Love And Contract

Love And Contract
Berita Televisi



"Bibi, aku masih menyayangi Angkasa. Hanya saja, perasaanku pada Angkasa hanya sebatas teman masa kecil. Sama seperti aku menyayangi Olivia," kata Devita meyakinkan Citra.


Citra menyentuh tangan Devita. "Jujur, Bibi sangat sedih ketika tahu kau menikah dengan pria lain. Sejak dulu, Bibi sangat menginginkanmu untuk menjadi menantu Bibi. Tapi Bibi tidak bisa memaksakan ke hendak Bibi. Kau telah menemukan kebahagiaanmu dengan Brayen. Dan Angkasa juga telah memiliki seorang wanita. Terlebih Laretta saat ini sedang mengandung. Bibi akan berusaha untuk menerima ini semua Devita." Ucap Citra.


Devita mengulas senyum hangat di wajahnya. "Bibi, meski kau bukan ibu mertuaku tapi percayalah. Aku menyayangi Bibi sudah seperti ibuku sendiri. Aku tetap Devita yang Bibi kenal sejak dulu, tak ada yang berubah meski aku sudah menikah dengan Brayen."


"Andai Alena memiliki sifat sepertimu, Devita." seketika raut wajah Citra tampak muram."Alena sekarang, tidak pernah mendengarkan perkataan orang tuanya."


"Bibi, aku percaya Alena hanya sedang di tahap merasakan kejenuhan. Aku yakin, Alena bisa berubah. Sejak dulu bukanya Alena selalu jadi anak yang penurut?" Devita menepuk pelan punggung Citra, berusaha memberikan ketenangan pada Citra.


"Ya, tapi belakangan ini Alena selalu memberontak. Terlebih sejak Alena bertemu dengan Laretta. Bibi rasa kau sudah tahu tentang ini bukan? Jujur Bibi sangat tidak enak pada Laretta. Wanita cantik dan anggun, itu yang pertama kali Bibi lihat ketika bertemu dengan Laretta untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa Alena tidak menyukai Laretta. Atau mungkin karena Alena masih mengharapkan mu yang menjadi istri Angkasa."


Citra kembali mengambil cangkir yang berisi teh, lalu dia mulai menyesapnya. Pikirannya selalu tidak bisa berpikir dengan jernih ketika memikirkan putri bungsunya. Kemudian Citra meletakkan cangkir itu ke tempatnya yang semula.


"Bibi, Alena seperti itu karena belum mengenal Laretta. Tapi percayalah Bibi, seiring berjalannya waktu Alena akan menerima Laretta," balas Devita dengan yakin. "Pertama kali aku melihat Laretta dulu, aku sudah menyukainya. Dia wanita yang sangat baik dan ramah. Bahkan dia lebih memilih menjadi seorang pelukis dari pada harus memimpin perusahaan milik keluarganya. Laretta juga tidak pernah memandang orang dari harta yang di miliki oleh orang tersebut. Seharusnya, apa yang di miliki oleh Laretta, dia bisa bersikap angkuh dan memandang rendah seseorang. Tapi dia tidak seperti itu. Laretta selalu menunjukkan kebaikan hatinya. Itu yang membuatku yakin, jika Alena pasti akan menyukai Laretta."


Citra tersenyum mendengar ucapan Devita. Hatinya jauh lebih tenang ketika Devita mengatakan tentang Laretta. Sejak awal, Citra juga melihat Laretta adalah wanita yang sangat baik. Setidaknya Angkasa mendapatkan wanita yang tepat di hidupnya. Dulu, Citra selalu menginginkan Devita sebagai menantunya, karena Citra begitu menyukai sifat Devita yang sangat baik hati dan lembut. Sekarang, meski Devita tidak di takdirkan untuk Angkasa, tapi Angkasa mendapatkan wanita yang sama baiknya dengan Devita.


"Bibi senang jika Laretta memiliki sifat yang sama sepertimu, Devita." kata Citra dengan lembut.


"Percayalah Bibi, Laretta lebih baik dariku," ujar Devita. "Bibi, maaf aku harus pulang duluan."


"Datanglah berkunjung ke rumah, Bibi dan Paman menunggumu." balas Citra.


Devita mengangguk. "Aku pasti akan berkunjung, aku juga sudah lama tidak melihat Paman Varell."


"Kami semua menunggu kedatanganmu Devita," jawab Citra. " Hati - hati di jalan, kau bersama dengan sopir atau menyetir mobil sendiri?"


"Aku bersama dengan sopir. Tapi sebenarnya aku lebih suka menyetir mobil sendiri. Tapi suamiku Brayen tidak memperbolehkanku untuk menyetir mobil saat aku sedang hamil," balas Devita.


Citra tersentak. "Kau hamil?"


"Ya Bibi aku hamil, kandunganku saat inu sudah berusia delapan Minggu."


"Selamat Devita, Bibi ikut senang mendengarnya."


"Terima kasih Bibi. Maaf, aku harus pulang sekarang."


"Tidak masalah, Bibi senang bertemu denganmu."


"Aku juga senang bertemu dengan Bibi." Devita beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kafe itu.


Sedangkan Citra masih terus menatap kepergian Devita. Senyum di bibirnya terukir setelah sekian lama akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan Devita.


...***...


Devita melangkah masuk kedalam kamar. Dia meregangkan lehernya, dan segera melepaskan sepatunya. Setelah pergi ke mall bersama dengan Olivia dan bertemu dengan Citra membuat Devita sedikit kelelahan. Semenjak hamil, Devita memang mudah sekali lelah. Berbeda dengan Laretta yang terlihat begitu kuat. Mungkin alasan salah satunya karena Devita jarang sekali untuk berolahraga. Berbeda dengan Laretta yang setiap pagi selalu melakukan yoga sebelum memulai aktivitasnya.


Devita melangkah menuju sofa, duduk di sofa empuk kamarnya. Sambil mengambil remote televisi dan menekan tombol ON. Devita mengambil pancakes yang baru saja di antar oleh pelayan. Tidak mungkin Devita bersantai di dalam kamar sambil menonton televisi tanpa ngemil. Kehamilan sering membuat Devita mudah merasa lapar.


"Kenapa ini enak sekali," gumam Devita saat menikmati pancakes saus cokelat.


*Pengusaha muda Brayen Adams Mahendra telah berhasil menyelamatkan Mahendra Enterprise melewati masa krisisnya. Menurut kabar, Mahendra Enterprise yang berada di Madrid telah kembali pulih. Saham Mahendra Enterprise telah kembali menduduki peringkat teratas*


Senyum di bibir Devita terukir mendengar berita sore ini. Devita tahu, suaminya pasti akan menyelesaikan masalah dengan sangat baik. Tidak sampai satu minggu, suaminya telah berhasil menyelesaikan masalah di perusahaan. Pantas saja, Brayen selalu di banggakan oleh Edwin sejak dulu. Karena memang suaminya itu sangat hebat. Devita mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Dengan cepat Devita langsung menghubungi Brayen. Dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan suaminya itu.


"Brayen?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Ya sayang? Kau menghubungiku pasti karena berita hari ini kan?" ujar Brayen dari sebrang telepon.


Devita tersenyum. "Rupanya kau sudah tahu, kenapa kau itu cerdas sekali."


"Sejak dulu suamimu ini memang cerdas." jawab Brayen.


Devita mendengus. "Kau ini benar-benar percaya diri sekali! Sudah, aku menghubungimu untuk bertanya kepadamu kapan kau akan pulang? Apa kau ini tidak merindukan anak dan juga istrimu? Kenapa lama sekali pulangnya?"


Brayen mengulum senyumannya dari balik telepon. "Sebentar lagi sayang, karena masih ada yang harus aku selesaikan di sini."


"Lama sekali! Kau ini sedang menyelesaikan pekerjaan atau jangan-jangan sedang mencari wanita baru?" cibir Devita.


"Sepertinya itu bagus, karena aku sudah lama tidak bertemu dengan wanita baru," jawab Brayen dengan santai.


"Brayen, kau jangan macam-macam! Aku akan menuntut setengah dari hartamu, jika kau itu berani macam-macam!" Seru Devita kesal.


Terdengar tawa Brayen dari balik telepon. "Tidak sayang, di sini tidak ada yang secantik dirimu."


"Kau itu pandai merayu saja! Sudahlah, aku hanya ingin kau pulang cepat!" Tukas Devita menekankan.


"Allright Mrs. Mahendra. Aku akan segeralah pulang." balas Brayen.


"Ya sudah, aku tutup dulu. Aku ingin menonton film. Dan nanti malam kau harus menghubungiku sebelum aku tidur."


Panggilan tertutup, Devita meletakkan ponselnya di tempat semula. Kini Devita bisa bernapas dengan lega, karena masalah perusahaan sudah terselesaikan. Hanya tinggal menunggu Brayen pulang.


Devita mengambil remote televisi dan memilih untuk menonton film drama kesukaannya. Kehidupan Devita hanya di penuhi dengan bersantai dan berbelanja. Tidak ada lagi yang Devita lakukan, karena memang suaminya itu tidak memperbolehkan dirinya untuk bekerja.


...***********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.