Love And Contract

Love And Contract
Memasak Makan Siang



Devita tersenyum mendengar ucapan istrinya, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung duduk di pangkuan Brayen. Dia memberikan kecupan bertubi-tubi di rahang suaminya. Setidaknya tiga hari ini, suaminya itu akan menemani dirinya.


"Terima kasih, sayang." Devita kembali memberikan kecupan di pipi suaminya.


Brayen menarik dagu Devita, dia mencium dan ******* lembut bibir ranum istrinya itu. "Aku juga senang, menghabiskan hari - hariku bersama denganmu."


"Sebagai hadiahnya, nanti siang aku akan memasak untukmu." kata Devita yang antusias.


"Memasak?" Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Kau yakin? Aku tidak ingin kau lelah. Biarkan Chef Della saja yang memasak untuk kita."


"Tidak Brayen, aku sendiri yang ingin memasak untukmu." jawab Devita.


"Alright, aku juga menyukai masakan terkahir yang kau buat untukku." balas Brayen sembari memberikan kecupan di bibir Devita.


"Benarkah?" Devita tersenyum, matanya berbinar ketika mendengar Brayen menyukai masakannya.


"Aku tidak mungkin berbohong, sayang." Brayen menyelipkan rambut Devita ke belakang daun telinga istrinya. "Aku menyukai masakanmu."


Devita menangkup kedua pipi Brayen, dia menempelkan hidungnya ke hidung Brayen dan menggeseknya pelan. "Aku senang kau menyukai masakanku."


...***...


"Siang ini, sesuai dengan ucapan Devita, dia ingin memasak untuk Brayen. Devita memang sangat jarang memasak. Bukan tidak ingin, tapi Brayen selalu memanjakan dirinya. Brayen tidak ingin dirinya kelelahan. Padahal sebelum menikah, Devita sering di ajarkan memasak oleh Ibunya. Nadia selalu memberi pesan, seorang wanita itu harus bisa memasak. Meski tidak terlalu hebat, tapi paling tidak, seorang wanita harus bisa memasak. Nadia juga sering mengatakan pada Devita, seorang suami akan sangat senang ketika makan, masakan istrinya.


Devita mengambil apron, dan langsung memakainya. Dia mengeluarkan bahan - bahanya dari kulkas. Hari ini Devita akan memasak chicken farmigiana. Dia khusus memasak italian food, karena memang Brayen sangat menyukai Italian food. Tinggal menetap lama di Milan. Membuat suaminya itu terbiasa dengan Italian food. Sebenarnya tidak hanya makanan khas Italia saja, tapi beberapa hidangan dari Perancis Brayen juga menyukainya. Hanya saja, Brayen kurang menyukai masakan Indonesia. Karena bagi Brayen, makanan Indonesia terlalu pedas. Beberapa kali ini Chef Della memasak makanan Indonesia yang berasal dari kota Y Dan Brayen mengatakan dia cukup menyukainya. Makanan asal kota Y terkenal dengan rasanya yang manis. Itu yang membuat Devita kurang menyukai masakan asal kota Y. Devita lebih menyukai masakan dari kota B atau kota M yang memiliki citra rasa yang pedas.


Devita mulai membersihkan ayam yang sudah dia keluarkan dari kulkas. Lalu dia mengeluarkan bumbu dasarnya rempah - rempah Italia, seperti oregeno, fresch tomato, lemon dan olivie oil. Devita tidak meminta Chef Della untuk mengajarkan dirinya. Dia ingin sendiri memasak untuk Brayen tanpa Chef Della yang membantu dirinya. Ya, tentu saja Devita membuka internet dan YouTube cara membuat chicken farmigiana ini. Beruntung memasak chicken farmigiana tidak terlalu rumit. Jadi Devita masih bisa menyelesaikan masakannya tanpa harus meminta bantuan dari Chef Della.


Brayen menyerap capuccino di tangannya, dia terus memperhatikan istrinya yang tengah memasak. Melihat Devita memakai apron membuat Brayen tersenyum. Istrinya sangat cantik dan terlihat begitu mengagumkan ketika memasak dan memakai apron. Rambut yang di ikat ke atas, membuat leher jenjang dan putih istrinya terlihat sempurna.


Tidak lama kemudian, Devita telah selesai memanggang ayam dan juga sudah membuat spaghetti. Tidak lupa saos tomat untuk pelengkapnya. Setelah masakannya sudah siap, Devita langsung menyiapkan dua orange juice lalu menghampiri Brayen yang sejak tadi tidak henti menatap dirinya.


"Kau harus makan yang banyak, Daddy. Aku sudah membuat makanan ini untukmu." kata Devita saat menyerahkan piring yang berisi chicken farmigiana dan spaghetti pada Brayen.


"Kau membuat chicken farmigiana?" Brayen mengerutkan keningnya, ketika melihat makanan yang sudah terhidang di hadapannya.


"Apa kau tidak menyukai chicken farmigiana?" tanya Devita yang mulai cemas. Pasalnya, dia takut jika Brayen tidak menyukai makanan yang dia buat itu.


"Tidak sayang, aku akan selalu menyukai semua masakanmu." jawab Brayen. "Tapi kenapa setiap kau memasak untukku, kau itu selalu memilih masakan Italia?"


"Karena kau sudah lama tinggal di Milan. Dan aku tahu, masakan kesukaanmu itu hampir semuanya masakan Italia. Jadi aku memilih untuk membuatkan makanan Italia." jawab Devita sembari memberikan orange juice yang telah dia siapkan tadi untuk suaminya.


"Brayen mengulum senyumannya. "Kau selalu memperhatikan makanan yang aku sukai?"


Devita mendengus. "Aku ini istrimu. Aku harus tahu makanan apa yang kau sukai dan tidak kau sukai?"


Brayen menarik tangan Devita, hingga membuat Devita memekik terkejut, ketika dirinya duduk di pangkuan suaminya.


"Brayen, kau mengejutkanku!" Tukas Devita.


"Aku ingin makan, tapi aku juga ingin istriku duduk di pangkuanku. Menghirup aroma istriku membuat napsu makanku bertambah." Brayen mengecup ceruk leher Devita. Dia menyukai aroma rambut istrinya. Devita memang selalu merawat rambut panjangnya. Hingga istrinya itu memilki rambut yang sangat indah.


"Aku tidak merayu, sayang." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Sekarang, lebih baik kita makan. Anakku pasti sangat lapar."


Devita mengulum senyumannya."Benar Daddy, anakmu sudah sangat lapar. Tapi aku ingin hari ini menyuapi mu. Aku ingin, kau itu makan banyak hari ini."


"Alright, Mrs. Mahendra." balas Brayen sembari mengecup singkat bibir istrinya.


Kemudian Devita mengambil sendok, dia menyuapi suaminya itu. Devita menatap Brayen, ketika suaminya itu memakan masakannya.


"Bagaimana? Apa tidak enak?" tanya Devita. Sejak tadi dia memperhatikan suaminya, tapi suaminya itu tidak mengatakan apapun.


"Aku rasa, aku bisa mulai berhemat." jawab Brayen.


"Hemat? Maksudmu?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Brayen.


"Aku lebih suka masakanmu daripada Chef kita," balas Brayen. "Artinya tidak perlu memakai Chef, dan aku bisa menghemat uangku bukan?" lanjutnya yang sengaja menggoda istrinya itu.


Devita tersenyum. "Apa sungguh enak, aku itu selalu takut, jika memasak untukmu dan tidak sesuai denganmu."


"Aku selalu menyukai masakan yang kau buat sayang." jawab Brayen. "Jika masakanmu tidak enak, sudah sejak awal aku memintamu untuk tidak menyentuh dapur. Aku tidak suka berpura - pura mengatakan masakanmu sangat enak, tapi tidak sesuai dengan kenyataannya."


Devita mencebik. "Kau ini tidak romantis sama sekali! Padahal aku melihat di film dan drama, meski wanitanya tidak bisa memasak, tapi suaminya itu selalu memuji masakan istrinya! Kenapa kau tidak seperti itu!"


"Jangan terlalu banyak menonton drama Devita!" Jawab Brayen yang malas menanggapi ucapan istrinya, jika sudah membahas tentang film drama yang sering di lihat istrinya itu.


Devita mengerutkan bibirnya, menatap kesal ke arah Brayen. Padahal, dia menyukai film drama kesukaannya.


Suara dering ponsel membuat Devita dan Brayen mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang terus berdering. Devita langsung mengambil ponselnya yang terus berdering itu. Senyum di bibirnya itu terukir ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Brayen dengan tatapan yang tak suka, jika ada yang menganggu dirinya dan juga istrinya.


"Laretta." jawab Devita antusias. "Aku harus menjawabnya."


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.