
"Chef Della, apa ini semua masakan Indonesia?" tanya Laretta saat menatap semua makanan yang tersedia.
Della mengagguk. " Benar Nona Laretta, ini semua makanan yang di pesan oleh pelayan yang mendapatkan pesan dari Nyonya Devita."
"Tapi kenapa terlihat ini semua sangat pedas? Kakakku Brayen, dia tidak menyukai makanan yang pedas," balas Laretta dia menatap makanan yang terlalu banyak dengan cabai di atas makanan itu.
Della tersenyum. " Ada beberapa makanan yang tidak pedas, Nona. Seperti ini, ada dua rendang yang saya buat pedas dan saya buat tidak pedas. Sebelumnya, Tuan Albert, juga sudah memberikan pesan pada saya, jika Tuan Brayen tidak menyukai makanan yang pedas."
"Ya kau benar, Kakakku itu memang tidak menyukai makanan yang pedas. Selain itu, kau juga harus sabar, karena sifat Kakakku terkenal sangat keras." kata Laretta, mengingatkan, agar Della jauh lebih teliti dalam bekerja.
"Tentu Nona, saya pastikan saya tidak akan membuat kesalahan." jawab Chef Della.
"Good, aku senang mendengarnya." balas Laretta.
"Ah, itu pasti mereka," seru Laretta, saat mendengar suara mobil memasuki rumah. Dengan cepat, Laretta mengajak Della untuk berjalan keluar rumah untuk menemui Devita dan juga Brayen.
Laretta tersenyum menyambut kedatangan Brayen dan juga Devita. Namun pandangannya melihat mobil Felix yang ikut masuk ke halaman parkir. Tapi Felix tidak sendiri, Felix turun bersama dengan wanita cantik berambut coklat. Laretta sudah tahu, siapa wanita ini, lagi pula Laretta adalah sepupunya. Kali ini dia berusaha untuk bersikap layaknya seorang sepupu. Beruntung hatinya sudah mulai melupakan sosok Felix.
"Devita?" sapa Laretta.
"Hi Laretta, maaf aku pulang sedikit terlambat." balas Devita.
"It's oke Devita, ini tidak terlambat."
"Hi Felix," Laretta tersenyum, saat melihat Felix melangkah mendekat ke arahnya dengan menggenggam tangan seorang wanita.
"Hi Laretta, perkenalkan ini Olivia." ucap Felix yang memperkenalkan Olivia.
Laretta mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Apa kabar, Olivia? Aku Laretta sepupu, Felix."
"Aku baik, senang berkenalan denganmu, Laretta." balas Olivia dengan senyuman di wajahnya.
"Oh ya, chef Della. Perkenalkan, ini Brayen Adams Mahendra, aku rasa kau sudah sangat mengenalnya bukan? Dia Kakakku, dan yang di sampingnya Devita, istri dari Kakakku. Lalu di sebelahnya ada Felix, dia sepupuku dan yang di samping itu Olivia, kekasih dari sepupuku." kata Laretta yang memperkenalkan semua orang pada chef Della.
Olivia membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Laretta, wanita itu mengatakan dirinya adalah kekasih dari Felix. Ini sudah gila, bagaimana bisa dia di kenalkan sebagai kekasihnya. Olivia menggeleng pelan menahan umpatannya. Jika tidak banyak orang yang ada di sini, Olivia sudah pasti akan berteriak dengan keras ketika ada yang mengatakan jika dia adalah kekasih dari Felix.
Della menunduk sopan, " Saya chef Della, senang bisa bekerja di sini."
"Maaf Nyonya Devita, makanan yang sudah Nyonya pesan sudah saya siapkan semuanya." pandangan Della kini menoleh ke arah Devita.
Devita tersenyum, " Apa kau sudah memasak makanan yang aku inginkan semua?"
"Sudah Nyonya. Semua masakan yang Nyonya pesan sudah saya masak." balas Della.
"Baiklah, lebih baik kita masuk kedalam." Devita memeluk lengan Brayen berjalan masuk kedalam ruang makan. Begitu pun dengan Felix yang masih menggenggam tangan Olivia masuk kedalam ruang makan. Laretta tersenyum tipis, hanya dia yang sendiri disini. Beruntung, Laretta sudah memiliki Angkasa, setidaknya dia tidak lagi merasakan kesepian. Tapi memang Laretta harus menunggu sedikit waktu hingga Brayen memberikan izin dirinya bersama dengan Angkasa.
Devita melirik ke arah Laretta, yang tatapannya sesekali melihat ke arah Felix dan juga Olivia. Devita tahu, karena memang Laretta pernah memiliki perasaan pada Felix. Bahkan Devita yakin, perasaan Laretta pada Felix masih ada.
Devita melepaskan pelukannya dari Brayen. Lalu berjalan mendekat ke arah Laretta. Dia langsung memeluk lengan Laretta, kemudian bibir Devita mendekat ke telinga Laretta dan berbisik. " Aku sudah mengirimkan pesan pada Angkasa, sebelum aku pulang, aku memintanya untuk datang. Kau tunggulah sebentar lagi, karena aku yakin Angkasa sebentar lagi pasti akan datang."
"Ssst. Tenang saja, kalau yang kau takutkan itu adalah Brayen tentu aku bisa menanganinya. Aku Nyonya di rumah ini, dan aku pun berhak meminta siapapun yang datang kesini," bisik Devita di telinga Laretta.
Laretta tersenyum tipis. " Terima kasih, Kakak Ipar."
...***...
Devita menatap makanan yang tersedia di atas meja. Dia tersenyum senang, akhirnya dia bisa makan masakan kesukaannya. Sudah sejak lama dia menginginkan ini. Karena memang biasanya makanan Indonesia tersedia jika dia berada di rumah keluarganya. Nadia Ibunya dan para pelayan yang ada di rumahnya selalu memasak makanan Indonesia. Tetapi jika di rumah Brayen, Devita sering memakan western food atau Italian food sesuai permintaan Brayen.
Tidak hanya Devita, Olivia juga terus menatap makanan yang ada di atas mejanya. Dia merasakan seperti sedang berkumpul dengan keluarganya. Sudah lama sekali Olivia tidak kembali ke Kanada. Itu yang membuat orang tuanya geram atas dirinya.
"Devita, aku seperti berada di rumah," bisik Olivia di telinga Devita.
Devita tersenyum. " Aku juga demikian, Lebih baik kita duduk."
Olivia mengangguk singkat, dia duduk di samping Felix. Sedangkan, Devita duduk di samping Brayen yang berada di tengah. Dan Laretta memilih duduk di samping Devita, memang Laretta belum terbiasa. Tapi saat ini, Laretta sedang membiasakan dirinya.
"Tuan Brayen, saya sudah memasak makanan yang tidak pedas untuk anda. Tuan Albert sebelumnya sudah memberitahu saya. Di sebelah sana adalah makanan yang tidak pedas,Tuan Brayen." kata Della sembari menunjukkan makanan yang sudah di siapkan untuk Brayen.
Brayen mengangguk singkat. Devita tersenyum pada Della, lalu Devita mengambilkan makanan yang sudah di pisahkan untuk Brayen. Rendang, opor ayam dan nasi untuk Brayen.
"Jangan terlalu banyak," tukas Brayen, saat melihat Devita mengambilkan makanan untuknya.
Devita mendengus, " Kau itu harus makan banyak, karena kau juga selalu memaksaku untuk makan banyak. Jadi sekarang, aku juga akan memaksamu untuk makan banyak."
"Kau kurus, jadi aku memintamu untuk makan banyak." balas Brayen datar.
"CK! Kau ini selalu menghina tubuh istrimu ini kurus. Kau tidak lihat? Tubuhku sudah naik tiga kilogram karena ulahmu yang memintaku untuk makan banyak," ucap Devita ketus. Laretta mengulum senyumannya mendengar perdebatan itu.
"Olivia? Apa kau tidak membantuku mengambilkan makanan?" kata Felix yang melirik ke arah Olivia. Terlihat jelas, jika Felix berharap agar Olivia juga mengambilkan makanan untuknya,
"Memangnya tanganmu itu, sakit?" tukas Olivia dingin.
Felix menarik kursi Olivia, dia mendekatkan bibirnya di telinga Olivia. "Ya, sangat sakit. Itu kenapa aku membutuhkanmu." bisik Felix, hingga membuat Olivia bergidik.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.