
Panggilan tertutup Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Setidaknya sekarang Devita sudah memberitahu pada Angkasa. Karena Devita tidak ingin kesalahpahaman ini semakin larut.
Ceklek,
Pintu terbuka Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Menatap istrinya yang tengah duduk di sofa. Brayen melangkah mendekat ke arah Devita yang sedang duduk di sofa.
"Kau belum tidur?" tanya Brayen setelah duduk di sofa di samping Devita.
"Belum," jawab Devita. "Aku belum mengantuk. Apa kau sudah selesai?"
"Sudah, tadi Albert memberikan beberapa laporan penting yang harus aku baca," balas Brayen.
Brayen menatap wajah Devita yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Ada apa, Devita? Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Brayen menatap lekat wajah istrinya.
"Tidak Brayen, aku hanya sedang lelah saja." Devita terpaksa menutupi ini. Karena Devita tidak ingin jika Brayen akan menegur Laretta. Dan Devita akan membiarkan Angkasa yang datang untuk memberikan penjelasan pada Laretta.
"Kalau begitu kau istirahat sekarang," Brayen menarik pelan tangan Devita dan berjalan menuju ke arah ranjang.
Devita membaringkan tubuhnya di ranjang dan Brayen menarik selimut menutupi tubuh istrinya.
"Aku harus mandi, nanti aku akan menyusul. Lebih baik kau tidur sekarang," Brayen mengecup bibir Devita, lalu beranjak dan menuju ke arah kamar mandi.
Melihat Brayen yang sudah pergi, Devita memilih untuk memejamkan matanya. Pikirannya memang tidak henti memikirkan Laretta tapi paling tidak, Angkasa nanti akan memberikan penjelasannya pada Laretta. Dan pastinya, setelah Angkasa memberikan penjelasan pada Laretta, Devita juga akan memberikan penjelasan pada adik iparnya itu.
...***...
Pagi itu hujan begitu deras membasahi kota B. Brayen duduk di tepi ranjang seraya mengompres kening istrinya dengan handuk hangat. Tadi malam Devita demam dan tentu saja Brayen dengan panik meminta Dokter Keira untuk datang. Beruntung Dokter Keira hanya mengatakan jika Istrinya itu hanya kelelahan saja.
Devita pun mulai membuka matanya, kepalanya mulai memberat. Saat Devita sudah mulai membuka matanya, dia menatap Brayen yang ada di hadapannya. Devita bangun, dia menyandarkan punggungnya di ranjang.
"Istirahatlah," kata Brayen ketika melihat Devita bangun.
"Aku sudah istirahat Brayen." balas Devita dia menyentuh keningnya, ada handuk yang mengompres keningnya.
"Kau itu demam tadi malam," Brayen sudah lebih dulu menjawab ketika Devita menyentuh handuk dan mengompres kening Devita.
Brayen mengelus pipi Devita. "Hari ini kau jangan pergi, istirahatlah di rumah. Aku sudah meminta pelayan membawakan makanan untukmu."
Brayen mengambil cream soup di atas nakas dan mulai menyuapi istrinya. "Kau harus makan yang banyak Devita. Aku tidak ingin anak kita nanti kurus dan kekurangan gizi."
"Kau yang benar saja Brayen, tidak mungkin anak kita itu kekurangan gizi!" Devita mendengus tak suka mendengar ucapan dari suaminya. "Aku akan makan sendiri saja, apa kau hari ini tidak pergi ke kantor?"
"Tidak, biar aku saja." jawab Brayen. "Aku akan ke kantor siang nanti, aku masih ingin menemanimu."
Devita tersenyum hangat. "Kau ini memang suami yang terbaik."
Brayen membalasnya dengan senyuman yang tipis, dia terus menyuapi istrinya yang kini sangat lahap menikmati cream soup.
"Hemm... Brayen ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Ada apa, sayang?"
"Apa kau bisa memberitahuku siapa cinta pertamamu?" tanya Devita menatap lekat wajah suaminya.
Brayen sontak sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Devita. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bertanya sayang," jawab Devita.
"Aku sudah melupakan itu." balas Brayen yang terlihat begitu enggan untuk membahas ini pada istrinya.
"Jika kau tidak menjawab, itu artinya kau itu masih mencintainya!" Tukas Devita.
Brayen membuang napas kasar. "Wilona, aku menjalin hubungan singkat dengannya saat aku SMA dulu."
"Apa dia itu sangat cantik?"
"Kau ini bicara apa, Devita? Bagiku tidak ada wanita lain. Hanya kau yang paling cantik," tukas Brayen menekankan.
"Tidak sayang," balas Devita seraya mengelus pipi istrinya. "Kau memang wanita tercantik yang pernah aku temui."
"Sudahlah, kau ini pintar sekali merayu!" Cibir Devita.
"Kenapa kau bertanya tentang itu?" tanya Brayen.
"Tidak apa - apa," jawab Devita. "Aku itu hanya ingin bertanya, siapa wanita yang beruntung yang pernah di sukai olehmu. Laretta pernah mengatakan padaku ada temannya yang bernama Selena juga menyukaimu. Tapi kau selalu menolak wanita itu."
"Aku memang tidak tertarik padanya." tukas Brayen.
Brayen meletakkan mangkok di atas nakas setelah Devita menghabisi cream soupnya.
"Devita, aku harus berangkat sekarang. Pelayan akan menemanimu jika membutuhkan sesuatu."
Devita mengangguk pelan. "Ya Brayen, mungkin satu hari ini aku akan beristirahat di kamar."
"Itu lebih baik," Brayen mengecup kening Devita, dia beranjak dan melangkah meninggalkan kamar.
Melihat Brayen yang sudah pergi, Devita memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya masih terasa berat, setelah lebih baik, Devita akan turun ke bawah dan menemui Laretta.
...***...
Laretta menatap keluar jendela melihat hujan deras yang tidak juga berhenti sejak tadi pagi. Hal yang membuat Laretta sukai ketika hujan adalah selalu ada pelangi sehabis hujan.
Laretta menyadarkan kepalanya, dan tatapannya terus menatap keluar jendela. Perasannya kini tidak dalam suasana yang baik. Setidaknya melihat hujan yang turun, membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Apa melamun adalah hal yang paling kau sukai?" suara bariton terdengar membuat Laretta terkejut. Laretta mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
"Angkasa?" Laretta mengerutkan dahinya menatap Angkasa yang tengah melangkah mendekat ke arahnya.
"Apa aku menganggumu, Laretta?" tanya Angkasa, dia langsung duduk di samping Laretta.
"Kenapa kau datang kesini?" tanpa menjawab pertanyaan dari Angkasa, Laretta langsung menanyakan tujuan Angkasa yang datang menghampirinya.
"Aku datang kesini untuk menjelaskan Kesalahpahaman. Aku tidak menyadari jika calon istriku sedang marah padaku." Angkasa tersenyum tipis. "Sudah sejak kemarin aku menahan diri untuk datang. Tapi kali aku tidak bisa untuk tidak datang. Menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan Kesalahpahaman itu."
"Maksudmu apa Angkasa?" tanya Laretta seolah menunjukkan wajah yang seolah dia tidak mengerti apa maksud perkataan dari Angkasa.
Angkasa menggeser tubuhnya agar lebih mendekat ke arah Laretta. Kemudian dia menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan. "Ada hal yang harus aku jelaskan padamu Laretta. Aku berharap kau mau mendengarkan dan mempercayaiku."
"Aku tidak akan pernah membohongimu Laretta. Aku dan Devita adalah teman masa kecil. Aku memang mengetahui tentang kebiasaan dari Devita. Termasuk makanan yang sangat di sukai oleh Devita dan tidak di sukai olehnya. Tapi bukan artinya aku masih mencintai Devita. Aku mengetahui itu karena aku sudah mengenal Devita sejak kecil. Aku rasa, kau juga bisa bertanya pada Olivia. Seperti yang kau tahu, Olivia adalah sahabatnya Devita sejak kecil. Sudah pasti Olivia mengetahui apa yang di sukai oleh Devita dan tidak di sukai oleh Devita."
"Aku sudah melupakan perasaanku pada Devita. Bagiku, Devita hanya sebatas teman masa kecilku. Tidak lebih dari itu. Bukankah setiap orang itu memiliki masa lalu Laretta. Kau sangat tahu itu dengan baik. Aku sudah berdamai dengan kenyataan. Kenyataan yang dimana memang aku tidak di takdirkan untuk bersama dengan Devita.
Angkasa membawa tangan Laretta mendekat ke bibirnya, lalu dia mengecup punggung tangan Laretta. Tatapan Angkasa menatap lekat manik mata Laretta. "Aku minta maaf jika aku sudah melukai perasaan mu.Sungguh aku tidak bermaksud untuk melukai perasaan mu."
"Perasaanku pada Devita sudah berakhir Laretta. Sekarang hanya ada kau dan anak kita. Ketika aku memutuskan untuk menikah denganmu, bukan hanya semata-mata karena aku ingin bertanggung jawab pada anak yang ada di dalam kandunganmu. Tapi tujuanku menikah denganmu karena kau telah berhasil membuat seluruh hatiku menatap dirimu, Laretta."
Laretta terdiam mendengar semua perkataan dari Angkasa. Laretta terus menatap manik mata Angkasa, melihat kejujuran dari mata pria itu. Hatinya tersentuh ketika Angkasa mengatakan itu padanya.
"Apa kau percaya padaku?" Angkasa menatap Laretta penuh harap.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.