
Lima tahun kemudian....
"Astaga Laura. Hentikan bermain dengan pisau! Nanti kau bisa terluka Laura!" Suara Devita berseru dengan nada keras, agar putrinya itu menghentikan bermain dengan pisau.
Laura Adams Mahendra, sejak kecil Brayen mengajarkan bela diri pada Laura, demi melindungi dirinya sendiri. Tentunya Brayen melakukan ini semua karena Laura tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Brayen selalu waspada, jika suatu saat nanti ada yang berusaha untuk mencelakai putrinya. Namun Laura sangat berbeda dengan Meysha, saudara kembarnya yang berambut pirang, memiliki sifat yang begitu lemah lembut. Sangat sulit mengajarkan Meysha bela diri, karena berkali - kali pasti Meysha akan terluka. Itu kenapa Brayen lebih memilih untuk menjaga Meysha dengan banyak pengawal yang mengikuti putrinya.
"Mom, aku bisa melempar pisau di papan tepat sasaran. Aku hebat kan, Mom?" Laura tersenyum bangga kala pisau yang dia lempar ke papan, tepat sasaran kemudian dia pun melangkah mendekat ke arah Devita dan langsung memeluk Ibunya.
Devita mendesah pelan, seraya memeluk ibunya dengan tangan kanan dan tangan kirinya mengelus lembut perutnya yang membuncit. Ya, kandungan Devita kini memasuki minggu ke tiga puluh tiga. Jangan tanyakan kenapa Devita bisa kembali hamil. Sudah berkali-kali Devita menolaknya, karena baginya memiliki tiga anak sudah lebih dari cukup, tapi tentu tidak bagi Brayen. Mau tidak mau Devita harus menuruti keinginan suaminya untuk kembali mengandung bayi laki - laki. Tuhan benar-benar begitu baik padanya, karena apa yang Sean inginkan akhirnya terwujud. Sebentar lagi Sean akan memilki adik laki-laki yang bisa bermain dengannya.
"Mommy, kenapa Mommy diam saja. Aku hebat kan?" Laura mendongakkan kepalanya menatap Devita.
"Sayang...." Devita membawa tangannya mengusap lembut rambut Laura. "Kau ini seorang anak perempuan Laura. Tidak perlu untuk mengikuti keinginan Daddymu untuk belajar bela diri. Ada Kak Sean, Daddy dan juga pengawal yang menjagamu kau tahu kan? Beberapa bulan yang lalu kaki Meysha terluka karena belajar bela diri. Akhirnya Daddy melarang Meysha untuk belajar bela diri. Sekarang lebih baik, kau tidak perlu belajar bela diri. Mommy tidak ingin kau terluka, sayang?" ujarnya pada putri kecilnya agar mau menuruti perkataannya. Bukannya melarang, Devita hanya selalu khawatir pada Laura. Dia takut, latihannya itu akan membuat putri kecilnya terluka, seperti beberapa bulan yang lalu, Meysha mengalami cedera yang cukup parah di kakinya hingga akhirnya Brayen tidak mengizinkan Meysha untuk belajar bela diri lagi.
"Mommy!" Laura merengut sebal, dia melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak lemah seperti Kak Meysha! Aku kuat seperti Kak Sean, Mommy! Mommy lihat saja ketika aku dewasa aku akan sehebat Daddy. Bahkan Kak Sean akan kalah denganku. Begitupun dengan Kak Meysha, dia terlalu lemah, Mommy. Aku akan menjadi perempuan yang kuat!"
"Laura! Kenapa kau mengatakan aku lemah?" suara Meysha terdengar dengan nada yang marah saat memasuki taman, tempat dimana Laura dan Devita berada.
Devita dan Laura langsung mengalihkan pandangan mereka. Menatap Brayen yang tengah menggandeng tangan Meysha dan Sean. Terlihat dari kejauhan wajah Meysha yang cemberut dengan bibir yang tertekuk kesal. Sedangkan Sean yang kini sudah besar, dia terlihat begitu dingin dengan wajah datarnya.
"Daddy...." Laura langsung menghamburkan pelukkannya pada Brayen dengan cepat Brayen pun langsung membalas pelukan putri kecilnya itu.
"Laura, tadi kenapa kau mengatakan aku lemah?" seru Meysha yang masih tidak terima. Dia melipatkan tangannya di depan dada, menatap kesal adik kembarnya itu.
Devita mengulum senyumannya, dia langsung menghampiri Meysha dan memeluknya. "Sayang, Laura hanya bercanda. Jangan marah ya, Mommy tidak ingin menjadi gadis yang pemarah.
Meysha mendongakkan kepalanya menatap wajah Devita. "Iya Mommy, tapi Laura harus minta maaf padaku. Aku tidak akan marah lagi jika Laura minta maaf padaku."
"Aku tidak melakukan kesalahan, Kak. Jadi aku tidak perlu meminta maaf." ucap Laura ketus. "Aku berbicara yang sesungguhnya, aku tidak berbohong. Kau itu memang lemah, Kak!"
"Laura." tegur Devita dengan penuh peringatan. Mata Meysha berkaca-kaca mendengar apa yang di ucapkan oleh Laura.
"Laura, kau tidak boleh seperti itu pada Meysha!" Seru Sean dengan raut wajah yang marah pada adiknya.
"Kak Sean, aku hanya berkata jujur! Kenapa kau menyalahkanku!" Laura mencebikkan bibirnya, dia melipat tangannya di depan dada. Wajahnya tertekuk cemberut.
"Tapi, Dad-"
"Sejak kapan kau tidak menuruti perkataan, Daddy? Daddy selalu mengatakan padamu untuk selalu menuruti perkataan Daddy. Kau tidak lupa, Laura Adams Mahendra?" Brayen langsung menyela ucapan putri kecilnya. Hingga membuat Laura langsung mengangguk patuh. Ya, sejak dulu tidak ada yang akan berani menentang perkataan Brayen. Termasuk Devita dan ketiga anaknya.
"Maafkan aku, Daddy. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku tidak akan mengatakan Kak Meysha lemah." ucap Laura dengan mata yang kini berkaca-kaca menatap Brayen.
Brayen tersenyum tipis, lalu dia harus menghapus air mata Laura dengan jemari tangannya seraya berkata. "Minta maaf pada Meysha, bukan pada Daddy."
Laura kembali mengangguk patuh. Kemudian dia menatap Meysha yang menangis dalam pelukan Devita. Kini Laura melangkah mendekat ke arah Meysha dan berucap. "Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai hatimu, Kak. Maaf aku tidak akan mengatakan hal itu lagi."
Meysha masih tidak menjawab, dia terus menangis dalam pelukan Devita. Devita pun langsung menangkup kedua pipi Meysha dan berkata. "Sayang, adikmu sudah meminta maaf. Bukannya tadi kau akan memaafkan Laura, jika dia meminta maaf padamu?"
Meysha masih terisak pelan, dia menghapus sisa air matanya dengan jemari mungilnya. Lalu dia menatap Laura. "Jangan lagi mengatakan itu, Laura. Aku tidak suka mendengarnya."
"Iya Kak. Aku tidak akan lagi mengatakan itu. Maafkan aku, Kak...." Laura mendekat ke arah Meysha, lalu memeluk erat tubuh Meysha. Meysha pun langsung membalas pelukan Laura.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.