
Brayen mengangguk, tanpa menunggu lama, Devita langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan ketelinganya
"Ya Laretta?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita, apa aku menganggumu?" tanya Laretta dari sebrang telepon.
"Tidak Laretta, kau sama sekali tidak menggangguku. Ada apa Mrs. Nakamura?" suara Devita sengaja menggoda adik iparnya itu. Mengingat nama belakang Laretta kini sudah berganti bukan lagi Mahendra melainkan Nakamura.
Laretta tersenyum dari balik teleponnya. "Sudah jangan menggodaku, aku menghubungimu karena ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Ada apa? Besok aku ingin pergi ke London, apa Kakakku itu tidak memberitahumu?"
Pandang Devita kini melirik ke arah Brayen. "Tidak. Kakakmu itu tidak memberitahuku, ada apa?"
"Kakakku sudah menyiapkan bulan maduku dengan Angkasa ke London. Mungkin lebih tepatnya babymoon bukan bulan madu. Karena aku sudah lebih dulu hamil." Laretta terkekeh pelan dari balik telepon.
"Jadi, Kakakmu itu telah menyiapkan liburan ke London untukmu? Itu adalah negara yang ingin aku kunjungi bersama dengan Olivia. Tapi karena aku hamil, aku terpaksa harus menundanya. Kalau begitu selamat menikmati liburanmu, Laretta. Jaga dirimu baik-baik. Salamkan untuk Angkasa."
Panggil terputus, Devita kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula. Pandangannya kini menatap dingin ke arah suaminya."
"Kenapa kau tidak memberitahuku, kau menyiapkan liburan untuk Angkasa dan Laretta ke London?" Devita mengerutkan bibirnya. Menatap kesal ke arah suaminya itu.
Brayen mengeratkan pelukannya, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Devita. "Apa kau juga ingin pergi ke London? Kandungan masih sangat muda sayang. Setelah nanti kandunganmu memasuki bulan ke enam, kita akan jalan - jalan ke manapun yang kau inginkan."
"Masih lama!" Cebik Devita.
Brayen mengulum senyumannya, dia menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Tidak lama sayang hanya dua atau tiga bulan lagi. Aku berjanji akan membawamu kemana pun."
"Kau tidak membohongi ku, kan?" balas Brayen. "Lebih baik, kita itu lanjutkan untuk makan. Aku yakin, anakku ini sangat lapar."
Devita tersenyum, karena benar apa yang di katakan oleh Brayen. Perutnya itu sudah lapar. Tapi karena dirinya kesal itu yang membuat dirinya untuk menunda melanjutkan makan, kini Devita dan Brayen melanjutkan kembali makan chicken farmigiana. Brayen tersenyum, ketika melihat Devita begitu lahap menyantap makanannya.
...****...
Cuaca di pagi hari begitu menyejukkan. Devita kini sedang duduk di tepi kolam renang. Dia menatap Brayen yang sedang berenang. Sesaat Devita memejamkan matanya, ketika hembusan angin menyentuh kulitnya. Hari ini, Devita sengaja memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan Brayen di mansion. Dua hari Brayen sudah mengambil libur, dan tidak datang ke kantor membuat Devita tidak akan menyia - nyiakan waktu berdua dengan Brayen.
"Brayen, kau belum sarapan. Naiklah dulu. Kita sarapan bersama?" kata Devita yang mengingatkan suaminya itu. Sejak tadi, suaminya itu masih terus berenang. Padahal sudah lebih dari satu jam, Devita di sini melihat suaminya yang tetap juga memilih untuk berenang.
Tidak lama kemudian Brayen naik ke tepi kolam renang, ketika mendengar istrinya mengajaknya untuk sarapan bersama. Devita pun langsung mengambil handuk dan membantu suaminya itu mengeringkan rambut.
Brayen langsung meminum cappucino dan memakan roti gandum yang sudah di siapkan oleh pelayan.
"Devita, apakah hari ini kau tidak ingin pergi kemanapun?" tanya Brayen sambil menatap istrinya yang tengah memakan tiramisu cake.
"Tidak, aku rasa kita di rumah saja." jawab Devita. "Aku lebih menginginkan menghabiskan waktu bersama denganmu di rumah saja, sayang."
Brayen tersenyum, dia mengecup kening istrinya itu. "Aku berjanji, akan lebih banyak meluangkan waktu bersama denganmu."
"Ya sudah, lebih baik kau mandi. Aku ingin gazebo." balas Devita.
"Nanti, aku akan menyusulmu." Brayen menangkup kedua pipi Devita dan memberikan ******* kecil di bibir Istrinya itu, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
...***...
Saat Devita sedang duduk di gazebo dia menyesap hot chocolate yang baru saja di antar oleh pelayan.
Suara bariton menyapa, membuat Devita langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat Felix dan juga Olivia datang melangkah mendekat ke arahnya.
"Kalian berdua di sini?" Devita mengulas senyuman hangat, dia menyambut Felix dan Olivia.
"Ya, aku merindukanmu." Olivia langsung memeluk erat tubuh Devita, begitu pun dengan Devita yang langsung memeluk tubuh Olivia. Kemudian, Olivia dan juga Felix duduk di samping Devita.
"Kenapa kalian tidak memberitahu akan datang?" tanya Devita.
"Albert mengatakan padaku. Brayen sedang libur selama dua atau tiga hari. Jadi aku memutuskan untuk mengajak Olivia kesini." jawab Felix. "Paling tidak, aku ingin selalu bersama dengan Olivia. Sebelum kekasihku yang keras kepala ini kembali ke Kanada."
"Jangan menyindirku Felix!" Tukas Olivia penuh dengan peringatan.
Devita terkekeh pelan, "Kalian ini selalu saja berdebat. Kau begitu beruntung, Olivia. Karena Felix sangat sabar untuk menghadapimu."
"Sayang, kau dengar? Devita saja memujiku? Itu artinya kau begitu beruntung memilikiku." ujar Felix sembari mencubit hidung Olivia."
"Sakit!" Seru Olivia, ketika Felix mencubit hidung. "Kau ini percaya diri sekali! Devita itu sedang hamil, dia itu salah menilai dirimu!"
"Justru karena Devita sedang hamil, tidak mungkin dia berbohong, sayang?" balas Felix.
Devita menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak lagi heran melihat perdebatan Olivia dan juga Devita. "Mereka berdua memang pasangan yang unik. Ketika Felix, begitu mengejar Olivia sedangkan Olivia selalu bersikap biasa." ucap Devita di dalam hati.
"Felix, hari ini kau tidak pergi ke kantor?" tanya Devita sambil menatap Felix yang sedang duduk di sampingnya.
"Terakhir aku ke kantor kemarin. Dan Minggu depan aku tidak akan pergi ke kantor. Aku ingin bersama dengan Olivia, sebelum Olivia kembali ke Kanada." jawab Felix sambil melirik ke arah Olivia.
"Berlebihan sekali!" Tukas Olivia.
"Brayen hanya libur dua hari, tidak masalah. Terpenting bagiku, Brayen bisa meluangkan waktunya. Karena selama ini, Brayen itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih sekarang, Brayen harus mengurus dua perusahaan sekaligus." ujar Devita dengan helaan nafas berat.
"Sepupuku itu memang terkenal pekerja keras. Dulu, saat kuliah dia hampir dia tidak pernah bergaul dengan teman-temannya."kata Felix yang menceritakan tentang Brayen. " Dia hanya berteman dengan William! Tapi saat William mengkhianatinya, Brayen sudah tidak lagi bergaul dengan teman-temannya. Brayen lebih memilih untuk melatih dirinya menjadi orang yang hebat. Ya, seperti yang kau lihat seperti sekarang ini Devita. Sepupuku itu, hampir tidak pernah kalah dalam berbisnis. Dia selalu menjadi pemenang. Hanya kekurangannya itu sifat arrogantnya yang membuatku ingin sekali menghajarnya."
"Berani sekali kau membicarakanku!" Seru Brayen dari arah belakang. Dia melayangkan tatapan dingin dan tidak bersahabat pada sepupunya.
Felix berdecak. Tatapannya kini menatap Brayen yang sedang melangkah mendekat ke arahnya. "Kau ini berlebihan sekali Brayen! Aku hanya membahas masa lalumu sedikit."
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.