
"Morning," sapa Laretta saat melihat Brayen dan juga Devita memasuki ruangan.
"Morning Laretta," balas Devita. Dia duduk di samping suaminya. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan susu kacang dan pancake dengan saus coklat untuk Devita.
"Devita, hari ini kau tidak ke kampus?" tanya Laretta sembari menikmati sarapannya.
"Tidak, penelitianku sudah selesai semuanya. Hanya tinggal menunggu kelulusanku saja." jawab Devita.
"Aku senang mendengarnya," Laretta tersenyum, kemudian Laretta mengalihkan pandangannya ke arah Brayen. "Kak Brayen, hari ini kau itu tidak pergi ke kantor?"
"Tidak," jawab Brayen singkat. "Aku mengawasi pekerjaanku dari rumah."
Laretta mengagguk paham. "Kak, apa Felix mengajakmu berlibur? Tadi malam Felix menghubungiku. Felix bilang ingin mengajak kita ke Las Vegas."
"Las Vegas?" Devita mengerutkan keningnya.
"Ya, Felix mengajak kita untuk berlibur ke Las Vegas. Aku rasa itu sangat bagus bukan? Aku juga sudah lama tidak berlibur," jawab Laretta antusias.
"Aku belum memutuskannya karena kalian berdua sedang hamil. Aku belum bertanya pada dokter. Dan juga kandungan Devita juga masih muda." tukas Brayen yang membalas ucapan dari adiknya itu.
"Brayen, aku rasa dokter akan mengijinkankanku. Aku belum pernah ke Las Vegas, Brayen? Sejak dulu, Ayahku itu selalu melarangku ke Las Vegas. Aku ingin pergi kesana?" Devita mencoba membujuk suaminya itu. Dia memang tidak pernah ke Las Vegas. Karena selama ini Edwin tidak pernah membebaskan pergaulan Devita. Edwin selalu mengawasi Devita. Tidak hanya itu, Edwin juga banyak melarang Devita.
"Kehamilanmu masih muda, Devita. Aku belum berani." balas Brayen.
Devita mendesah pelan, "Kau bisa tanyakan pada dokter, Brayen? Apa kau tidak lihat? Aku ini sangat sehat. Terakhir, dokter juga mengatakan kalau kandunganku ini sangat kuat."
"Apa aku menganggu kalian?" suara Angkasa berseru saat memasuki ruangan makan.
Laretta menoleh dan melihat ke arah Angkasa datang, dia langsung tersenyum. Laretta memang sengaja meminta Angkasa untuk datang pagi ini. Banyak sekali hal yang ingin Laretta bahas dengan Angkasa. Selain pernikahan, Laretta juga ingin membahas tentang Felix yang mengajaknya berlibur.
"Angkasa masuklah," pinta Laretta, Angkasa mengangguk pelan, lalu duduk tepat di samping Laretta.
"Hi Devita ," sapa Angkasa.
"Hi Angkasa," balas Devita.
"Brayen, kau masih di rumah? Aku pikir kau itu sudah pergi ke kantor." kata Angkasa yang sedikit terkejut melihat Brayen masih berada di rumah.
"Bukan urusanmu," tukas Brayen dingin.
"Brayen," tegur Devita pelan.
Angkasa tersenyum tipis, "Aku sudah terbiasa dengan sambutan dari Kakak Iparku, Devita. Kau tenang saja, aku tidak mungkin tersinggung karena sambutan manis darinya."
Brayen tidak memperdulikan ucapan Angkasa, dia beranjak berdiri dan mengecup kening istrinya. "Aku harus segera pergi ke ruang kerjaku."
"Brayen, tapi kita itu belum selesai membahas tentang berlibur!" Devita mencebik kesal karena Brayen langsung meninggalkan ruang makan.
"Kau ingin berlibur, Devita?" tanya Angkasa, menatap lekat Devita yang duduk di hadapannya.
"Felix mengajak kita semua untuk berlibur di Las Vegas," jawab Laretta, "Tidak hanya Kak Brayen dan Devita tapi kita juga Angkasa. Hanya saja, kandungan Devita masih muda itu yang membuat Kakakku tidak berani mengambil keputusan untuk berlibur."
"Terakhir dokter memeriksa kandunganku, dia bilang kandunganku sudah kuat dan janinku sehat." Devita mendengus kesal, "Aku ingin berlibur, sudah lama aku tidak pergi berlibur."
"Kalau begitu kita akan menghubungi dokter Keira untuk memeriksa kandunganku dan juga kandunganmu."Laretta mencoba memberikan saran. "Jika memang Dokter Keira memperbolehkan kita untuk berpergian, kita akan pergi berlibur ke Las Vegas. Bagaimana menurutmu?"
Devita mendesah pelan. "Kau tahu, Brayen itu menyebalkan. Dia itu terlalu berlebihan! Jika dokter memperbolehkan belum tentu Kakakmu itu memperbolehkannya!"
"Kau bisa membujuknya Devita," kekeh Laretta. "Kakakku itu tidak mungkin, jika tidak menurutimu. Karena selama ini, Kakakku itu selalu menurut apapun yang kau inginkan."
"Laretta, lebih baik kau itu pastikan dulu." ucap Angkasa menengahi. "Kalian berdua itu sedang hamil, sama seperti Brayen. Aku juga khawatir dengan kalian berdua,"
"Kau ini sama saja dengan Kakakku! Berlebihan!" Seru Laretta kesal.
"Bukan begitu, Laretta. Tapi kau itu sedang hamil," jawab Angkasa. "Aku ingin kalian mendengarkan perkataan dokter. Jika memang dokter tidak memperbolehkan kalian untuk berpergian jauh maka kita bisa menunda liburannya."
Laretta mengangguk pelan, "Aku akan meminta dokter Keira datang hari ini."
Terdengar suara dering ponsel, Devita menoleh ke arah ponselnya yang berada di hadapannya. Devita mengambil ponselnya dan menatap ke layar tertera nama Olivia yang menghubunginya. Devita berpamitan pada Angkasa dan Laretta untuk menjawab telepon. Devita beranjak dan berjalan meninggalkan ruang makan. Devita mengusap ke layar ponsel untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan ponsel di telinganya.
"Ya Olivia." sapa Devita, saat panggilannya terhubung.
"Devita, apa aku menganggumu?" tanya Olivia dari sebrang telepon.
"Tidak, aku sedang tidak sibuk. Ada apa?" tanya Devita balik pada sahabatnya itu.
"Devita, tadi Felix bilang padaku. Felix ingin mengajak kita berlibur ke Las Vegas. Felix mengajakmu dan juga Laretta. Apa kau dan Laretta bisa? Kalian berdua tengah hamil. Aku hanya mencemaskan kalian."
"Aku belum tahu. Mungkin jika dokter memperbolehkan aku, aku dan juga Laretta pasti akan ikut. Aku ingin sekali berlibur ke Las Vegas. Kau ingat bukan apa sebutan untuk kota itu, hingga membuat Ayahku tidak pernah mengizinkan aku ke Las Vegas?"
Terdengar tawa Olivia dari balik telepon. "Of course, Sin City right?"
"Benar! Itu kenapa Ayahku tidak pernah membiarkan kita dulu pergi ke Las Vegas. Padahal aku sangat menginginkannya." Devita tertawa pelan mengingat larangan Ayahnya itu.
"Well, aku berharap kau dan juga Laretta di perbolehkan untuk berlibur. Aku juga ingin sekali ke Las Vegas. Aku masih ingat sepupuku waktu itu bilang kepadaku. Jika aku nanti ke Las Vegas aku harus mengunjungi ke Mandalay Bay Beach dan juga Daylight Beach Club. Aku sudah tidak sabar untuk datang kesana."
"Ah Olivia, kau membuatku ingin sekali pergi ke Las Vegas! Doakan aku supaya dokter memperbolehkan ku. Tidak hanya dokter, tapi suamiku juga memperbolehkan ku. Kau tahu, semenjak aku hamil. Brayen itu terlalu berlebihan. Benar - benar menyebalkan."
"Karena suamimu itu terlalu mencintaimu, Devita. Aku yakin, kau pasti bisa membujuknya."
Devita mendesah pelan, "Semoga saja aku bisa, ya sudah aku tutup dulu. Aku ingin menemui Brayen."
Panggilan tertutup, Devita langsung berjalan menuju ke ruang kerja Brayen. Kali ini Devita akan berusaha untuk membujuk suaminya itu. tapi kalau memang dokter tidak memperbolehkan nanti, maka tidak ada pilihan lain bagi Devita untuk menunda liburannya. Devita berharap dokter memperbolehkannya.
Sudah sejak lama Devita ingin melihat kota dengan julukan Sin City itu. Dulu, Edwin memang terlalu sering melarang dirinya. Dan sekarang ketika dirinya sudah menikah, bukan lagi Ayahnya yang melarang tetapi suaminya juga sering melarang dirinya.
Devita melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Dia menatap suaminya tengah fokus pada laptop. Devita menghela nafas dalam. Meski bekerja di rumah, Brayen tetap akan sibuk dengan pekerjaannya.
"Brayen," panggil Devita mendekat ke arah suaminya itu.
Brayen mengalihkan pandangannya, lalu menatap Devita yang mendekat ke arahnya. "Kau ingin membahas tentang liburan lagi?" suara Brayen terdengar begitu dingin.
Devita mendengus kesal, dia langsung duduk di pangkuan Brayen. "Laretta sudah menghubungi dokter Keira untuk datang memeriksa kandunganku dan juga Laretta. Minggu lalu, dokter Keira juga mengatakan kepadaku jika kandunganku itu sudah kuat."
"Itu bukan artinya kau tetap bisa berangkat pergi jauh Devita." jawab Brayen yang mulai lelah dengan perdebatan dengan istrinya itu.
"CK! Brayen tapi Dokter Keira sebentar lagi akan datang. Dia akan memeriksa kandunganku. Kau harus mendengarkannya." balas Devita yang tetap memaksa. Devita akan terus berusaha untuk membujuk suaminya itu.
Brayen membuang napas kasar. "Berikan aku alasan kenapa kau ingin sekali pergi ke Las Vegas?"
"Aku sejak dulu ingin kesana. Tapi tidak bisa, karena Ayahku terlalu banyak mengatur kehidupanku. Ayahku itu terlalu mirip denganmu Brayen. Terlalu berlebihan!" Devita mencibir kesal.
"Bukan berlebih Devita. Tapi ini semua demi dirimu." ucap Brayen sambil mengusap lembut punggung istrinya berusaha memberikan pengertian.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.