
Felix melajukan mobilnya, dia baru saja mengajak Olivia untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Hari ini, Felix memang sengaja membawa Olivia. Karena hanya dirinya yang tidak membawa pasangan. Itu kenapa Felix memaksa Olivia untuk ikut dengannya.
"Felix kau mau bawa aku kemana lagi?" seru Olivia kesal, satu harian ini dirinya sudah bersama dengan Felix. Rasanya dia sangat lelah, belum lagi gaun yang di berikan oleh Felix membuatnya sangat tidak nyaman.
"Kerumahku, aku akan mengajakmu ke rumahku," jawab Felix dengan santai.
"Eh? Kenapa kau membawaku ke rumahmu? Aku tidak mau!" Tolak Olivia tegas.
"Berkenalan dengan kedua orang tuaku, aku ingin memberitahu mereka jika aku sudah memilih calon istri," ujar Felix.
uhuuukk.... uhuuukk.
Olivia terbatuk, ia tersentak saat mendengarkan ucapan Felix.
"Aku masih muda, Felix. Aku belum mau menikah! Kau sungguh menculikkku, aku bersumpah saat Ayahku datang ke kota B aku akan melaporkanmu untuk pergi ke kantor polisi." tukas Olivia dengan penuh ancaman.
Felix terkekeh, "Aku bisa katakan kepada Ayahmu, jika kita adalah pasangan kekasih yang saling mencintai."
"Felix, hentikan tingkahmu. Sudah ku katakan, aku tidak mau menjadi kekasihmu. Kau cari saja wanita dewasa, Felix." seru Olivia. Ia mulai lelah dengan tingkah Felix yang selalu memaksa dirinya.
"Tidak Olivia, aku lebih suka wanita yang lebih muda dariku," jawab Felix.
Olivia mendengus kesal. " Terserah Felix, pulangkan aku! Kau ini menculikkku dan juga penguntit! Bagaimana aku bisa bersama dengan pria sepertimu,"
"Kita memang sudah di takdirkan bersama, Olivia. Kau tidak bisa menolakku." balas Felix.
"Takdir darimana Felix! Kau ini jangan sembarangan bicara. Aku bahkan baru mengenalmu! Kau sudah tahu semua tentang ku itu karena dirimu itu penguntit! Kau juga sering menculikku! Itu namanya bukan takdir tapi memaksa!" Tukas Olivia.
"Kau yang meminta kita untuk saling mengenal, maka kita akan sering bertemu," jawab Felix.
Olivia menajamkan matanya pada Felix. "Siapa yang meminta untuk saling mengenal? Aku mengatakan, aku tidak mengenalmu jadi kau jangan menggangguku!"
"Kau berarti lupa Olivia, jelas - jelas kau yang mengatakannya sendiri padaku bahwa kita harus saling mengenal," balas Felix.
Olivia mencebik, " Berada di dekatmu, aku bisa ikutan tidak waras Felix!"
"Well, berarti kita sudah sama - sama kehilangan akal sehat dalam mencintai. Benar bukan?" ujar Felix, ia mengulum senyumannya.
"Astaga! Kenapa tuhan harus mempertemukan aku denganmu! Kalau seperti ini, lebih baik aku tinggal menetap di Kanada, tidak perlu aku tinggal di sini." seru Olivia.
"Kau bisa melihat sendiri bukan? Kita beberapa kali tidak sengaja bertemu. Lalu sahabatmu juga menikah dengan sepupuku. Pertemuan kita memang sudah di takdirkan Olivia. Kau tidak bisa mengelaknya. Jadi, meski kau tinggal di Kanada, aku pastikan akan tetap bersama denganmu," balas Felix penuh dengan penekanan.
Olivia membuang napas kasar, " Terserah Felix! Aku lelah berbicara denganmu!"
Felix tersenyum penuh kemenangan di wajahnya, dia memang sudah yakin, jika Olivia memang hanya untuknya.
...***...
Sinar matahari pagi menembus jendela, perlahan Devita mulai membuka matanya ia menguap dan menggeliat. Tangan Devita meraba kesamping, tapi saat ia merasakan ranjangnya sudah kosong. Devita langsung menoleh kesamping, ternyata Brayen sudah tidak ada di ranjang. Devita mendengus kesal, ini bukan pertama kali, tapi rasanya ia masih kesal jika Brayen tidak ada di sampingnya.
Devita beranjak, ia mengikat rambut dengan asal, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Hari ini, Devita tidak memiliki jadwal kuliah. Ia selalu menemani Laretta di studio lukisnya.
Tiga puluh menit kemudian, Devita sudah selesai membersihkan diri menggantikan pakaiannya dengan dress sederhana berwarna kuning. Devita berjalan keluar dari walk in closet. Saat Devita berjalan, ia terkesiap melihat Brayen yang tengah duduk di sofa.
"Brayen, kau tidak ke kantor?" tanya Devita, ia sedikit terkejut karena suaminya masih di rumah. Padahal tadi, ketika Devita bangun, suaminya sudah tidak ada di sampingnya.
"Kemarilah," Brayen menepuk sofa, memberi isyarat agar Devita mendekat ke arahnya. Devita langsung berjalan mendekat ke arah Brayen dan duduk di sampingnya.
"Kau tidak bekerja Brayen? Tadi saat aku bangun kau sudah tidak ada. Aku pikir kau sudah berangkat." ucap Devita.
"Tidak sayang, aku tidak akan bekerja hari ini. Aku sudah memeriksa jadwal kuliahmu. Hari ini kau juga tidak ada kelas. Jadi, aku meminta Albert untuk mengambil alih pekerjaanku."
"Kau serius Brayen, kau tidak bekerja hari ini?" tanya Devita dengan penuh antusias. Ia tersenyum sangat bahagia mendengar suaminya tidak bekerja.
"Ya, kita sudah lama tidak menikmati waktu berdua bukan? Aku sudah meminta Albert untuk menangani pekerjaanku." ujar Brayen.
"Kau serius Brayen, kau tidak bekerja hari ini?" tanya Devita dengan penuh antusias, ia tersenyum bahagia mendengar suaminya tidak bekerja.
"Ya, kita sudah lama tidak menikmati waktu berdua, bukan? Aku sudah meminta Albert untuk menangani pekerjaanku." ujar Brayen.
Devita langsung memeluk Brayen, dia mengecup rahang suaminya. Hatinya begitu senang melihat Brayen meluangkan waktu untuk bersamanya. Ia memang merindukan menghabiskan waktu bersantai dengan suaminya.
Melihat tingkah Devita, Brayen mengulum senyumannya. Ia membalas pelukan Devita dengan erat. Memang ia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama dengan Devita, mendengar perkataan Devita kemarin, Brayen sadar memang beberapa hari dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Hem Brayen, tadi pagi kau kemana? Kenapa saat aku bangun, kau tidak ada?" tanya Devita, ia mengerutkan bibirnya. Ia masih sedikit kesal karena ia bangun suaminya tidak berada di sampingnya
"Tadi pagi aku ke ruang kerjaku. Aku meminta Albert untuk mengambil alih pekerjaan ku. Aku juga memeriksa beberapa dokumen yang di kirimkan oleh Albert. Aku sengaja menyelesaikan semuanya sebelum kau bangun, karena setelah kau bangun aku ingin menghabiskan waktu bersama denganmu," ujar Brayen, ia mengelus dengan lembut rambut panjang Istrinya.
Devita tersenyum, "Kalau begitu, aku ingin kita menonton film sambil makan ice cream dan kau harus menemaniku,"
"Aku akan menemanimu," jawab Brayen kemudian ia menghubungi pelayan untuk membawakan Ice cream dan cake kedalam kamarnya.
Devita langsung memutar film kesukaannya, meski ia tahu pasti Brayen tidak suka film romance. Biarkan saja, yang terpenting bagi Devita suaminya mau menemaninya menonton film sambil makan ice cream.
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan ice cream rasa coklat dan vanila. Selain itu pelayan juga menyiapkan chocolate cake dan cheesecakenya. Brayen sangat tahu, istrinya itu sangat menyukai cake. Devita memang tidak pernah takut makan manis, kali ini Devita harus sangat beruntung walaupun dirinya makan banyak tetapi Devita selalu memiliki tubuh yang ramping.
Kini Devita menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya, ia menonton film dan menikmati ice cream coklat yang sekarang berada di tangannya.
Brayen tersenyum tipis melihat istrinya sedang memakan ice cream dan menonton film romance, jujur saja ia tidak menyukai film yang begitu banyak drama. Bahkan Brayen jarang menonton film, hari - harinya selalu di isi oleh pekerjaan.
"Brayen, lihatlah. Pria yang sedang mengorbankan nyawanya demi wanitanya. Apa kau akan seperti itu?" tanya Devita, pandangannya tetap menonton film kesukaannya.
Brayen membuang napas kasar, "Aku ingin hidup berdua denganmu. Pria itu bodoh, kenapa dia memilih untuk mengorbankan nyawanya. Harusnya dia itu berjuang untuk hidup. Karena aku tidak ingin wanitaku hidup di dunia ini sendiri."
"CK! Kau ini sama sekali tidak romantis Brayen! Kau ingat tidak, kisah cinta Romeo dan Juliet?" seru Devita kesal.
"Jangan terlalu banyak menonton drama Devita, aku dan kau akan hidup. Kita akan menua bersama, aku tidak mau kau sendiri di dunia ini. Aku akan berjuang untuk terus hidup. Karena aku tidak pernah merelakanmu untuk pria lain." tukas Brayen penuh dengan penekanan.
Devita mencebik. "Aku tidak ingin bersama Brayen! Memangnya siapa yang ingin bersama dengan pria lain."
"Ya memang kau tidak boleh bersama dengan pria lain! Itu kenapa aku memilih untuk berjuang hidup. Karena aku selalu ingin bersama denganmu." balas Brayen dingin.
"Lalu bagaimana jika posisi kita seperti di film itu? Pria yang harus merelakan nyawanya untuk wanitanya. Apa kau akan seperti dia?" tanya Devita lagi, ia memincingkan matanya ke arah suaminya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.