senang. Melupakan masalahnya dengan Brayen.


Malam ini adalah ulang tahun dari Olivia. Devita memang tidak mengirim pesan pada Brayen. Lagi pula untuk apa meminta izin pada Brayen? Pria itu saja tidak memberi kabar padanya. Entah kenapa Devita sangat yakin, Brayen tengah bersama kekasihnya itu.


...***...


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, sudah dua malam Brayen tidak pulang ke mansion. Dia juga tidak memberi kabar kepada Devita. Dia lebih memilih untuk menenangkan pikirannya beberapa hari ini. Sebenarnya bukannya Brayen tidak ingin memberi kabar pada Devita. Tapi dia tahu, Devita masih marah padanya.


Suara dering ponsel, membuat Brayen menghentikan lamunannya, Brayen mengambil ponselnya yang terletak ada di hadapannya. Dia mengambil ponsel dan menatap ke layar ponselnya. Brayen membuang napas kasar, melihat di layar ponselnya tertera nama Elena yang sedang menghubunginya. Brayen langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.


"Ya," jawab Brayen dingin saat panggilannya terhubung.


"Sayang, kau dimana?" tanya Elena dari sebrang telepon.


"Aku di kantor," jawab Brayen.


"Apa kau sibuk?" tanya Elena lagi.


"Ya,"


"Brayen aku ingin pergi ke klub malam. Aku bosan di Apartemen,"


"Aku akan mengajakmu nanti, saat ini aku masih sibuk,"


"No, aku mau malam ini kita ke klub malam. Aku sudah sangat bosan di Apartemen. Kau tahu kan, ada perusahaan entertaintment yang mengontrak ku membintangi film baru dan bulan depan mulai syutingnya. Aku hari ini sangat bosan. Aku tidak mau tahu, kau haus membawa ke klub malam. Aku tidak mau besok, kau harus mengajaknya malam ini!


"Elena, aku masih banyak pekerjaan,"


"Please Brayen. Aku sangat bosan,"


Brayen membuang napas kasar, "Aku akan menjemputmu sebentar lagi. Kau bersiaplah."


"Thank you, sayang,"


Brayen langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia masuk dan beranjak ke dalam kamar pribadinya untuk mengganti pakaiannya. Setelah Brayen mengganti pakaiannya, dia mengambil kunci mobil lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


...***...


Devita turun dari mobil, Olivia memilih salah satu club termahal di kota B. Dia berjalan masuk ke dalam, penampilan Devita malam ini memang banyak mengundang kaum pria. Tidak heran, Devita berpenampilan sangat seksi dan dewasa.


Devita melihat Olivia sudah bersama dengan teman kuliahnya yang lain sudah datang. Dia mendekat ke arah Olivia, dan Richard sudah tiba di sana, dia menatap Devita dengan senyuman manis di bibirnya dan tidak henti menatap Devita.


"Ya, jika aku tidak datang. Akan ada singa hutan yang mengamuk," kata Devita dengan ledekan dan kekehan kecil.


"****! Kau menghinaku singa hutan!" Ucap Olivia mendengus kesal.


Devita mengulum senyumannya. " Sudah, jangan marah - marah di pesta ulang tahunmu. Happy Birthday," Ucap Devita sambil memeluk erat sahabatnya.


"Terima kasih sudah datang, apa di tanganmu adalah hadiah ulang tahun untukku?" tanya Olivia dengan mata yang berbinar, dia sudah tidak sabar ingin mendapatkan hadiah tas keluaran terbaru.


Devita memutar bola matanya malas, " Ya, ini untukmu. Aku membeli tas keluaran terbaru yang kau inginkan," jawab Devita.


"Oh astaga, aku memiliki sahabat yang luar biasa baik!" Seru Olivia saat menerima hadiah dari Devita dan memeluk erat hadiah dari pemberian dari sahabatnya.


"Jangan berlebihan," balas Devita malas.


Olivia tersenyum senang, " Kau tahu Devita, kau sungguh sangat cantik malam ini. Lihat dress yang kau kenakan spektakuler!"


"No, kamu jauh lebih cantik. Lihat dirimu, dress yang kau kenakan sangat indah. Kau paling cantik, Olivia" ucap Devita.


"Apa yang di katakan Olivia memang benar, Devita. Kau sangat cantik," sambung Richard yang sejak tadi menatap Devita. Bahkan dia terus menatap Devita yang sedang mengobrol dengan Olivia.


"Astaga, aku sampai lupa menyapamu Richard. Terimakasih atas pujianmu. Malam ini, kau juga sangat tampan," kata Devita, tentu Devita tidak akan berbohong, Richard malam ini terlihat begitu sangat tampan.


Richard mengulas senyuman tulus. " Betapa beruntungnya aku mendengar kau mengatakan aku tampan,"


"Kau memang tampan Richard, harus aku akui itu," sambung Olivia dengan kekehan kecil.


"Well, aku mendapat pujian dari dua gadis cantik. Bagaimana jika kita bersulang?" tawar Richard.


"Tentu, kenapa tidak?" tukas Olivia dengan senyumannya.


Kemudian Olivia menjentikkan jarinya, memberi isyarat pada para pelayan untuk memberikan wine. Richard dan Olivia sudah memegang gelas sloki, sedangkan Devita mengambilnya dengan ragu - ragu. Olivia melirik ke arah Devita, dia tahu jika Devita pasti takut. Karena memang Devita tidak bisa minum alkohol.


"Devita kau jangan takut. Khusus untukmu aku memberikan wine tanpa alkohol," bisik Olivia di telinga Devita. Dia sudah melihat wajah sahabatnya yang begitu tegang.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.