
David dan Rena tersenyum melihat putri mereka kini telah menikah. Begitu pun dengan Citra dan juga Varell terlihat begitu bahagia melihat putra mereka ini telah menikah. Sedangkan Alena tidak henti meneteskan air mata kebahagiaan. Karena Kakaknya kini telah menikah. Dan Alena bersyukur, dirinya masih mendapatkan sebuah kesempatan yang kedua.
Di sisi lainnya Devita menatap hangat ke arah Laretta dan juga Angkasa yang kini telah resmi menjadi suami istri. Sepanjang acara Brayen terus memeluk pinggang Devita. Dan kini Devita melirik ke arah suaminya. Jika dulu Angkasa adalah cinta pertama yang mengajarkan dirinya untuk mencintai. Dan sekarang Devita memilki cinta yang sebenarnya yang telah menjadi suaminya.
Takdir yang membawa Angkasa di persatukan oleh Laretta, begitu pun dengan dirinya, yang telah di persatukan oleh Brayen. Tidak ada penyesalan sedikit pun di hati Devita, karena Devita tahu inilah yang terbaik. Devita telah mendapatkan cinta yang sebenarnya. Cinta dari pria yang akan menemani hidupnya selamanya. Sama halnya dengan Angkasa, yang telah menemukan cintanya.
Olivia dan juga Felix yang duduk di tepat di belakang Brayen dan Devita, mereka menatap haru pada Angkasa dan Laretta yang kini telah menikah. Olivia terus memeluk tangan Felix. Sesekali Felix melirik ke arah Olivia, yang matanya mulai berkaca-kaca melihat kebahagiaan Angkasa dan Laretta.
Felix mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia dan berbisik, "Suatu saat, ketika kau telah siap kita yang akan berada di sana. Aku akan selalu membahagiakanmu dan mencintaimu."
Olivia tersenyum, dia mendongakkan kepalanya, laku menatap lekat manik mata Felix. "Ya, aku tahu hari itu pasti akan tiba. Dan aku percaya, kau akan selalu membahagiakanmu dan mencintaiku."
Tidak lama kemudian, para tamu undangan memberikan selamat kepada Angkasa dan juga Laretta. Setelah para tamu undangan itu memberikan ucapan selamat, Brayen menggenggam tangan Devita melangkah menuju ke arah Laretta dan Angkasa bersamaan dengan Felix dan Olivia yang juga ingin memberikan selamat pada Laretta dan juga Angkasa.
Devita yang sudah tiba di hadapan Laretta langsung memeluk adik iparnya itu. "Aku senang, pada akhirnya kau bersatu dengan Angkasa. Selamat untuk kalian."
"Terima kasih, Devita," balas Laretta.
"Laretta, selamat atas pernikahanmu." ucap Olivia yang langsung memeluk erat Laretta.
"Terima kasih Olivia."
"Angkasa, Laretta, selamat atas pernikahan kalian." kata Felix sambil menepuk pelan bahu Angkasa.
"Terima kasih, Felix." balas Laretta dan Angkasa.
Pandangan Devita kini teralih melihat ke arah Angkasa. "Angkasa, selamat atas pernikahanmu. Lindungi dan sayangi Laretta. Aku yakin, kau pasti akan membahagiakannya."
Angkasa tersenyum tipis lalu mengangguk samar, "Ya, aku pastikan akan selalu membahagiakannya."
"Aku memberikan peringatan untukmu, jangan pernah melukainya. Atau kau akan berurusan denganku," tukas Brayen memperingati. Dia melayangkan tatapan dingin dan tak bersahabat pada Angkasa yang berdiri di hadapannya.
"Kau tidak perlu mencemaskan itu. Aku akan menjaga dan melindungi adikmu dengan baik." jawab Angkasa penuh dengan keyakinan.
Devita menggelengkan kepalanya melihat Angkasa dan juga Brayen. Padahal sekarang mereka telah menjadi adik dan Kakak Ipar. Hinggap kemudian, Devita memeluk lengan Brayen meninggalkan Angkasa dan juga Laretta. Perut Devita mulai lapar, dia memilih untuk langsung makan. Begitupun dengan Olivia dan Felix yang berpamitan pada Angkasa dan Laretta untuk segera menikmati jamuan makanan yang telah di siapkan.
Devita menuju ke arah makanan khas Italia. Alasannya karena Italian food adalah kesukaan suaminya, itu yang membuat Devita memilih makanan khas Italia. Brayen mengambil tenderloin steak dengan pasta untuk istrinya. Dan langsung memberikan pada istrinya itu, sedangkan dirinya lebih memilih mengambil champagne yang pelayan antar untuknya.
Felix dan Olivia juga ikut dengan Devita yang memilih Italian food. Olivia mengambil sirloin steak dengan mashed potato untuknya. Sedangkan Felix sama seperti Brayen yang lebih memilih untuk mengambil champagne yang di antarkan oleh pelayan.
"Olivia, kapan kau akan berangkat ke Kanada?" tanya Devita sembari menikmati makanannya.
"Aku belum tahu, mungkin Minggu ini." jawab Olivia.
"Devita, tolong kau beritahu pada temanmu yang keras kepala itu!" Seru Felix.
Devita terkekeh. "Biarkan Olivia untuk menikmati sebentar waktunya, Felix. Dia ingin belajar mandiri dan dia juga tidak akan lama di Kanada."
Olivia mengulum senyumannya, dia mengelus rahang Felix. "Dengarkan apa kata Kakak Iparmu, sayang, kau harus memberikanku sedikit ruang kebebasan."
Felix membuang napas kasar, dia memilih untuk tidak menjawab.
Hingga kemudian, Devita memperhatikan suaminya hanya meminum champagne tanpa makan apapun. Devita mendengus kesal melihat Brayen yang seperti ini. Devita langsung memotong tenderloin steak dan menyuapi suaminya itu. "Makan Brayen, sejak tadi kau hanya minum. Tidak baik jika kau hanya minum dan tidak makan apapun."
"Aku belum lapar sayang," jawab Brayen yang hendak menolak. Namun, Devita langsung melayangkan tatapan tajam dan penuh peringatan pada suaminya. Jika suaminya itu berani menolak dan tidak ada pilihan lain, Brayen membuka mulutnya dan langsung makan tenderloin steak yang di berikan oleh istrinya itu.
"Tuan Brayen?" suara seorang wanita menyapa Brayen, hingga membuat Devita, Olivia dan juga Felix mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara itu.
Devita mengerutkan keningnya, menatap sosok wanita yang berambut merah. Wanita itu sangat cantik. Balutan gaun berwarna hitam membuat wanita itu tampak sempurna. Lekukan tubuh yang begitu indah. Wanita itu memang sangat seksi. Gaun yang dia kenakan sukses memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu indah. Bagian dada yang rendah membuat para pria tidak henti menatapnya. Namun, ketika Devita melirik ke arah Brayen, suaminya itu sama sekali terlihat biasa bahkan terlihat tidak perduli.
"Tuan Brayen? Apa kabar?" sapa wanita itu dengan senyuman begitu menggoda ke arah Brayen.
"Baik," jawab Brayen datar.
"Ah, Tuan Felix aku tidak melihat anda, apa kabar?" wanita itu kini melihat Felix yang sedang berdiri di samping Brayen.
"Aku baik," jawab Felix. "Bagaimana denganmu, Nona Ivana?"
Wanita bernama Ivana itu tersenyum hangat. "Aku sangat baik. Lama tidak melihat anda, Tuan."
"Ya, belakangan aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku." balas Felix. "Nona Ivana perkenalkan ini Olivia Roberto kekasihku," lanjut Felix yang memperkenalkan Olivia pada Ivana.
"Hi Nona Olivia, senang berkenalan denganmu." sapa Ivana.
Olivia tersenyum. "Hi, Nona Ivana. Aku juga demikian. Senang berkenalan denganmu."
"Ivana? Apa wanita ini yang menghubungi Brayen?" batin Devita.
Pandangan Ivana kini melihat ke arah Devita. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain. "Tuan Brayen, bisa di kenalkan wanita cantik di sampingmu?"
"Devita Mahendra, istriku." tukas Brayen dingin.
"Devita, ini Ivana Wilson, rekan bisnisku." seketika nada bicara Brayen langsung berubah ketika bicara pada Devita. Jika sebelumnya Brayen begitu dingin pada Ivana. Namun, dia langsung bersikap lembut pada istrinya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.