
"Aku berpikir, setelah aku menghancurkan hubunganmu dengan Veronica kau akan melihatku. Kau akan membuka hatimu untukku! Tapi kenyataannya tidak! Kau tidak pernah membuka hatimu untukku! Ketika aku berusaha untuk mendekatimu, kau langsung menolakku! Aku putus asa dan hampir bunuh diri hanya karenamu Brayen! Hanya karena kau tidak pernah melihatku! Aku berpikir, kau tidak melihatku karena aku memiliki fisik yang buruk! Tapi setelah aku kembali dengan penampilanku yang telah sempurna, kau tetap tidak melihatku!"
"Aku itu selalu melihatmu dari kejauhan Brayen! Ketika kau tinggal di Milan, aku selalu melihatmu. Tetapi kau memiliki kekasih seorang artis asal Italia yang selalu terlibat skandal dengan para pengusaha. Aku sengaja tidak menghancurkan hubunganmu dengan Elena. Karena aku tahu, suatu saat kau itu akan tahu sifat dari mantan kekasihmu itu. Dan benar, aku mendengar kabar kau berpisah dengan Elena. Tapi kenyataan pahit yang aku terima, ketika mendengar kau di jodohkan. Aku hancur Brayen! Padahal aku selalu mencintaimu! Tapi kau selalu memilih orang lain! Bahkan ketika aku kembali ke Indonesia, kau tetap tidak memandangku!"
Suara Ivana bergetar saat menceritakan semuanya, kepedihan yang telah dia lalui selama bertahun - tahun. Napasnya memburu. Matanya berkaca-kaca. Terlihat wajah Ivana yang begitu menyedihkan.
Devita sangat terkejut ketika mendengar semua luapan hati Ivana. Devita bisa merasakan bagaimana kesedihan itu. Meski Devita tahu, apa yang sudah di lakukan Ivana itu salah. Tapi Devita tidak tega mendengar luapan hati Ivana. Devita melihat iba ke arah Ivana. Pisau yang di tempelkan ke lehernya, telah membuat leher Devita terluka. Devita memejamkan matanya, menahan rasa perih akibat luka goresan pisau yang mengenai lehernya.
Brayen terdiam sesaat, mendengar ucapan dari Ivana. Sebuah pengakuan yang membuat dia terkejut. Brayen tidak menyangka dengan apa yang dia dengar itu.
"Lepaskan istriku, Beatrice. Aku sangat mencintai Istriku. Aku mohon, jangan melukainya," suara Brayen terdengar begitu pelan.
Sedangkan Ivana begitu terkejut, Brayen memanggil dirinya Beatrice. Sebuah nama yang Brayen tidak pernah sebut sejak dulu. Kini, Brayen menyebut namanya. Air mata Ivana berlinang membasahi pipinya. Tatapannya begitu lembut menatap Brayen yang memanggil nama depannya.
"Kau memanggilku Beatrice?" Ivana berkata lirih. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar itu. Ivana tidak mampu menahan kesedihan sekaligus rasa bahagianya. Ketika Brayen memanggil nama depannya.
"Aku mohon Beatrice, jangan lukai Istriku. Dia tidak bersalah. Aku sangat mencintainya." Brayen berkata dengan suara yang pelan. Semua pengakuan Ivana, telah membuat Brayen berubah.
Ivana menggelengkan kepalanya dengan tegas. Dengan mata merah yang berkaca-kaca menatap Brayen. "Aku tidak bisa melepas istrimu. Aku tidak bisa memilikimu, maka istrimu juga tidak bisa mendapatkanmu."
"Aku memberikan peringatan pertama dan terakhirku! Jangan lukai istriku, Beatrice!" Brayen melayangkan tatapan tajam. Suaranya masih tetap pelan, namun terdengar geraman kemarahan dan penuh peringatan.
Ivana tersenyum miris, kilatan matanya penuh dengan kesedihan, dan luka yang begitu dalam. "Devita begitu beruntung dicintai olehmu. Sejak dulu, aku selalu berharap untuk mendapatkan cintamu. Aku berharap kau membalas perasaanku. Aku berharap kau melihat ketulusanku padamu."
Brayen membuang napas kasar, tangannya terkepal dengan kuat. Brayen berusaha mengendalikan emosinya, kemudian dia melangkah mendekat dan berkata dengan tegas. "Aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sungguh tidak pernah tahu kalau selama ini kau mencintaiku. Dan saat aku kuliah dulu, aku tidak pernah bermaksud untuk melukai hatimu. Aku tidak ingin membohongimu, karena pada saat itu aku telah memiliki orang yang aku cinta. Meski aku tahu, alasan aku berpisah dengan wanita di masa laluku karena dirimu. Aku tetap berterima kasih padamu. Karena pada akhirnya takdir membawaku bertemu dengan Devita, Istriku."
"Beatrice Ivana Wilson, kau bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Lupakan aku. Kau bisa mendapatkan pria yang jauh melebihiku. Wanita yang berada denganmu adalah istriku. Tempat dimana aku bisa bernafas hanya berada di sisi istriku. Aku tidak mungkin hanya diam, jika kau berniat untuk melukai istriku. Lepaskan istriku, Beatrice. Aku mohon." Brayen melanjutkan perkataannya. Nada suaranya terdengar tetap pelan. Namun, penuh dengan peringatan. Tatapan Brayen terus menatap lekat Ivana.
"Kau rupanya begitu mencintai Devita." suara Ivana berkata lirih. "Aku lebih baik mengakhiri hidupku, aku tidak bisa melihatmu bersama dengan wanita lain."
Ivana menarik tubuh Devita mundur ke belakang. Devita memejamkan matanya, dia tidak berani melihat ke arah bawah. Hanya beberapa langkah mundur, Devita yakin dia dan Ivana akan jatuh dari gedung itu.
"Ivana! Jangan lakukan itu! Aku tidak bisa sendiri Ivana!" Suara Monika berseru, matanya berkaca-kaca, dia menatap sendu Ivana yang begitu hancur.
"Aku sudah lelah Monika! Aku lelah mengejar cinta Brayen yang tak berujung ini! Maafkan aku Monika, dan terimakasih sudah mau menemaniku selama ini" Ucap Ivana dengan Isak tangisnya, kemudian perlahan melangkah mundur bersiap untuk menjatuhkan dirinya bersama dengan Devita.
"Ivana Wilson!" Brayen melayangkan tatapan tajam ke arah Ivana.
"Tidak!" Teriak Monika begitu histeris, melihat Ivana menjatuhkan tubuhnya dari gedung.
Brayen langsung berlari, tepat dimana Ivana menjatuhkan tubuhnya dari atas gedung. Brayen melompat menangkap tubuh Devita. Beruntung, Brayen berhasil menangkap tangan Devita. Dengan cepat Brayen menarik tangan Devita, dan membantu Devita untuk naik.
Brayen memeluk tubuh Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala istrinya. Dia tidak henti bersyukur Devita berhasil di selamatkan.
"Sayang...." Brayen mengelus pipi Devita.
"I - Ivana..." Devita memeluk erat tubuh Brayen. Terisak begitu pilu. Devita melihat dengan jelas tubuh Ivana terjatuh dan tergeletak di tanah dengan berlumuran darah.
"Ssst, anak buahku akan mengurus semuanya." Brayen terus memberikan kecupan, dan mengeratkan pelukannya.
Hingga kemudian, pandang Devita mulai buram. Kepalanya memberat, tepat di saat tubuh Devita ambruk. Brayen langsung mengeratkan pelukannya. Brayen beranjak, dia langsung membopong tubuh Devita gaya bridal, meninggalkan gedung itu. Sebelum meninggalkan gedung itu, Brayen meminta Albert untuk mengurusi semua kekacauan yang terjadi.
Sama halnya dengan Felix, dia langsung melepaskan ikatan dari tubuh Olivia. Dia membopong tubuh Olivia gaya bridal meninggalkan gedung itu.
Sedangkan Monika, dia hanya mematung. Menatap Ivana yang telah menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Air mata Monika berlinang, melihat tubuh Ivana di lumuri oleh darah.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.