Love And Contract

Love And Contract
Menjemput Devita



Devita melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kini mobil Devita sudah mulai memasuki halaman parkir di mansionnya. Devita melangkah dari mobil dia melangkah masuk ke dalam rumah. Saat Devita hendak masuk ke dalam kamar langkah Devita terhenti ketika melihat Ibunya berada di hadapannya.


"Devita? Kau sudah pulang sayang?" tanya Nadia yang melangkah mendekat ke arah Putrinya itu.


"Ya, Ma" jawab Devita.


"Sayang, Mama dengar dari Bibi Rena katanya kamu dan juga Brayen akan berkencan. Apa itu benar?"


Devita menghela napas kasar sambil menjawab , "Benar, Ma."


Nadia tersenyum. "Kalau begitu,Mama harus menyiapkan gaun untukmu. Mama ingin membuat Brayen tidak henti untuk menatap dirimu,"


"Ma, sudah jangan berlebihan. Aku hanya jalan dengan Brayen" balas Devita.


"Kau ini bagaimana? Karena kau ingin berkencan dengan Brayen. Itu yang harus membuatmu terlihat jauh lebih cantik. Mama ingin Brayen menatap kagum dirimu!" Seru Nadia antusias.


Devita memutar bola matanya malas.


"Terserah Mama kalau begitu. Aku mau masuk kamar dulu." ucap Devita langsung berjalan meninggalkan Ibunya itu.


Devita melangkah masuk ke dalam kamar, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dalam beberapa hari ini pikirannya sangat kacau. Hidupnya berubah saat orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Brayen.


Seketika Devita mengingat Angkasa. Pria yang terus berada di hatinya. Pria yang berhasil membuatnya menunggu. Meski kini Devita tidak tahu bagaimana harus menjalani semua ini.


Devita mengambil ponsel, dia mencari berita baru tentang Angkasa Nakamura di internet. Senyum di bibir Devita terukir, ketika melihat foto Angkasa.Pria itu memang selalu terlihat tampan dengan senyuman ramah di wajah pria itu.


Devita membaca artikel tentang Angkasa, yang telah berhasil memimpin perusahaan keluarganya.Sudah lima tahun Angkasa memimpin perusahaan keluarganya yang berada di Jepang. Tahun ini, seharusnya Angkasa sudah kembali ke Indonesia. Jika saja Devita masih memiliki nomor telepon Angkasa, pasti Devita ingin sekali menghubunginya. Devita sungguh sangat merindukannya.


Namun, meski Devita tidak bisa menghubungi Angkasa. Devita selalu percaya dengan janji Angkasa. Pria itu, meminta Devita untuk menunggu. Devita yakin, Angkasa akan kembali padanya. Devita juga yakin, hubungannya dengan Angkasa akan berhasil. Beruntung, pernikahan Devita dan juga Brayen hanyalah pura - pura. Setelah pernikahan berakhir, Devita bisa kembali bersama dengan Angkasa.


Devita terus menatap artikel tentang Angkasa Nakamura. Kening Devita berkerut dalam, ketika membaca salah satu artikel yang mengatakan bahwa Angkasa Nakamura berkencan dengan seorang wanita.Devita terus membaca artikel itu. Terlihat jelas bahwa Angkasa sedang memeluk pinggang seorang wanita.


"Siapa wanita ini?" gumam Devita.


Dengan cepat Devita menepis pikiran buruk tentang Angkasa. Devita sangat yakin, Angkasa tidak akan mungkin membohonginya dan melukai dirinya.Devita sangat mengenal Angkasa dengan baik. Angkasa selalu menunjukkan cintanya yang besar pada dirinya.


Devita percaya, wanita yang ada di artikel itu pasti adalah teman dari Angkasa.Devita juga tidak akan pernah berpikir buruk tentang Angkasa. Selama ini Angkasa selalu bersikap baik dan lembut kepadanya. Bahkan Angkasa sudah berjanji akan kembali.


Devita memilih untuk menutup ponselnya dan ia tidak ingin lagi membaca artikel itu. Hingga kemudian Devita mulai memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Terlebih banyaknya masalah yang datang di kehidupannya.


...*******...


Devita mematut cermin. Kini tubuhnya sudah terbalut gaun berwarna merah lengan panjang. Gaun ini sungguh indah dan berkelas. Tubuh Devita sangat sempurna memakai gaun ini. Gaun lengan panjang yang memperlihatkan punggung mulus milik Devita ini memang sangat menawan.


Gaun pemberian Nadia sang Ibu, harus Devita akui jika Ibunya memiliki selera yang sangat berkelas dalam hal fashion. Setiap gaun yang di pilihkan oleh Nadia, membuat Devita terlihat lebih dewasa dan sangat cantik.


Devita mengambil clutch di atas meja rias. Dia kembali menatap cermin, memastikan tidak ada yang kurang dari dirinya. Meski hanya bertemu dengan Brayen. Tapi Devita selalu ingin tampil sempurna dimana pun ia berada.


"Oh, sweetheart, you're looking wonderfull!" Seru Nadia dengan tatapan kagum ketika melihat Devita menghampirinya.


"Devita, kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik," ucap Edwin, mengusap lembut rambut putrinya itu.


"Sayangnya aku sudah berdandan cantik, tapi hanya untuk pergi dengan Brayen. Harusnya, jika sudah berdandan seperti ini aku pergi bersama dengan Angkasa." keluh Devita di dalam hati.


Devita mendengus kesal ketika melihat Ibunya terlihat sangat bahagia. Padahal dulu, saat Angkasa datang, kedua orang tuanya tidak ada yang menyambut ramah Angkasa.


Hingga kemudian, Nadia membawa Devita berjalan ke depan. Edwin juga menemani putrinya berjalan ke depan. Pandangan mereka kini menatap, sosok pria tampan yang sudah terbalut dengan tuxedo. Dalam beberap saat Brayen dan Devita saling menatap satu sama lainnya.Namun, Brayen dengan cepat mengalihkan pandangannya, Brayen kini menatap ke arah kedua orang tua Devita.


"Paman... Bibi..." sapa Brayen.


"Brayen? Kau datang menjemput Devita pergi bukan?" tanya Nadia dengan nada sedikit menggoda Brayen.


Brayen mengangguk, dan berkata, "Benar. Aku dan Devita akan makan malam bersama,"


"Baiklah, kalau begitu Bibi titip Devita," balas Nadia.


Edwin menepuk pelan bahu Brayen, sambil berkata, " Paman hanya minta tolong, jaga putriku dengan baik,"


"Aku pasti akan menjaganya, Paman." jawab Brayen.


Nadia dan Edwin sama - sama tersenyum. "Hati - hati Brayen," ucap mereka berdua secara bersamaan.


"Devita, ingat! Kau harus menurut dan jangan membuat masalah," tukas Nadia yang memberikan peringatan kepada putrinya itu. Devita mendengus tak suka mendengarkan ucapan Ibunya.


Hingga kemudian, Brayen mengulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Dengan terpaksa Devita pun akhirnya menerima uluran tangan dari Brayen.


Brayen membukakan pintu mobil untuk Devita, lalu wanita itu masuk ke dalam. Setelah Devita masuk ke dalam mobil. Brayen juga langsung masuk ke dalam mobil. Brayen menghidupakan mesin mobil, menginjak gas, kemudian mulai melajukkan mobilnya, meninggalkan mansion keluarga Devita.


Dia dalam mobil, tanpa sadar Brayen terus memandangi Devita. Gadis cantik di sampingnya itu terlihat sangat cantik dan juga dewasa.


"Brayen! Kenapa kau terus menatapku! Perhatikan jalan di depan! Aku tidak mau mati muda!" Ucap Devita ketus.


"Siapa yang menatapmu! Untuk apa aku menatapmu!" Tukas Brayen dingin.


Devita berdecak kesal. " Dia pikir, aku ini bodoh? Padahal aku sudah tahu, dia sejak tadi terus menatapku!" Batin Devita.


...***...


Kini Brayen dan juga Devita sudah sampai di restoran yang di pilih oleh Brayen. Mereka berdua turun dari mobil, dan melangkah masuk ke dalam restoran. Pandangan Devita, tak sengaja melihat kilatan kamera kearahnya. Devita menatap seseorang yang sedang memotret dirinya dan juga Brayen, dengan cepat Devita masuk ke dalam restoran.


"Brayen, kenapa ada orang yang mengambil gambar kita!" Gerutu Devita, saat dirinya sudah berada di dalam restoran.


"Ini adalah sebuah resiko, jika kau memiliki hubungan denganku! Kau harus siap dengan para paparazzi yang akan terus mengambil gambarmu!" Tukas Brayen dingin.


"Astaga. Bagaimana kalau Angkasa sampai melihat ini?" Gumam Devita pelan, namun Brayen masih bisa mendengarnya.


"Siapa itu Angkasa?" tanya Brayen sambil menautkan alisnya.


Devita hanya tersenyum kaku ketika, Brayen menanyakan tentang Angkasa.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.