Love And Contract

Love And Contract
Membawa Olivia



"Albert, bagaimana dengan Nakamura company?" tanya Brayen yang berdiri di hadapannya.


"Saat ini, Angkasa Nakamura sedang mengambil proyek besar, Tuan. Dia mengeluarkan dana yang sangat besar untuk proyek ini. Tapi jujur saya ragu dengan ini, saya melihat Angkasa Nakamura tidak memperhitungkannya dengan baik. Dia tidak memikirkan resiko kedepannya dengan mengeluarkan dana yang terlalu besar, untuk ukuran perusahaannya, itu bisa dengan mudah, menghancurkan perusahannya." jelas Albert.


"Itu tujuanku, Albert. Perusahaannya hampir bangkrut hingga Ayah mertuaku memberikan uang. Meski aku yakin, pasti Daddyku juga terlibat. Karena jumlah yang di berikan oleh Ayah mertuaku sangat besar. Aku ingin melihat cara dia mengambil keputusan di waktu yang mendesak. Kau bisa melihatnya sekarang, saat waktu mendesak dia pergunakan untuk mengeluarkan dana besar sebuah proyek. Tapi dia tidak memperhitungkan dengan baik." balas Brayen.


"Hampir delapan ratus juta dollar, Tuan. Untuk perusahaan Nakamura company, delapan ratus juta dollar sangat besar. Jika Angkasa Nakamura sampai gagal dalam proyek ini, maka dia pasti tidak akan mampu membayar hutang-hutangnya di bank. Karena saya mendapatkan informasi, jika Nakamura company memiliki hutang yang cukup besar di bank, untuk mereka membangun cabang perusahaan mereka." jelas Albert.


Brayen terseyum sinis. "Bagaimana dia bisa menjadi pendamping adikku, jika dia bertindak sesuatu tanpa berpikir,"


"Albert, berapa persen kemungkinan dia berhasil?" tanya Brayen.


"Jika saya lihat Tuan, kemungkinan Angkasa Nakamura berhasil hanya empat puluh persen dia terlalu mengambil resiko yang besar," ujar Albert.


"Apa langkah selanjutnya, Tuan? Apakah Tuan akan mencegah Angkasa Nakamura?" tanya Albert


"Tidak, aku tidak mungkin mencegahnya. Biarkan dia mengambil keputusannya. Dia ingin menjadi suami dari adikku. Ini bukan hanya tentang kekuasaan, selain aku tidak ingin Laretta merasakan susah. Aku juga tidak ingin memiliki adik ipar yang mengambil suatu keputusan yang tidak di pikiran terlebih dulu." jelas Brayen.


"Aku ingin tahu, bagaimana dia dalam menangani masalah ini. Menikah bukan hanya karena Angkasa bertanggung jawab pada adik dan keponakannya ku nanti. Tapi, pria itu harus bertanggung jawab, atas kehidupan mereka di masa depan. Dulu, kau ingat bukan, saat aku di berikan tantangan pada Daddyku untuk mengambil sebuah keputusan yang singkat. Semua aku pikirkan dengan baik, meski aku memiliki waktu yang terbatas. Tapi, aku berhasil melakukannya. Aku tidak mungkin membiarkan perusahaanku bangkrut."


"Lebih baik kau awasi saja dia, dan biarkan Angkasa yang mengambil keputusan. Itu adalah perusahaan miliknya, dengan waktu yang aku berikan, harusnya cukup untuk Angkasa berpikir sebelum mengambil keputusan."


"Baik Tuan. Tapi maaf, bagaimana dengan Nona Laretta? Saya rasa pasti Nona Laretta akan marah karena ini," kata Albert.


"Tadi pagi, aku sudah berdebat dengan Laretta. Dia tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataanku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Dan kau pasti mengerti tujuanku di balik semua ini, Albert." tukas Brayen.


"Saya mengerti maksud, Tuan. Kenapa Tuan memberikan persyaratan seperti ini kepada Angkasa Nakamura. Saya harap dia tidak mengambil sebuah keputusan yang salah." ujar Albert.


"Kita lihat nanti, keputusan apa yang akan dia ambil." balas Brayen.


...***...


Devita berjalan keluar dari kelas. Ia baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Devita melirik arlojinya kini sudah pukul jam dua belas siang. Devita mengambil ponselnya, ia melihat tidak ada pesan masuk dari Brayen. Sejak perdebatannya tadi pagi antara Brayen dan juga Laretta, Brayen belum mengirimkan pesan pada Devita.


Devita memang tidak mengerti dengan apa yang sedang di rencanakan oleh Brayen Tapi setidaknya, Devita lebih memilih untuk percaya pada Brayen. Ia yakin, Brayen melakukan ini untuk kebaikan Laretta. Meski Devita juga merasa kasihan kepada Angkasa


Devita berharap, Angkasa bisa melewati ini semua dengan baik.


Devita berdiri di depan ruang kelas, ia menunggu Olivia yang saat ini sedang berbicara dengan dosen. Tidak mungkin Devita meninggalkan Olivia, bisa - bisa sahabatnya itu marah - marah dengannya.


"Devita!" Teriak Olivia saat ia keluar dari kelas, ia langsung berlari ke arah Devita.


"Olivia aku mendengarnya! Telingaku masih berfungsi dengan baik!" Ucap Devita ketus.


Olivia tersenyum lebar "Lebih baik kita makan sekarang,sudah waktunya untuk makan. Aku sudah sangat lapar."


"Ya, baiklah. Aku juga sudah sangat lapar." balas Devita.


Kemudian mereka berjalan meninggalkan kampus, saat Devita dan Olivia tiba di area lobby. Devita terkejut melihat Felix dengan pakaian formal kantor sedang berdiri di lobby.


"Devita, untuk apa sepupu dari suamimu itu datang kesini," gerutu Olivia.


"Ayo kita kesana, aku yakin sekali, pasti dia datang untuk mencarimu." Devita menarik tangan Olivia untuk mendekat ke arah Felix.


"Hi Felix, ada apa kamu kesini? Ingin menemui Olivia?" tanya Devita, ia melirik ke arah Olivia.


Olivia mendengus tak suka. " Devita! Apa - apaan kau ini!"


"Benar, aku ingin mengajak kalian untuk makan siang. Kalian belum makan kan?" tanya Felix.


"Belum. Kami belum makan. Tapi sepertinya aku harus pergi Felix. Lebih baik kau ajak Olivia untuk makan, dari tadi Olivia sudah mengeluh mau makan," jawab Devita, ia sengaja membiarkan Felix bisa berduaan dengan Olivia. Sekaligus suatu kesempatan agar Olivia bisa mengenal Felix dengan baik.


"Tidak. Aku tidak mau jika kau tidak ikut, Devita. Lagi pula kau mau pergi kemana? Tadi, kau sudah mengiyakan aku untuk mengajakmu makan?" seru Olivia kesal.


"Aku melupakan sesuatu, Olivia. Lebih baik kau pergi bersama dengan Felix. Dia pasti akan mengajakmu ke restoran yang makanannya sangat enak! Sudahlah Olivia, lebih baik kau pergi saja bersama dengan Felix."


"Tidak Devita! Aku tidak mau!" Tolak Olivia, ia tidak mungkin makan berdua saja dengan Felix. Belum lagi, perkataan Felix yang pernah dia katakan. Membuat Olivia tidak mau makan siang berdua dengan Felix.


"Terserah kau Olivia, tapi aku harus pergi." ucap Devita.


"Felix, aku titip Olivia ya. Aku duluan." pamit Devita. Ia langsung berjalan meninggalkan Felix dan juga Olivia.


"Eh! Devita tunggu! Kenapa kau meninggalkan aku! Tunggu, aku ikut kamu, Devita!" Teriak Olivia kencang, ia langsung melangkah dan ingin menyusul Devita. Tapi saat Olivia melangkah, tangan kokoh menahan lengannya.


"Lepas! Kenapa kau menahanku, Felix!" Seru Olivia ia berusaha melepaskan cengkraman Felix, namun sia - sia, Felix semakin kuat mencengkram tangannya.


"Kau tadi tidak mendengar, Devita ingin pergi sendiri. Jadi, kau harus pergi bersamaku," tukas Felix dengan nada penuh penekanan.


"CK! Tidak Felix, aku mau makan sendiri saja di kantin," jawab Olivia.


"Baiklah, sepertinya aku harus memaksamu." dengan cepat Felix membopong tubuh Olivia ke bahunya. Sontak Olivia terkesiap, Felix membopong tubuhnya seperti karung beras.


"Felix! Kenapa kau menggendongku seperti ini, kepalaku jadi pusing!" Teriak Olivia dengan kencang, ia memukul punggung Felix dengan kuat. Namun percuma saja, Felix tidak mendengarkannya. Felix melanjutkan langkahnya menuju ke arah parkiran mobil dan memaksa Olivia untuk masuk kedalam mobil.


Devita yang bersembunyi di balik dinding, ia melirik ke arah Olivia dan juga Felix yang sudah pergi. Ia pun keluar dari persembunyiannya. Akhirnya rencananya pun berhasil. Devita memang sengaja meninggalkan Olivia berdua dengan Felix. Ia ingin membuat Olivia berdekatan dengan Felix.


"Olivia kau ini, aku itu sebenarnya tahu, kau pasti menyukai Felix, tapi tidak mau mengakuinya!" Seru Devita, ia berjalan keluar dari kampus. Ia ingin pergi ke restoran terdekat dengan kampusnya.


"Apa kabar Devita?" suara bariton menyapa Devita membuat Devita menghentikkan langkahnya dan menoleh ke sumber suara itu.


"W... William, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Devita yang sedikit terkejut melihat William kini sudah berdiri di hadapannya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.