
"Tidak!" Devita menggeleng keras kepalanya. "Bicara padaku, kenapa kau itu mendiamkan aku? Kalau kau masih tidak mau bicara denganku, malam ini aku benar-benar akan pulang ke rumah orang tuaku!"
Brayen memejamkan mata singkat, dia tidak ingin berdebat. Tapi tidak mungkin Brayen membiarkan Devita pulang kerumah orang tua istrinya. Brayen bangun, dia duduk dan menatap lekat Devita.
"Apa kau pernah menutupi sesuatu dariku?" Brayen bertanya dengan nada yang dingin namun tersirat menahan emosinya.
"Menutupi sesuatu?" Devita mengerutkan keningnya, menatap bingung Brayen. "Menutupi apa maksudmu, Brayen? Aku tidak pernah menutupi apapun darimu. Aku itu selalu bercerita padamu,"
"Benarkah?" Brayen memasang wajah dingin dan tatapan yang terlihat menahan amarahnya. "Kau sungguh tidak pernah menutupi sesuatu dariku, Devita?"
Devita mendesah kesal. "Brayen, jika memang ada hal yang membuatmu marah, lebih baik kau katakan saja! Jangan berputar - putar! Aku tidak mengerti apa maksudmu. Karena selama ini aku memang tidak pernah menutupi sesuatu darimu."
"Tapi tidak dengan kenyataannya!" Brayen menggeram menahan kesal. "Kau bahkan tidak memberitahuku tentang Richard yang menyatakan perasaannya padamu!"
Kening Devita berkerut dalam mencerna perkataan Brayen. Seketika senyum di bibirnya terukir mendengar ucapan suaminya itu. Kini dia tahu, alasan suaminya mendiamkan dirinya. itu pasti pemberitaan media dari Berlin yang waktu itu pernah Devita lihat di ponsel milik Olivia.
"Apa kau melihat pemberitaan di media?" tanya Devita sambil mengulum senyumannya, menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Astaga Brayen seperti anak kecil. Devita berusaha keras untuk menahan tawanya.
"Menurutmu?" Brayen melayangkan tatapan dingin pada istrinya.
Devita mendekat ke arah Brayen. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya itu. "Aku tidak ingat, apa aku pernah mengatakan padamu tentang Richard yang menyatakan perasaannya padaku atau tidak. Aku benar-benar lupa, apa aku sudah memberitahumu atau belum. Karena memang di antara aku dan Richard hanya sebatas teman. Saat itu, Richard memang menyatakan perasaannya sebelum dia pergi ke Berlin. Dan Richard juga mengatakan, semoga aku hidup bahagia denganmu, Brayen."
"Maaf, kalau aku tidak memberitahumu. Karena kau sangat tahu bukan? Aku itu dan Richard hanya sebatas teman. Aku pun tidak menyangka jika Richard mencintaiku. Tapi percayalah, aku sungguh tidak pernah menyukai Richard lebih dari perasaan seorang teman. Dan soal pemberitaan di media, aku rasa belum tentu wanita yang di maksud oleh media itu adalah diriku!"
"Itu dirimu!" Tukas Brayen. "Media dari Berlin, mengikuti Richard selama Richard berada di Kota B! Dan akhirnya media dari Berlin tahu, ketika Richard menyatakan perasaannya padamu!"
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Aku tidak bisa melarang, orang untuk menyukaiku Brayen. Tapi kau sangat tahu, aku tidak mungkin pria lain ketika aku sudah memilihmu. Aku hanya mencintaimu Alexander David Mahendra. Aku tidak mungkin berpaling darimu. Lagi pula, untuk apa aku berpaling ketika suamiku telah memiliki segalanya?" kata Devita yang sengaja menggoda suaminya itu.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Devita menatap lekat Brayen yang masih terdiam. "Baiklah, kalau kau masih marah aku akan pulang ke rumah kedua orang tuaku saja."
Devita hendak berdiri, namun tangan Brayen menarik Devita dan membawanya kedalam pelukannya. Devita sedikit terkejut, tapi dia tersenyum saat dirinya sudah berada di dalam pelukan suaminya itu.
Brayen menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir istrinya itu. Devita memejamkan matanya dan tersenyum melihat tingkah dari suaminya itu.
"Aku tidak suka kau tidak memberitahuku." ucap Brayen menempelkan keningnya pada kening Devita.
"Kau itu tidak perlu marah Devita. Kau sudah tahu, aku itu sangat mencintaimu. Kau juga jauh lebih tampan dari Richard. Jadi kau tenang saja." Devita menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Suaminya itu sungguh menggemaskan. Ternyata Brayen mendiamkannya hanya karena pemberitaan dari media.
"Aku sudah tahu kalau aku itu lebih tampan darinya! Bahkan aku memang selalu menang dari Dixon!" Tukas Brayen.
Devita terkekeh geli. "Kau ini sungguh seperti anak kecil, Brayen."
Brayen mengeratkan pelukannya dan mengecupi puncak kepala istrinya. "Kau itu sudah tahu jawabannya, Devita. Aku juga tidak suka jika ada orang yang berani berniat mengambil milikku. Selamanya kau adalah milikku, Devita. Tidak akan ada yang bisa mengambilmu!"
Kemudian Devita menarik tangan Brayen dan membawanya kembali mengelus perutnya. "Apa kau lupa? Bahkan kita itu akan segera memiliki anak. Dan aku sudah memilki kehidupan yang sempurna denganmu. Tidak mungkin aku menyia - nyiakannya."
Seketika tatapan Brayen berubah menjadi lembut. Rasa marah di dirinya itu hilang saat tangannya menyentuh perut Devita. Brayen tidak mungkin lupa, jika dirinya akan menjadi seorang Ayah. Buah cintanya dengan istrinya.
Brayen tersenyum tipis, dia menangkup pipi Devita. "Aku mencintaimu, Devita. Seumur hidupku, aku berjanji hanya akan membuatmu bahagia."
"Aku juga mencintaimu, Brayen. Kau dan anak kita adalah hidupku," bisik Devita tepat di depan bibir Brayen.
Hingga kemudian, Brayen mendekatkan bibirnya ke bibir Devita. Membenamkan bibirnya pada bibir istrinya. Brayen ******* dengan lembut bibir istrinya itu. Devita memejamkan matanya dan memeluk leher Brayen. Tidak hanya diam, Devita pun membalas setiap ******* yang di berikan oleh suaminya.
...*****...
Keesokan harinya, Devita sudah terbangun. Kini Devita menatap cermin memoles moisturizer ke wajahnya. Meskipun dirinya tengah hamil, Devita selalu merawat kulitnya agar tetap sehat dan cerah. Hanya saja, Devita tidak sembarangan untuk memilih produk kecantikan. Devita selalu memakai Dokter kulit khusus untuknya. Bagi Devita merawat kecantikan kulit adalah bagian penting dari dalam hidupnya.
Brayen yang baru saja selesai menerima telepon, dia menatap istrinya di depan cermin. Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dan langsung mengecup puncak kepala istrinya.
"Hari ini kau tidak ke kampus?" tanya Brayen.
"Tidak," ucap Devita sambil menggeleng pelan. "Aku sudah menyelesaikan penelitianku dan hanya tinggal menunggu hari kelulusanku nanti."
"Kapan kelulusanmu?" tanya Brayen lagi.
"Bulan depan," jawab Devita. "Kau harus datang dan membawakan ku hadiah. Karena aku sudah lulus cepat."
Brayen tersenyum, kemudian menangkup pipi istrinya itu. Mengecup dengan lembut bibir Devita. "Aku pasti akan memberikan hadiah untukmu."
"Lebih baik kita breakfast sekarang. Aku tidak ingin kau terlambat makan." kata Brayen. Devita tersenyum dan mengangguk pelan. Kemudian mereka berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruang makan. Khusus hari ini, Devita memang meminta Brayen untuk bekerja di rumah. Beruntung, Brayen menuruti keinginan istrinya itu. Brayen mengawasi perusahaan dari rumah.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.