
Keesokan pagi, Devita sudah berada di kampus. Sebenarnya Devita terus memikirkan keadaan Brayen, dia selalu khawatir pada kesehatan Brayen. Terakhir Devita mengirim pesan pada Laretta menanyakan apakah dokter pribadi Brayen sudah memeriksa Brayen atau belum. Untungnya, Brayen mendengarkan perkataan Devita, kemarin dokter memeriksa keadaan Brayen. Setidaknya Devita kini jauh lebih tenang.
Devita melangkah masuk kedalam kampus, namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara yang berteriak memanggil namanya. Devita membuang napas kasar, dia sudah tahu siapa lagi kalau bukan Olivia
Sahabatnya itu memang suka sekali berteriak, seperti di hutan saja.
"Devita," Olivia kembali berteriak sembari menghampiri Devita.
"Olivia, aku mendengarmu. Tidak perlu sampai berteriak, aku tidak tuli!" Seru Devita kesal.
Devita mendengus, dia menatap kesal Olivia.
"Sudah jangan marah, lebih baik kita ke kafe. Kali ini aku yang traktir. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Olivia langsung menarik tangan Devita, melangkah meninggalkan lobby kampus. Devita menurut, dia pun mengikuti Olivia yang mengajaknya pergi.
Saat tiba di kafe, seperti biasa Olivia memesan hot chocolate dan dua cheesecake untuknya dan Devita. Lalu dia memilih untuk duduk di dekat jendela.
"Kau ingin mengatakan apa padaku?" tanya Devita terdengar begitu semangat.
"Sebelum aku mengatakan sesuatu kepadamu, aku ingin bertanya dulu, jadi kemarin kau tidak masuk karena Brayen sakit?" tanya Olivia yang sudah sejak kemarin penasaran.
Devita mengangguk pelan. " Ya, Brayen sakit."
"Dia sakit lalu datang ke hotelmu?" kening Olivia berkerut, dia kembali bertanya demi mengurangi rasa penasarannya itu.
Devita menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Kemudian dia berkata, " Brayen datang ke hotelku dengan seluruh tubuhnya basah karena hujan.Malamnya dia demam, sepanjang malam aku menjaga Brayen dan merawat dia. Mengompres badannya dan memberikannya obat. Keesokan harinya aku meminta sepupunya untuk datang menjemputnya."
Olivia menautkan alisnya, dia menatap serius Devita. "Are you kidding me? Suamimu sakit dan meminta sepupunya untuk menjemput suamimu?" jelas Olivia.
"Kenapa kau tidak sendiri yang menemani suamimu?" Olivia mendengus. " Rupanya sikap kerasmu masih sampai detik ini."
"Sudah jangan di bahas, aku belum siap untuk menemaninya. Aku bukan tidak mau. Hanya saja hatiku belum siap," balas Devita.
Devita menggeleng pelan. " Terserah kau saja Devita, tapi ingat jangan berlarut. Aku rasa Brayen sudah menyesali semuanya."
"Aku masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diriku," Devita mengambilkan gelas yang berisikan hot chocolate di hadapannya, lalu menyesapnya perlahan.
Olivia mendesah pelan, " Ya sudah terserah kau saja Devita. Aku sudah memperingatimu."
"Lupakanlah masalahku dengan Brayen, sebenarnya apa yang kau ingin katakan padaku, Olivia?" tanya Devita langsung seraya kembali meletakkan gelas yang berisikan hot chocolate itu ke tempat semula.
"Begini. Besok malam, aku ingin mengajakmu ketempat pernikahan anak dari rekan bisnis Ayahku. Kau tahu Devita, Ayahku masih di Kanada, di tidak bisa datang ke Indonesia. Aku juga tidak mungkin datang sendiri. Sepupuku Steven dia masih di California. Dan aku juga tidak memiliki pasangan. Aku tidak mau pergi ke pesta sendiri Devita. Jadi sebenarnya aku akan mengajakmu dan sekaligus memaksamu untuk ikut denganku," kata Olivia yang sengaja memaksa Devita untuk ikut menemaninya.
Devita membuang napas kasar. " Kenapa harus aku? Kau bisa mengajak teman kencanmu yang lain. Atau siapa saja, Olivia. Aku malas jika harus datang ke pesta." tolak Devita saat ini dirinya enggan dengan pesta. Bertemu dengan banyak orang, benar - benar dia hindari untuk saat ini.
Olivia berdecak pelan, " Sejak kapan aku memiliki teman kencan, Devita! Aku tidak pernah memiliki teman kencan. Aku rasa aku tahu itu. Sudah, aku tidak menerima penolakanmu, aku akan memaksamu. Besok malam jam 7 kau harus menemaniku ke pesta."
"Olivia-"
"Jangan menolakku, Devita. Aku selalu ada di saat kau selalu membutuhkanku. Sekarang kau harus ada di saat aku membutuhkanmu," potong Olivia dengan cepat.
Devita mendengus, dia menatap kesal Olivia. "Ya, baiklah besok aku akan menemanimu."
Olivia tersenyum puas, "Kau memang sahabatku yang terbaik, lebih baik kita kembali ke kelas,"
Devita mengangguk kemudian, Olivia langsung meminta bill. Setelah membayar Devita dan Olivia langsung melangkah keluar meninggalkan kafe itu.
"Richard?" sapa Devita ketika melihat Richard.
"Hi Devita, apa kabar? Lama tidak bertemu denganmu," Richard tersenyum, kemudian tatapannya teralih melihat Olivia yang berdiri di samping Devita. "Hi, Olivia lama tidak bertemu,"
"Ah, Hi Richard. Kau di sini?" tanya Olivia yang sedikit terkejut melihat Richard yang berada di sekitar kampusnya.
"Ya, aku ingin berbicara dengan Devita," jawab Richard sambil tersenyum ke arah Devita.
Olivia mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu aku tinggal kalian berdua,"
"Terima kasih, Olivia." balas Richard. Olivia tersenyum, lalu melangkah meninggalkan Richard dan Devita.
"Ada apa, Richard?" tanya Devita saat Olivia sudah pergi meninggalkannya.
"Lama tidak bertemu. Terakhir kita bertemu saat suamimu berkelahi dengan William," ujar Richard yang kembali mengingat perkelahian antara Brayen dan juga William.
"Ya, maafkan Brayen," balas Devita yang merasa tidak enak.
Richard tersenyum. "Tidak, sepenuhnya bukan salah Brayen. Aku yakin dia hanya tidak ingin istrinya di rebut oleh William. Aku sudah mengetahui semuanya, tentang Elena kekasih Brayen yang sekarang sedang hamil anak William. Aku tidak mengira William akan berani melakukan itu."
"Mantan Kekasih!" Koreksi Devita dengan tegas
"Maaf, maksudku mantan kekasih. Aku tidak mengira William akan seperti itu. Saat ini, wanita itu sedang di kurung di apartemen William, entahlah aku tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh William." balas Richard.
"Ya, semua orang memiliki pilihannya sendiri, Richard. Mungkin William memilih itu." jawab Devita.
Richard mengangguk setuju. " Aku sependapat denganmu, Devita. Mungkin itu memang pilihan William."
Devita membalas dengan senyuman. Dia tidak ingin menyalahkan William. Bagi Devita, semua orang berhak menentukan pilihannya.
"Devita, sebenarnya aku kesini ingin mengatakan sesuatu kepadamu," Richard menatap lekat Devita yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa Richard? Apa yang ingin kau katakan?" tanya Devita sambil mengerutkan keningnya, dia menatap serius Richard.
"Aku ingin berpamitan padamu, Devita.Besok, aku sudah kembali ke Berlin. Aku mungkin tidak kembali lagi ke Indonesia. Tidak untuk dalam waktu dekat. Alasannya karena aku ingin melupakan seseorang yang telah berhasil menepati posisi penting di hatiku." ujar Richard.
Devita mengulas senyuman tulus di wajahnya. " Jika memang orang itu adalah takdirmu, maka dia akan menjadi milikmu Percayalah, jangan terlalu bersedih, kau tampan dan juga baik. Banyak gadis yang pasti menyukaimu."
Richard tersenyum. " Aku sungguh beruntung hari ini karena kau mengatakan aku tampan. Tapi sayangnya wanita yang sudah berhasil menempati posisi penting di hatiku itu sudah menikah. Dia tidak mungkin aku miliki dan aku harus mengatakannya, jika wanita yang berada di hatiku itu adalah kau Devita. Maaf jika aku mengatakan ini. Aku sungguh hanya ingin mengatakan ini sebelum aku pergi meninggalkan kota B."
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.