
Ke esokan harinya, Devita sudah tiba di Dixon's Group. Pagi ini, dia memilih untuk berangkat lebih awal. Bahkan tadi, saat dia memilih tidur di kamar tamu, dia memilih untuk mengunci pintu kamarnya. Dia bangun pukul lima tadi pagi. Dia memang menghindar untuk bertemu dengan Brayen.
Devita masih belum bisa melupakan perkataan Brayen yang begitu menyakitkan. Bahkan Brayen membentaknya hanya karena dia menjawab panggilan telepon di ponsel miliknya.
Kini Devita tengah menikmati sarapannya di cafe terdekat Dixon's Group. Dia sudah mengirim pesan pada sahabatnya, Olivia. Jika dia akan datang ke kantor lebih awal.Tidak lama kemudian Olivia melangkah masuk kedalam cafe. Dia melihat Devita yang sudah duduk di sudut dekat jendela. Dengan cepat Olivia langsung mendekat ke arah Devita dan duduk di hadapan sahabatnya itu.
"Bagaimana liburanmu di Berlin, menyenangkan bukan? Aku belum pernah ke Berlin" kata Olivia yang kini sudah duduk di hadapan Devita.
Devita mendesah pelan. " Aku tidak berlibur, aku menemani Brayen perjalanan bisnis,"
"Ini untukmu," Devita menyerahkan shopping bag pada Olivia dan Olivia langsung menerimanya.
"Terima kasih, kau memang sahabatku yang paling baik," seru Olivia dan Devita hanya mengangguk. Kemudian pandangan Olivia menatap wajah Devita yang tidak seperti biasanya.
"Devita kau ada masalah?" tanya Olivia yang terus melihat wajah Devita.
"Tidak." jawab Devita singkat.
"Devita, kau jangan berbohong kepadaku. Kita sudah tumbuh besar bersama. Aku bisa melihat di wajahmu, jika kau ada masalah." tukas Olivia. Dia sangat tahu jika sahabatnya itu tidak pandai untuk berbohong. Dia yakin Devita pasti sedang ada masalah.
"Kemarin malam Brayen membentakku," suara Devita terdengar begitu parau. Hatinya masih sakit jika mengingat Brayen membentak dirinya.
"Kenapa Brayen bisa membentakmu?" Olivia mengerutkan keningnya, menatap bingung Devita.
"Kemarin malam setelah kau menghubungiku, tidak lama kemudian ponsel Brayen berdering terus, awalnya aku tidak ingin menjawabnya. Tapi ponselnya tidak henti dan berdering terus. Lalu aku memutuskan untuk menjawab telepon itu. Ternyata itu dari seorang wanita yang bernama Elena." jelas Devita dengan wajah muram. "Brayen marah denganku, dia juga mengatakan jika aku harus tahu batasan ku. Dia marah saat aku menjawab ponselnya. Dia mengatakan,jika dia tidak suka aku ikut campur masalah pribadinya."
"Perkataan Brayen sangat melukai hatiku, aku tahu, aku ini adalah Istri yang hanya sebatas kontrak perjanjian. Aku juga tahu batasan ku, tapi apa aku salah menjawab telepon yang berdering. Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya mengatakan pada wanita itu, agar dia menghubungi lagi dalam tiga puluh menit kerena Brayen sedang berada di dalam kamar mandi.
Mata Devita mulai berkaca - kaca saat menceritakan kejadian kemarin. Tidak bisa di pungkiri perkataan Brayen begitu membekas di hatinya.
Olivia menyentuh tangan Devita, mengelus punggung tangan sahabatnya itu. "Apa kau tahu siapa gadis bernama Elena itu?"
"Aku tidak mengenalnya, mungkin itu kekasihnya. Jadi, dia sangat marah aku menjawab teleponnya," perlahan air mata Devita mulai membasahi pipinya.
"Jika itu benar kekasihnya, kau harus bersikap tangguh dan kuat. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada Brayen, tapi jika memang Brayen mengatakan hal itu, kau harus tahu batasan mu. Menurutku, kau juga bisa membalikkannya, kau bisa dekat dengan pria manapun. Jika Brayen melarang, kau bisa mengatakan dia pun harus tahu batasannya," ujar Olivia dengan nada kesal mendengar Brayen mengatakan itu pada Devita.
"Aku pun sempat berpikiran demikian Olivia. Aku memang selalu mengendalikan perasaanku agar tidak jatuh pada pesonanya. Aku tidak bohong, Brayen memang sangat tampan. Dia memiliki segalanya, sangat wajar jika banyak wanita yang menyukainya. Tapi aku tidak ingin masuk kedalam itu. Aku tidak ingin terluka. Aku lebih baik mencintai Angkasa, yang entah sekarang dia berada dimana. Setidaknya aku tidak terluka, Angkasa tidak pernah mengeluarkan perkataan yang melukai hatiku." air mata Devita terus berlinang membasahi pipinya, terlebih jika mengingat tentang Angkasa yang dia sendiri tidak tahu keberadaan pria itu.
Olivia menatap serius Devita, " Aku ingin bertanya padamu sesuatu hal. Tapi aku berharap kau harus berkata jujur padaku."
"Kau ingin berkata apa?" Devita menjawab tatapan Olivia dengan matanya yang masih memerah.
"Apa kau menyukai Brayen?" tanya Olivia.
"Tidak!" Jawab Devita cepat.
"Berkatalah dengan jujur Devita, aku ini adalah sahabatmu,"
"A...Aku tidak tahu Olivia. Brayen sudah beberapa kali menciumiku, aku tidak mengerti. Saat Brayen menciumiku, jantungku berdegup kencang. Aku tidak tahu Olivia," balas Devita dengan nada lemah.
"Devita, itu artinya kau sudah mencintainya. Aku tahu itu, hanya saja kau masih memiliki bayang - bayang tentang Angkasa." ujar Olivia dengan helaan napas berat. "Aku tidak ingin kau terluka. Aku tidak tahu kenapa alasan Angkasa hingga detik ini belum juga kembali ke Kota B. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Brayen padamu. Tapi kau bisa membuktikannya dengan kalian berjauhan,"
Devita mengerutkan dahinya, dan berkata, "Maksudmu berjauhan?"
"Kita masih belum tahu siapa itu Elena, ikuti saja. Suatu saat kau akan tahu siapa Elena. Jika memang dia adalah kekasih Brayen, kau bisa mencoba mendekati pria yang menyukaimu. Kita akan melihat bagaimana respon dari Brayen," balas Olivia yang memberi saran.
"Aku tidak tahu kenapa perasaanku mengatakan jika Brayen juga menyukaimu. Hanya saja, kalian di kelilingi oleh banyak hal yang menghalangi kalian," lanjut Olivia yang begitu yakin.
"Tidak. Lebih baik untuk kami, untuk tidak saling menyukai satu sama lain. Sudahlah Olivia, lupakanlah masalah Brayen. Aku tidak ingin membicarakannya," jawab Devita kemudian bangun dari tempat duduknya.
"Tapi Dev-"
"Aku juga merasa William menyukaimu," balas Olivia.
"Berhentilah bicara yang tidak - tidak Olivia! " Ketus Devita, dia mengeluarkan dompet dan meninggalkan beberapa uang ratusan ribu di atas meja. Kemudian dia langsung meninggalkan cafe menuju ke perusahaan.
...***...
Devita kini sudah tiba di ruang kerja William. Awalnya dia ragu untuk mengetuk pintu ruang kerja William. Tapi akhirnya Devita memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tidak lama kemudian terdengar interupsi masuk dari dalam.
"Selamat pagi, William. Maaf, menganggumu." sapa Devita saat masuk ke dalam ruang kerja William.
William tersenyum melihat Devita datang,dia beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri Devita. " Pagi, aku senang kau datang di ruang kerjaku. Apa kabar Devita?"
"Aku baik. Ini, aku membelikanmu sesuatu saat aku Berlin. Aku berharap kau menyukainya," kata Devita sambil menyerahkan shopping bag pada William.
William menerima shopping bag itu. "Terimakasih, boleh aku membukanya?"
Devita mengangguk, "Ya William, bukalah."
Kemudian William membuka shopping bag yang di berikan oleh Devita. William tersenyum, ternyata Devita membelikannya salah satu kemeja di brand ternama.
"Terima kasih, aku menyukainya," ucap Devita.
"Aku senang, jika kau menyukainya," balas Devita, " Hem, William aku ingin meminta maaf, karena aku sudah izin meninggalkan perusahaanmu. Padahal aku saja masih baru di sini,"
William tersenyum. " Tidak masalah, Devita. Lalu bagaimana Berlin? Kau menyukainya?"
"Ya, aku menyukai Berlin. Aku sudah lama sekali tidak pergi ke Berlin," jawab Devita.
"Good, aku juga sudah membaca majalah bisnis. Perusahaan keluargamu sekarang berkembang sangat pesat. Ayahmu ingin membuka perusahaan teknologi. Ayahmu memang sangat hebat." ujar William.
"Ya, Ayahku memang sangat bekerja keras, dan untuk berada di posisi seperti ini tidak mudah. Dia, mengajarkanku untuk selalu bekerja keras mencapai mimpiku," jawab Devita, dia memang sangat bangga dengan Ayahnya.
"Maaf William, aku harus pergi sebentar dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," pamit Devita.
"Apa kita nanti bis makan siang bersama?" tawar William.
"Tapi-"
"Please, kali ini saja," potong William dengan cepat.
Devita mendesah pelan. Dan berkata, "Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang."
"Terimakasih, Devita,"
Devita menganguk dia langsung meninggalkan ruang kerja William.
...***...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.