Love And Contract

Love And Contract
Mengantar Devita Ke Kampus



Devita membuang napas kasar, " Bukan itu maksudku Brayen. Biarkan aku menikmati proses ini. Bagaimana cara mendapatkan apa yang aku inginkan dengan kerja kerasku Brayen. Aku bukan tidak ingin mengandalkanmu di setiap langkahku, tapi aku hanya ingin menikmati proses ketika aku berusaha mendapatkan sesuatu." ucap Devita.


Brayen tidak menjawab, lalu dia mengeratkan pelukannya dengan mengecup dahi istrinya. Dia tidak ingin memperdebatkan masalah kecil ini. Lagi pula, memang benar apa yang di katakan oleh Devita. Brayen melupakan satu hal, istrinya memang berbeda dengan yang lain.


Brayen menatap lekat mata Devita. Dia menyelipkan rambut Devita ke belakang telinga wanita itu. " Lakukan yang kau inginkan dan berhenti ketika kau merasa terlalu sulit. Aku hanya tidak ingin kau merasakan kesusahan mendapatkan sesuatu."


Devita tersenyum mendengar ucapan dari Brayen, dia mengelus rahang suaminya dan mengecupnya dengan lembut. " Terima kasih, kau memang yang terbaik,"


"Aku ingin mandi sekarang." Devita hendak beranjak dari ranjang. Namun tangannya sudah di tarik oleh Brayen hingga membuat Devita memekik tubuhnya jatuh di dada bidang Brayen.


"Kita mandi bersama." bisik Brayen. Devita pun membulatkan matanya mendengar ucapan dari Brayen. Tanpa menunggu jawaban dari Devita, Brayen langsung beranjak dari ranjang dan membopong tubuh Devita gaya bridal menuju ke arah kamar mandi. Devita pun mendesah pelan karena percuma saja untuk menolak jika suaminya itu sudah menginginkannya.


...***...


Brayen dan Devita kini sudah bersiap, mereka berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Hari ini sesuai dengan keinginan Brayen, dia akan mengantar Devita untuk ke kampus. Sangat jarang sekali Brayen mengantarkan Devita ke kampus. Bahkan sebelum menikah saja, Devita bisa menghitungnya dengan jari. Terlebih setelah menikah Brayen memang sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Lagi pula Devita tidak terlalu suka jika dirinya harus di antar jemput. Devita lebih suka membawa mobil sendiri.


"Morning Kak Brayen. Morning Devita." sapa Laretta saat melihat Brayen dan Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.


"Morning Laretta," balas Devita, dia duduk di hadapan Laretta. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan sarapan yang sudah


tersedia di meja.


Laretta tersenyum, " Oh ya Devita, siang ini chef Della akan datang. Jadi, kau harus pulang lebih awal." ucap Laretta.


"Chef Della?" Devita mengerutkan dahinya.


"Ya. Chef asal Indonesia, yang akan menjadi salah satu chef untuk kita." tukas Brayen.


Devita menoleh dan menatap lekat Brayen. "Dia sudah datang?"


"Ya," jawab Brayen singkat.


Devita mengangguk dan tersenyum senang. "Kalau begitu, siang ini kita semua akan makan masakan Indonesia. Aku sudah mengatakannya waktu itu, aku ingin dia memasak rendang dan sambal goreng kentang. Hem... tapi sepertinya, aku akan memberikan note pada pelayan tentang masakan apa saja yang aku inginkan. Dan kalian semua harus mencobanya."


"Tentu Devita, aku juga sudah tidak sabar ingin makan masakan Indonesia. Aku sendiri belum pernah makan masakan Indonesia, meskipun aku dan Kak Brayen lahir di kota B." balas Laretta. " Tunggu, aku baru menyadari kau tidak memakai pakaian kantor, Kak. Apa kau hari ini tidak akan pergi ke kantor?" tanya Laretta, yang menyadari jika Brayen tidak memakai pakaian yang formal.


"Tidak Laretta, karena Brayen akan mengantarku hari ini ke kampus." jawab Devita dengan antusias dan senyuman di wajahnya.


Laretta mengulum senyumannya. "Manis sekali rupanya Kakakku ini. Ternyata tidak datang ke kantor untuk mengantar istri tercintanya."


Brayen tidak menjawab, dia beranjak dari tempat duduknya. "Devita, kita berangkat sekarang, kau akan terlambat jika tidak berangkat sekarang."


"Ya Brayen." balas Devita, dia beranjak dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah Laretta yang duduk di hadapannya. "Laretta, aku berangkat dulu. Aku hari ini, akan pulang lebih awal." pamit Devita.


Laretta mengangguk, "Hati - hati, Devita."


...***...


Mobil Bugatti Veyron milik Brayen memasuki halaman parkiran kampus Devita. Ada rasa senang di hati Devita karena Brayen mengantarkannya dan juga rasa kesal karena pasti banyak wanita yang menatap suaminya itu, saat mengantarkan masuk ke dalam kampus.


"Kau ingin aku temani masuk?" tanya Brayen pada Devita.


"Eh? Lebih baik tidak usah." tolak Devita, dia tidak ingin suaminya itu menjadi pusat perhatian dari para wanita.


"Kau yakin?" tanya Brayen memastikan.


Brayen mengulum senyumannya. "Allright, Miss..."


Kemudian Brayen dan juga Devita turun dari mobil. Dan Devita memeluk lengan Brayen, melangkah masuk kedalam kampus. Devita menatap sekelilingnya, dan benar saja beberapa wanita tidak berhenti menatap Brayen. Devita pun semakin erat memeluk suaminya itu, beruntung sejak Devita mengenal Brayen suaminya itu, bukan pria yang sering bermain-main dan mengganti wanita.


Saat Devita melangkah ke arah kelas, dia langsung menahan lengan Brayen untuk menghentikan langkahnya. Devita mengulum senyumannya, ada Felix yang selalu menemani Olivia. Tapi Olivia, sangat terlihat dari wajahnya itu tidak ingin di ganggu oleh Felix.


"Brayen, lihatlah Felix benar - benar mengejar Olivia," kata Devita, dia terus menatap Felix yang berada di samping Olivia.


"Lebih baik kau katakan pada temanmu itu untuk menolaknya." tukas Brayen dingin.


Devita mendengus tidak suka. "Kau ini bagaimana? Felix itu sepupumu. Jangan seperti itu, Brayen!"


Brayen lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab. Dia menggenggam tangan Devita dan berjalan menuju kelas, dimana Felix dan juga Olivia berada di sana.


"Devita?" Olivia tersentak, saat melihat Devita ada di hadapannya bersama dengan Brayen. Pasalnya, ini pertama kalinya Devita di antar oleh Brayen hingga kedepan kelas.


"Hai Devita," sapa Felix.


Tatapan Felix kini beralih pada sosok yang berdiri di samping Devita, "Kau mengantar istrimu ke kampus?" tanya Felix tidak percaya.


"Bukan urusanmu," jawab Brayen dingin.


"Brayen, jangan seperti itu." tegur Devita pelan.


"CK! Dia memang seperti itu, Devita." sambung Felix.


Devita tersenyum, "Apa kabar Felix? Kau menemani Olivia di sini?"


"Aku baik, Devita. Dan seperti yang kau lihat aku menemani Olivia. Sejak tadi, Olivia menunggumu."


"Ah begitu. Maaf, hari ini aku kesiangan."


"Tidak masalah Devita, aku juga senang bisa menemani Olivia."


Olivia mendelik tidak percaya, "Aku tidak memintamu untuk menemaniku. Memangnya aku ini anak kecil! Aku sudah memintamu pulang, tapi kau masih tetap di sini. Keras kepala sekali!"


"Well, kau yang selalu mengatakan kepadaku kalau kau ini masih kecil. Jadi jangan salahkan aku jika aku memperlakukamu seperti itu." jawab Felix dengan santai.


Olivia berdecak kesal, "Sudahlah, aku ingin masuk kelas. Lebih baik kau pulang." ucap Olivia ketus.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.