
"Brayen, kau sudah pulang." Devita tersentak saat baru saja tiba dan masuk kedalam kamar, suaminya sudah duduk di sofa.
"Ya, hari ini aku pulang lebih awal," jawab Brayen. "Kemarilah..."
Devita melangkah mendekat dan langsung duduk di samping Brayen, "Kau terlihat sangat lelah, Brayen?"
Brayen menarik tangan Devita dan masuk kedalam pelukannya. "Kau baru pulang berbelanja?"
"Iya, aku baru pulang berbelanja." jawab Devita.
"Aku lebih menyukaimu seperti ini. Kau berbelanja jika kau bosan. Jangan memikirkan hal yang berat. Aku ingin kau selalu bahagia." Brayen mengelus dengan lembut pipi istrinya.
"Memangnya kau siap dengan tagihan kartu kreditku yang banyak itu?" Devita mengulum senyumannya.
"Aku sangat mampu membayar berapapun tagihan kartu kreditmu, sayang." jawab Brayen sembari memberikan kecupan di bibir Devita.
Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen dan memeluk suaminya dengan erat. Tanpa Brayen menjawab pun sebenarnya Devita sudah tahu, jika suaminya itu akan selalu menuruti keinginannya.
"Devita, ada yang ingin aku katakan padamu?" ucap Brayen dengan nada yang serius.
"Ada apa?" Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan suaminya.
"Besok, aku harus pergi Madrid. Harusnya aku berangkat dua hari lagi, tapi aku memeriksa kondisi perusahaan, tidak memungkinkan untuk kita jika menundanya." ujar Brayen.
"Apa perusahaanmu sedang dalam masalah?" Devita menatap cemas Brayen.
"Aku akan mengatasinya, kau itu tidak perlu takut." Brayen mengelus pipi Devita dan memberikan kecupan di kening Devita.
"Aku ikut Brayen! Aku tidak ingin di tinggal sendiri," Devita mengerutkan bibirnya menatap Brayen agar bisa memperbolehkannya.
"Tapi kau sedang hamil, Devita." jawab Brayen. "Kita juga baru saja kembali dari liburan."
"Tapi..."
"Aku berjanji akan menyelesaikan pekerjaanku lebih awal." Brayen langsung memotong ucapan Istrinya.
Devita merengut. "Aku tidak bisa kalau sendiri!"
Brayen menangkup kedua pipi Devita dan memberikannya kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya itu. "Aku juga tidak bisa meninggalkamu sendiri, tapi percayalah ini hanya sebentar. Aku akan segera pulang.
"Kau berjanji?" Devita menatap kembali suaminya itu, meski hatinya begitu berat tapi dia tidak memiliki pilihan yang lain.
"Ya, aku berjanji." Brayen mengeratkan pelukannya. "Aku akan segera pulang. Aku juga sudah meminta Albert untuk membantuku mengurus pekerjaanku di Madrid, aku yakin pekerjaanku akan cepat selesai."
Meski berat, tapi Brayen tidak memiliki pilihan lain. Dia akan segera menyelesaikan pekerjaannya di Madrid.
...***...
Keesokan harinya Devita bangun lebih awal. Devita sengaja bangun lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan yang akan di bawa oleh suaminya itu.
Kini Devita tengah memasukkan barang-barang yang akan di bawa oleh Brayen. Meski berat, Devita harus mengerti karena suaminya itu memiliki tanggung jawab atas perusahaan. Jika dulu Brayen melakukan perjalanan bisnis selalu membawa dirinya, sekarang niat itu harus di tertunda. Benar apa yang di katakan oleh Brayen tadi malam. Saat ini, dirinya itu tengah hamil, mereka baru saja kembali dari Las Vegas. Tidak mungkin jika Devita harus kembali dalam perjalanan yang cukup jauh.
Brayen yang baru saja masuk kedalam kamar, dia menatap istrinya yang tengah menata barang - barang yang akan di bawa ke Madrid. Senyum di bibir Brayen terukir ketika mengingat istrinya itu merajuk meminta untuk ikut. Semenjak Devita hamil, istrinya itu memang lebih bersikap seperti anak - anak. Apapun yang Devita inginkan, biasanya Devita yang selalu memaksa Brayen untuk memenuhi keinginannya.
Hingga kemudian, Brayen melangkah mendekat dan langsung memeluk tubuh Devita dari belakang. "Kenapa kau tidak meminta pelayan, hm? Aku tidak ingin kau lelah." bisik Brayen.
Devita mendesah pelan. "Istrimu siapa Brayen? Apa istrimu itu pelayan?" ucap Devita ketus.
Brayen mengulum senyumannya, lalu dia memutar tubuh Devita dan menghadap dirinya. "Kau masih marah, karena aku tidak bisa membawamu?"
"Tidak!" Tukas Devita tanpa melihat ke arah Brayen.
Brayen menarik dagu Devita dan menatap lekat manik mata istrinya itu. "Madrid tidak ada apa - apanya jika kau tidak bersama denganku. Tapi kau harus mengerti Devita, kau ini sedang hamil muda. Kita baru saja pulang dari berlibur. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita nanti."
"Sayang," Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita. "Aku berjanji, sebelum satu minggu, aku akan usahakan untuk menyelesaikan pekerjaanku lebih awal."
Devita memeluk Brayen, dia membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. "Aku tidak suka jika tidur sendirian. Aku sudah biasa tidur selalu di sampingmu. Aku tidak ingin jauh darimu. Tapi aku juga tidak mungkin untuk melarangmu, bukan?"
Brayen mengusap lembut rambut panjang Devita. "Aku berjanji akan menyelesaikan pekerjaanku lebih awal. Sama sepertimu, aku juga tidak suka jika harus tidur tanpamu. Percayalah Devita, aku melakukan semua ini karena dirimu dan anak kita nanti. Aku bekerja keras untuk dirimu dan anak - anak kita agar memiliki kehidupan yang tidak akan pernah kekurangan."
Devita mendesah pelan, dia mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Baiklah, aku akan berusaha untuk mengerti. Tapi kau itu harus ingat, kau itu harus selalu menghubungiku setiap malam. Jika kau tidak menghubungiku, maka saat kau pulang nanti jangan harap aku mau bicara denganmu lagi"
Brayen menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Apa ini sebuah ancaman, Nyonya Mahendra?"
"Ya!" Tukas Devita. "Ini adalah ancaman sekaligus peringatan dariku!"
"Allright," Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya itu. "Aku akan menuruti setiap keinginanmu."
Devita tersenyum. "Jam berapa kau berangkat?"
"Sekarang, ini sudah waktunya. Sejak tadi, Albert sudah menunggu di depan." jawab Brayen.
"Ya sudah. Pelayan juga sudah membawa kopermu!" Balas Devita. "Aku akan menemanimu kedepan,"
Brayen mengangguk pelan. Kemudian Devita langsung memeluk lengan Brayen, berjalan meninggalkan kamar. Rasanya begitu berat jika di tinggal Brayen, tapi Devita berusaha untuk menguatkan diri. Devita yakin, Brayen akan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Saat Brayen dan Devita sudah tiba di depan. Devita masih terus memeluk erat lengan Brayen. Seolah Devita tidak ingin merelakan suaminya itu untuk pergi.
"Sayang, aku harus berangkat sekarang." Brayen mengelus pipi Istrinya itu.
"Kirimkan pesan jika sudah tiba di Madrid." Devita mengerutkan bibirnya.
Brayen tersenyum, dia menangkup kedua pipi Istrinya dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Devita. "Iya sayang....."
"Kak, kau sudah ingin berangkat sekarang?" suara Laretta dari arah belakang. Dia melangkah mendekat ke arah Devita dan Brayen.
"Ya," jawab Brayen.
"Devita, aku harus berangkat. Ingat, kemanapun kau pergi harus bersama dengan sopir." tukas Brayen menekankan.
Devita mengangguk patuh, kemudian Brayen mengecup kening Devita dan juga Laretta. Lalu dia berjalan masuk ke dalam mobil. Kini mobil Brayen mulai berjalan meninggalkan mansion. Devita mendesah pelan melihat mobil Brayen yang sudah pergi.
"Devita, aku yakin Kak Brayen tidak akan lama. Aku tahu, Kakakku juga berat meninggalkanmu. Tapi tidak mungkin juga jika Daddyku yang harus berangkat ke Madrid. Kondisi kesehatan Daddyku masih belum memungkinkan." ujar Laretta.
"Aku mengerti Laretta, ini memang tanggung jawab Brayen. Bagaimanapun, perusahaan membutuhkan dirinya. Banyak karyawan yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan. Aku juga harus memikirkan itu," balas Devita.
"Terima kasih sudah mengerti Devita," kata Laretta dengan tatapan yang lembut ke arah Devita. "Aku akan bertemu dengan keluarga Angkasa. Apa kau tidak apa - apa aku tinggal sendiri?"
Devita tersenyum. "Aku baik - baik saja Laretta, kau tenang saja. Lebih baik kau itu bersiap. Aku akan menonton film lagi di kamar."
"Baiklah," jawab Laretta yang hendak pergi, namun tangan Devita menahan Laretta.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.