Love And Contract

Love And Contract
Usaha Brayen



Devita membuang napas kasar, " Aku rasa aku tahu siapa pengirim paket ini," gumam Devita, lalu dia mulai membuka kotak itu.


Saat Devita membuka kotak itu, Devita tersenyum saat melihat isinya. Semua adalah Novel Romance yang Devita belum memilikinya. Tidak hanya novel tapi ada sebuah kotak kecil, saat Devita membuka lagi ternyata sebuah gelang nama terukir inisial B. D. Melihat gelang tangan yang terukir dengan insial, tentu Devita sudah mengetahui siapa pengirim ini. Devita mengambil kartu ucapan dan mulai membaca kartu ucapan itu.


* I love you, I am who I am because of you. You are every reason, every hope and every dream I've ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together ia the greatest day of my life. I will always be yours - Your Husband Brayen Adams Mahendra*


Devita terdiam setelah membaca kartu ucapan dari Brayen. Kata - kata yang sangat indah, Devita tidak bisa menutupi, dia sangat tersentuh dengan perkataan suaminya ini. Tapi hatinya masih terlalu terluka. Dirinya masih berdamai dengan keadaan, dia masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya. Luka yang di berikan oleh Brayen masih terasa begitu menyakitkan.


Olivia mengerutkan keningnya. Melihat wajah Devita yang terlihat muram. Olivia sudah tidak sabar ingin segera mendengar cerita dari Devita, dengan cepat dia langsung mengambil kartu ucapan yang berada di tangan Devita dan membacanya.


"Astaga Devita. Brayen ternyata sangat romantis. Aku baru tahu, padahal dia terlihat angkuh dan dingin tapi bisa seromantis ini," seru Olivia saat dirinya membaca kartu ucapan.


"Ya," jawab Devita singkat.


Olivia menatap Devita, terlihat dari wajah sahabatnya masih begitu muram. " Kau kenapa, Devita? Kau sedang ada masalah dengan suamimu? Aku sudah yakin sejak awal kau sedang ada masalah dengan Brayen,"


"Aku bertengkar dengan Brayen, kemarin Brayen menghajar Angkasa, ketika melihat Angkasa menemuiku," balas Devita.


Olivia tergelak, dia terkejut mendengar ucapan Devita. "Brayen menghajar Angkasa? Lalu bagaimana? Apa dia sudah mengetahui siapa Angkasa?"


"Sebelum aku memberitahu siapa Angkasa, ternyata Brayen sudah lebih dulu tahu. Brayen salah paham, dia marah besar. Kami bertengkar, Brayen pergi ke klub malam dan mabuk. Saat pulang dia diantar seorang wanita. Dan dalam keadaan mabuk Brayen mencium wanita itu di depanku. Aku tahu dia melakukan itu karena dia masih marah padaku, tapi bahkan dia tidak mau mendengarkan penjelasanku," ujar Devita yang menceritakan semuanya.


Olivia mendesah pelan, "Kenapa usia dia sudah tua, tapi masih kekanak-kanakan. Memang terkadang yang namanya cemburu itu tidak mengenal usia."


"Bukan hanya itu, aku kecewa Brayen tidak mempercayaiku. Bahkan Brayen menuduhku berselingkuh di belakangnya. Aku tidak mungkin berselingkuh darinya Olivia" seru Devita. Jika mengingat semuanya hatinya begitu terluka.


"Jadi apa keputusanmu, Devita?" tanya Olivia dengan tatapan serius pada Devita.


"Aku meminta padanya untuk menenangkan diri. Aku tinggal di hotel, aku tidak pulang ke rumah. Aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan ini semuanya," jelas Devita


"Jangan terlalu larut dalam masalah, aku tahu Brayen salah. Tapi jangan terlalu menghukum dirinya. Dia hanya di butakan oleh kecemburuannya," jawab Olivia yang berusaha membujuk sahabatnya itu.


"Ya, tapi aku masih tidak ingin bertemu dengannya," balas Devita.


"Baiklah, lebih baik sekarang kita pulang sekarang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan," ajak Olivia. Devita mengangguk setuju.


Devita meminta billnya dan membayarnya, setelah selesai Devita dan Olivia berjalan meninggalkan kafe. Devita melihat awan yang begitu mendung, rupanya sebentar lagi akan turun hujan. Meski membawa mobil Devita sangat takut jika ada petir.


"Devita, lebih baik kau menginap di rumahku," ujar Olivia. Dia sangat tahu, jika Devita sangat takut pada petir.


"Tidak usah, Olivia. Ini juga belum turun hujan. Perjalananku kembali ke hotel sekitar lima belas menit," jawab Devita yang menolak tawaran sahabatnya itu.


"Baiklah, tapi jika ada apa - apa kau harus menghubungiku," ucap Olivia mengangguk.


...***...


Di sisi lain sebuah mobil Bugatti Veyron hitam terus mengawasi Devita dan Olivia. Sudah sejak tadi Brayen dan Albert mengawasi Devita saat Devita menerima paket hingga Devita masuk ke sebuah kafe.


Brayen tahu, Devita masih belum mau bertemu dengannya. Tapi, paling tidak Devita tidak menolak pemberian paket darinya. Melihat Devita yang terlihat sangat cantik rasanya Brayen ingin sekali membawa istrinya pulang ke rumah.


Brayen mengawasi Devita, karena dia sudah tidak bisa lagi jika hanya berdiam diri. Dia tidak sanggup jika hanya diam dan menunggu hingga Devita siap berbicara dengannya.


"Tuan, apa kita akan mengikuti Nyonya. Hingga Nyonya kembali ke hotel?" tanya Albert memastikan.


"Ya, sebentar lagi akan hujan. Aku harus memastikan keselamatan istriku. Dia itu tidak pernah mau bersama dengan sopir, jika aku memaksanya bersama dengan sopir dia selalu menolak dengan banyak alasan," tukas Brayen dingin.


Brayen membuang napas kasar. " Aku berharap dia menyukainya. Tapi paling tidak, dia tidak membuang paket dariku"


"Albert, mobil istriku sudah jalan. Cepat ikuti, jaga jarak dengannya dan jangan terlalu dekat. Aku tidak ingin dia mencurigai mobil kita jika kita mengikutinya," perintah Brayen saat dirinya melihat mobil Devita mulai berjalan meninggalkan parkiran.


"Baik Tuan," Albert menginjak gas, lalu mulai mengikuti mobil Devita. Tentu dia menjaga jarak dengan mobil Devita.


Tatapan Brayen kini melihat ke arah mobil Devita yang melaju dengan kecepatan sedang. Jika saja istrinya itu mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, dia bersumpah tidak akan memperbolehkan Istrinya itu mengendarai mobil.


Kini mobil Devita sudah berada di hotel yang di tempati oleh Devita. Tepat saat mobil Devita memasuki parkiran, tidak lama kemudian hujan turun begitu deras dan kilatan petir terdengar begitu kencang.


Brayen dan Albert yang masih berada di dalam mobil masih terus memperhatikan Devita saat Devita berlari masuk kedalam hotel dan saat kilatan petir terdengar begitu kencang, Devita terlihat takut. Wajah Devita langsung memucat saat mendengar suara petir.


Rasanya Brayen ingin sekali membawa Devita kedalam pelukannya, menenangkan Devita dari rasa takutnya. Menjaga Istrinya agar tidak takut lagi. Biasanya ketika ada hujan dan petir seperti ini Devita selalu memeluk Brayen dengan erat. Brayen benar - benar merindukan Devita.


Bahkan demi melihat Devita, hari ini Brayen membatalkan seluruh meeting dengan rekan bisnisnya. Dia juga tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Brayen tidak perduli dengan kerja sama dengan rekan bisnisnya. Saat ini yang ada di pikiran Brayen adalah Devita. Istrinya masih marah dan tidak mau bertemu dengannya. itu adalah beban untuk dirinya. Brayen sudah tidak bisa lagi untuk menahan itu.


Tiga puluh menit sudah Brayen masih berada di depan hotel, hujan masih begitu deras. Brayen begitu enggan untuk meninggalkan tempat itu. Brayen ingin sekali menyusul istrinya dan memeluk erat istrinya.


"Tuan maaf, apa kita masih akan terus disini?" tanya Albert hati - hati.


"Ya, aku ingin disini. Kenapa?" Brayen menatap tajam Albert.


"Ti..Tidak Tuan, tidak apa - apa, saya hanya bertanya," jawab Albert gugup.


"Albert, bagaimana caranya agar aku bisa menemui istriku?" tanya Brayen suaranya begitu putus asa.


"Tuan, bukankah anda akan memberikan waktu pada Nyonya?" kata Albert dengan tatapan bingung ke arah Brayen.


"Aku tidak sanggup untuk menahan diriku. Aku ingin segera menjemput istriku," tukas Brayen. Dia tidak bisa lagi untuk menahan dirinya. Rasanya sudah cukup, ini benar - benar menyiksa dirinya.


"Tapi , Tuan. Nyonya bukannya tidak pernah terpengaruh jika anda memberikannya hadiah mahal? Sepertinya satu - satunya cara adalah menunggu, Tuan." ujar Albert mengingatkan.


Brayen membuang napas kasar. " Berapa lama aku harus menunggu, agar istriku mau berbicara denganku? Rasanya aku sudah tidak bisa lagi menunggu,"


"Menurut saya, ada satu cara untuk membuat Nyonya bisa luluh," kata Albert yang hendak memberikan saran.


Brayen menautkan alisnya. " Cara? Apa caranya?"


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.