
"Sejak awal aku juga sudah yakin, jika Brayen akan menyetujui hubunganmu dengan Angkasa. Meski Brayen memiliki banyak persyaratan, tapi suamiku itu memang memilki caranya tersendiri." balas Devita. "Dad David dan Mom Rena pernah kecewa padamu, tapi mereka tetap orang tuamu. Sudah pasti mereka akan memaafkanmu, Laretta." sambung Devita.
"Ya, Devita dan pada akhirnya kita semua telah mendapat kebahagiaan kita. Termasuk Felix yang telah memiliki Olivia. Aku senang, Felix memilih Olivia. Aku melihat Olivia adalah wanita yang sangat lucu dan juga baik hati. Aku juga beruntung sekarang memilikimu dan Olivia. Setidaknya sekarang, ketika aku menetap tinggal di kota B. Aku memiliki saudara sekaligus teman dekat." ujar Laretta dengan senyuman hangat di wajahnya.
Devita tersenyum. "Aku juga beruntung memilikimu, Laretta. Dan semoga Olivia dan juga Felix akan segera menikah. Aku ingin anak - anak kita tumbuh besar bersama.
"Apa kau tahu, kapan Felix akan melamar Olivia?" tanya Laretta sambil menatap Devita.
Devita mendesah pelan. "Untuk yang itu bukan Felix yang belum melamar. Tapi Olivia yang masih belum mau menikah cepat. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Devita. Aku memang tahu, sejak dulu Olivia ingin menikah di usianya yang ke 25 tahun. Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana dengan cara pikir Olivia. Jika aku menasehatinya, itu hanya akan membuatku sakit kepala."
Laretta mengulum senyumannya. "Mungkin karena Olivia ingin menikmati lebih dulu masa mudanya. Atau mungkin, Olivia ingin membantu karirnya di usia muda. Kau tahu bukan wanita sekarang ingin terlihat tangguh di hadapan pria?"
"Jika kau mengatakan itu aku sungguh malu." Devita terkekeh kecil. "Selama ini aku hanya kuliah. Sebelumnya Ayahku yang memberikanku uang dengan segala fasilitasnya. Dan sekarang, aku memiliki suami. Tentu semuanya di ambil alih oleh Brayen. Aku tidak pernah merasakan susahnya mencari uang seperti orang lain. Terkadang aku ingin seperti orang lain, tapi itu pasti tidak mungkin. Brayen tidak mungkin membiarkanku harus memikirkan caranya mencari uang. Jika Brayen tahu, itu sama saja aku mencari masalah dengannya."
Laretta mengulum senyumannya. "Dulu aku pernah mencari uang sendiri ketika aku di Melbourne,aku menjual hasil lukisanku dan mengikuti beberapa kompetisi pameran. Hingga aku berhasil membuat pameran lukisanku sendiri di Melbourne. Di sana aku belajar untuk bertahan. Aku tidak mengandalkan uang keluargaku. Aku belajar bagaimana susahnya mencari uang. Tapi percayalah Devita, ada masa dimana aku tidak tahan karena uangku masih belum cukup membeli barang-barang mahal yang biasa aku beli dengan uang keluargaku."
Devita kembali terkekeh geli. "Ternyata putri dari keluarga Mahendra pernah mencari uang sendiri? Tapi bagaimana akhirnya? Apa barang - barang yang biasa kau beli itu akhirnya kau beli lagi dengan uang keluargamu? Atau kau menunggu dengan menyimpan penghasilanmu?"
Laretta mendengus. "Untuk barang - barang yang aku ingin beli dengan terpaksa aku menggunakan uang keluargaku. Barang itu edisi terbatas jika aku tidak membelinya aku pasti akan menyesal."
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Tapi paling tidak, kau sudah berusaha untuk mencari uang sendiri. Tidak sepertiku, yang hanya menunjuk apapun yang aku inginkan. Bahkan sekarang, Brayen tidak memperbolehkanku memimpin perusahaan keluarga. Selama aku hamil Brayen itu terlalu berlebihan. Kakakmu itu memintaku untuk lebih banyak beristirahat. Tidak hanya itu, Brayen juga tidak ingin aku memikirkan hal yang berat."
"Kak Brayen pasti seperti itu pada orang yang dia cintai Devita. Lagi pula benar apa kata Kak Brayen, untuk apa kau masih harus memikirkan masalah perusahaan? Semuanya sudah di atur oleh Kak Brayen. Dan kau juga tidak perlu takut, jika suatu saat Kak Brayen meninggalkanmu. Karena yang aku tahu, Kak Brayen sudah memberikan beberapa saham Mahendra Enterprise atas namamu dan itu sama saja kau memiliki kekuatan." balas Laretta.
Devita menghela nafas kasar. "Aku tidak pernah berpikir jika Brayen meninggalkanku. Lagi pula Brayen tidak mungkin bisa meninggalkan ku. Karena jika dia meninggalkanku, aku akan menuntut hak asuh anak dan sebagian harta milik Brayen. Bukan hanya beberapa saham, tapi setengah hartanya akan aku minta."
Devita mengatakannya dengan santai. Laretta terkekeh mendengar ucapan dari Devita. Laretta tidak menyangka, Devita adalah wanita yang berpikir dengan matang menyikapi masalah. Tidak, bukan hanya sekedar berpikir matang, tapi Devita juga sangat cerdas.
"Rupanya aku memiliki Kakak Ipar yang sangat - sangat cerdas. Menuntut setengah harta Kak Brayen aku rasa membuat Kakakku tidak berani untuk meninggalkanmu," jawab Laretta yang masih terkekeh geli.
Devita mengedikkan bahunya acuh. "Terkadang wanita tidak selamanya harus bersikap dengan lembut bukan? Ada kala wanita harus menunjukkan taringnya. Aku tidak suka wanita yang lemah. Aku tidak suka wanita yang menangisi nasib buruknya. Aku membenci wanita yang seperti itu."
"Kau benar, sama sepertimu aku juga membenci wanita seperti itu." Laretta mengusap pelan lengan Devita. "Tapi percayalah, Kakakkku itu tidak mungkin meninggalkanmu. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat Kakakku mencintai seorang wanita seperti mencintaimu Devita. Aku bahkan terkadang iri melihat Kakakku begitu menunjukkan rasa cintanya padamu. Jadi jangan pernah ragukan Kakakkku. Aku sangat tahu, dia pasti akan memilih untuk mati daripada harus meninggalkanmu. Aku bisa melihatnya dari cara Kakak Brayen menatapmu, Devita."
"Aku senang mendengarnya," balas Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Apa aku mengganggu kalian?" suara bariton menyapa dari arah belakang. Laretta dan juga Devita sama - sama menoleh ke sumber suara itu. Laretta mengerutkan keningnya ketika melihat Angkasa yang kini mendekat ke arahnya.
"Angkasa? Kau disini?" Devita tersenyum ketika melihat Angkasa yang sudah berdiri di hadapan dirinya dan juga Laretta.
"Ya, urusanku sudah selesai. Apa aku menganggu kalian?" tanya Angkasa.
"Tidak, kau malah datang di waktu yang tepat. Aku ingin segera masuk kamar dan ingin menelepon Brayen." jawab Devita.
"Devita, kau sudah ingin ke kamar?" tanya Laretta.
Devita mengangguk. "Aku sudah merindukan Kak Brayen. Aku ingin menghubunginya dan memaksanya untuk segera pulang."
Laretta mengulum senyumannya. "Baiklah, salamkan aku pada Kak Brayen."
"Tenang saja, aku pasti akan sampaikan. Ya sudah aku harus segera masuk kedalam," balas Devita. "Angkasa, aku titip Laretta."
"Angkasa tersenyum. "Aku akan menjaganya dengan baik,"
Kemudian Devita berjalan meninggalkan Angkasa dan juga Laretta. Devita langsung segera menuju ke arah kamarnya. Dia ingin menghubungi suaminya itu. Tidak perduli Brayen sibuk atau tidak, terpenting Devita ingin Brayen segera pulang ke rumah.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁