
"Ladies, maaf aku terlambat." suara seorang perempuan saat memasuki ruangan para wanita berkumpul.
Devita dan Laretta berbalik. Mereka berdua menatap sosok wanita dengan gaun yang sangat seksi melangkah mendekat ke arah mereka. Namun, seketika Devita dan Laretta tersentak menatap sosok wanita itu. Devita menatap tak percaya melihat Alena berada di pesta Selena.
"Hi Alena, kau terlihat sangat cantik." kata Selena saat Alena sudah berada di hadapannya.
"Devita? Kau di sini?" Alena terkejut melihat Devita juga berada di sana. Pandangan Alena kini beralih pada sosok wanita yang berada di samping Devita. Raut wajah Alena menatap tak suka, ketika ada Laretta di samping Devita. Tapi kali ini Alena berusaha untuk menahan diri.
"Devita? Kau kenal Alena?" tanya Selena yang ikut terkejut ketika Alena mengenali Devita.
"Ya, Alena teman masa kecilku." jawab Devita datar. Tatapan Devita menatap tidak berdaya pada Alena. Jika dulu, Devita sangat suka bertemu dengan Alena, kali ini berbeda. Devita sangat kecewa dengan sikap Alena.
"Teman masa kecilmu?" Selena kembali bertanya memastikan.
Devita mengangguk singkat. "Ya, dia teman masa kecilku."
"Benar apa yang di katakan oleh Devita. Dia adalah teman masa kecilku." sambung Alena.
"Selena, darimana kau mengenal wanita ini?" tunjuk Alena ke arah Laretta, dia menatap Laretta dengan tatapan yang dingin.
"Alena, jaga bicaramu. Dia temanku sejak dulu. Namanya Laretta Gissel Mahendra!" Tukas Selena memperingati.
Alena menjentikkan jarinya memanggil pelayan untuk membawakan minuman untuknya. Tidak lama kemudian, pelayan datang dengan membawakan vodka. Alena mengambil vodka itu dan mulai menyesapnya.
"Selena? Kau mengenal Alena dimana?" tanya Laretta dengan suara yang tenang.
"Aku dan Alena bertemu saat di Paris Fashion Week tahun lalu. Waktu itu, aku mendapatkan undangan khusus untuk datang ke Paris Fashion Week. Lalu aku bertemu dengan Alena yang ternyata juga datang kesana." jawab Selena.
"Oh," Laretta menganggukkan kepalanya. Laretta bersikap biasa dan tetap tenang. Meski Alena tidak ramah padanya, tapi Laretta akan tetap bersikap ramah pada Alena.
"Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan mau berteman dengan wanita yang hamil tidak tahu siapa Ayahnya!" Tukas Alena sarkas. Alena melemparkan tatapan seolah merendahkan Laretta.
"Alena! Apa maksudmu! Jaga bicaramu!" Seru Devita yang tidak terima. Dia melayangkan tatapan tajam pada Alena yang berada di hadapannya.
"Alena, jaga sikapmu! Laretta juga temanku!" Balas Selena dengan tegas.
Alena tertawa rendah. "Kalian semua itu sudah di tipu dengan wajahnya yang polos. Kenyataan itu, dia adalah seorang wanita rendah yang hamil dengan pria lain tetapi meminta pertanggung jawaban pada Kakakku. Kenapa kalian mau di tipu oleh wanita seperti dia? Gunakan akal pikiran kalian dengan baik!"
"Alena Nakamura! Jaga ucapanmu!" Sentak Devita yang hendak mendekat ke arah Alena. Namun, tangan Laretta menahan tangan Devita.
"Devita, biarkan Alena melakukan hal yang dia diinginkan. Jika itu bisa membuatnya puas, maka aku akan membiarkannya," balas Laretta dengan suara yang tenang.
"Tidak Laretta! Aku tidak akan terima, kau itu selalu di hina olehnya!" Seru Devita, napasnya memburu, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kali ini Alena telah melewati batasannya.
Tiiing.
Alena membunyikan gelas meminta para wanita yang ada di sana untuk memperhatikan dirinya.
"Ladies, lihat aku. Wanita yang ada di sana bernama Laretta Gissel Mahendra. Kalian jelas tahu bukan, siapa keluarga Mahendra? Adik dari seorang Brayen Adams Mahendra, hamil dengan pria lain tetapi meminta Kakakku yang bertanggung jawab. Padahal dia sendiri tidak tahu siapa Ayah dari bayi yang ada di kandungannya itu. Menurut kalian, wanita yang tidak tahu malu itu harus di beri apa?" suara tawa Alena setelah mengatakan ini.
Terdengar suara bisik - bisik para wanita yang sedang membicarakan Laretta. Mata Laretta berkaca - kaca, Devita hendak maju namun Laretta kembali menahannya. Laretta membiarkan Alena melakukan yang wanita itu inginkan. Begitu pun dengan Selena yang ingin maju, tapi Laretta kembali menghalanginya.
"Apa maksudmu? Beraninya kau menghina adikku! Kau pikir kau siapa!"
Suara bentakan Brayen begitu menggelegar di ruangan itu. Brayen sudah mendengar semua perkataan Alena. Tatapan Brayen begitu tajam pada wanita yang berani menghina adiknya.
Devita dan juga Laretta membalikkan tubuh mereka. Seketika di ruangan itu menegang ketika Angkasa dan juga Brayen datang bersamaan.
"Alena Nakamura!" Sentak Angkasa dengan nada tinggi.
Devita langsung berjalan menghampiri suaminya, dia langsung memeluk lengan suaminya itu. "Brayen tenangkan dirimu."
"Minggir Devita." tukas Brayen dingin.
Brayen menyingkirkan pelukan Devita yang berada di tubuhnya. Brayen terus menatap tajam pada wanita yang berani menghina adiknya. Brayen mendekat ke arah wanita itu.
"A-Aku hanya bicara fakta! Adikmu itu hamil dengan pria lain tetapi meminta pertanggung jawaban pada Kakakku!" Dengan berani Alena mendongakkan wajahnya, menatap tajam Brayen.
"Alena! Jaga bicaramu!" Angkasa hendak maju, namun tangan Brayen menghadang.
"Ini memang adikmu, tapi aku harus memberi perhitungan pada J****ng yang ada di hadapanku ini, karena sudah berani menghina adikku!" Tukas Brayen tajam.
"Dengar, kau berani menghina keluarga Mahendra. Maka kau akan mendapatkan akibat dari apa yang telah kau lakukan! Aku pastikan kau akan segera mendapatkan kehancuranmu!" Desis Brayen dengan tatapan penuh kemarahan pada Alena.
"Albert!" Brayen berteriak dengan keras.
"Iya Tuan," Albert langsung berlari menghampiri Brayen.
"Minta CCTV di ruangan ini, dan tangkap wanita yang ada di hadapanku. Aku ingin wanita ini membusuk di dalam penjara! Besok pagi, aku harus mendapatkan berita kehancuran wanita yang ada di hadapanku!" Seru Brayen.
Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."
Kemudian Albert menarik tangan Alena, wanita itu memberontak dan berteriak. Namun Albert terus menyeret Alena.
"Kakak tolong aku!" Teriak Alena menatap memohon pada Angkasa.
"Brayen, biarkan aku yang menghukum adikku." kata Angkasa dengan penuh permohonan. Angkasa memang tahu, jika Alena memang salah. Tapi Angkasa ingin memberikan hukuman pada Alena dengan caranya sendiri.
Brayen berbalik menatap tajam Angkasa. "Siapapun yang sudah berani menghina keluargaku, maka aku yang akan berada di depan. Siapkan dirimu, berita besok pagi adikmu itu akan merusak nama keluargamu!"
"Brayen, jangan seperti ini." Devita mendekat, dia berusaha membujuk suaminya itu.
"Kak Brayen, aku mohon tenangkan dirimu." Laretta menyentuh lengan Brayen, berusaha untuk membujuk Kakaknya. "Aku sungguh tidak apa - apa, Kak. Aku mohon jangan seperti ini, Kak."
"Nagita!" Brayen kembali berteriak keras memanggil asisten dari istrinya.
"I- Iya Tuan." Nagita menunduk saat di hadapan Brayen.
"Bawa adik dan juga Istriku keluar dari sini!" Tukas Brayen, dan Nagita mengangguk patuh.
"Brayen aku-"
"Diam Devita! Kau ikut Nagita sekarang!" Potong Brayen tegas.
Tidak ada pilihan lain, dengan terpaksa Laretta dan Devita ikut dengan Nagita meninggalkan ruangan itu. Kini Devita hanya bisa mendesah pasrah. Devita melihat wajah suaminya kini benar-benar sangat marah.
"B-Brayen, kau tenangkan dirimu." Selena mendekat, dia berusaha menenangkan Brayen.
"Aku tidak ada urusan denganmu! Lebih baik kau diam!" Tukas Brayen tajam.
Pandangan Brayen kini menatap para kumpulan wanita yang sejak tadi masih di sana. "Kalian! Aku tadi melihat kalian berbisik membicarakan adikku! Dalam hitungan menit, aku akan mendapatkan data tentang kalian! Berani menghina keluarga Mahendra, aku pastikan kalian kehilangan segalanya!" Seru Brayen dengan tatapan penuh kemarahan pada para wanita yang tadi berbisik membicarakan Laretta.
Seketika, wajah semua orang menegang. Mereka menunduk tidak berani menatap Brayen. Bahkan ada yang berusaha meminta maaf, tapi Brayen tidak menganggap orang itu.
Hingga kemudian, Brayen langsung berjalan meninggalkan ruangan itu. Rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Brayen masih ingat semua perkataan dari Alena. Dan Brayen tidak akan pernah memaafkan wanita itu.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.